
Happy Reading...
.
.
.
"Berhenti! Jangan bawa mereka! " teriak anak buah Fadil yang berusaha mengejar mobil yang ditumpangi Dinar.
"Ayo lebil cepat! " teriak Andris pada suami Indah itu, dan bersiap dengan pistol ditangannya.
"Telepon Indah kita dikepung! " suara suami Indah terdengar, hingga Andris yang mengerti pun langsung merogoh ponsel miliknya.
Mobil Indah dan mobil suami Indah, berjalan beda arah karena rencana mereka yang akan langsung membawa Dinar berobat keJepang dan mobil yang dikemudi Indah akan mengecoh anak buah Fadil. Tapi sekarang anak buah Fadil sudah mengetahui mobil yang ditumpangi Dinar , sehingga jalanan menjadi terhambat.
Indah yang merasakan getaran pada saku celananya segera merogoh ponsel itu lalu membuka percakapan.
"Andris ada ap-"
"Kami dikepung di jalan, mereka sudah mengetahuinya! " suara Andris disana tergesa membuat Indah terkejut dia pun melihat sekeliling dan benar saja tidak ada yang mengikuti mobilnya.
"Apa? " Tanya Rumi.
"Mereka di kepung! " Indah memberitahu Rumi, dan hal itu terdengar oleh Jefri.
Jefri yang kini mulai mengerti dengan kejadian kali ini, segera menelepon seseorang.
"Berikann posisi mereka! " ucap Jefri, membuat Indah dan Rumi menoleh.
"Cepat, bukanakah kakak ku tengah dikepung! " teriak Jefri dan segera Indah pun memberti tau alamat jalan pada Jefri.
Tidak berselang lama, setelah Jefri menelepon bawahannya yang merupakan gang mafia dan dia adalah ketuanya itu segera menyusul mobil yang dikemudi oleh suami Indah.
Aksi kejar-kejaran pun tidak bisa dihindari, suami Indah pada dasarnya tidak bisa mengemudi dengan lihai hingga Andris yang menggantikannya.
"Kak, kau pegang ini! " Andris melempar senjata api yang lainnya.
Dor
Suara pistol mulai menyala dari anak buah Fadil, membuat Raisa memeluk erat anaknya itu sambil menunduk dan berdoa agar dia bisa lolos dari kerjaran bawahan Fadil.
"Apa ada yang kena? " tanya suami Indah pada Andris.
__ADS_1
"Tidak ada! "Sahut Andris dan kembali fokus kejalan dengan tangan sebelahnya mengacungkan pistol jaga-jaga kalau ada yang mendahuluinya dia akan segera menarik pelatuk itu.
"Woy Berhenti! "
Dor
"Bagus Kak ipar! " ucap Andris. Tadi mereka akan tersusul oleh musuh dan dengan cepat suami Indah menembak ban mobil itu, sehingga dibuatnya tidak bisa mengejarnya lagi.
Tapi bukan hanya semobil tapi yang mengejar mereka menjadi beberapa mobil. Hal itu membuat Andris dan suami Indah terkejut bukan main, karena mereka sebenarnya hanya dua pria biasa yang tidak mengenal dunia perang. Tadi juga suami Indah menembak pun dengan tangan yang bergetar dan untungnya pluru pas pada ban mobil musuh.
"Bagaimana ini? " tanya suami Indah.
Hingga akhirnya suara pistol pun menggema di jalan itu, beberapa mobil mencoba untuk melindungi mobil yang dikendarai Andris.
Perang pistol yang memekikan telinga, tapi membuat Andris, suami Indah dan Raisa menghela nafas lega karena bantuan sudah tiba.
"Kau geser kebelakang biar aku yang mengemudi! " tiba-tiba Jefri sudah ada diatas mobil mereka sambil mengetuk kaca mobil keras, membuat Andris menelan ludah susah.
"Kau siapa! " sentak Andris, dia takut kalau Jefri adalah musuh karena mereka belum saling mengenal.
"Aku adik Raisa! " teriak Jefri memberi tau, suami Indah pun menoleh pada Raisa.
"Dia adalah adiku bukan musuh kita! " beritahu Raisa.
"Baiklah, sudah lama aku tidak membunuh banyak orang! " suara Jefri membuat Andris dan suami Indah serta Raisa terkejut dan membulatkan matanya.
"Kalian membawa senjata api, " Jefri melirik pistol yang sedang dipegang suami Indah sedangakan suami Indah dan Andris hanya mengangguk menanggapi.
"Gunakan sekarang, buka kaca pintu sedikit dan kalian tembaki mobil berwarna hitam itu dan jangan menembak mobil warna biru, karena mereka bawahannku! Tentu saja harus hati-hati jangan sampai orang lain juga tertembak.," beri tahu Jefri, suami Indah dan Andris pun mengerti lalu mulai menggunakan senjata api itu dengan sangat hati-hati dan penuh konsentrasi, walau pemula setidaknya masing-masing dari mereka berhasil menembak ban mobil musuh saja.
Untungnya jalan itu sepi, karena mereka mengambil jalan pintas menuju bandara.
Setelah acara tembak menembak di jalan akhirnya mobil yang ditumpangi Raisa dan Dinar, sampai disebuah bandara.
"Aku akan ikut keJepang! " ucap Jefri.
"Tidak, hanya aku yang bisa membawa Raisa dan anaknya! " sahut suami Indah.
"Kau perlu menunggunya saja disini, karena Indah tadi menelepon kalau ada hal yang lebih penting dulu yang harus kamu selesaikan dengan Fadil! " sambung suami Indah.
"Baiklah! " Nada sendu pun akhirnya keluar dari mulut Jefri, dia pun menatap Raisa dan keponakannya yang ternyata masih hidup.
"Kakak! " Jefri memeluk erat Raisa dengan derai air mata, lalu menatap lekat Dinar yang tidak berdaya.
__ADS_1
"Adikku kau sekarang mengetahuinya, berdoalah agar keponakanmu bisa pulih dan cepat ungkap masalah yang sebenarnya kau tau kata kuncinya kan! " Raisa mengelus puncak kepala Jefri.
"Jangan khawatir kami akan menjaganya! " ucap Andris membuat Jefri mengangguk.
"Baiklah hati-hati! " ucap Jefri.
Sedangkan dirumah utama, Fadil membanting barang yang berada disekitarnya untuk meluapkan rasa amarahnya.
"Kalian tidak becus, sekarang cepat lacak keberadaan Raisa dan cepat susul mereka! " teriak Fadil dengan nafas yang menggebu karena emosi.
Beberapa orang dihadapannya pun membubarkan diri dan bersiap untuk melacak keberadaan Raisa.
"Kenapa bisa lengah! " teriak Fadil seperti kesetanan, lalu membanting guci itu ke lantai.
Sampai akhirnya ada Melinda yang datang, dan terkejut melihat suasana rumah yang berantakan.
"Ada apa ini?" tanya Melinda manatap sekeliling yang berantakan.
"Sudah sangat berantakan begini kau masih bertanya! " tetiak Fadil membuat Melinda mendelik Fadil.
"Kau memang dasarnya bodoh! " Melinda mengulurkan tangannya pada Fadil, yang kini terduduk dilantai.
"Jangan memperlakuakanku dengan rasa kasianmu! Dan omong kosongmu itu, kau tidak mengaca diri bahawa kau sendiri sangat bodoh hidup berdampingan sama Algi udah bertaun-taun tapi belum bisa juga memenangkan hatinya! " Fadil menepis tangan Melinda lalu bediri.
"Kau tidak akan pernah menjadi tuan rumah disini, kalau bukan bantuan dariku! Kau berani berkata seperti itu, memang kenyataan benar tapi untuk diucapkan sepertinya tidak perlu! " hardik Melinda menyeringai.
"Kenapa kau kesini larut malam? " tanya Fadil, mengalihkan pembicaraan mengingat dia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Melinda.
"Ada info penting, dan tentunya ini sangat menguntungkan bagimu! " Melinda menatap Fadil.
"Apa?"Fadil membalas tatapan Melinda.
"laki-laki sekarat itu dibawa keJepang! " Bisik Melinda tepat ditelinga Fadil, mendengar hal itu seringai Fadil pun terukir jelas diwajahnya.
"Info ini tidak gratis, aku ingin saham Hong Campany tidak banyak hanya tiga puluh persen saja! " Melinda mengakungkan kedua tangannya dileher Fadil.
"Deal! " Fadil mencolek dagu Melinda.
"Baiklah aku akan menyuruh orang untuk pergi kesana! " Fadil merogoh ponselnya yang disimpan di saku celana.
MAAF TELAT UPDATE,
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORIT JUGA VOTE YA...
__ADS_1
TERIMAKASIH TELAH SETIA MENUNGGU KELANJUTAN CERITA INI, SEHAT SELALU DAN DILIMPAHKAN RIZKI SERTA TERUS IKUTI CERITANYA.....