
Masih diapartemen milik Algi, Aldara menelepon Rumi supaya dia tidak cemas karena sekarang sudah jam delapan malam dan mereka belum pulang juga. Sedari pagi hujan terus mengguyur kota itu, rasa sakit yang dirasakan Aldara pagi tadi sampai masuk rumah sakit terasa lagi sekarang, apa lagi perjalanan menuju apartemen dia juga sedikit kebasahan.
"Mungkin kalau hujan sudah agak reda kami akan pulang! " ucap Aldara pada Rumi yang kini sudah ada di rumah.
"Tentu saja kalian harus pulang jangan sampai menginap bibi kesepian! " sahut Rumi.
"Tentu saja! Baiklah, udah dulu, " Aldara pun memutuskan sambungan teleponnya, lalu memijat keningnya yang agak pusing itu.
Aldara memberanikan diri menghampiri Algi yang tengah sibuk dengan leptopnya di sofa.
"Pak bisakah antarakan kami pulang! " pinta Aldara, Algi pun menoleh lalu terkejut mendapati Aldara yang pucat.
"Hujan terlalu deras, ditambah angin dan petir jadi rawan kecelakan." sahut Algi menutup layar leptopnya.
Aldara sudah tidak kuat, rasanya dia melihat Algi seperti berputar-putar. Aldara segera duduk di samping Algi menutup kedua matanya, menekan lebih kuat kepalannya, dan bersandar disofa,mencoba untuk meredakan rasa pusing yang menjadi.
"Ald kamu baik-baik saja? " tanya Algi, dia pun menjadi khawatir di buatnya lalu dia pun teringat kalau Aldara hari ini sempat pingsan dan dilarikan kerumah sakit.
Algi segera mengambil kotak obat mencari obat sakit kepala lalu mengambil segelas air putih dan disimpannya di meja.
"Ald minum obat! " titah Algi, dia tidak sadar dengan perlakuannya terhadap Aldara yang perhatian. Karena baru kali ini dia sekhawatir itu, padahal sama Melinda dia tidak pernah cemas seperti pada Aldara sekarang.
__ADS_1
Aldara tidak menyahuti dia seakan tidak bisa hanya sekedar bicara sepatah katapun, apa lagi merogoh obat. Dia terlalu sakit dan pening kalau dia membuka mata pun takut akan pingsan. Aldara memang seperti itu jika dia terserang sakit kepala, dia akan merasa seluruh pandangannya berputar seperti bianglala yang diputar dengan cepat.
Algi merasa bingung, untung anak-anak telah tidur sehingga hanya dia yang cemas dengan keadaan Aldara sekarang. Algi berfikir bagaimana caranya agar Aldara merasakan sedikit saja reda dari sakitnya dia pun kepikiran sesuatu. Tanpa canggung Algi mimijat kepala Aldara perlahan.
Itu adalah hal pertama yang Algi lakukan pada seorang wanita, entahlah nalurinya begitu saja bergeming pada Aldara.Sehingga Aldara pun perlahan membuka matanya lalu memegang tangan Algi dan menurunkannya, agar tidak memijatnya lagi.
"Makasih," suara parau itu terdengar jelas digendang telinga Algi.
"Minum obatnya, " Algi menyuapkan obat itu kemulut Aldara, Aldara pun menerimanya.
"Mungkin hujan telah reda, antarkan kami pulang! " kembali Aldara berbicara. Tapi hal itu membuat Algi geram, entahlah dia sangat tidak ingin Aldara pulang dengan keadaan seperti itu.
Algi menghampiri jendela lalu membuka gordennya dan berkata, " Lihatlah, hujan masih deras dan kilatan pun masih nampak! "
"Tidurlah dikamarku, biar aku disini! " ucap Algi dan Aldara pun segera menggeleng.
"Kami akan pulang! " sahut Aldara dan Algi hanya membuang muka.
"Dia begitu keras kepala! " gumam Algi dalam hatinya.
Tanpa berpikir panjang Algi segera menggendong Aldara menuju kamarnya.
__ADS_1
"Turunkan aku! " suara lemah itu keluar dari mulut Aldara tapi dihiraukannya oleh Algi. Sesampainya didalam kamar, Algi menidurkan Aldara dengan hati-hati lalu menyelimutinya.Setelah itu Algi pun beranjak pergi.
"Tidurlah disini! " ucap Aldara membuat Algi terkejut dan kembali menghampirinya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Algi.
"Tidak! Kau tidurlah disini jangan di sofa, di sana dingin dan kau akan sakit! " ujar Aldara menepuk kasur disampingnya dan sukses membuat Algi kembali berdebar hatinya.
"Apa kau sedang bergurau, kita ini bukan siapa-siapa apa kamu tidak takut padaku?" tanya Algi seraya menatap kasur disebelahnya.
"Justru karena kita bukan siapa-siapa, jadi tidak akan baper dan tidak akan terjadi apa-apa! " sahutan Aldara membuat Algi menelan airliurnya dengan susah.
"Atau Bapak sudah ada rasa baper sama saya? " tanya Aldara dengan seringainya.
"Apa maksudmu! Tentu saja tidak, aku akan tidur disampingmu dan kau yang akan baper kepadaku! " Algi buru-buru naik ke atas kasur, menyelimuti dirinya.
Kini mereka satu ranjang dan satu selimut, Aldara yang sudah tidak kuat ngantuk mungkin efek dari obat segera memejamkan matanya, sedangkan Algi yang kini merasakan debaran jantungnya yang berdegup tidak seperti biasanya sehingga susah untuk terpejam.
Algi menoleh kesamping, menatap wajah Aldara yang mulus dan putih lalu sedikit pucat hingga akhirnya dia memandangi bibir Aldara yang sedikit memutih. Walau seperti itu kesannya bibir Aldara seperti tengah menggoda Algi.
"Sial! " gumam Algi, lalu membalekangi Aldara.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE 🙏🙏🙏🌹🌹