Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Perlakuan Aneh


__ADS_3

"Dasar laki-laki kurang ajar! " Rumi berlari kearah Algi yang kini terdiam sambil menatap kepergian Aldara.


"Aduh gawat! " Jefri pun ikut berlari menyusul sang istri.


"Kau berani menghancurkan masa depannya! Kau membuatnya terhina dan tersakiti! Laki-laki pengecut! Yang hanya memanfaatkan kelemahan wanita saat di ranjang!" Rumi mencekik leher Algi dan membuat Algi susah bernafas dan kini mukanya terlihat memerah


"Sayang hentikan ayolah jangan bunuh dia!" Jefri mencoba menarik tangan Rumi dari leher Algi dan akhirnya terlepas.


Plak


Plak


Suara tamparan keras dari Rumi untuk wajah Algi terdengat miris.


"Kau harus tanggung jawab nikahi Aldara! Kalau tidak aku pastikan hidupmu tidak akan tenang sampai kau mati! " Rumi menunjuk muka Algi dengan rasa benci.


"Dan jika kau mencoba untuk menyakitinya lagi-"


Sranggg


"Parang ini tidak akan segan memenggal lehermu! " ucap Rumi penuh penekanan disetiap katanya sambil menunjukan parang penuh dengan darah musuh itu. Sedangkan Jefri hanya menelan ludahnya.


"Istriku kejam sekali ya! " Jefri menyeringai dengan tawa yang sumbang dan bergidik.


"Tanpa kau perintah aku akan menikahinya, karena bukan hanya perihal tanggung jawab melainkan hati! " Ucapan Algi membuat Rumi dan Jefri membuang muka.


"Oke di tunggu! " Rumi begitu saja meninggalkan Algi dan Rumi.


Tiga bulan kemudian


Hoekkk


Hoekk


Hoekkk


Terdengar seseorang muntah membuat Aldara bergegas ke kamar mandi, sambil mengambil tisu serta minyak hangat ditangannya.

__ADS_1


"Bibi emang hamil separah itu ya?" tanya Aldara, membuat Rumi menoleh dan kembali memuntahkan isi perutnya.


"Aku lemas Ald kalau pagi gini terus! Apa karena aku hamil disaat umurku udah matang ya? " Rumi berjalan sambil dirangkul oleh Aldara.


"Hah udah tua pengen hamil! " ledek Aldara.


"Yak, aku masih muda! " Rumi mengambil tisu itu dan akan melemparkannya pada Aldara.


"Sayang kau dirumah Aldara ternyata! " Jefri menghampiri Rumi dan Aldara.


"Dia muntah lagi! " kasih tau Aldara melapskan rangkulan pada Rumi dan Jefri langsung memeluk istrinya itu.


"Kita kedokter kandungan sekarang aku tidak mau melihatmu lemas gini!" Jefri memapah Rumi.


"Dan kau Ald! Cepat berangkat pengangkatan pemimpin hong campany akan segera di mulai!" beritau Jefri pada Aldara.


"Ini juga mau berangkat! "


Aldara mengambil gantungan kecil yang berisi foto keluarganya, mengusapnya dan tanpa di sadari air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.


"Aku berhasil merebut hak kita, perusaahan itu menjadi milik kita lagi! " gumam Aldara dan menaiki motornya, yang selalu menemaninya kemana pun.


Tentu saja awal akhirnya berkat Aldara yang berusaha mengkokohkan perusahaan itu dari jauh, serta bukti yang dia temukan. Membuat Dinar segera menyerahkan perusahaan itu kembali kepadanya.


Bahkan keluarga Algi, meminta maaf pada Aldara atas perlakuannya dulu menuduh Sarah dan bahkan pernah menyakitinya. Terutama Dinar dia sangat terpukul karena mendengar kalau Sarah meninggal karena hanyut mengenaskan disungai yang deras.


Aldara telah sampai di gedung yang menjulang dengan indah kelangit, matanya menghirup udara segar pagi itu hingga seseorang membuatnya tersadar.


"Pagi! " Algi menyapa di samping Aldara, tapi Aldara begitu saja berjalan meninggalkan Algi.


Awalnya Aldara merasa berat untuk memaafkan mereka, tapi dipikir lagi dendam yang sebenarnya adalah pada Fadil yang menjadi dalang dari akar permasalahn itu dan dia pula sudah meninggal, lagi pula dengan terus membenci mereka tidak bisa menghidupkan sang kakak dan ayahnya kan.


Walau luka yang membekas dalam hati Aldra tidak bisa begitu saja terhapus, mungkin ada sedikit yang tersisa tapi lambat laun pasti rasa itu akan hilang. karena kini keluarga Algi sangat mengagumi Aldara dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.


Tapi entah mengapa Aldara masih merasa membenci Algi, bahkan sama Dinar dan Raisa perasaannya biasa saja.


Algi bersikeras selalu mendekatkan dirinya pada Aldara, tidak mengapa dia dikira orang bodoh karena terlalu menggila akan cintanya pada Aldara, yang terpenting dia sangat menyayangi Aldara.

__ADS_1


Aldara membuka pintu masuk perusahaan itu, dan langsung di sambut oleh banyak orang hingga dia pun melihat anak kecil terduduk sambil memakan cilor.


Tanpa sadar air liurnya sedikir keluar, hingga Algi yang selalu memperhatikannya tersenyum dia pun kembali berbalik.


"Mari nona! " ucap seorang laki-laki.


Pengangkatan dan peresmian pun berjalan dengan lancar bahkan Dinar pun terlihat di sana dengan Raisa yang mendorong kursi rodanya.


Aldara kini berada di ruang khusus seorang pemimpin perusahaan, dia sangat senang sampai kursi yang dia duduki diajaknya berputar.


"Hah, menerjang badai itu tidak mudah untuk mencapai titik ini! " Aldara memeluk berkas di hadapannya, jika dulu dia selalu berada di kursi sekertaris dan hanya meja saja yang tersedia kini dia bisa merasakan ruangan sendiri yang luas serta elegan.


"Ald! " Algi menyembulkan kepalanya, melihat kalau Algi yang membuka pintu dia langsung membuang muka.


"Aku boleh masuk? " tanya Algi dan sudah berada di hadapan Aldara.


"Kau tanpa minta izin pun sudah masuk kan! " jawab ketus Aldara, tapi Algi tetap tersenyum.


"Ald kenapa kau masih terlihat membenciku, apa ucapan ku dulu tidak kau dengar apa perlu sekarang aku membawakan senjata api untuk membunuh diriku, aku tidak bisa hid-"


"Aku juga heran rasanya melihatmu membuatku selalu sensi, entah! "Aldara menopang dagunya dan melirik pada kantung kresek yang di pegang Algi


"Padahal aku telah semaksimal mungkin perhatian kepadamu, memberikan semua stok hatiku yang hanya menuju padamu pandanganku dan seluruh pikiranku ku fokuskan untukmu juga. Sampai aku tidak menyadari kalau aku bukan seperti diriku sendiri jika berhadapan denganmu Ald. Tapi kau tetap tidak memandangku!" Algi menunduk sedangkan Aldara tidak memperhatikan ucapan yang di lontarkan oleh Algi.


"Bau color! " Aldara menajamkan penciuman hidungnya lalu menghampiri Algi.


"Bahkan kau juga tidak mendengarkan aku tadi bicara, tega kamu Ald! " Algi hendak pergi tapi tangannya ditahan oleh Aldara.


"Buat aku ya cilornya, nanti aku gak bakalan kaya gitu lagi!" ucap Aldara dengan senyum dan matanya yang sengaja dia kedipkan, membuat Algi menghembuskan nafasnya panjang.


"Ald kamu bersikap seperi itu sudah ribuan kali dan hanya padaku, bilang tidak akan seperti itu lagi hah! Ujung-ujungnya sama bohong! " Algi melepaskan pegangan tangan Aldara lembut.


"Aku hanya ingin cilor kenapa sampai tega seperti itu padaku! " teriak Aldara mendorong punggung Algi dan menangis.


"Iya memang ini untukmu, jangan menangis nih! " Algi menoleh dan menyodorkan cilor itu dan langsung Aldara mengambilnya dan memakan cilor itu.


"Ald beberapa bulan ini kau aneh sekali! " gumam Algi sambil menelan ludahnya karena Aldara sangat antusias memakan cilor itu.

__ADS_1


IKUTIN TERUS CERITANYA, KASIH LIKE,KOMEN. MASUKAN DALAM FAVORIT DAN KASIH SEMANGAT DENGAN MEMBERIKAN VOTE.


MAKASIH.....


__ADS_2