Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Bukti terungkap


__ADS_3

Happy Reading


.


.


.


Aldara terdiam sambil memeluk kedua ponakannya yang tengah tidur itu, Aldara berada di antara Helen dan Roni dan terlihat mereka nyaman dengan hal itu, walau hanya kepala mereka yang dipeluk Aldara.


Matanya menatap jauh ke langit-langit, dia sedang memikirkan kata yang diucapkan Jefri pada saat di rumah cat kayu itu.


"Dikala senja terdiam menghadap Barat! "gumam Aldara melepaskan tangan kanannya dari rangkulan Helen lalu mengangkatnya keatas dengan bagian telapak tangan mengarah Barat.


"Senja itu kan sore hari! " Kembali gumaman itu terlontar dari mulutnya lalu kembali berfikir keras.


"Menatap empat anak panah yang menjadi penerang! " Aldara mengerucutkan bibirnya.


"Berarti panah itu hanya ditatapnya bukan benar-benar la gunakan untuk memangsa sesuatu? Tapi apa kaitannya?" Bingung Aldara.


Dirinya berfikir keras sampai dirasa sakit kepala dan pening, Aldara sedari siang memikirkan kata kunci itu sampai sekarang dan sampai tertidur pula.


Hari berganti hari, dan kini menginjak seminggu dari kejadian dirumah itu. Aldara dan Jefri masih tidak bisa menemukan kata kuncinya, bahkan dia telah mendobrak pintu itu dengan berbagai macam tapi tidak bisa.


"Bagaimana ini apalagi anak buah Fadil juga tengah berusaha membuka pintu itu! " ucap Jefri, Aldara dan Rumi hanya menunduk.


"Dikala senja terdiam menghadap barat! " Aldara mengucapkan kata kunci itu hampir setiap jam dia melakukannya, dia begitu penasaran karena kalimat itu. Aldara tidak pantang menyerah dia pun berdiri dan menghadap barat membuat Jefri dan Rumi menggelengkan kepala.


"Hampir setiap menit kamu berdiri menghadap barat Ald! " gumam Rumi tapi masih terdengar oleh Aldara.


"Euh! Dinar benar-benar mengunci itu dengan rapat! " ujar Jefri hingga suara getaran dari ponselnya membuat dia merogoh saku celana.


"Hallo? " angkat telpon Jefri.

__ADS_1


"Jef ini Kakak! " sahut sipenelepon itu yakni Raisa.


"Kak bagaimana perkembangan Dinar disana? " tanya Jefri membuat Aldara menatap tajam pada dirinya dan hal itu terlihat oleh Rumi.


"Dia ada peningkatan, walau seluruh tubuhnya seperti lumpuh belum bisa bergerak tapi dia bisa mengucapkan kata walau pelan dan perlahan," kasih tau Raisa.


"Syukurlah! " Jefri merasa ada yang menatap benci padanya itu, akhirnya menoleh dan menelen ludah setelah bertatapan dengan Aldara.


"Jef! Kakak mau kasih tau Dinar selalu mengucapkan jam panah, kakak juga tidak mengerti apa maksudnya tapi mungkin dia mencoba ngasih petunjuk! " jelas Raisa.


"Ah ia makasih Kak, akan aku pikirkan dan kaitkan hal itu! " ucap Jefri dan segera menutup telponnya sepihak membuat Raisa yang masih dirumah sakit Jepang itu bingung.


"Ald! " Gumam Jefri menatap Aldara yang diluputi dengan tatapan bencinya.


"Jelaskan! Apa kalian mengkhianataiku! " teriak Aldara dengan nafas yanng memburu menandakan dia tengah sangat kesal kali ini.


"Dinar masih hidup dan-"


"Ald, ini tidak seperti yang kau bayangkan, bibi sangat menyayangimu mana mungkin bibi mengkhianatimu kalau aku melakukan hal itu mungkin aku sudah gila! " Ucap Rumi menatap Aldara.


"Dinar pernah berkata kalau dirinya menyesal, dan dia juga bukan yang mennyebabkan-" lagi-lagi ucapan Jefri terpotong karena Aldara begitu saja pergi dan mengambil kunci motor diatas meja.


"Ald kau harus dengerin kita dulu! " teriak Rumi dan berlari menyusul Aldara tapi tidak terkejar.


Aldara kembali mengunjungi rumah itu, dimana sekelilingnya ada orang-oramg suruhannnya.


"Bos kami berhasil membunuh lima orang suruhan musuh yang menyusup kerumah ini! " kasih tau salah seorang dari mereka.


"Kerja bagus!" sahut Aldara dan tersenyum di paksakan


Aldara terus berjalan dia kembali menghadap barat dan tanpa sengaja pandangannya mengarah pada jam dinding di depannya, yang sudah mati dan kedua jarum jam itu berada tepat di angka empat.


"Bukankah jarum jam itu mirip sebuah panah? " gumam Aldara, dia pun memutar pada arah jam empat.

__ADS_1


"Apakah maksudnya, senjakan sore panah itu jarum jam dan empat itu posisi, manatap itu dilihat dan menjadi penerang itu kuncinya! " Aldara antusias dia menghadap jarum jam empat layaknya dia menjadi jarum jam dan sekelilingnya adalah angka dalam sebua jam.


Aldara kembali menghadap barat, dan mulai beragumen sendiri.


"Aku ibaratkan jarum jam, kalau angka dua belas ada di hadapanku sekarang ini dan jam satu, dua, tiga, empat, posisi jam empat menghadap timur laut, " Aldara berjalan lurus dan kini mentok di tembok.


"Terus! " Aldara kembali memutar otaknya dan dilihatnya sekeliling tidak ada hal yang mencurigakan, hingga dia kesal lalu menghentakan kakinya.


"Araghhh! " Aldara memegang kepalanya dan menunduk hingga kini kedua kakinya penuh dengan tanah dan membuatnya bingung kembali Aldara menghentakan kakinya dan kembali tanah itu keluar dari sisi lantai itu.


"Aku rasa lantai yang ini tidak menyatu dengan lantai lainnya! " Aldara berjongkok dan mencoba mencongkel lantai itu dan senyum kegirangan itu terlontar pada wajahnya.


"Aku memang pintar! " Aldara mengangkat lantai itu dan menemukan sebuah kotak kecil didalamnya lalu dia pun membuka kotak itu yang terdapat sebuah kunci. Aldara segera mengambil kunci itu dan berlari menghampiri pintu dan segera membukanya.


Mata Aldara tertuju pada kotak besar si tengah ruang kecil itu, yang tidak terkunci dia pun bisa membukanya dan tentu saja diri nya sangat terkejut mendapati bukti yang sesungguhnya.


Tangannya merogoh foto yang sepertinya di ambil dari kamera sisi tv, kalau sang kakak tengah digusur paksa oleh Fadil dan juga foto lainnya yang menampakan kalau Fadil dalang dari kasus kecelakaan Dinar. Sampai akhirnya dia menemukan flashdisk warna hitam dan leptop, dengan tangan yang gemetar Aldara mengambil leptop dan flashdisk itu.


Aldara menelan ludahnya dan menghembuskan nafasnya, di hidupkannya leptop itu dan flashdisk itu dia sambungkan. Tangannya mulai mengklik isi file yang ada diflashdisk itu dan ternyata sebuah vidio, Aldara membuka video itu dengan hati yang gemetar.


"Jangan kumohon jangan lakukan ini lagi kepadaku, aku sangat tersiksa! " suara video itu membuat hati Aldara pilu, suara sang kakak yang tengah ketakutan pada Fadil yang tengah memperlakukannya tidak senonoh. Sampai tidak sadar air mata itu begitu saja mengalir di pipinya.


"Kau itu cantik, aku suka denganmu dan selalu ingin menjamahmu sudah lengkap hidup kakak ku itu dengan kata sempurna, menikah dengan wanita kaya dan menjadi pemegang perusahaana besar dan mempunyai menantu menawan dan perhatian sepertimu, ku sebagai adiknya setidaknya ingin mencicipi menantu kesayangannya apa tidak boleh? " Fadil terlihat merobek paksa pakaian Sarah dan mengikat kedua tangannya dengan dasi, hingga pintu kamar itu terbuka.


"Apa yang kalian lakukan! " teriak Dinar dengan rahang yang mengeras. Dalam video itu.


Aldara membungkam mulutnya dengan tangan,air matanya semakin deras membasahi pipinya.


"Kakak! " lirih Aldara.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE YA....


IKUTI TERUS CERITANYA.....

__ADS_1


__ADS_2