
Sesampainya didepan rumah Aldara, Algi tertawa kecil melihat Aldara menatap kedepan dengan tatapan melongo seperti orang bodoh, dengan duduk pasrah bersandar dikursi.
"Turun! " ucap Algi lalu melepaskan sabuk pengaman mobil.
Aldara pun menoleh lalu menatap Algi dengan tatapan membunuh, lalu tangannya pun mencekik leher Algi.
"Tidak peduli siapa kau, kau hampir membunuhku! " teriak Aldara sambil terus menekan leher Algi dengan kedua tangannya hingga Algi pun mulai terbatuk.
Algi yang susah bernafas tapi pikirannya masih normal dia mengusap paha Aldara dan masuk kedalam span yang dipakainya lalu terus ke atas hingga Aldara merasakan sesuatu yang mulus menerpa kulitnya dan menuju area yang rawan disentuh. Aldara pun langsung melepaskan cengkraman di leher Algi dan segera meraih tangan Algi dan menahannya dibalik punggung atasannya itu.
"Kau berani menyentuhku! " kembali Aldara berteriak.
"Aw aw, ya ya aku minta maaf. Aku hanya ingin menyelamatakan nyawaku, dan tolong lepaskan ini sakit. " erang Algi, lalu Aldara pun tidak mau kalah dia tetap menekan pergelangan tangan Algi di punggungnya.
"Kau! " ucap Algi, Algi tidak kehabisan akal dengan susah akhirnya dia bisa meraih tangan Aldara yang satunya lalu menariknya hingga cengkraman tangan dipunggungnya terlepas. Seakan ada celah Algi pun berbalik dan mengangakat tubuh Aldara ke pangkuannya, lalu memegang kedua tangan Aldara erat ke belakang.
Aldara pun tidak mau kalah dia menggigit kuat bahu Algi sampai berdarah, tapi hal itu tidak membuat Algi melepas genggaman tangan Aldara, Algi malah menyesap dan mengigit leher bagian pinggir Aldara.
"Lepaskan! " teriak Aldara, sedangkan Algi malah terlena dengan perbuatannya sendiri.
"Dasar bedebah! " pekik Aldara lalu menendang perut Algi dengan sikunya. Kini Aldara pun terbebas dan segera turun dari mobil itu.
"Wanita sialan! " Algi pun keluar dari mobil itu.
"Bunda! "
"Dady! "
Suara Helen dan Roni bersamaan, sedangkan Rumi yang berada diantara mereka hanya terdiam sambil memperhatikan Algi dan Aldara yang keluar dari mobil yang sama, dan lebih terkejutnya Rumi melihat tanda merah keunguan di leher Aldara yang kini membuatnya salah paham.
"Kita berhasil menyatukan mereka!" ucap Helen sedikit berbisik tapi masih terdengar oleh orang sekelilingnya.
__ADS_1
"Iya kau benar! " sahut Roni sedikit menarik bibirnya.
"Kita akan menjadi saudara dan kau nanti bisa sering mengajariku pelajaran! " girang Helen
"Iya berarti aku yang akan menjadi kakak mu! " Roni mengusap puncak kepala Helen.
"HELEN APA YANG KAU BICARAKAN! " teriak Aldara, melihat kemarahan bundanya itu Helen pun berlari terbirit-birit dan Aldara mengejarnya.
"Roni jangan menjadi anak bodoh, sekarang ikut Dady pulang! " ucap tegas Algi lalu menarik pergelangan tangan Roni paksa.
"Tidak mau! " Roni menggoyangkan tangannya mencoba untuk menyingkirkan pegangan Dady nya.
"Kenapa sekarang kamu membantah! " teriak Algi, dan membuat Roni terdiam sambil menghentakan kakinya menuju mobil.
Sedangkan Rumi hanya terdiam melihat pertengkaran mereka seperti tengah menonton live sebuah film.
"Kenapa jodohku belum tiba juga! " gumam Rumi sedih dan berjalan dengan berat menuju rumah.
"KALIAN! " teriakan Rumi mengelegag di seluruh sudut ruang tamu itu, hingga akhirnya Aldara dan Helen terdiam.
"Duduk! " titah Rumi, Aldara dan Helen pun tidak bisa membantah. Karena dibalik sikapnya yang penyayang dia juga mempunyai sikap yang tegas, serta sikap yang akan membuat orang terbunuh dengan ucapannnya.
"Helen masuk kamar! " ucap Rumi pada Helen dan Helen pun menurut.
"Ald kau mengetahui sesuatu kan? Tapi jangan sampai membuat harga dirimu menjadi rendah! " ucap Rumi membuat Aldara mengerutkan dahinya bingung.
"Jangan so tidak paham, di lehermu ada bekas cupangan dan kamu juga di antar sama dia jadi kau telah melakukan hal itu kan. " ucapan Rumi membuat Aldara tertawa sambil terpingkal.
"Bibi mana mungkin untuk mencari informsi harus menyerahkan diri, rugi dong! Ini bekas pertengkaran kami karena dia hampir membunuhku! " Aldara memegang perutnya karena sakit akibat tawanya tadi.
"Apa maksudmu, dia mengetahui rencana kita?" tanya Rumi terkejut.
__ADS_1
"Tidak! Tenang saja, " sahut Aldara dan beranjak meninggalakan Rumi ke kamarnya.
Sedangkan di rumah besar milik Algi dia terus menatap tajam Roni, yang kini tertunduk.
"Tindakan yang ceroboh dan hanya merugikan diri sendiri! " teriak Algi menggema sedangkan Roni sudah menitikan air matanya.
"Jangan melakukan hal konyol lagi! " sambung Algi, dan beranjak untuk duduk dan melonggarkan dasinya, serta mengelurkan masker dari sakunya yang sempat dia buka tadi di mobil sebelum sampai kerumah Aldara.
"Aku hanya ingin di sayang dan di perhatikan bukan hanya di bentak saat melakukan salah, dan hanya diam saat melakukan kebenaran. ku juga ingin di puji jika aku telah melakukan sesuatu yang benar! " ucap Roni dan dia pun berlari ke kamarnya menyisakan Algi yang terlihat termenung, dan mengingat perkataan Aldara waktu di kantor saat itu.
"Arghhh! " erang Algi meremas kepalanya.
Suara ketukan pintu pun terdengar, Algi pun beranjak dan membukaan pintu itu yang ternyata sang ibu dan ayah tirinya yang mengunjungi kediaman Algi.
"Mah? " sapa Algi yang ternyata sang ibu yang berkunjung tapi dia tidak menyapa laki-laki yang berada disebelahnya , dia agak kaku karena biasanya menyebut paman dan kini harus memangginya papa.
"Masuk! " Algi pun mempersilahkan masuk dan duduk.
"Kami bermaksud kesini hanya ingin melihat kabar cucuku, apakah dia baik-baik saja? Padahal dia tidak sendiri dia mempunyai saudara perempuan tapi karena-" ucapan sang ibu pun terhenti, karena rasa sesak di hati serta air mata yang begitu saja mengalir dari pelupik matanya itu.
"Sabar sayang kami juga akan menemukannya, gara-gara Sarah kami jadi kehilangan anak perempuan yang imut itu, " ucap sang ayah tiri sekaligus adik dari ayahnya sendiri sebut saja namanya Fadil.
"Tenang saja aku juga telah menyelidiki dia, mungkin dia ikut ibunya! " sahut Algi dan terlihat senyum kecut dari bibir Fadil.
"Dia begitu saja pergi dari rumah, untung Roni bisa ibu ambil dari pangkuan wanita kejam itu! " sang ibu yakni Raisa dengan nada kesal yang dia lontarkan.
"Sarah wanita itu yang membuat keluarga kita hancur, dan dia malah begitu saja pergi! Dia tidak pantas mendapat maaf dari keluarga kita!" ucap Raisa dengan asumsinya sendiri.
"Tenangkan dirimu, aku akan senantiasa mencari dia dan menghukumnya untukmu. Kita ke sini untuk melihat keadaan Roni, bukan untuk mengungkit masa lalu yang membuat ku kesal serta berencana sesuatu yang buruk pada keluarga itu!" tegas Fadil sedangkan Algi hanya mengangguk paham dan di ikuti Raisa menganggukan kepala.
Jangan lupa like, favorit, komen dan vote ya...
__ADS_1
Terima kasih 😊