
Akhirnya dipenghujung acara, semua orang tegang dan tidak sabar mendengar grup mana yang akan menang lomba masak ini, setalah kejadian perkelahian Melinda dan Ibu setengah baya itu yang membuat waktu terulur.
"Baiklah kami telah melihat dan mencicipi nasi tumpeng dari ke empat grup ini lalu kami pun telah mengantongi siapa pemenagnya, " ucapan sang guru itu sengaja digantungkan agar suasana menjadi tegang.
"Pemenagnya adalah grup Helen, selain enak hiasannya pun sangat cantik dan mereka juga grup paling kompak dari grup yang lain!" ucapan guru dari alat pengeras suara itu membuat Melinda memutar bola malas.
"Yey, bunda kita menang! " Helan merentangkan kedua tangannya, melihat hal itu Aldara menggendong Helen lalu mencium semua bagian wajah Helen.
"Tentu saja, bukankah Bunda dan kalian semua pintar masak, " Aldara tersenyum dan semakin mengeratkan gendongannya pada Helen, karena Aldara pun senang dia pun mengangkat Helen dan seakan menerbangkannya lalu dia pun memutarnya.
Algi melihat kelakuan Aldara tanpa sadar tersenyum menaggapi, sedangakan Roni kembali bersedih. Algi menghembuskan nafas panjang karena dia paling tidak bisa kalau membujuk anaknya kalau lagi sedih.
"Roni! " Algi menggendong Roni, tapi Roni hanya diam saja.
"Kau mau apa? " tanya Algi.
"Bunda! " jawab Roni pelan sambil menunduk, sedangkan Algi hanya memejamkan matanya sesaat bahkan sekarang bukan hanya Roni yang ingin Aldara tapi dirinya juga.
"Baiklah nanti Daddy usahakan! " sahut Algi berbisik ditelinga Roni, dan hal itu membuat perhatian bagi Melinda.
"Lagi ngapain mereka! " gumam Melinda.
"Benarkah Daddy! " Roni tersenyum senang.
"Daddy usahakan tapi untuk hasilnya kita liat aja nanti ya! " ucap Algi dan Roni
kembali menunduk.
"Salah bicara aku! " gumam Algi dalam hati.
Hari pun makin malam dan semakin gelap Algi berencana untuk menghampiri rumah kayu itu, dia berjalan menggunakan senter ponsel menuju kesana. Sesampainya di depan pintu itu, Algi melihat Aldara yang tengah berjongkok didepannya. Walau Aldara membelakanginya tapi dia tau kalau itu Aldara.
"Hai! " Algi menpuk pundak Aldara dan sepontan Aldara menoleh kebelakang dengan senter ponsel ditangnnya yang menerangi wajah Algi kini.
"Aaaaa Hantu! " teriak Aldara seraya akan berlari dengan kencang tapi pergelangan tangannya berhasil Algi genggam.
"Jangan ganggu aku, aku cuma mau minta air saja dari rumah ini. Jangan rasuki tubuhku aku mohon! " Aldara menunduk takut sambil memejamkan matanya, sedangakan Algi dia tertawa dengan lepasnya melihat tingkah Aldara yang kini ketakutan. Menyadari kalau bukan hantu Aldara pun menoleh lalu menyoroti muka Algi dengan senter ponsel.
"Kau! Ngapain disini! " teriak Aldara kesal, Algi berhasil menjailinya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin saja kerumah ini, kenapa gak boleh? " Algi memajukan mukanya tepat dimuka Aldara.
"Pemindaian gagal! " suara dari knop pintu itu membuat keduanya terperanjat, Aldara melomapat ke pangkuan Algi saking terkejutnya.
"Kau berat juga! " ucap Algi dan menyadarkan Aldara. Aldara pun berniat untuk turun tapi Algi makin mengaratkan tangannya agar Aldara tidak turun dan terus digendong olehnya.
"Turunkan aku! " titah Aldara.
"Ternyata rumah ini bukan rumah kayu, hanya di cat menyerupai rumah kayu padahal ini rumah tembok, " Algi menghiraukan ucapan Aldara.
"Hey turunkan aku, katanya berat! " Ucap Aldara tepat didepan telinga Algi, membuat Algi bergidik.
"Yak! Kau mau mencoba membangunkan sijunior apa kau akan sanggup nanti menidurkannya kembali! Dan bisakah kau diam jangan menggesekan itu! " sahut Algi seraya menatap kebagian bawah Aldara.
"Turunkan aku! " Aldara memukul kuat kedua bahu Algi, dan akhirnya Algi pun menurut.
"Kau benar-benar! "
"Kau yang benar-benat mesum! " teriak Aldara.
Kembali mereka melihat rumah itu, Algi meraba tembok lalu mencoba untuk meninjunya tapi malah dia kesakitan.
"Diknop pintu ada alat pemindai mata, aku rasa pemiliknya menyimpan hal berharaga di dalam! " sahut Aldara.
"Ya pasti saja, mana mungkin pakai pemindai dan temboknya sangat kokoh serta ditempat seperti ini seseorang bisa saja menyimpan hal berharga seperti harta karun, masih ada ya orang sepelit itu! " sahut Algi.
"Yang berharga bukan hanya uang dan perhiasan bodoh! " gumam Aldara dalam hati, sampai dia teringat sesuatu dengan berucap demikian.
"Aku harus segera menemukan potongan foto itu! " kembali ucap Aldara dalam hati.
"Pemindaian gagal! " kembali suara itu terdengar setelah Algi mencoba memindai matanya sendiri.
"Hah, kau mau nyuri harta yang ada di dalam?" ledek Aldara.
"Buat apa aku harus nyuri harta orang lain, kalau hartaku saja sangatlah banyak, aku hanya penasaran saja dan apa kau lupa kalau aku seorang CEO, bahkan kau sekertarisku! Bukannya kau juga tadi mencoba memindai matamu, apa kau yang berniat mencuri?" Algi menatap lekat Aldara.
"Bicara denganmu tidak akan ada akhirnya! " Aldara melongos begitu saja, Algi pun segera menyusul Aldara. Mereka meninggalkan rumah yang penuh misteri itu.
Sesampainya diperkemahan Algi dan Aldara melihat sang guru tengah patroli di dekat perkemahan, tidak ingin membuat guru itu salah paham Algi dan Aldara berbalik arah sehingga mereka berpisah, dan kembali ke tenda. Sedangkan Melinda yang sedari tadi membuntuti Algi dan Aldara kembali ke mobilnya karena dia tidak membawa tenda, dan tenda yang lain pun penuh.
__ADS_1
"Aneh juga ya masih ada harta karun didunia ini! Rumah itu punya siapa? " gumam Melinda mengingat hal tadi, bahkan dia sempat memindai matanya sendiri saat Algi dan Aldara pergi,dan tentu saja pemindaian matannya juga gagal.
Algi tidak bisa tidur begitu juga dengan Aldara, mereka memikirkan tentang rumah itu hingga akhirnya perut mereka terasa lapar.
"Ini sudah jam sebelas semua juga sudah tidur, mana ada orang jualan didepan! " ucap Aldara dia merogoh tasnya dan tas Helen kali aja ada makanan yang tersisa. Hingga dia mengingat nasi tumpeng tadi yang masih banyak sisa. Aldara pun keluar dan bertanya pada guru laki-laki yamg sedang patroli tadi.
"Permisi Pak! " Ucap Aldara sesampainya didekat guru itu.
"Iya bundanya Helen, ada yang bisa dibantu? " tanya guru itu. Algi yang mendengar ada yng mengobrol, dia pun segera keluar dan menghampirinya.
"Apa nasi tumpeng yang tadi masih ada? " tanya Aldara sedikit malu.
"Oh nasi tumpeng, masih ada di tenda konsumsi Anda boleh mengambilnya! " ucap guru itu bersamaan dengan Algi yang baru sampai di hadapan mereka.
"Apa tidak ada lestoran yang buka sekarang di dekat sini? " tanya Algi.
"Tidak ada Pak! " sahut guru itu sedangkan Aldara sudah jauh dari sana.
"Ngapain dia kesana? " tanya Algi kembali.
"Dia tadi menanyakan nasi tumpeng dan kebetulan masih ada! " jawab guru itu dan Algi pun bergegas menghampiri Aldara.
Algi melihat Aldara tengah menyuapakan nasi itu kemulutnya, hingga rasa laparnya semakin menjadi dalam dirinya.
"Berikan aku sepiring! " ucap Algi dan Aldara pun menoleh.
"Nasinya tinggal sepiring tidak ada lagi! " sahut Aldara, dan Algi merebut piring itu dari Aldara.
"Itu miliku! " hentak Aldara.
"Carikan satu sendok lagi, nanti aku kasih separo! " suruh Algi, dan Aldara pun menurut karena dia tau kalau Algi tidak akan bersikap baik padanya. Aldara tidak menemukan sendok lain hingga dia kembali menghampiri Algi.
"Tidak ada sendok lagi sini berikan nasi itu, aku yang duluan menemukannya!" Aldara merogohkan tangan kirinya pada Algi, karena tangan kanannya yang memegang sendok.
"Kalau gitu kau suapi aku, biar aku pegang piringnya kau juga tidak mau menyerahkan sendoknya kan?" Algi menyeringai, karena Aldara lapar dia pun menuruti perkataan Algi.
Aldara menyendokan nasi itu lalu memakannya, dan kembali menyendokan nasi dan menyuapi Algi terus saja seperti itu sampai nasi yang ada di piring habis, walau terkadang Aldara menyindukan nasi buat dirinya dua kali bahkan satu sendok muncung, sedangkan untuk Algi, dia hanya memberinya sedikit. Dan hal itu membuat perdebatan kecil di kedunya. Tanpa sadar bahwa hal itu menimbukan sesuatu dalam dirinya masing-masing yang kini semakin tumbuh, yakni perasaan cinta yang bersemi.
💗💗JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE YA 💗💗
__ADS_1
📢BACA JUGA KARYA AUTOR YANG UDAH TAMAT DENGAN JUDUL GURU DUNIA AKHIRAT.