
HAPPY READING
Dirumah sakit tempat Dinar dirawat terdengar kegaduhan ulah orang-orang suruhan Fadil.
"Dinaru no heya wa dokoda to itta? "
(Dimana ruang Dinar?) teriak laki-laki tegap itu pada resepsionis rumah sakit itu.
"Nani ga okimashita ka? "
(Apa yang terjadi?) tiba-tiba suami Indah datang, sambil menenteng kantung kresek.
"Dinaru to iu namae no kanja o sagashiteimasu! "
(Saya mencari pasien bernama Dinar! ) sahut laki-laki itu, suami Indah menyeriangai saat dia menatap ponselnya yang dia genggam.
"Himeiwoageru hitsuyo wa arimasen byoin ni! "
(Jangan berteriak di rumah sakit) ucap suami Indah lalu dengan cepat sebelah matanya mengerjap, pada repsesionis memberi kode.
"Bara no heya wa 2 kai ni arimasu, Dinaru ga atsukawa reru heya! "
(Diruang mawar lantai dua, tempat Dinar dirawat!) kasih tau repsesionis perempuan itu dengan gemetar, karena takut dengan tiga orang laki-laki dihadapannya yang bertubuh besar.
"Dari tadi ke ngomongnya, mesti harus marah dulu! " ucap salah seorang dari ketiga itu, lalu berjalan menuju lantai dua. Sedangkan suami Indah mencari tim keamanan rumah sakit ini, karena setelah ini mereka pasti akan kembali membuat kegaduhan karena sebenarnya Dinar sudah tidak ada diruang itu.
"Akhirnya sempat juga mengulur waktu! " Suami Indah berjalan segera menemui keamanan, tadinya resepsionis yang akan menghubunginya tapi salah satu dari ketiga laki-laki itu membanting telponnya.
Dan untungnya mereka tidak tau bahwa suami Indah yang telah membawa Dinar kenegara itu.
Sampai diruangan yang dikatakan resepsionis tadi, ketiga laki-laki itu tidak melihat keberadaan Dinar disana hanya ada dua pasien ibu-ibu. Hal itu membuat ketiganya emosi dan berniat berpencar untuk mencari Dinar dan Sarah.
"Kita telah dibohongi dan kali ini harus perpencar! " ucap salah seorang dari ketiga itu.
Mereka berlarian tapi tidak kunjung menemukannya hingga salah satu dari mereka menemukan ruangan yang dirasa janggal. Disana terdapat ruang yang bernama dokter sepesialis dalam, tapi mata jelinya menemukan Raisa yang sedang duduk dengan cemas membuat laki-laki itu membuka pintu tapi terkunci.
"Buka! Atau aku dobrak pintu ini! " teriak laki-laki itu membuat Raisa takut dan gemetar, sedangkan Andris mencari sesuatu yang bisa menjadi senjata untuk melindungi Dinar dan Raisa.
__ADS_1
Tim keamanan telah berpencar mencari tiga orang yang membuat kekacauan dirumah sakit itu dan menemukan dua dari mereka, dan segera mengaman kannya.
"Mo 1tsu dake! "
(Tinggal satu lagi!) ucap salah satu dari tim keamanan yang memiliki postur tubuh tidak kalah besar dan kuat, ditambah jumlah merela lebih banyak ketimbang hanya tiga orang saja.
Sedangkan diruang Dinar, orang suruhan Fadil itu berhasil mendobrak pintu dan segera Raisa memeluk Dinar, sedangkan Andris dengan bergetar menyodorkan suntikan padanya.
"Jangan berharap kau bisa membawa mereka, dasar laki-laki biadab! " ucap Andris dan malah membuat laki-laki itu tertawa.
"Senjatamu hanya itu untuk melindungi mereka, bagaimana kalau beradu dengan senjataku! " laki-laki itu hendak mengeluarkan pistol, Andris segera berlari sambil berteriak ala kartun Jadu menghampiri laki-laki itu.
"Andris awas! " teriak Raisa.
"Aca cacacacac, tusukan mematikan!" teriak Andris.
Crsss
"Aaaa! " teriak laki-laki itu, karena belum siap untuk melawan Andris yang kalah gesit akhirnya laki-laki itu tergeletak juga dilantai.
Terlihat Andris dengan nafas yang memburu setelah melihat laki-laki itu terbaring dilantai dengan tidak berdaya. Pistol yang tadi sempat terjatuh pun diambil oleh Andris dan disimpan di sakunya.
"Obat tidur dengan kadar tinggi! Kita harus segera keruangan khusus, udah di VIP saja aku akan rekomendasikan! " Andris segera menghubungi rekan kerjanya dulu pada saat bekerja di rumah sakit itu.
Melihat hal itu ada rasa haru yang dirasakannya, dia ditolong oleh orang lain.
Sedangkan di Indonesia, Algi mengetuk pintu rumah Aldara keras karena tidak kunjung dibuka.
"Aldara buka! " teriak Algi.
Cklek
"Ngapain kau kesini! " Aldara akhirnya membuka pintu, karena malu nanti diomong sama tetangga karena berisik.
Algi yang melihat Aldara dengan t strit pendek putih dan celana jeans dibawah lutut, dengan rambut yang digerai menambah kadar kecantikannya. Hingga pandangan Algi tertuju pada leher yang banyak sekali bekas hissapan darinya, hingga Algi kembali membayangkan malam itu.
"Sana pergi! " Teriak Aldara hendak menutup pintu, karena Algi hanya terdiam sambil menatap dirinya dan merasa risih dibuatnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu! " Algi menahan pintu itu.
"Aku akan menjemput Roni dan Helen! Tidak ada alasan untuk tidak memberikannya padaku! " ucap tegas Algi dan Aldara malah mendengus.
"Kau berpura-pura mencari mereka? Kau yang menculik Helen kan! " ucap Aldara dan menatap tajam kearah Algi.
"Jangan membuat alasan, karena kau menyembunyikan mereka! Bukankah rumah itu akan terbuka kalau memindai mata mereka! " Algi mendorong pintu itu tapi ditahan oleh Aldara.
"Kau benar mereka bisa membukanya, asal kau tau setelah kami bisa membukanya Helen diculik dan aku tau kaulah yang menculiknya, karena tidak ada lagi yang tau soal rumah itu! " Aldara mendorong pintu itu agar Algi tidak masuk.
"Jangan membuat alasan lagi, kau selalu membohongiku aku tidak akan mempercayai mu! " teriak Algi dan berusaha mendorong pintu itu.
Mereka saling mendorong pintu hingga suara taksi berhanti didepan rumah pun tidak ada yang mendengar.
"Itu Bunda dan Daddymu? " tanya supir setelah menghentikan mobilnnya.
"Lihatkah mereka masih saling marahan, mungkin saja pintu itu nanti rusak! " Helen menunduk.
"Dasar orang tua muda jaman sekarang, bertengkar sampai lupa ama anak dan teriak-teriak sesukanya! Pantas saja tetangga disana tadi pada berkumpul dan melihat kearah rumah ini ! Ayo nak bapak gandeng sampai depan pintu! " supir itu membuka pintu mobil.
"Anak-anak itu adalah miliku, kau harus memberikannya padaku! " teriak Algi.
"Kau pergi sana, sampai kapan pun aku tidak akan memberikan mereka. Aku akan mengambil Helen darimu! " tidak kalah keras teriakan Aldara.
"Permisi!" suara supir itu sambil menggenggam tangan Helen, tapi sayang tidak digubris karena Aldara dan Algi sibuk saling berlempar argumen.
"Maaf mas sama embaknya, ini anaknya lho! " kembali supir itu berucap tapi tetap dihiraukannya. Karena suara Algi dan Aldara yang kencang hingga suara supir itu tidak terdengar.
"Baiklah jurus teriak geledek pun akan aku keluarkan! " supir itu geram karena ucapannya tidak disahuti. Sedangkan Helen menutup mulut dengan kedua tangannya, menyembunyikan tawanya.
"PERMISIIIIIIIIIII! " Suara sangat nyaring dari supir itu yang membuat akhirnya dia terbatuk karena kerongkongannya sakit, Algi dan Aldara menoleh pada sumber suara. Sedangkan Helen tertawa dengan bahaknya melihat tingkah supir itu.
"Wah bagus pak supir, the best!" Helen seraya mengacungkan kedua jempolnya. Sedangkan Aldara yang melihat Helen segera membuka pintu itu dan otomatis membuat Algi yang masih menggenggam knop pintu terdorong, hingga bibir mereka bertemu.
"Jangan lihat! " supir itu menutup kedua mata Helen, membuat Aldara dan Algi tersadar. Aldara pun mendorong Algi sampai terhunyung kebelakang.
"Helen! " Aldara memeluk erat Helen dan menciumi seluruh wajahnya, air mata mengalir membasahi pipinya dia sangat khawatir pada Helen.
__ADS_1
"Suminya itu mungkin terlalu rakus, sampai menimbulkan perdebatan hi hi!" gumam sang supir dalam hati karena matanya tidak sengaja menatap leher Aldara.
JANGAN LUPA KASIH JEJAK AGAR AUTOR SEMAKIN ANTUSIAS MENULISNYA, CUKUP DENGAN LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE...