Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Cemburu


__ADS_3

Aldara mengajak Andris kelestoran jepang yang dekat dengan gedung perusahaan itu, mereka kini duduk berdampingan menunggu pesanan datang.


"Kenapa kau membayarnya, aku tidak salah dia yang membuat ulah dan ingin ganti rugi! " Andris membuka percakapan, Aldara pun menoleh.


"Dia sepertinya kekurangan uang, jadi biarkan saja memangnya kalian akan berdebat sampai kapan? Sampai pagi? " ucap Aldara dan Andris pun mengangguk. bukan kah benar karena tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang memisahkan mereka pasti urusannya akan sangat panjang.


"Maaf menunggu, pasti sangat kesal aku tadi ada urusan mendadak dengan ibu menejer kau bisa lihat aku belum sempat kerumah," Aldara menarik bajunya dibagian bahu, bertanda kalau dia belum sempat pulang dan ganti baju.


"Aku memang kesal karena menunggu sangat lama, tapi setelah melihatmu rasa kesal menjadi sirna! " sahut Andris dan makanan pun akhirnya tersaji di meja.


"Terima kasih kalau begitu, sekarang mari makan! " Aldara menyumpitkan udang yang dilapisi dengan tepung diluarnya, sehingga rasa lembut dan krispi saat masuk dalam mulut makanan itu bisa disebut tempura.


"Kamu hanya akan makan itu? " tanya Andris dan menyupakan soba kemulutnya, yang merupakan mie asli jepang yang terbuat dari tepung khusus bernama soba dan bentuknya seperti spaghetti.


"Hm.. " Aldara hanya mengangguk, tanpa menoleh pada Andris. Tentu saja Aldara tidak akan makan yang berat kali ini mengingat tadi dia habis satu porsi ayam bakar beserta nasi saat bersama ibu menejer.


"Ald bisakah kau menatapku barang sekejap saja, walau ku tau aku tidak tau diri menginginkanmu sedangkan kau tidak menginginkanku. Rasanya sangat senang kali ini aku bisa makan bersamamu, rasa menunggu itu akan aku kerjakan asal yang ditunggu itu kau! " Andris menatap sendu Aldara, sehingga dia nampak salah tingkah kali ini.


"Aku hanya seorang janda anak satu, kau masih bujangan kau juga terlihat tampan dan baik pula. Cinta memang tidak mengenal siapa dan bagaimana orang itu, terkadang dia akan datang pada orang yang tidak tepat sehingga akan membuatmu merasa sedih lalu tersiksa jika hal itu dipaksakan. Aku tidak beruntung karena jika didekatmu jantungku tidak berdegup kencang, entah aku juga tidak tau alasannya mengapa? Tapi satu hal kau adalah orang yang selalu menolongku jadi rasa persaudaraan lebih melekat rasanya, dan aku menjadi egois karena selalu ingin ditolong olehmu tanpa memikirkan perasaanmu dan pasti hal itu tanpa aku sadar menyakitimu. Walau rasa toleransimu besar kepadaku karena cinta, tapi yakinlah lambat laun cinta itu akan menghilang dengan sendirinya dan aku akan merasa ada yang kurang jika kau berubah. Jadi untuk menghindari rasa yang mungkin terjadi seperti itu, aku mencoba untuk tidak memiliki hutang budi lagi kepadamu! " jelas Aldara panjang lebar.


"Cinta perlu perjuangan, itu lah yang harus di lakukan walau kali ini kau tidak berdegup saat bersamaku, tapi aku akan membuat hal itu terjadi!"


"Tidak mungkin! Dia miliku! " ucap seseorang tiba-tiba menyahuti ucapan Andris dari arah belakang bagian samping meja Aldara.


"Algi! " gumam Aldara melongo setelah menoleh pada sumber suara.


"Pak Algi! " dan di susul dengan gumaman Andris.


"Kami adalah sepasang kekasih, jadi kau telah salah orang untuk memaksakan dia mencintaimu!" Algi berdiri lalu menghampiri keduanya. Aldara segera menunduk tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat cepat sampai dia tidak bisa bergerak, kata kekasih yang terlontar dari mulut Algi yang tegas membuatnya menjadi seperti itu.

__ADS_1


"Ald apa itu benar? " tanya Andris tapi Aldara sekan tidak mendengarnya dia terus saja menunduk.


"Tentu saja, kami permisi! " Algi menarik paksa pergelangan tangan Aldara, Aldara yang kaget pun merasa terhunyung dan tanpa sadar langkahnya menurut pada Algi.


Andris mengepalkan tangannya, dia sudah sangat telat dia mengingat nomor yang berada di ponsel Aldara waktu di rumah sakit dulu yang sempat dia menghubunginya, ternyata dia adalah Algi. CEO perusahaan tempat dia bekerja.


"Aku bahkan belum sadar, dia selalu menolaku ternyata dia milik CEO!" Senyum kecut itu dia lontarkan dari mulutnya.


"Lepaskn aku! " teriak Aldara pada Algi dan mengguncangkan tangannya, agar terlepas dari pegangan Algi.


"Kau membuatku marah kali ini! " ucap Algi menatap tajam Aldara lalu kembali menarik Aldara menuju mobilnya.


Algi memaksa Aldara memasuki mobil miliknya hingga kini Aldara berada di kursi depan samping pengemudi.


"Hai kau lepaskan aku! " Aldara menatap Algi yang masuk lewat pintu pengemudi.


"Lihat aku! " teriak Algi.


"Lepaskan aku! Kita bukan pasangan seperti itu bahkan aku belum menyetujuinya, kenapa kau seenaknya! " Aldara mendorong dada bidang Algi tapi Algi malah meraih pinggang Aldara sampai dipangkuannya.


"Kau bisa merasakn degupan jantungku? " tanya Algi, sadangkan sedari tadi tangan Aldara masih nangkring didepan dada Algi.


"Dan kau juga merasakan degupan itu, bagaimana kau tidak menolaku saat aku menciumu. Bukankah dengan hal itu kita saling membalas, apa kau bisa mengelak lagi? " Algi menatap cinta Aldara.


Aldara menjadi gugup dan glagapan, respon yang sangat dia hindari kini terjadi begitu saja hingga Aldara segera memalingkan wajahnnya pada lampu yang berkelap kelip dibagian depan lestoran itu.


"K kau jangan bersikap seperti itu, dan kau juga telah salah paham aku tidak memiliki rasa yang kau miliki jadi sekarang lepaskan aku! "


Algi yang mendengar hal itu langsung membungkam bibir Aldara dengan bibirnya, menyesapnya lalu memasukan lidahnya pada mulut Aldara.

__ADS_1


"Hmmmppp! " Aldara menepuk bahu Algi keras, dan Algi malah menekan tengkuk Aldara.


Rasa amarah yang mendominasi membuat Algi berbuat kasar pada mulut Aldara, dia merasakan sakit bagian ulu hatinya saat Aldara menolaknya dan ini adalah yang pertama baginya di tolak oleh seorang wanita.


Tanpa sadar kini Algi menelusupkan tangannya pada baju Aldara menggapai kedua gundukan milik Aldara. Aldara yang menyadarinya segera memberontak sekuat dan sebisanya hingga Algi menurunkan kembali tangannya dan melepaskan pangutan bibir mereka.


Nafas mereka memburu, seakan tengah menghirup udara sebanyak-banyaknya. Algi kembali menatap Aldara didelannya.


"Kau miliku, tidak ada penolakan! " ucap Algi dan sentak membuat Aldara kembali berdegup dan gugup. Algi kembali mengecup bibir Aldara sekejap.


"Lihatlah bahkan kau telah pasrah dengan sentuhanku! " goda Algi dan membuat Aldara tersadar.


"Sial! " gumam Aldara dalam hati.


Tiba-tiba suara pesan masuk terdengar dari ponsel milik Aldara yang berada di dalam tasnya. Algi memeluk pinggang Aldara agar tidak bisa kemana-mana, Aldara pun merogoh dengan susah tas miliknya lalu mengmbil ponsel itu.


"Dari siapa? " tanya ketus Algi.


"Selain pemaksa dia juga sok ingin tau!" suara Aldara dalam hati.


"Kenapa tidak menjawab? Dari selingkuhanmu itu? " kembali Algi bertanya.


Aldara yang sibuk membacapun, kini menoleh pada Algi dan berkata, " Saya izin minggu depan tidak masuk selama tiga hari, saya mengambil cuti yang tidak diambil waktu dulu dan sekarang saya mengambilnya! "


"Kau memaksa untuk ikut acara sekolah itu, katanya kau akan membatalkannya? " Algi menatap teduh mata Aldara, dan tangannya tidak lepas melingkari pinggang Aldara.


"Ini yang pertama baginya mengikuti acara sekolah, jadi aku merasa kasian sebagai ibunya kalau dia tidak ikut sedangkan temannya yang lain ikut! " sahut Aldara.


"Baiklah! "

__ADS_1


__ADS_2