Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Helen Kabur


__ADS_3

"Lepaskan, lepaskan aku! " Helen terus berteriak sampai tenggorokannya sakit, tapi pria bertubuh jangkung itu menghiraukannya sampai Helen di bawa kegudang.


"Diam! " sentak laki-laki dewasa lainnya tapi anehnya Helen tidak merasa takut dia terus berteriak hingga perban hitam itu menempel mulus dibibirnya.


"Berisik sekali! Ikat dia! " suara grono milik lelaki itu, Helen mengerjap mengingat suatu hal hingga senyum itu terlihat diwajah imutnya.


Tangan Helen bersiap untuk diikat, tapi tangan dan kakinya tidak diam hingga Helen mengayunkan kaki itu dan


Bugh


"Aaaaaa! " suara jerit lelaki itu menggema, hingga Helen bisa terlepas dari genggamannya, dan Helen bergegas pergi dari sana.


"Ku pukul bagian itu, hah film laga itu memberiku ilmu dan kini aku terbebas, " gumam Helen.


"Kejar anak itu! " terdengar teriakan laki-laki itu, membuat Helen celingukan mencari tempat persembunyian, hingga dia menemukan sebuah mobil dia pun cepat berlari dan membuka bagasi mobil kebetulan bisa dibuka.


"Kemana dia! " kembali suara laki-laki itu.


"Tadi dia disini, pasti masih sekitar tempat ini. Sekarang kita harus berpencar sebelum tuan Fadil kemari dan memeriksa! " ucap Laki-laki lainnya, sambil menunjuk kearah mana mereka harus berlari mencari Helen.


"Woy! " Fadil berteriak memanggil bawahannya yang terlihat kalang kabut mencari sesuatu.


"Kalian sedang apa! " kembali teriakan Fadil, membuat kedua laki-laki itu menunduk.


"Bagus kalian menculik anak itu kan, urus dengan baik jangan sampai kabur. Aku harus menemui bos yang sudah memberiku pasukan baru! " Fadil memyeriangai menatap bawahannya itu.


"Hah ah ia bos! " sahut salah satu laki-laki itu dengan gugup.


Fadil segera menghampiri mobil silvernya, lalu masuk kedalamnya dan bersiap untuk berangkat. Kebetulan Fadil tidak masuk keruangan itu, hanya memastikan kalau pasukan barunya telah berkumpul di markas.


Helen yang merasa mobil itu bergetar seketika mengeratkan tangannya pada bahu, lalu memejam.


"Bunda tolong Helen! " gumam Helen.


Mobil Fadil berjalan santai menuju apartemen Algi, dia akan mencoba membujuk keponakannya itu untuk mendukung dirinya lagi untuk menghancurkan musuhnya. Dan tanpa Fadil sadari kalau Helen kini berada satu mobil bersamanya.

__ADS_1


Sampai akhirnya mobil itu di palkiran, Fadil membuka pintu mobil begitu juga Helen berusaha untuk membuka bagasi itu dan akhirnya berhasil, Fadil belum sadar kalau Helen kini mengeluarkan kakinya dari bagasi padahal Fadil masih di sana belum berjalan masuk.


"Kalau difilm, aku harus sedikit pelan untuk keluar supaya tidak menimbulkan suara! " gumam Helen pelan.


Bukh


Bersamaan Fadil menutup pintu mobil, Helen pun berhasil keluar dari bagasi dan melihat Algi di depan sana membuat Helen tersenyum.


"Daddy!" Helen hendak berlari menghampiri Algi tapi dia urungkan karena Fadil berlari lebih dulu menghampiri Algi.


"Siapa paman itu! " Helen berjalan pelan menghampiri Algi. Hingga di balik tembok dirinya terhenti.


"Kamu mau kemana? "tanya Fadil karena Algi terlihat akan pergi.


"Aku akan mengambil Roni dan Helen, dia harus bersamaku! " sahut Algi.


"Memang perlu mengambil mereka aku rasa dia pasti telah disembunyikan oleh Aldara! Karena kau harus tau kalau untuk membuka rumah itu perlu memindai kedua mata anak Dinar dan Sarah! " beritahu Fadil, tentu saja dia tau dari anak buahnya yang menculik Helen dan yang meninggal ditempat karena menembak pintu itu malah terpental mengenai dirinya sendiri.


"Tidak terpikirkan! Aku harus segera menemui Aldara! " Ucap Algi dan tentu saja membuat Fadil menyeringai jahat setelah Algi memasuki mobilnya dan pergi.


"Dia akan membuat bunda dan daddy bermusuhan, tidak akan! " Helen mengerutkan dahinya dan menautkan bibirnya, tidak terlihat menakutkan tapi malah menjadi menggemaskan.


Fadil kembali ke mobilnya dan meninggalkan ruang palkir itu, Helen keluar dari balik pintu itu dan mulai berfikir untuk pulang kerumah.


Helen berlari dan kini berada di pinggir jalan dia memberhentikan taksi.


"Nak mana ibumu? " tanya sang supir setelah membuka kaca pintu itu.


"Bundaku dirumah, jadi aku ingin kerumah! " jawab polos Helen.


"Kenapa tidak minta di jemput saja?" tanya supir dia tidak ingin ngambil resiko nanti dikira nyulik anak, kalau begitu saja memasukan Helen ke mobilnya.


"Bunda sama daddy lagi marahan, jadi kalau bunda kesini takutnya malah perang. Dan pak supir tau tidak, bundaku itu kalau marah suka main pisau. Sebenarnya aku juga disuruh bunda ke rumah, apa bapak tidak kasian nanti malah aku yang dihukum bunda karena tidak kunjung datang. Tenang saja aku punya uang nih! " jelas Helen sambil menyodorkan uang dua puluh ribu.


"Eh ngeri juga ibumu, cepat naik tidak usah bayar itung-itung beramal saja! Tapi dimana rumah bunda mu? " supir itu seraya membukakan pintu untuk Helen.

__ADS_1


"Nanti aku beri tau! " sahut Helen.


Sedangkan diJepang, Andris dan Raisa terlihat duduk dikursi ruang Dinar dirawat. Sedangkan suami Indah tengah membeli makanan untuk mereka.


"Kau adik Indah? " tanya Raisa membuaka percakapan.


"Ia, " jawab singak Andris, dia terlilah kecapean dan hal itu membuat Raisa merasa bersalah.


"Maaf karena telah merepotkanmu! " Raisa menunduk.


"Tidak, lagian aku juga sebenarnya seorang dokter aku tau kondisi anak tante!" Andris menoleh pada Raisa.


"Jadi kamu seorang dokter? " tanya Raisa.


"Eh tante reaksinya itu, tidak percaya ya kalau aku seorang dokter. Memang tampang ku sebenarnya pantas menjadi pengusaha tapi menjadi dokter adalah keinginanku! " ucap Andris seraya tersenyum.


"Dokter dirumah sakit mana atau buka klinik? " Raisa menatap Andris.


"Aku dokter spesialis di rumah sakit ini, tapi karena keinginanku ingin membuka rumah sakit sendiri jadi harus berkorban dulu! " Andris menunduk.


"Maksudmu! "


"Aku harus berhenti dulu sejenak dari pekerjaanku dan harus bekerja disuatu tempat. tapi tidak mengapa sekarang rumah sakitku sedang dibangun kakak ku memang terbaik! " Andris tersenyum.


"Aku salut sama Dinar koma bertaun-taun, sepertinya terdengar aneh sekali tapi dia mencoba bertahan, dan lagi tante sangat gigih kalau Dinar akan hidup. Aku perkirakan pasti tidak akan lama lagi dia tersadar karena tante merawatnya dengan baik! Apa lagi aku akan berperan dalam penyembuhan ini! " Andris tersenyum dan membuat Raisa menitikan air matanya.


"Aku menunggu hari ini selama beberapa tahun terakhir!" Raisa menghapus air matanya hingga suara gaduh terdengar dirumah sakit itu.


"Dimana ruang pasien Dinar? " suara laki-laki membuat Raisa dan Andris berdiri.


Andris keluar melihat siapa yang mencari Dinar, dan seketika matanya membulat sempurna lalu bergegas memasuki ruang Dinar dan menguncinya. Raisa melihat tingkah Andris menjadi bingung.


"Ada apa? " tanya Raisa.


"Kita harus pindah dari tempat ini! " ucap Andris.

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE


__ADS_2