Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Benih Cinta


__ADS_3

"Iya, " Sahut Algi dan membuat semua mata tertuju padanya, terutama Aldara.


"Memang sudah sepantasnya Anda menyegerakan pesta pernikahan, " Ujar laki-laki paruh baya itu, sedangkan Algi hanya menyeringai menanggapi.


"Sepertinya Anda salah paham Pak! " Aldara bersuara dan kali ini dia lah yang menjadi pusat perhatian.


"Saya buk-" ucapan Aldara terhenti tatkala Algi menginjak kaki Aldara.


"ini adalah pertemuan kedua kita, seharusnya kita manfaatkan dengan hal penting saja," Algi menatap laki-laki paruh baya itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang Anda ingin sampaikan?"


"Tentu saja, " Algi kemudian mengulurkan tangannya pada Aldara. Aldara pun mengerti dia memberikan berkas yang tadi di bawanya.


"Apakah lusa kemarin Anda bertemu dengan Pak Fadil? " tanga Alga dan terlihat laki-laki paruh baya itu memerah seketika lalu mengalihkan pandangannya dari Algi.


"Sudah saya duga, mudah-mudahan Anda tidak menyianyiakan kerja keras kita yang mengakibatkan perusahaan Anda gulung tikar! " Algi semakin menatap lekat pada laki-laki paruh baya itu yang sudah salah tingkah.


"Te tentu saja, saya akan setia! Mana mungkin kerja sama yang perusahan kita bina menjadi terpecah, kalau saling menguntungkan! " gelagap laki-laki paruh baya itu.


"Maaf membuat acara makan siang ini menjadi terganggu dan membuat canggung, untuk memastikan hal itu tidak akan terjadi maka Anda bisa menandatangani berkas ini! " Algi menyodorkan beberapa lembar kertas ke depan laki-laki paruh baya itu.


"Mana bisa seperti ini! " hardik laki-laki itu, menatap Algi, setelah mengetahui isi berkas itu.


"Berjaga-jaga agar Anda tidak kehilangan rekan kerja seperti saya, walau saya tidak begitu tergantung kepada Anda! "Ucapan Algi sukses membuat laki-laki itu geram, tentu saja dia lebih marah kepada Fadil yang telah menghasutnya agar Algi terlihat tidak pantas menjadi seorang CEO.


Laki-laki paruhbaya itu dengan sangat terpaksa menandatangani berkas itu, karena dia juga tidak ingin dirugikan dengan perusahaan Algi.


"Anda begitu sangat bijak, tidak salah jika papah saya memilih rekan kerja seperti Anda! " Algi tersenyum dipaksakan.


Makanan telah datang diantar pelayang yang cekatan, hingga tidak lama makanan itu telah tertata dengan rapi di meja bundar.


"Mari Pak kita makan! " Ajak Algi, laki-laki paruh baya dan perempuan yang berada di sampingnya itu yakni istrinya saling tatap, lalu mereka pun menyantap makanannya.


Beda dengan Jefri yang sekarang berada di halaman toko sayur milik Rumi, toko itu sepertinya tengah ramai pengunjung Jefri pun melangkahkan kakinya ke dalam karena melihat Rumi yang sedang sibuk dan perlu bantuan.


Jefri membuka pintu itu lalu terkejut, antrian di kasir sangat panjang belum lagi orang-orang berdesakan dan di sana terlihat hanya ada Rumi.


"Apa dia tidak mempekerjakan orang untuk membantunya! " gumam Jefri


"Duh ini di mana bawang bombay? " terdengar suara pembeli kebingungan, Jefri pun melangkah ke arah Rumi yang sedang sibuk sekali, terlihat kantung kresek pun berantakan di bawah mejanya.


"Hai! " Jefri menepuk bahu Rumi.


"Budi kau cepat layani yang lain, aku lagi sibuk! " Rumi tidak menyadari kalau itu bukan karyawannya.

__ADS_1


"Bagaimana aku melayani mereka bawang bombay saja aku tidak tau kaya apa?" hardik Jefri, membuat Rumi menoleh dan terkejut mendapati Jefri di sampingnya.


"Maaf Pak saya lagi sibuk," Rumi kembali ke aktifitasnya.


"Sini biar aku yang jadi kasir kau layani saja mereka! " Jefri menatap Rumi.


"Tidak usah!" tolak Rumi tanpa menoleh.


"Mba di mana sih kubis, saya mau beli banyak! "


"Kalau lengkuas sama jahe yang mana ya? " tanya remaja laki-laki dengan kencur dan kunyit di tangannya.


"Mba bisa aku duluan anakku takut nangis di rumah! "


Berbagai keluhan dari pembeli pun membuat Rumi menggelengkan kepalanya, karena Dila dan Budi dikasih cuti satu hari dihari kerja, membuatnya menyesal.


"Aku kira tidak akan seramai ini hari ini karena biasanya kalau hari rabu, suka sedikit yang belanja." Gumam Rumi, menyimpan beberapa sayuran di kantung kresek.


"Biar aku saja, aku bisa kok jadi kasir lagian semua jenis sayuran ada harganya perkilo kan? " Jefri terus mendesak Rumi agar dia bisa membantunya.


Semua jenis sayuran ada bandrol harganya, seperti cabai yang sudah dibungkus perkilo lalu ada bandrol harga diplastiknya, kangkung, bayam dan sayuran yang di ikat tidak satu kilo bandrol harganya tapi per ikat. Sehingga memudahkan pembeli dan tentunya Rumi dan karyawannya dalam menghitung jumlah belanjaan. Jika ada yang ingin setengah kilo tinggal di bagi dua.


Rumi memang sudah sangat kewalahan, dia menyerahkan kalkulator yang agak besar itu pada Jefri lalu menyeret belanjaan yang sudan dikranjang.


"Lihat aku! " titah tegas Rumi dan Jefri hanya mengangguk.


"Tentu saja! " jawab ibu itu, lalu Rumi pun mengambil buku nota.


"Lihatlah dibandrol harga ada nama sayurnya, seperti ini! Brokoli! Kau tulis namanya lalu di sampingnya tulis harganya dan masukan ke kantong kresek, lalu ambil lagi sayuran yang ada di keranjang tulis lagi lakukan sampai habis dikeranjang. Setelah semua tertulis kau perlu menjumlahnya dengan kalkulator! Ambil uangnya dan serahkan barang belanjaannya. Jika orangnya tidak ingin memakai nota, cukup ambil sayurnya lihat bandrolnya dan langsung tulis di kalkulator saja dan sayurannya masukan ke kantung kresek lalu ambil uangnya dan berikan belanjaannya! Apa kau mengerti?" terang Rumi panjang lebar, Jefri yang seorang pemilik perusahaan pun langsung mengangguk.


"Baiklah aku akan melayani mereka dulu, aku percaya kau tidak akan mengambil uangnya kan? " tanya Rumi ragu.


"Aku berniat baik ingin menolongmu, sana layani mereka biar aku yang menjadi kasir! " Jefri mengambil balpoin di tangan Rumi lalu menggeser posisi Rumi sehingga Jefri yang tepat berada didepan pembeli itu.


"Baiklah aku selesaikan yang ini! " Jefri pun mulai mengambil sayuran dari keranjang lalu menuliskan nama sayuran dan harganya.


Rumi pun beranjak dari sana, dan mulai menghampiri orang-orang yang masih bingung dimana sayur yang akan di beli, atau seperti remaja laki-laki itu, yang tidak tau mana lengkuas mana kencur.


Kesibukan Rumi dan Jefri berlangsung lama sampai menjelang sore tiba, pengunjung tidak henti mendatangi toko Rumi. Hingga selesai tepat pukul jam empat, karena jam itu sudah waktunya untuk tutup toko.


"Mba saya perlu kubis, masih bisakah? " tanya ibu-ibu saat Aldara hendak menutup tokonya.


"Baiklah selain kubis apa lagi yang akan di beli, dan mau berapa kilo? " tanya Rumi.


"Sekilo saja! " jawab ibu-ibu itu. Peluh Rumi terlihat oleh Jefri saat dia kembali memasuki toko itu, dia merasa kasihan padanya dan bagaimana kalau Jefri tidak ada untuk membantunya tadi?

__ADS_1


"Baiklah bu ini! " Aldara menyodorkan kantung kreseknya pada ibu-ibu itu.


"Terima kasih, "


"Sama-sama! "sahut Rumi dengan senyumnya.


"Cepat tutup toko nya! " tanpa sadar Rumi menyuruh Jefri, dan Jefri pun tersenyum lalu menurutinya.


"Wanita ini sedari tadi menyuruhku terus! " gumam Jefri dalam hati.


Sudah saatnya Rumi dan Jefri pun pergi, tapi Rumi memegang pergelangan tangan Jefri lalu menyodorkan beberapa lembar uang.


"Terima kasih untuk hari ini, kau sangat terampil. Terima lah walau sedikit karena itu sudah sewajarnya aku berikan tenaga mu membantuku! " ucap Rumi.


"Ambil lagi aku ikhlas kok menolongmu! Lagian diperusahaan juga tidak begitu sibuk, aku pergi dulu! " Jefri mendorong tangan Rumi yang memegang uang lalu hendak pergi.


"Atau setidaknya sore ini kita makan bersama di sebuah kafe di dekat sini, dari tadi siang kita tidak makan apa pun!" tawar Rumi pada Jefri lalu jefri pun tersenyum menanggapi.


"Oke aku terima, mau kafe yang mana? " tanya Jefri.


"Kamu suka makan apa?" Rumi malah bertanya balik.


"Apa pun aku suka, kecuali seafood! " sahut Jefri dan Rumi pun mengangguk.


Rumi tidak sengaja melihat grobak abang ayam bakar langganannya kini ada setelah beberapa hari libur.


"Aku suka ayam bakar yang ada di pinggir jalan itu, bisa kau tunggu sebentar aku akan membelinya nanti kita ke kafe! " ujar Rumi.


"Kau akan makan bersama ku di kafe, apa setelah itu kau akan memakan ayam bakar juga? " tanya Jefri.


"Kalau itu gimana nanti saja, aku sangat suka ayam bakar yang di jual abang itu sangat enak! " Rumi pun berjalan menghampiri tukang ayam bakar itu, tapi jalannya terhenti tatkala Jefri menariknya.


"Beli dua porsi lalu makannya di mobil! " ucap Jefri.


"Benarkah? Tidak mau dimakan di tempatnya saja?" Tanya Rumi.


"Di sana terlalu rame orang berlalu lalang aku takut di perhatikan saat makan, malu!" jawan Jefri dan Rumi pun mengerti.


"Tunggu dulu biar aku belikan! "


"Ini uangnya! " ucap Jefri, menyodorkan isi dompet nya.


"Tidak usah biar aku yang traktir! " dengan cepat Rumi pun melongos, meninggalkan Jefri dengan senyumnya.


"Hah rasa cinta ini semakin subur! " gumam Jefri dengan senyumnya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader..........


__ADS_2