
Denathan sudah puas setelah beberapa jam yang lalu mencari referensi dan informasi mengenai tempat wisata di Bali yang cocok untuk honeymoon. Menurut Denathan yang paling menarik untuk dikunjungi adalah Pantai Kristal. Pantai yang memiliki keindahan alam yang tak usah diragukan lagi. Cukup membayangkannya saja Denathan sudah tersenyum-senyum sendiri. Ah, dia jadi tak sabar ingin ke sana.
"Gak sabar banget pengen cepat-cepat honeymoon sama Mas Adit," ucapnya lalu terkikik.
Kemudian Denathan menyimpan hapenya ke atas meja, lalu menutup bukunya yang sudah selesai digunakan untuk mencatat beberapa informasi penting tentang bulan madu. Mungkin bisa menjadi bahan informasi tambahannya selama di Bali.
Nanti Denathan akan membeli barang-barang belanjaan yang dibutuhkan untuk bulan madu sesuai referensi dari google.
Denathan mengangkat bokong dari tempat duduknya, lalu dia turun ke bawah untuk menemui Bi Etik yang mungkin sedang memasak di dapur. Karena sejak pagi tadi Denathan sama sekali belum turun ke lantai satu. Bi Etik biasanya langsung memasak makanan dengan bumbu-bumbu yang sudah tersedia di dapur, sehingga tidak perlu menunggu perintah dari Denathan.
"Bi sudah masak?" tanya Denathan.
"Sudah, Non. Tapi belum matang, tadi saya masih beberes kamar," jawab Bi Etik seraya menunggu sayuran yang dimasaknya matang. Pagi ini Bi Etik memasak sayur sop.
"Sayur sop ya, Bi?" tanya Denathan saat melihat ke arah panci.
"Benar, Non."
"Ya sudah, Bibi lanjutkan masak, saya mau keluar sebentar."
"Kemana, Non?" tanya Bi Etik.
"Mau beli barang-barang belanjaan, rencananya saya mau pergi bulan madu sama Mas Adit," jawab Denathan lalu mengambil minum di atas meja.
"Wah, bulan madu ya, Non?" Bi Etik ikut senang mendengarnya.
"Iya, Bi. Nah, sekarang saya mau beli barang-barang yang nanti saya butuhkan untuk bulan madu," jelas Denathan.
"Ya sudah, Non. Semoga bulan madunya berjalan lancar ya. Saya ikut senang." Bi Etik tertawa ringan. Raut wajah wanita itu terlihat bahagia.
__ADS_1
"Iya, Bi. Makasih." Denathan tersenyum.
"Ya sudah, saya keluar ya, Bi. Saya makannya nanti saja. Kalau Bibi mau makan duluan nggak apa-apa," ujar Denathan.
"Iya, Non." Bi Etik mengangguk.
Kemudian Denathan melangkah keluar dapur. Dia kembali ke kamar untuk berganti baju. Mungkin nanti dia tidak akan pergi ke mall, tapi pergi ke berbagai toko yang menjual barang yang akan Denathan butuhkan. Denathan dengan kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan celana panjang model perempuan berwarna hitam. Penampilan Denathan terkesan sederhana tapi cukup menarik. Sama sekali tidak terlihat kalau dia adalah istri orang kaya. Denathan bukan tipe wanita yang hedonisme.
Mengambil tas selempang, dompet, dan hapenya, Denathan sudah siap pergi keluar rumah. Lalu wanita itu melangkah keluar kamar dan menuju ke halaman depan. Denathan segera pergi menggunakan sepeda motor matic-nya.
Pertama, Denathan akan membeli kamera. Dia belum mempunyai benda itu. Jadi dia harus membelinya, karena sangat penting untuk mengabadikan momen. Tidak afdol jikalau honeymoon tapi tidak mempunyai sesuatu yang dapat dikenang.
Denathan sudah sampai di toko kamera yang bernama Toko Amora. Wanita itu menghentikan sepeda motornya di depan toko, pinggir jalan. Agak menjorok ke dalam dan tidak terlalu mepet antara jalan raya dan halaman toko. Sebenarnya Toko Amora tidak hanya menjual kamera tapi menjual barang-barang elektronik lainnya, seperti televisi, radio, dan lain-lain.
"Silahkan, nau beli apa, Mbak?" tanya salah satu pegawai toko yang menyambutnya.
"Oh, saya mau beli kamera," jawab Denathan lalu mengangguk.
"Oh ada, Mbak. Mari ikuti saya." Pegawai toko itu mengajak Denathan pergi ke ruangan yang khusus untuk meletakkan berbagai macam merek dan jenis kamera. Ada pun di sana, kamera digital, kamera film, kamera potret, dan lain-lain.
"Mbak mau beli kamera apa? Di sini ada kamera digital, kamera film, kamera kecil juga ada. Kamera khusus untuk foto-foto saja juga ada Mbak," jelas pegawai toko itu sambil menunjuk beberapa etalase.
"Saya butuhnya kamera yang kecil dan simpel, Mbak, tapi bisa untuk video dan foto," jelas Denathan. Wanita itu mendapat referensi dari google yang menyarankan agar membawa kamera kecil dan simpel yang mudah saat dibawa kemana-mana.
"Oh, ada Mbak." Lalu pegawai itu menunjukkan etalase khusus untuk menyimpan kamera kecil dari berbagai merek.
"Yang paling bagus merek apa ya Mbak," tanya Denathan sambil ikut melihat-lihat kamera di dalam etalase.
"Oh kalau di sini yang paling bagus, kamera Canon, Mbak. Banyak sekali tipe-tipenya." Pegawai itu menjelaskan.
__ADS_1
Denathan mengangguk-angguk memahami ucapan pegawai wanita itu. Lalu wanita itu menunjuk salah satu kamera Canon tipe EOS 1200D. "Kalau kamera Canon yang itu kira-kira harganya berapa, Mbak?"
Pegawai wanita itu mengikuti arah tunjuk tangan Denathan, dan menjelaskan, "Itu tipe kamera Canon EOS 1200D, Mbak. Sangat cocok untuk berfoto dan video. Hasil potretnya sangat jernih daripada tipe terdahulunya. Untuk harganya sekitar empat jutaan, Mbak."
"Menarik ya, Mbak. Boleh saya coba di sini? Nanti kalau saya merasa kurang cocok saya bisa membeli yang lain," tawar Denathan.
"Boleh, Mbak. Sebentar ya, saya ambilkan kamera Canon percobaannya dulu dengan seri yang sama." Si pegawai lalu mengambil kamera yang terletak di atas etalase. Kamera Canon itu disediakan khusus untuk percobaan pelanggan, jadi tidak akan merusak kamera yang sudah tertata rapi di etalase.
"Nah ini, Mbak. Silahkan." Pegawai wanita itu memberikan kamera Canon itu kepada Denathan.
Denathan menerimanya. Lalu si pegawai memberikan tutorial untuk menyalakan kamera terlebih dahulu. Setelah kamera menyala, si pegawai menyarankan Denathan agar mengarahkan kamera itu ke arah benda atau apapun yang akan dibidik dan memerhatikan pencahayaan. Beruntungnya di dalam ruangan tersebut, pencahayaannya sangat baik dan terang.
"Bagaimana, Mbak? Pencahayaan juga harus Mbak perhatikan agar hasil gambarnya jernih dan bagus," kata si pegawai.
Denathan masih menentukan pencahayaan yang pas dan membidik hiasan vas bunga mawar yang terletak di sudut ruangan. "Sebentar Mbak, saya sedang membidik bunga mawar itu. Saya masih mencobanya agar mendapat hasil yang bagus," jawab Denathan.
"Iya, Mbak." Pegawai mengangguk singkat.
Beberapa saat kemudian Denathan akhirnya dapat menemukan sudut yang pas. Lalu wanita itu memotret vas bunga itu. Dilihatnya cukup menarik. "Sudah, pas."
"Mbak, saya beli kamera Canon tipe ini saja. Sepertinya saya sudah merasa cocok," kata Denathan.
"Pilih itu saja, Mbak?" tanya pegawai itu.
"Iya, Mbak. Saya sudah yakin," jawab Denathan sambil mengangguk. "Harganya kira-kira berapa ya, Mbak?"
"Kalau untuk tipe 1200D, harganya empat juta lima ratus ribu. Mbak bisa langsung membayarnya di kasir, bisa lewat kartu kredit atau cash." Pegawai itu menjelaskan. Lalu pegawai itu mengajak Denathan pergi ke kasir.
Setelah mendapatkan barang yang dibelinya, Denathan membayarnya di kasir. Beruntung sekali Denathan membawa kartu kredit, sehingga wanita itu tidak perlu susah-susah membawa banyak uang di dompet. Usai membayar, Denathan pergi keluar toko dan segera membeli barang lain yang dibutuhkan untuk honeymoon.
__ADS_1