
❦︎❦︎❦︎
Sudah pukul setengah tiga sore. Sekarang waktunya pulang sekolah. Semua murid dari kelas 10 sampai kelas 12 berhamburan keluar kelas. Mereka begitu senang dan lega, akhirnya bisa mengistirahatkan pikiran setelah berjam-jam yang lalu digunakan untuk belajar. Kecuali murid yang mengikuti ekstrakurikuler, mereka masih di sekolah untuk mengikuti kegiatan tambahan itu.
Thalita, Natan, dan Denathan juga mengikuti ekstrakulikuler. Thalita ikut ekstrakurikuler vokal. Natan ikut ekstra basket. Cowok itu memang sangat suka olahraga basket, didukung dengan badannya yang tinggi. Kemudian Denathan ikut ekstrakurikuler bulu tangkis. Cewek tomboi itu, dari kecil memang sangat suka olahraga bulu tangkis. Di SMA dia ingin mengasah kemampuannya itu supaya makin jago.
"Lo duluan aja, gue masih nanti," kata Denathan saat Thalita mengajaknya keluar kelas.
"Ya udah gue duluan ya," jawab Thalita sambil melangkah keluar kelas. Dia melewati lorong untuk menuju ke ruangan vokal, tempat ekstrakurikuler-nya.
Di kelas sekarang hanya ada Denathan. Tia sudah keluar kelas, dia ikut ekstra paduan suara. Sedangkan Renita dan Denok sudah pulang, karena mereka tidak ikut ekstra.
Denathan rupanya asyik chat-an dengan Natan.
^^^𝗗𝗲𝗻𝗮𝘁𝗵𝗮𝗻.^^^
^^^𝑁𝑎𝑡, 𝑙𝑜 𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚?^^^
𝙉𝙖𝙩𝙖𝙣
𝑈𝑑𝑎ℎ, 𝑔𝑢𝑒 𝑚𝑎𝑢 𝑔𝑎𝑛𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑗𝑢
^^^𝗗𝗲𝗻𝗮𝘁𝗵𝗮𝗻^^^
^^^𝐿𝑜 𝑘𝑒 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑔𝑢𝑒 𝑑𝑢𝑙𝑢. 𝐴𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑢 𝑔𝑢𝑒 𝑜𝑚𝑜𝑛𝑔𝑖𝑛.^^^
𝗡𝗮𝘁𝗮𝗻
𝑁𝑔𝑜𝑚𝑜𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑎𝑛?
^^^𝗗𝗲𝗻𝗮𝘁𝗵𝗮𝗻^^^
^^^𝑈𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑒ℎ, 𝑙𝑜 𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑔𝑢𝑒.. 𝑝𝑒𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔^^^
𝗡𝗮𝘁𝗮𝗻
𝐼𝑦𝑎, 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑔𝑢𝑒 𝑚𝑎𝑢 𝑔𝑎𝑛𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑗𝑢 𝑜𝑙ℎ𝑟𝑔𝑎
^^^𝗗𝗲𝗻𝗮𝘁𝗵𝗮𝗻^^^
^^^𝑌𝑎, 𝑔𝑢𝑒 𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢^^^
Setelah itu Denathan mematikan ponselnya. Dia sekarang menunggu Natan datang ke kelasnya. Dia sendirian di kelas, sehingga yang menemaninya sekarang adalah para makhluk halus. Denathan tidak takut. Sudah terbiasa melihat hal ghaib.
"Kenapa lo liatin gue terus? Mau gue tonjok lo, biar makin bonyok!" Denathan memarahi hantu cowok berwajah rusak yang berdiri di pojokan kelas bagian depan, karena hantu itu terus menatap Denathan.
❦︎❦︎❦︎
Sesusai perintah Denathan tadi, Natan sekarang berjalan menyusuri koridor menuju ke kelas Denathan, bersama dengan Aditya yang juga ikut ekstra basket. Kedua cowok itu sama-sama memiliki badan tinggi, tapi Natan lebih tinggi daripada Aditya. Natan dan Aditya tadi sudah berganti baju olahraga.
Tidak butuh waktu lama, mereka berdua sampai di depan kelas Denathan. Natan melihat Denathan sedang bermain ponsel sambil menunduk.
"Denathan!" Natan memanggil Denathan.
"Iya!" Denathan seketika mendongak.
"Kenapa lo nyuruh gue datang ke sini?" tanya Natan sambil berjalan mendekati meja sahabatnya itu. Sementara Aditya menunggu di luar kelas.
"Lo punya itu nggak," kata Denathan setengah-setengah.
"Punya apa? Ngomong yang jelas," jawab Natan.
"Punya baju olahraga, gu--."
Natan memotong ucapan Denathan. "Ya punya, lah. Nih bajunya gue pakek." Natan memegang bajunya. "Kenapa lo tanya begitu?" Lanjutnya.
"Bukan gitu. Masalahnya gue nggak bawa baju olahraga. Sedangkan gue mau ekstra bulu tangkis," jawab Denathan.
"Ya, lo izin aja dulu. Hari ini nggak ikut." Natan memberi saran.
Denathan menjawab, "Masalahnya itu, gue udah dua kali nggak ikut ekstra. Kalau gue nggak ikut lagi, nilai ekstra gue bakal jelek."
__ADS_1
"Udah dua kali nggak ikut?" Natan mengulangi.
"Enggak, Nat."
"Terus kenapa lo nggak bawa baju olahraga kalau tau hari ini ekstra?"
"Ya itu masalahnya. Gue kira ekstranya besok. Eh taunya sekarang. Lagian gurunya kalau ngasih pengumuman nggak jelas. Katanya besok, malah sekarang."
"Terus gimana? Atau lo pakek baju itu aja," kata Natan.
"Pakai seragam?"
Natan mengangguk singkat.
"Ya kalau pakai seragam, bisa-bisa rok gue robek, Natan. Lagian kalau ikut ekstra bulu tangkis, nggak boleh pakek seragam."
Natan berpikir sebentar, kemudian dia mendapatkan ide. "Ya udah, lo pakek baju olahraga gue aja."
"Lah terus lo pakek apa? Lo telanjang gitu?" Denathan sedikit terkejut.
"Gue pakek baju dobel. Lo pakek baju olahraga gue. Gue pakek kaos," kata Natan yang kemudian melepas baju serta celana olahraganya.
Sekarang Natan hanya memakai celana pendek sebatas lutut dan kaos oblong polos yang tidak berlengan dan tidak berkerah. Sehingga memperlihatkan kedua lengannya yang berotot serta lehernya yang jenjang. Denathan beku sedetik melihat Natan. Aura Natan langsung berubah saat cowok itu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Terlihat lebih tampan dan makin gagah.
"Nih, lo pakek. Gue pakek kaos sama celana aja," kata Natan sembari memberikan baju olahraganya pada Denathan.
"Yakin lo, ini gue pakek?" Denathan memastikan. "Baju sama celana olahraga lo, kayaknya bakal kebesaran kalau gue pakek."
"Udah, pakai aja. Daripada lo nggak ikut ekstra terus dapat nilai jelek."
"Iya deh, gue pakek."
Natan tidak masalah hanya memakai kaos serta celana pendek, tapi seperti baju olahraga. Karena pihak sekolah membebaskan siswa memakai kaos apa pun saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bidang olahraga, asal bukan baju seragam. Kecuali ekstrakurikuler non olahraga, siswa wajib memakai seragam.
❦︎❦︎❦︎
"Bro, lo dari tadi dilihatin mulu sama cewek. Gue jadi iri sama lo," kata Aditya yang berdiri di samping Natan.
"Aaaa, Natan gagah banget badannya," teriak salah satu cewek ekstra bulu tangkis, di lapangan sebelah.
"Dia juga ganteng banget," sahut yang lain.
Di ekstrakurikuler bulu tangkis, memang lebih banyak cewek yang ikut dibanding cowok.
"Bro, gara-gara lo ganteng terus gagah, lo disukai banyak cewek. Rahasia ganteng kayak lo apa sih?" tanya Aditya ketika memperhatikan cewek-cewek yang memuji Natan.
"Rahasinya orang tua gue," balas Natan.
"Lah apa hubungannya sama orang tua lo?"
"Bokap gue ganteng. Nyokap gue cantik," jelas Natan.
Seketika Aditya mengangguk-angguk paham. "Oh paham-paham. Orang tua lo good looking, lo jadi ikutan good looking gitu."
"Nah," balas Natan.
"Ayo, semuanya siap-siap. Sebentar lagi kita latihan!!" Teriak guru pembimbing ekstrakurikuler basket yang berperawakan tinggi dan gagah.
"IYA PPAAK!!"
Dari kejauhan terlihat Denathan sedang berlari terburu-buru menuju ke lapangan bulu tangkis. Dia tadi ada masalah sedikit saat sedang berganti baju di toilet. Masalah baju dan celana olahraga Natan yang kebesaran saat dia pakai, membuatnya kurang percaya diri. Hal itu yang bikin Denathan berpikir lama di dalam toilet. Tetapi akhirnya dia tetap memakainya demi bisa ikut ekstra bulu tangkis.
"Denathan, kenapa kamu baru datang di saat teman-teman kamu sudah latihan?" teriak Ibu guru pembimbing ekstra bulu tangkis yang berdiri di bawah pohon mangga. Guru itu sedang mencatat nama-nama siswa yang hadir. Hampir saja dia mencatat Denathan tidak hadir kalau seandainya Denathan beneran tidak datang.
Denathan menghampiri guru itu yang bernama Ida. "Maaf banget, Bu. Tadi saya ada masalah di toilet. Jadi saya terlambat datang ke sini."
Bu Ida bertanya, "Punya masalah apa kamu, sampai harus ke toilet?"
"Ya ampun, Bu. Masak harus saya jelaskan," jawab Denathan.
Bu Ida menebak sendiri. "Kamu BAB ya?"
__ADS_1
"Nah iya, Bu. Itu yang bikin saya telat datang ke sini." Kemudian Denathan terkekeh.
Bu Ida geleng-geleng kepala, heran dengan tingkah Denathan yang hampir mirip anak laki-laki. Meski begitu, Denathan adalah siswi paling pintar bermain bulu tangkis daripada teman-temannya.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Sekarang kamu pemanasan dulu, sebelum latihan," kata Bu Ida kalem. "Oh ya, ini raket kamu." Guru itu memberikan raket bulu tangkis kepada Denathan.
Denathan menerimanya lalu berucap, "Makasih, Bu." Kemudian cewek itu berlari ke tengah lapangan dan ikut latihan bersama teman-temannya.
❦︎❦︎❦︎
Sekarang sudah pukul empat sore. Selesai latihan basket bersama yang lain, Natan memutuskan beristirahat di pinggir lapangan dengan Aditya dan beberapa siswa lain. Mereka semua ingin melepas lelah dan mengembalikan tenaga. Untungnya cuaca sedang mendukung, tidak panas dan angin sore yang berhembus membuat mereka bisa merasakan kesegaran. Keringat mereka perlahan-lahan menghilang terkena terpaan angin.
"Gue haus banget," ucap Aditya sambil mengelap keringat di wajahnya menggunakan kaos olahraga.
"Beli minum sana," ucap Natan.
"Uang gue habis, Nat. Gue nggak punya uang lagi," kata Aditya sambil meraba-raba kantong celananya.
Natan geleng-geleng kepala sambil berdecak beberapa kali. Kemudian dia mengambil uang dua puluh ribu dari dalam kantong celana pendeknya. "Lo beli minum dua sama gue. Ini pakek uang gue aja."
"Nat, nggak usah, gue bisa minum nanti di rumah." Aditya menolak dengan halus.
Natan menjawab, "Lo hausnya sekarang, ya minum sekarang. Jangan ditunda-tunda. Mau beli nggak, lo?"
"Mau sih, soalnya gue haus banget," jawab Aditya seraya mengusap-usap lehernya.
"Ya udah, lo beli pakek uang gue. Kalau lo mau beli makanan juga nggak apa-apa," kata Natan seraya memberikan uang itu kepada Aditya.
"Makasih, Nat. Lain kali gue balikin uang lo," kata Aditya sambil menerima uang dua puluh ribuan dari Natan.
"Nggak usah lo balikin. Gue ikhlas ngasih lo," kata Natan. "Lo beli minum di koperasi aja. Jam segini kantin udah tutup." Lanjutnya seraya melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit.
"Siap Bos Natan," Aditya terkekeh setelahnya. Dia kemudian berjalan menjauhi Natan, menuju ke koperasi sekolah yang kebetulan tidak jauh dari lapangan.
Denathan sudah selesai latihan bulu tangkis. Dia menghampiri Natan lalu duduk di sebelah cowok itu. Cewek itu mengusap keringat di wajahnya menggunakan punggung tangan.
"Udah selesai?" tanya Natan basa-basi.
"Udah, tapi gue capek banget," jawab Denathan mengeluh capek. Kemudian dia memijit kakinya yang sedikit pegal.
"Namanya juga olahraga, ya capek," balas Natan.
"Lo punya minum nggak?" tanya Denathan. "Gue haus."
"Tunggu sebentar, Adit masih beli," jawab Natan.
Tidak lama kemudian Aditya datang ke lapangan sambil membawa tiga botol air minum berukuran sedang. Lalu cowok itu duduk di sebelah Natan.
"Natan, ini minum lo. Gue beli tiga," kata Aditya seraya memberikan dua botol minum itu untuk Natan. Kemudian memberikan uang kembalian, "Ini uang kembaliannya."
Natan menolak. "Uang kembaliannya lo ambil aja. Gue nggak masalah."
"Lo serius? Ikhlas, kan?" tanya Aditya yang sedikit terkejut.
"Iya ikhlas," balas Natan singkat. Kemudian Natan beralih menatap Denathan seraya menyodorkan satu botol minum. "Ini minum, katanya lo haus."
"Makasih banyak, Bro," kata Aditya semringah.
Denathan yang sudah sangat kehausan akhirnya menerima botol itu. "Makasih ya, Nat. Lo emang baik banget."
"Iya sama-sama," jawab Natan.
Natan juga merasakan haus. Kemudian cowok itu membuka botol dan segera meminum air di dalamnya. Seketika kesegaran langsung menjalar ke seluruh tenggorokannya.
"Aah seger," kata Aditya sangat lega. Dia sudah menghabiskan separuh botol.
Natan memperhatikan Denathan yang sedang minum. Denathan tampak lebih cantik dan kalem saat dia menunjukkan sisi femininnya seperti sekarang. Meski pun cewek itu lebih banyak bertingkah seperti laki-lali, tapi yang namanya perempuan tetaplah perempuan. Denathan masih mempunyai sisi feminin.
Lo tomboi, tapi sebenarnya cantik, batin Natan kemudian tersenyum.
❦︎❦︎❦︎
__ADS_1