
"Helen kok bisa sama taksi kesini? " tanya Aldara dan menatap taksi didepan, bahkan sebelum itu Aldara sempat bingung karena taksi itu begitu saja ada didepan rumahnya.
"Ini mbak, anak mbak sama masnya tadi memberhentikan taksi saya di depan gedung apartemen mewah kawasan elit itu dan meminta saya untuk mengantarnya kerumah ini! " ucap supir itu, membuat mata Aldara mendelik pada Algi.
"Kau jelas yang menculik Helen, buktinya sangat jelas kau mau mengelak lagi! " Aldara menggendong Helen dan berteriak pada Algi.
"Aku tidak menculiknya! Aku tidak tau Helen ada disana! " Algi pun dibuat bingung apa lagi sang supir yang kini menggaruk kepalanya merasa sangat bingung.
"Bohong! " sentak Aldara
"Maaf mbak sama masnya, kalau berteriak jangan dihadapan anak kasian dia. Lagian mana ada seorang daddy nyulik anaknya kan, kalian mungkin salah paham cepat bereskan itu tetangga disana pada ngerumpiin mbak sama emasnya lho! " jelas Pak supir memberi tau.
"Diam! " teriak Algi dan Aldara bersamaan membuat supir itu terperanjat.
"Jantung ini mau copot, kena semprot juga aku!" gumam supir sambil mengelus dadanya.
"Kalau begitu saya pamit, hati-hati anaknya keluyuran lagi. Jangan membuat dia merasa takut karena teriakan kalian, bisa-bisa anak ini tidak betah dirumah! " ucap Supir itu memperingati, Aldara diam saja hanya saja Algi merasa geram pada supir itu.
"Kau-"
"Nak bapak pergi takut kena amuk lagi, pai pai! " supir itu segera memotong pembicaraan Algi lalu berlari memasuki mobilnya, dan segera melesat meninggalkan rumah itu. Helen cekikikan melihat tingkah supir itu.
"Helen kau baik-baik saja? " tanya Aldara mengusap puncak kepala Helen, sedangkan Helen hanya mengangguk.
"Sekarang kau pergi dari sini! " Aldara mengusir Algi.
"Tidak akan sebelum aku membawa anak-anak! " sahut Algi dengan tegas.
"Apa maksudmu, aku tidak akan memberikannya padamu sudah cukup bukti kau menelantarkan Helen dan membuat Helen ketakutan karena kau menculiknya! " Aldara hendak pergi tapi bahunya digengam Algi.
"Sudah ku bilang aku tidak tau soal Helen pergi, kau jangan mengarang cerita! " ucap Algi.
__ADS_1
"Lepaskan! " Aldara menggerakan bahunya agar tangan Algi melepaskannya.
"Bunda Helen tidak diculik Daddy, tapi ada orang lain yang menculik Helen." ucap Helen membuat Algi dan Aldara menoleh menatap.
"Jadi kau tau siapa yang menculikmu? Dan kenapa kamu bisa berada dihalaman apartemen Algi?" tanya Aldara.
"Setelah Helen dibawa dari rumah itu oleh sipenculik, Helen dibawa kesebuah gudang lalu akhirnya Helen bisa kabur dan dihalaman gudang itu ada mobil yang teparkir ya Helen masuk saja kebagasinya karena penculik itu mencoba untuk mengejar. Sampai akhirnya mobil itu berjalan dan sampai dipalkiran aparteman Deddy, Helen pun keluar dan mendapati Daddy yang akan pergi tapi saat Helen akan berlari kearah Daddy malah keduluan sama laki-laki yang membawa Helen kesana." jelas Helen membuat Aldara lebih menatap tajam Algi sedangkan Algi mengepalkan tangannya.
"Kau bersekongkol dengan penculik itu Algi, sana pergi dari hadapanku! " Aldara menendang kaki Algi sampai dia kesakitan dan melepaskan genggamannya di bahu Aldara.
"Bukan aku! aku tidak tau! " kekeh Algi tapi dihiraukannya oleh Aldara.
"Apakah Fadil mencoba mengahasutku? Dia menculik Helen supaya aku lebih membenci Aldara dan salah paham kepadanya?" gumam Aldara dalam hati.
"Sana pergi! " Aldara menuju pintu lalu masuk dan mengunci pintu itu, meninggalakn Algi dengan pikirannya yang sedang menilai Fadil.
"Bunda jangan marah sama Daddy, dia baik dan dia cuma dihasut sama paman itu. Aku mendengarnya tadi paman itu berbicara setelah daddy pergi!" beritau Helen tapi Aldara tidak mau mendengar hal itu dan malah mengacuhkannya.
Algi menoleh pada pintu rumah Aldara, lalu berlari menghampiri mobilnya karena dirasa ada yang tidak beres dengan semua hal ini.
Mobil yang dikendarai Algi melesat dengan kecepatan tinggi, hingga sampai dirumah utama. Algi segera berlari memasuki rumah yanga amat mewah itu, sudah lama dia tidak mengunjungi rumah itu bahkan jarang untuk menginjakan kaki di sana setelah kejadian tragis yang menimpa sang kakak.
Tangan Algi membuka knop pintu itu dan tanpa sengaja mendengar Fadil berteriak, membuat dia mengurungkan diri untuk menampakan dirinya dan memilih untuk menguping.
"Apa! Kalian tidak becus hanya mengambil orang koma dan Raisa yang lemah! " teriakan itu menggema di seluruh penjuru ruang tamu itu. Algi yang mendengar hal itu hatinya bergetar dan tangannya mulai menggenggam knop pintu erat, dia masuk dan terdiam dibalik kursi dia ingin lebih jelas mendengar percakapan Fadil bersama seseorang ditelpon.
"Pokonya kalian harus bisa mengambil kembali Dinar dan Raisa bagaimana pun! " Fadil mengakhiri percakapan itu, lalu bergegas ke kamarnya tanpa tau bahwa Algi tengah menahan amarahnya di balik kursi itu.
"Kak Dinar masih hidup dan koma? " guman Algi tangannya bergetar dan rahangnya mengeras, dia sudah saangat marah sekarang karena mempercayainya.
"Laki-laki ular, awas saja kau! Bisa-bisanya menghasutku!"Algi segera pulang dari rumah itu dengan segudang amarah yang membucah pada Fadil, dia tidak langsung mendatangi Fadil sekarang karena ada rencana lain yang akan Algi kerjakan untuk Fadil.
__ADS_1
Algi telah sampai dimobilnya dan akan menginjak pedal gas pada mobilnya, tapi tatapannya tidak sengaja menangkap sosok Melinda yang akan kerumah utama itu membuat Algi kembali dibuat bingung.
Terlihat Melinda menginjakan kaki keruma itu tanpa segan, tapi dari belakangnya ada seorang laki-laki yang menghampiri sehingga Melinda menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Jafri! " Algi di buat terkejut ternyata yang menghampiri Melinda adalah Jefri, Algi segera menyembunyikan mobilnya di sebrang jalan sana lalu kembali kerumah utama itu untuk menghampiri Melinda dan Jefri.
"Oh wanita cantik ini ternyata sekongkol dengan Fadil, pantesan saja Fadil sangat berkuasa orang yang dipercaya keluarga Algi ternyata berkhianat!" Jefri mencengkram bahu Melinda kuat sehingga Melinda terlihat kesakitan.
"Aw lepaskan!" Melinda memcoba menepis tangan kekar Jefri.
"Aku tidak akan melepaskanmu! " teriak Jefri dan tidak lama kemudian Fadil pun keluar.
"Ada apa ini! Ah Jefri kau kembali kesini mau apa lagi sekarang! " Fadil menyilangkan kedua tangannya didada menatap Jefri.
"Laki-laki kurang ajar kau! Kembalikan Helen, aku tau kau yang menculiknya! " teriak Jefri dengan gemetar dia belum tau kalau Helen telah pulang kerumah.
"Ish! Ish kau ini pintar juga, dengarkan aku tidak akan mengembalikan dia! Ha ha ha! " Fadil tertawa membuat Algi tidak bisa diam saja, hingga dia pun disadarkan dengan rencana yang akan dia lakukan Algi pun malah meninggalkan halaman rumah utama itu dan kembali kemobilnya.
"Oh begitukah! Lihat saja nanti! " Ucap Jefri dan mendorong Melinda sampai tersungkur dilantai.
Bugh
"Salam perang! Fadil! " Jefri memukul Fadil terlihat kemarahan itu dari wajahnya membuat Fadil mendengus.
JANGAN LUPA LIKE 👍 KOMEN 💬 FAVORIT 💝 DAN VOTE 🌹
IKUTI TERUS CERITANYA....
SELAGI MUNUNGGU UP CERITA INI, YUK MAMPIR KE KARYA AUTOR YANG LAINNYA DAN UDAH TAMAT LHO! DENGAN JUDUL GURU DUNIA AKHIRAT.
__ADS_1