
Diruang tamu tepatnya diruang televisi, Aldara, Rumi, Jefri dan Indah tengah berkumpul membicarakan suatu hal. Sedangkan Helen dan anaknya Indah berada di kamar, untuk bermain.
"Berita kalau perusahaan yang dikelola bapak Algi itu hanya kebohongan semata, perusahaan suamiku juga bekerja sama dengannya dan katanya hanya beberapa persen keuangan di sana menurun tapi tidak secara drastis," terang Indah menatap mereka yang berada di sana bergantian.
"Tapi kalau dibiarkan akan menjadi masalah besar, apalagi orang terdekat Algi berusaha untuk menghancurkannya! " Jefri menyahuti, sedangkan Aldara hanya acuh bahkan tersenyum jahat dalam tunduknya.
"Jalan satu-satunya kalau tidak ingin seperti itu kita harus tau siapa dalang dibalik ini semua, jika kita begitu saja menyerang tanpa ada bukti menyalahkan Hong Company akan lebih runyam bahkan takutnya malah kita yang akan terjerat hukum, kita harus mencari kaki dan tangannya dulu sebelum kita menemukan kepalanya! " Indah menyahuti.
"Menurutku Pak Algi juga tidak diam, sekarang saja dia meneleponku kita ikuti aja dulu alurnya supaya tau harus bagaimana kita menghadapi ini semua! " Aldara merogoh ponselnya hendak mengangkat telpon dari Algi, tapi Jefri mengahalangi dia.
"Kalian semua ikut dulu denganku sebelum pergi! " Hentak Jefri berdiri.
"Kemana? " tanya Rumi.
"Ada hal yang lebih penting sekarang, dibandingkan masalah perusahaan! Ikut lah denganku ajak anak-anak! " Jefri dengan tegas berkata, lalu semua pun ikut dengan Jefri. Aldara juga mengabaikan telpon dari Algi.
Dikantor Algi, dia terlihat masih mengenakan pakaian yang dikenakan sedari pulang kemping. Algi buru-buru ke kantor tanpa sempat ke apartemannya hanya sekedar berganti pakaian, dikursi kebesarannya Algi menatap layar leptop didepannya dengan fokus sambil sesekali melirik ponsel.
"Baiklah ini dimuali dari bidang pemasaran, panggil menejer itu! " teriak Algi pada asisten pribadinya.
"Baik! " asisten pribadi itu melangkah pergi lalu menyeringai.
"Aldara kau kemana! " gumam Algi, kini dia membutuhkan Aldara berada di sampingnya tapi yang dihubungi malah acuh membuat Algi tambah geram.
"Frimansyah? Siapa ini?" tanya Algi lalu dia pun tersenyum walau dia belum tau siapa orang yang bernama Frimansyah itu tapi setidaknya dia menemukan titik terang dalam masalahnya.
"Mungkin dia tidak mempunyai hacker, sipenyelundup bego! "ucap Algi dan semakin memfokuskan pada layar leptopnya.
Aldara kini berada di mobil bersama yang lain, entah mau dibawa kemana mereka. Aldara sibuk dengan ponselnya dia menghubungi ibu menejer lewat pesan dan dia pun menerima pesan bahwa sekertaris pribadi Algi telah menemuinya.
"Ibu Menejer hanya perlu berkata yang sebenarnya kalau keuangan masih sama, hanya saja entah dari mana pemasaran menjadi anjlok, " Aldara mengirim pesan pada Ibu Menejer.
"Akan ada lebih banyak pertanyaan kalau aku bicara seperti itu," jawab pesan dari Ibu Menejer.
__ADS_1
"Tidak akan, Ibu Menejer hanya perlu mengatakan hal itu sambil membawa berkas yang sudah aku kirimkan lewat file!" isi pesan untuk Ibu Menejer.
"Oke aku mengerti!" Ibu menejer itu mengakhiri percakapan lewat pesan pada Aldara.
"Ald kau sibuk mengirim pesan sama siapa? " tanya Rumi.
"Bibi mulai kepo deh! " sahut Aldara memasukan ponselnya kedalam tas.
"Baiklah kita hampir sampai! " ucap Jefri dan semua mengarah pada gedung di hadapannya.
"KUA!" Aldara, Rumi dan Indah bersamaan.
"Tidak peduli apapun masalahnya aku hanya ingin menikah dengan Rumi, ia kan sayang! " Jefri mengedipkan matanya sebelah pada Rumi.
"Hm pernikahan di KUA saja, aku kira bakalan adain pesta besar-besaran!" sahut Indah.
"Bibiku dan dia terlalu tua untuk hal semacam itu jadi langsung saja kesini!" sahut Aldara.
"Sweet, " Jefri tersenyum senang, sedangkan Aldara dan indah hanya menghembuskan napas panjang mereka menaggapi ucapan Rumi dan Jefri.
Kini semua sudah beres mengenai berkas untuk pernikahan, Jefri dan Rumi telah sah menjadi suami istri secara agama dan negara. Mereka melalui hal itu cukup lama karena selain berurusan dengan KUA mereka juga berurusan dengan kantor catatan sipil, apalagi harus mengurus soal wali hakim karena papanya Rumi sudah meninggal dan hanya Aldara saja keluarganya dan tidak bisa menjadi wali.
Tidak terasa hari pun mulai senja, dan Aldara tidak sabar menanti pesan dari Ibu menejer.
"Rumi selamat ya, akhirnnya selain melihat ijab kobul aku juga bisa mengurus pernikahan kalian!" Indah memeluk Rumi.
"Dipaksa mengetahui KUA dan kantor catatan sipil, Pak Jefri ingatlah kau harus benar-benar mengurus Bibiku ini jangan sampai kau melukainya walau hanya goresan yang akan membuat hati dan tubuhnya terluka! " ancam Aldara menatap tajam pada Jefri.
"Mana mungkin untuk mendapakannya saja susah, apalagi dibuatnya terluka tidak akan! " Jefri menatap Rumi, lalu pelukan bersama Indah terlepas.
"Bibi kau akan ikut dia mulai sekarang! " Aldara menunduk, tentu saja dia merasa sedih karena di rumah bakalan sepi tidak akan seperti biasanya.
"Ald, aku akan selalu mengunjungi kalian! Tenang saja aku telah membeli rumah dipinggir rumah kita!"ucap Rumi dan hal itu membuat Jefri terkejut.
__ADS_1
"Kau membeli rumah kapan? " tanya Jefri.
"Pagi tadi sebelum kau bangun! " jawab enteng Rumi.
"Apa! " sentak Aldara dan Jefri serta membuat Indah menutup kedua telinganya.
"Hanya untuk membeli rumah itu mah gampang, apa kalian pikir aku ini orang miskin aku juga punya usaha sendiri walau tidak kantor-kantoran! " Rumi seraya keluar dari dalam mobil, Jefri segera menyusulnya.
" Bukan maksudku menyinggung mu hanya saja kau bisa bicara denganku sedari awal bukannya itu akan menjadi rumah kita?" Jefri menarik pergelangan tangan Rumi.
"Aku tidak tersinggung, aku hanya tidak mau berpisah dengan keponakanku dia adalah keluargaku walau aku egois tapi aku juga memikirkanmu bukankah harus ada privasi? Makanya aku segera membeli rumah itu sebelum keduluan orang lain. " terang Rumi.
"Aku kira kau marah! " ucap Jefri.
"Mana mungkin pengantin baru marahan kan! " Sahut Rumi.
"Kalian bersenang-senanglah, aku dan Helen akan pulang! " Aldara menggendong Helen dan menghampiri rumahnya, sedangkan Indah dan anaknya sudah sedari tadi pulang karna jemputanya sudah tiba waktu itu.
Rumi dan Jefri beriringan memasuki rumah yang berada di samping rumah Aldara, mereka terlihat senang. Walau tidak ada acara megah mereka tidak peduli karena hal itu bisa menyusul nanti.
Setelah memasuki rumah itu Jefri begitu saja menyambar bibir Rumi, Rumi pada awalnya terkejut tapi perlahan dia menikmati sentuhan bibir itu hingga suara bel pun membuat aktifitas mereka terhenti.
"Aldara pasti tidak salah! " Rumi beranjak dan membuka pintu.
"Malam pertama tanpa kasur, emang enak? " ucap Aldara begitu pintu terbuka. Rumi menepuk keningnya, tentu saja rumah itu belum ada isinya karena yang menjualnya pun tidak memberikan perabotnya.
Jefri melihat sekeliling dan dia pun baru menyadari kalau rumah itu kosong tanpa perabot, hingga Jefri pun menelepon seseorang untuk membeli semua perabot untuk mengisi rumah itu.
"Sebelum kasurnya datang kalian bisa menggunakan ini! " Aldara mengangkat kasur lantai lalu meletakannya dilantai sambil cekikikan dia pun pergi.
"Dia menggoda kita! " Rumi cemberut.
"Tidak mengapa, sebentar lagi perabotnya datang!" Jefri memeluk Rumi.
__ADS_1