
Setelah seharian kemarin hujan yang diseratai angin dan gugur, pagi ini cuaca sangat cerah terlihat dari cahaya matahari yang menembus celah jendela kamar Algi. Membangunkan dua insan yang tengah tertidur itu.
Aldara melenguh dan merasakan berat dileher dan bagian pinggangnya, dia pun mengerjap dan mengucek matanya lalu melihat susana kamar yang asing menurutnya. Pandangannya beralih menatap lengan kekar yang melingkari tubuhnya yang ternyata itulah penyebab berat dipinggang Aldara. Aldara pun melebarkan kedua matanya, ini adalah pertama kalinya dia di peluk oleh laki-laki dewasa. Awalnya Aldara akan berontak, tapi dia mengingat suatu hal.
"Kau udah bangun? " tanya Algi dari belakang Aldara, bibir yang bergerak tepat di tengkuk saat Algi bertanya tadi, membuat Aldara bergidik.
"Lepaskan aku! " Aldara menyingkirkan tangan Algi yang melingkari pinggangnya.
"Tidak, ini sangat nyaman dan hangat aku menyukainya apa lagi wangimu yang membuatku selalu ingin mengecup tengkukmu, " sahut Algi dan malah membuat Aldara dibuat geram.
"Lepaskan, aku tidak menyukainya! " teriak Aldara menyiku dengan kuat bagian dada Algi, dan erangan pun keluar dari mulutnya.
"Siapa pun tidak ada yang bisa membantah perkataanku! " ucap tegas Algi, membalik tubuh Aldara sehingga kini mereka saling berhadapan dan menatap.
"Kenapa? Apa kau memang seperti ini kepada setiap perempuan?" tanya Aldara menatap tajam laki-laki dihadapannya.
"Tidak! "
"Apa karena aku seorang janda sehingga kau bisa berbuat seenaknya padaku! Menjauhlah dariku ! Setatus janda bukan berarti selalu haus akan belaian, dan kasih sayang! " Aldara menepis kedua tangan Algi di pinggangnya.
Aldara pun bangun dan duduk di kasur lalu di ikuti oleh Algi, sesaat Aldara menoleh pada Algi lalu
Plakkkk
"Sekali lagi kau menyentuh tubuhku, aku jamin nyawamu akan terlepas dari ragamu kala itu juga! " bisik tegas dan geram Aldara tepat di telinga Algi. Tapi lain dengan Algi yang menganggap hal itu hanya lelucon, sambil memegang pipi yang di tampar Aldara.
Aldara turun dari kasur tapi tangannya di tarik Algi sehingga kini Aldara terbaring bersamanya di kasur, dengan Aldara berada di atas Algi.
Aldara sepontan mencekik leher Algi dengan keras. Sekeras kerasnya sampai Algi pun kesakitan dan kini tangannya tidak bisa berbuat apa-apa dengan mulut yang mengaga.
"Dasar laki-laki kurang ajar, aku bunuh kau! Aku bunuh! Kau adiknya kan, rasakanlah pembalasanku! Mati kau! Mati!" Teriak Aldara dalam hati, dia menatap Algi dengan tatapan membunuhnya.
"Daddy apakah Bunda ada di dalam? " Roni dan Helen menggedor pintu.
__ADS_1
" Aa aa alll dd! " Algi mencoba memanggil Aldara agar dia menghentikannya, tapi Aldara seperti kesetanan malah semakin menjadi dengan menatap Algi tajam.
"Daddy, Bunda kau ada di dalam? Apa kalian akan memberikan kami adik?" pertanyaan Helen, membuat Aldara melepaskan cengkraman tangannya dileher Algi. Algi yang terbebas pun terbatuk dan merasa lemas dia menghirup udara sedalam-dalamnya, Algi merasa kalau Aldara kali ini tidak main-main sehingga dia tidak meperdulilan Aldara yang menatapnya itu.
Aldara beranjak dari tubuh Algi dan mulai menghampiri dan membuka pintu, di sana sudah ada Helen dan Roni yang tengah tersenyum kepadanya.
"Bunda, kau mulai bisa menerima daddy kan? " Helen mengerjapkan matanya.
"Helen jangan bicara yang aneh-aneh lagi, kita pulang sekarang! " Aldara mengambil tas di sofa dan menarik Helen, dia tidak memperhatikan kalau Algi berada di belakangnya saat ini, sehingga Aldara menabrak dada bidang Algi.
"Mulai pagi ini kau akan menjadi sekertarisku di kantor! " Algi berkata dengan tatapan seriusnya.
"Aku akan membuat surat pengunduran diriku! " Aldara mendorong tubuh Algi lalu beranjak pergi dari aparteman itu bersama Helen.
Saat Aldara membuka pintu disana sudah ada Raisa dan Fadil. Mereka pun terkejut apa lagi Raisa.
"Kamu yang membuat cucuku kembali ceria? Dan yang dia sebut Bunda oleh Roni? Wah kau cantik, anak mu juga," ucap Raisa memberi pertanyan bertubi, Aldara dengan cepat menggendong Helen dan menyembunyikan mukanya di bahu.
"Terima kasih Bu! " Aldara menunduk, sedangkan Fadil terlihat menelisik wajah Aldara.
"Ah i itu saya, " Aldara bingung dan semakin meundukan kepalanya.
"Iya mah, dia menunggumu sedari kemarin bahkan sampai menginap! " Algi memegang kedua bahu Aldara dari belakang sambil tersenyum.
"Benarkah, apa hubungan kalian sedekat itukah? "
"Mendingan mamah masuk dulu! " Algi mempersilahkan masuk. Sedangkan Aldara menggoyangkan bahunya, menyingkirkan tangan Algi. Algi mengerti tapi dia tidak melepaskan tangannya.
Fadil terus memperhatikan tingakah Aldara dan Algi, dia pun tersenyum sinis.
"Sepertinya aku kenal dengan wajah seperti itu! " gumam Fadil dalam hati.
"Sepertinya dia mengenaliku, cih sia-sia tadi nunduk! " kini hati Aldara yang berbicara.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskanmu, kau berani mencoba untuk membunuhku tadi! " Algi berbisik sangat pelan ,tepat ditelinga sebelah kanan. Karena di bahu kiri Aldara ada Helen.
"Khm! " Aldara menormalkan detak jantungnya, dia pun berbalik hendak pergi.
"Jangan harap kau akan pulang kali ini! " Algi kemudian mencengkram pergelangan tangan Aldara.
"Ibu, Bapak! Maaf saya harus pulang karena anak saya harus sekolah dan sekarang sudah siang, " Aldara bicara dengan keras, sehingga Raisa dan Fadil yang tengah dudukpun menoleh.
"Yah, padahal ada banyak hal yang mau Mamah tanyakan! " kecewa Raisa.
"Dimaklum lah sayang, dia kan seorang janda anak satu kalau dia masih gadis pasti tidak akan sibuk mengurusi anak, dan bisa lebih lama berbincang dengan kita! " ujar Fadil menatap tajam ke arah Aldara, Algi yang melihat hal itu menjadi heran kepada Fadil.
"Kalau gitu lain kali bisa kita bertemu lagi, lagian Roni juga mau sekolah kan?" Raisa mendudukan Roni yang sedari tadi di sampingnya, ke pangkuannya.
"Iya nek! " sahut Roni.
"Baiklah biar nenek yang mempersiapakanmu untuk pergi ke sekolah, " Roni pun dibuatnya tersenyum oleh ucapan sang nenek.
"Roni bukuku! " ucap Aldara mengangkat kepala dari bahu Aldara, menyadari hal itu Aldara segera kembali menundukan kepala Helen ke pundaknya, seakan Helen tidak boleh menampakan wajahnya.
"Biar aku bawa saja kesekolah, " sahut Roni.
"Ada apa dengan Bunda? Hidungku sakit kena tulang bahunya! " kesal Helen dalam hati kepada Bundanya itu
"Kalau begitu saya pamit untuk pulang dulu! " Aldara membungkuk lalu berbalik menuju pintu.
"Sayang kenapa terburu-buru, kita berangkat bersama saja urusan seragam dan hal lain biar aku belikan sekarang juga! " Ucap Alga, sontak membuat Semua orang yang berada di sana melongo mendengar ucapan Algi kepada Aldara.
Roni dan Helen saling melirik, "Yes! "
"Diam kau Helen! " Bisik Aldara kepada anaknya itu sedangkan Helen sendiri hanya terkekeh menanggapi ancaman sang Bunda.
"Selain itu aku juga mau ganti baju dan bersiap kekantor, maaf saya harus pergi permisi! " Aldara buru-buru pergi meninggalkan apartemen itu.
__ADS_1
Hai Reader jangan lupa kasih like 👍, komen 💬, Favorit 😍 dan Vote ya.... 🌹🌹🌹