Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Gejala


__ADS_3

Cuaca hari ini benar-benar buruk, dari pagi hingga siang hujan tidak pernah berhenti seakan betah di belahan bumi itu. Aldara kembali ke kantor setelah menyelesaikan masalah anaknya di sekolah, dia terlihat termenung dimejanya.


"Aku tidak boleh membiarkan Helen bertemu dengan Pak Algi, bisa saja dia akan membawanya dan kini tugasku yang harus membawa keponakanku satu lagi, Roni! " gumam Aldara menunduk merogoh beberapa lembar berkas yang sudah dia cetak diprinter.


Dirinya bangun dari duduk dan tidak sengaja menyenggol tas slempangnya yang ada di pinggir meja, Aldara pun berjongkok dan tidak sengaja sebuah foto terjatuh di tasnya.


"Foto mantan suami kakak ku, kenapa ada di sini apa aku lupa untuk menaruhnya di lemari!" seru Aldara, hingga bayangan dan ucapan sang kakak pun kembali terbayang di pikirannya.


"Cari, cari, cari! " ucapan sang kakak sebelum akhirnya dia meninggal, sambil tangannya menyodorkan sebuah foto yang kini berada di tangan Aldara.


Aldara mengusap pelupuk matanya yang mulai berair itu, dia tidak bisa melupakannya.


"Kakak yang tenang di sana aku akan mencari dia! " lirih Aldara lalu kembali berdiri dan segera bangun.


Sedangkan di ruang CEO, Algi dan Roni tengah sibuk dengan aktifitasnya masing - masing hingga seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Hai sayang-sayang ku! " sapa wanita cantik di depan pintu membuat Algi dan Rini menoleh. Jika Algi tersenyum beda lagi dengan Roni dia terlihat acuh.


"Sayang kita makan bersama, bukannya jam makan siang telah tiba! " wanita itu terus bicara dan duduk di sofa tepatnya di pinggir Roni. Dirinya sibuk menata makanan yang dia bawa entah dari mana.


"Melinda tumben sempat membawa kami makanan," ucap Algi menghentikan aktifitasnya dan menghampiri Melinda serta Roni yang sibuk dengan ponselnya.


"Sesibuk apa pun aku akan sempatkan mengantar makan siang untuk calon suami dan anak ku! " ucap Melinda membuat Roni melirik sinis ke arah wanita itu.


Sedangkan Algi hanya berdehem lalu kembali fokus pada makanan yang di hidangkan di meja itu.


"Apakah semua ini masakanmu? " tanya Algi setelah beberapa detik suasan menjadi canggung.


"Tentu saja! Aku senang memasak, jadi buat apa beli! " sahut Melinda dan tanpa sengaja Roni melihat cap di kemasan sumpit itu, tentu saja itu cap dari lestoran yang biasa Algi dan Roni datangi. Sedangkan Algi hanya menaikan alisnya sebelah karena bukan hanya Roni, Algi pun ternyata melihat hal tersebut. Pandangan Algi dan Roni bertemu, Ronu tersenyum masam lalu kembali memperhatikan ponselnya.


"Ayolah makan, aku sudah cape-cape masakin buat kalian!" ucar Melinda dengan nada sedih yang di buatnya.


Algi pun merogoh sumpit itu dan membuka kemasannya, Melinda yang menyadari kalau masih ada cap di sana segera mengambil sumpit dan kemasan dari tangan Algi.


"Sayang biar aku yang membukanya! " pinta Melinda paksa lalu beranjak ke tempat sampah.


Algi tau maksudnya, dan dia pun hanya tersenyum menanggapi tingkah wanita yang mencintainya sekaligus wanita yang paling dekat dengannya semasa dia kuliah. Walau wanita itu mengharapkan lebih dari sekedar sahabat tapi Algi masih tidak yakin dengan Melinda. Pandangan Algi mengarah pada Roni, di usapnya puncak kepala Roni.


"Bukankah di sangat baik, apa kamu menyukai dia? " bisik Algi membuat Roni yang sedang bermain game terperanjat kaget.


"Tidak! Aku hanya menyukai bunda! " sahut Roni dan ucapan Roni terdengar oleh Melinda yang baru saja duduk sambil memegang sumpit di tangannya.


"Bunda! " ujar Melinda, tentu saja hanya kata tetakhir yang jelas terdengat oleh Melinda.

__ADS_1


"Iya aku punya Bunda! "Ucap Roni beranjak dari duduknya.


"Roni duduk! Tidak sopan kamu pada Melinda! " hardik Algi, dan hal itu yang membuat Roni semakin membenci Melinda.


Tentu saja dia sangat membenci Melinda, wanita yang bisa berbuat baik dan lembut kepada Roni hanya saat di depan Algi saja.


"Al kamu mengkhianatiku! " teriak Melinda.


"Apa maksudmu? Aku memang dekat dengan mu tapi kita belum sedekat yang kamu bayangkan! " Algi bersahut membuat Melinda mengerucutkan bibirnya.


"Kau jahat! " gumam Melinda.


Sebelum Melinda beranjak meninggalakan ruangan itu dan Algi mulai bangun untuk menyusulnya, Aldara membuka pintu CEO itu dari luar serta terkejut karena dia mendapati Melinda yang tengah mengusap keningnya.


"Apakah Pak Algi ada di dalam?" tanya Aldara dan merasa heran dengan tingkah Melinda.


"Kau-" pekik Melinda tertahan dia sadar tengah di perhatikan oleh Algi, setidaknya dia tidak boleh terlihat kasar di mata Algi.


"Kenapa kamu kesini? " tanya Algi kemudian.


"Saya mau memberikan berkas ini, kebetulan sekertaris bapak tidak ada jadi saya tidak bisa memakai prantara untuk memberikan berkas ini! " jelas Aldara.


"Bawa kesini! " pinta Algi sedangkan Melinda hanya terdiam sembari menatap Aldara lalu Melinda pun membuat Aldara terjatuh dengan kaki nya. Seiring jatuhnya Aldara dan berkas-berkas di tangannya yang kini berserakan membuat Algi menghampiri Aldara.


"Apa yang membuat anda jail kepada saya? " tanya Aldara tepat di depan muka Melinda.


"Cih kau yang memulai, kau membuka pintu itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan membuat ku sakit akibat benturan pintu yang kamu buka! " sahut Melinda.


"Sepertinya anda tuli, aku sudah mengetuk beberapa kali tapi tidak ada sahutan! "


"Kau berani bicara seperti itu, asal kamu tau aku adalah calon istri Algi jadi jangan macam-macam padaku, atau kau akan di pecat dengan tidak hormat karena telah menggangu nyonya dari pemilik perusahaan ini! " bisih Melinda pada Aldara, mendengar hal itu Aldara hanya tersenyum menanggapi lalu berlalu dan menghampiri meja Algi.


Roni yang hanya fokus pada ponselnya tidak tau kalau Aldara ada di ruangan yang sama dengannya. Aldara sempat melirik Roni dan makanan yang tersaji di meja.


"Maaf menggangu makan siang anda! " ucap Aldara, dan Algi pun teringat kalau Melinda masih berada di ruanganya.


"Melinda apa kamu akan pergi? " tanya Algi dan di tanggapi oleh Melinda bahwa ucapan itu seperti mengusirnya dari ruangan itu.


"Kau mengusirku, aku terdiam di sini menunggumu menyusul-" kembali pembicaraannya dia hentikan mengingat ada Aldara di ruangan itu. Roni pun bergeming dan matanya menatap Aldara.


"Bunda! " teriak Roni menghampiri Aldara serta memeluk Aldara.


"Jadi dia yang membuatmu goyah padaku Algi! " teriak Melinda dengan air matanya yang entah kapan mengalirnya karena begitu saja sudah sangat deras menuruni pipi mulusnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu Melinda? " Algi menoleh pada Melinda. Melida pun menghampiri Aldara.


"Roni memanggil wanita ini dengan sebutan Bunda, kau pasti ada apa-apa dengannya di belakangku! "


"Melinda cemburu mu itu tidak ada artinya, apa kau sadar kalau kita hanya sebatas sahabatan!" ucapan Algi pun membuat Roni tersenyum sedangkan Aldara hanya terdiam dan terpakasa menyimak perbincangan mereka.


"Setelah semua yang aku lakukan kau tega seperti itu padaku!" teriak Melinda pada Algi dengan terisak.


"Dan kau hanya wanita kemarin sore mengenalnya, dan tidak tau apa-apa tentang Algi! Aku pastikan kau akan memutuskan hubungan dengan Algi! " hardik Melinda pada Aldara.


"Pak sepertinya di sini saya kurang nyaman, jika berkasnya sudah di tanda tangani saya akan pergi! " Aldara mencoba menghindari pembicaraan yang menurutnya konyol itu.


"Melinda jaga ucapanmu, dia hanya-"


"Laki-laki selalu begitu!" ucapan Melinda memotong pembicaraan Algi lalu begitu saja pergi meninggalakan ruangan Algi.


Algi hanya menghembuskan nafas kasar, Melinda merupakan wanita satu-satunya yang dekat dengan Algi selain ibunya. Melinda selalu berkunjung ke rumah dan kantornya seperti tadi, menyempatkan makan bersama dengannya. Melinda selalu menempelkan diri padanya terkadang membuat Algi risi dengannya, jika Melinda mengharapkan hubungan mereka lebih, berbeda dengan Algi, dia tidak mempunyai perasaan apapun walau sering bertemu dia hanya menganggapnya seperti saudaranya saja.


"Bunda aku ikut ya?" rengek Roni, Aldara pun tersenyum dan berjongkok.


"Aku lagi bekerja sekarang, dan daddy mu tidak akan mengizinkannya, haccuhhh! " ucap Aldara lalu bersin di akhir bicaranya.


"Bunda sakit? " tanya Roni.


"Sedikit demam saja, " Aldara tersenyum memeluk Roni, entah mengapa dia begitu saja menjatuhkan air matanya.


"Bunda bajumu basah! " ucap Roni dan Algi pun sedikit melirik mereka yang tengah berpelukan.


"Lama-lama juga akan kering, " sahut Aldara lalu kembali berdiri.


"Apakah berkasnya sudah selesai ditanda tangani? Haacuh hacuuh, " tanya Aldara dengan hidungnya yang mulai mampet dan memerah.


"Ini! " Algi menyodorkan beberapa berkas pada Aldara.


"Bunda tetaplah di sini, kau sakit! " Roni khawatir.


"Tidak apa-apa nanti juga sembuh kok! "


"Buka bajumu, aku punya kemeja di sini! " ucap Algi.


"Tidak usah repot-repot, saya permisi undur diri, " Aldara membungkuk lalu pergi dari ruangan itu.


Jangan lupa tinggalakan jejak 🚩🚩

__ADS_1


Dengan Like, Komen, favorit dan Vote ya.......


__ADS_2