Dendam Berujung Penyesalan

Dendam Berujung Penyesalan
par 78


__ADS_3

Melihat semua yang ada disana ingin melesat pergi, dengan cepat Nik memerjang tubuh wanita yang kini mulai melangkah membelakangi dirinya.


''Buk''.


''Aarrggg''.


''Diam jangan ada yang bergerak''?.pinta Nik sambil memgacungkan senpi miliknya tepat dikepala wanita yang tadi sempat mengoda dirinya.


''Siapa lho bangsat''?.umpat wanita itu sambil berusaha melepaskan kuncian lengan Nik.


"Dor".


"Dor...dor...dor".seketika warung yang awalnya aman, kini berubah menjadi mencengkam.


Karna pada saat orang yang bersembunyi dibalik pohon yang ada disemak belukar ingin membidik Nik, dengan cepat pula anak buah Nik menyerbu dengan tembakan beruntun.


Nik yang kini menyandra seorang wanita merinset dibalik pohon. sambil membalas serangan lawan dengan membabi buta.


"Mati kalian semua".kesalnya penuh emosi.


"Aarggg".


Terdengar jeritan kesakitan dari balik pohon besar yang ada didepan Nik.


Malam yang semakin larut dan sunyi menjadi bising karna suara tembakan antara anak buah Nik dan juga suruhan orang yang mencilik istrinya.


Nik yang sudah mendapatkan sandranya langsung merinset menuju depan warung, sambil tetap memgacungkan senjata membuat semua orang yang makan diwarung tiarap dengan tubuh yang bergetar takut.


Bahkan ada beberapa orang yang ada disana langsung pipis di celana.


"Jangan ada yang bergerak".pinta Nik yang dianguki penghuni warung.


"Dor".


Entah dari mana peluru yang kini meleset lewat disamping Nik hingga laki-laki itu tak sempat lagi mengelak.


"Sing".


"Aaahh..sial"?.umpat Nik karna peluru itu berhasil melukai lengannya hingga mengeluarkan darah sagar.


"Dor".


"Aaarrrggg".suara seseorang yang mengerang kesakitan dari balik semak belukar, setelah Nik mengarahkan moncong senjata keasal peluru yang tadi sempat melukai dirinya.


Nik tersenyum sinis.tak semudah itu membunuh dan menghabisi penembak jitu seperti dirinya.


Nik tak akan pernah salah membidik sasaran.laki-laki itu pasti tau dimana lawannya bersembunyi.


Seorang laki-laki mengelepar keluar dari semak belukar dengan berlumuran darah.


Nik kembali melangkah dengan tenang sambil menyeret sandaranya yang sedari tadi terus meronta.


Namun wanita itu sama sekali tak bisa lepas dari kukungannya.Nik dengan kuat mengunci tubuh wanita yang sempat tadi mengoda dirinya.


"Bruk".Nik melempar tubuh wanita itu dan meraih tali yang memang sudah disiapkan.


Jemari laki-laki kejam itu dengan cepat mengikat sadra.


"Bagai mana Jona"?.tanya Nik setelah menunggu Anak buahnya beberapa saat.


"Beres Tuan".Jawab Jona santai.

__ADS_1


"Mana yang lainnya Jona"?.tanya Nik yang kini sudah duduk dikursi kemudi.


"Ya lain masih dibelakang Tuan"?.


"Tuan kau terluka".


"Tak apa hanya luka kecil".


"Kita kerumah sakit dulu Tuan".


"Ck".kau mau cari mati Jona"?.


"Elah takut lah tu"?.celetuk Jona yang akhirnya mendapatkan lemparan sepatu yang sengaja Nik bukan sangking kesalnya.


"Buk".


"Sakit tuan".


"Mampus saja kau Jona".


"Mana mereka Jona,kenapa lama sekali hanya untuk menghabisi kecoal kecil seperti ini".Nik menoel-noel pundak wanita yang kini meringkuk dikursi tepat disamping Nik.


Mulut wanita itu iya sumpal.


"Tuan".


"Hem"?.


"Kau sumpal mulutnya pakai apa"?.tanya Jona sambil melongok kedepan tepat didepan wanita yang kini meronta-ronta minta dilepas.


"Ini".Nik langsung mengangkat satu Kakinya hingga tepat dihidung mancung Jona.


"Sedapkan Jona"?.


"Iya kan"?.Nik menatap wajah wanita yang ada disampingnya dengan wajah jahil namun terkesan kejam dan bringas.


Ucapan Nik memang suka nyeleneh dan terkesan lucu.namun jangan salah, dibalik mulut manisnya laki-laki itu adalah laki-laki yang kejam tak mengenal kata ampun.


"Kain apa ini Tuan"?.Jona masih tak mengerti dengan maksud Nik.


"Kaos kakiku bodoh".


Mendengar ucapan Nik Jona otomatis ngacir keluar dari mobil dan memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja iya isi beberapa saat yang lalu.


Sementara wanita yang Nik sekap semakin meronta-ronta dan bergidik jijik.


"Mati saja kau Jona".kesal Nik yang melihat anak buahnya itu muntah.


Laki-laki itu berpikir bahwa kaos kaki miliknya itu sangat wangi dan bersih. jadi masih wajar jika iya gunakan untuk apa saja, termasuk untuk menyumpal mulut wanita yang ada disampingnya sekarang.


"Bos".terlihat gondrong dan juga beberapa anak buah Nik kini berlari mendekati mobil mereka.


"Bagai mana "?.


"Semuanya sudah beres Bos".


"Ada yang masih hidup"?.


"Awalnya ada, tapi mereka memilih bunuh diri saat kami bertanya siapa bos mereka".


"Hem".semuanya sudah direncanakan dengan matang".

__ADS_1


"Kita kemarkas sekarang"?.


"Baik Bos".semua anak buah Nik tak ada yang bertanya lagi, apa tujuan laki-laki ini membawa mereka kembali kemarkas


"Tuan biar aku yang bawa mobilnya"?.pinta Jona karna dirinya melihat luka dilengan Nik terus mengeliatkan darah.


"Hem".baiklah jangan lemot lagi".


"Baik Tuan"?.akhirnya Nik mau juga berpindah tempat.


Sepanjang perjalanan terlihat Nik berkali-kali meringis mungkin saja lukanya sakit. namun laki-laki keras kepala itu berusaha menahannya.


Rasa ego dan malu membuat dirinya menahan rasa sakit yang ada.


Jona yang paham betul bagai mana Bosnya itu hanya sekali-kali melirik Nik dengan ekor matanya.


Dirinya tau apa yang dirasakan bosnya itu.namun bosnya itu sangat pandai menyimpan segala kegundahan hatinya.Nik jika sudah galau dan tertekan akan selalu mabuk-mabukan dan mengamuk tak jelas. bahkan selalu mengoceh tak jelas hingga membuat kepala anak buahnya pusing tujuh keliling.


Namun kali ini laki-laki itu hanya diam membisi, tampa berucap sepatah katapun.matanya hanya terejam dan sesekali menarik nafasnya panjang dengan perustasi.


Jona sudah mengenal Nik sejak remaja, jadi wajar jika dirinya tau apa yang dirasakan laki-laki itu.


"Tuan"?.


"Hem"?.Nik hanya menjawab ucapan Jona dengan bergumam.


Hati laki-laki itu merasa kawatir biasanya Nik akan mengoceh tak jelas jika ada masalah tapi ini"?.


Kejadian yang sangat langka karna biasanya laki-laki yang biasanya mengoceh tak jelas itu akhirnya diam seribu bahasa.


"Apa yang kau simpan dariku"?.tanya Jona sambil melirik Nik sekilas dari spion mobil.


"Tak ada Jona"?.


"Dor".


"Merunduk".pinta Gondrong dari belakang mobil.


Mendengar suara tembakan yang datang dengan bruntun. Nik dengan cepat meraih senjata yang sejak tadi iya selipkan dijaket yang iya kenakan, kemudian dengan cepat menurunkan kaca mobil


Lengan yang sedari tadi mendenyut sakit. sama sekali sudah tidak Nik hiraukan lagi.


Laki-laki itu tampa rasa takut menjulurkan kepalanya keluar dari kaca jendela mobil hingga setengah bagian tubuhnya.


Tembakan bertubi-tubi iya hadiahkan pada beberapa mobil yang mengikuti mereka.


"Dor".


"Bbbbblaaaarrr".


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mohon dukungannya like vote hariah and komen.


Mohon maaf masih banyak typo.πŸ™πŸ™πŸ™


Yuk mampir dinovel outhor yang lain.πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡



Tbc.

__ADS_1


__ADS_2