
Malam hari yang gelap tanpa penerangan, disebuah pingggir danau membuat Jefri dan Rumi merasa kedinginan. Di sana suasana sangat sepi hanya cahaya rembulan yang remang menemani. Rumi terus mengusap pundaknya menciptakan kehangatan disana, sedangan jefri memperhatikan suasana sekitar.
"Kau mengajak ku kemari bukan untuk memaksaku o e o e kan! " Rumi bergidik lalu menjauh dari Jefri.
"O e o e apa? Usia mu tidak beda jauh dariku, sudah sangat dewasa, kalau kau pengen jangan di sini nanti setelah ini kita ke hotel! "
Plakkk
Dorrr
Bersamaan pukulan Rumi pada Jefri, suara pistol pun terdengar membuat Jefri merogoh sesuatu dikursi bagian belakangnya. Rumi terkejut lalu menatap heran pada Jefri karena yang dia ambil ternyata senjata api.
"Kalau kau takut cukup menunduk! " Jefri membuka kaca mobilnya lalu memetik trigger pada bagian pistol itu dan terdengar suara gaduh dari belakang mobil.
"Kau! " Rumi terkejut.
"Bukan kah aku sangat sigap, nona Jefri! " ujar Jefri mengedipkan matanya sebelah. Lalu menoleh pada kaca spion, dia pun tersenyum senang karena pluru itu tertanam dalam dibagian dada laki-laki yang kini terkulai lemah di semak.
"Nunduk! " Pekik Jefri dan Rumi pun menurut.
Dari arah depan pluru itu menembus kaca depan mobil Jefri sehingga terpecah, dan membuat Rumi susah untuk bangun.
"Ketauan deh! Kau diam di kursi belakang dan menunduklah aku akan melindungimu sayang! " Jefri pun keluar dengan senjatanya lalu kembali terdengar suara pluru itu dilepaskan. Rumi menjadi bingung sendiri, kenapa Jefri menyuruhnya untuk melihat kejadian itu? Apa mau memperlihatkan keahliannya dalam menembak?
Rumi tidak sengaja melihat lagi beberapa pistol di bawah kursi pengemudi, dan Rumi pun memegang salah satunya.
"Aku bilang jangan coba menghasut Algi! " teriak seseorang Rumi pun mengangkat kepalanya penasaran.
"Bukan menghasut hanya memberi tau kebenaran! " Jefri menyahuti.
"Ternyata ada pacarmu yah di dalam mobil," ucap Fadil dan Jefri pun segera menutupi kaca mobil bagian belakang dengan punggungnya.
"Kau akan mengancamku dengan dia? " tanya Jefri.
Dorr, Prangggggg
Kembali suara kaca mobil di tembak pun terdengar dari sebalah kiri dan menampakan Rumi yang tengah menoleh pada seseorang yang menembak kaca itu, yaitu orang bawahan Fadil. Sedangakan Jefri terlihat was-was dan segera menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Hey Jefri sekali telunjuk itu menarik trigger, kekasihmu itu akan mati! " ancam Fadil dan kini Jefri menyesal telah membawa Rumi kedalam masalahnya. Orang bawahan Fadil bersiap mengarahkan pistol itu ke arah Rumi.
Dor
"RUMI! " Teriak histeris Jefri dan segera membuka pintu mobil itu.
"Kau baik-baik saja! " Jefri segera memeluk Rumi erat dan membolak-balikan tubuh Rumi, Rumi baik-baik saja tapi suara orang menembak itu dari mana? Padahal sangat dekat.
"Kau Jefri, kurang ajar! " teriak Fadil lalu mengarahkan pisau kecil ke arah Jefri dan Rumi.
Pltakk
Suara pluru dan pisau itu berbenturan, Fadil, Jefri dan Rumi pun menoleh kearah samping. Karena pisau itu ada yang menembak sehingga tidak melukai Jefri dan Rumi.
Rumi yang melihat sekilas sosok hitam dibalik pohon itu hanya memutar bola malas.
"Ald kau sigap sekali! " gumam Rumi dalam hati.
"Kejar orang dibalik pohon itu! " Teriak Fadil.
Suara nembak menembak pun menggema, perkelahian dua kubu pun tidak bisa dielakan. Rumi mundur menghampiri sosok di balik mobil Jefri sedangkan Jefri dan Fadil saling menyerang. Seperti tengah peperangan dipantai itu hingga akhirnya Fadil berhasil menguasai Jefri, dia menunjukan pistolnya pada Jefri tepat dibagian kepalanya.
"Beberapa kali aku gagal membunuhmu sekarang enyah lah dari muka bumi ini! Pengganggu! " Fadil perlahan menarik pelatuk itu, suara pluru keluarpun terngiang ditelinga Jefri, yang sekarang tengah memejamkan matanya.
"Arrghhhhhh! " Suara erangangan pun terdengar tapi bukan dari Jefri melainkan Fadil, Jefri membuka matanya lalu merasa aneh karena yang tertembak adalah kaki Fadil padahal dia pun melihat kalau pistol itu mengarah padanya.
"Apa aku menembak seseorang? " tanya polos Rumi dan membuat Jefri segera berlari menghampiri Rumi lalu memeluknya.
Ternyata sebelum Fadil sepenuhnya menekan trigger itu, pluru yang dilepaskan oleh pistol yang dipegang Rumi telah menancab kaki Fadil duluan. Sehingga Fadil belum sempat mengeluarakan pluru itu.
"Kau penyelamat hidupku kau layak menjadi istriku, besok kita menikah ya! " Jefri mencium kening Rumi lalu menarik lengannya dan segera menjauhi tempat itu, mengingat kaca mobil jefri telah hancur dan tidak bisa digunakan sekarang ini.
"Lebay! " ucap Aldara dibalik pohon rindang yang gelap itu, kembali dia memakai penutup hidung dan mulutnya lalu berlari dengan sangat kencang takut Fadil akan menemukannya. Tapi sebelum Aldara benar-benar meninggalakan tempat itu dia sempat menghampiri beberapa orang di balik tembok itu.
"Kerja bagus!" ucap Aldara.
Jefri dan Rumi telah sampai dipinggir jalan yang banyak orang berlalu lalang, suara ngosan nafas mereka pun terdengar.
__ADS_1
"Kenapa kau mengajakku mati? " tanya Rumi lalu Jefri pun menoleh lalu merangkul pundak Rumi.
"Aku cuma mau membuktikan kalau aku bukan seperti Fadil, aku tau yang sebenarnya dan ingin kau mempercayaiku! Maaf membuatmu takut, " jawab Jefri, dan sekarang mereka pun beriringan ditrotoar seperti tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.
"Kenapa harus aku, kau juga tau Aldara kan?" ucap Rumi.
"Aku maunya sama kamu," sahut Jefri dan perlahan jemarinya menggapai tangan Rumi.
Tangan Jefri sudah menyentuh tangan Rumi, Rumi yang sadar pun segera menarik tangannya.
"Mau gandengan tangan? Belum waktunya Pak Jefri! " ledek Rumi.
"Hah, padahal tadi juga aku cium keningnya tidak apa-apa! " Jefri membuang muka.
"Itu kamunya yang spontan, jadi akunya tidak siap dan hanya bisa diam, lagian berani sekali menyentuh orang lain yang belum haknya! Apa karena kamu seorang cassanova? " tanya Rumi.
"Bibirmu itu beneran kaya cabai setan pedasnya minta ampun, ini area umum banyak orang bagaimana kalau ada yang mendengar?" hardik Jefri dan Rumi hanya mengedikan bahunya.
"Jemputan sudah tiba, aku akan mengantarmu pulang! " ucap Jefri lalu berhentilah mobil ferrari 488 GTB merah tepat didekat Rumi.
"Tidak usah aku mau naik taksi saja, " tolak Rumi karena melihat Aldara disebrang sana tengah makan cilor.
"Kau harus menurut padaku, kau hampir mati karenaku! " paksa Jefri tapi kekeh Rumi tidak mau.
"Sedari awal kau memang mau membuat ku mati kan dengan melibatkanku tadi!" ucap Rumi dan membuat Jefri memijat pelipisnya.
"Wanita memang tidak bisa mengarti apa itu penjelasan! " gumam Jefri.
"Pak mau berangkat sekarang? " tanya supir dimobil yang menjemput Jefri.
"Bentar calon istriku lagi manja tidak mau pulang diantar! " sahut Jefri melirik Rumi.
"Siapa calon istri mu, aku bukan lah! Kita baru bertemu dua kali juga! " protes Rumi.
"Kau, calon istriku sayang! Tidak penting kita bertemu berapa kali, yang terpenting kita dipertemukan karena alur jodoh yang menuntun. Banyak diluaran sana yang sering bertemu tapi tidak dipersatukan," kembali Jefri berucap yang membuat Rumi bergidik.
HAI JANGAN LUPA LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE YA......
__ADS_1