
"Bunda! Bunda! Bangun! " Helen menedang-nendang pintu kamar Aldara, kini waktu sudah menunjukan pukul enam pagi dan Aldara tidak kunjung bangun membuat Helen marah pada Bundanya.
"BUNDA! " teriak Helen memukul pintu kamar Aldara, dan akhirnya Aldara pun terbangun lalu menghampiri pintu dengan langkah terhunyung karena terkejut Helen berteriak, membuatnya khawatir.
"Ada apa Hel? " tanya Aldara mengerjap memulihkan penglihatannya, lalu memegang kedua bahu anaknya itu.
"Bunda ini sudah jam enam siang, apa Bunda libur kerja? " tanya Helen dan seketika mata Aldara membulat.
"Kau bercanda? " tanya Aldara.
"Lihat! " Helen menunjuk jam dinding di kamar Aldara.
"Telat, Bunda telat Hel! " Aldara segera melesat ke kamar mandi, sedangkan Helen hanya mengerucutkan bibirnya sambil menggeleng.
Mandi ala bebek dan dandan ala kadarnya, serta serapan yang tidak sempat Aldara lakukan pagi itu. Setelah mengantar Helen kesekolah, Aldara memacu gas motornya menuju tempatnnya bekerja.
"Akhirnya sampai! " Aldara membuka helem lalu mengikat rambut panjangnya sebelum masuk gedung bertingkat itu.
Larian Aldara tidak ada yang bisa menandinginya, walau dia memakai hels yang ukurannya tidak terlalu tinggi. Tapi apalah daya jika lantai itu licin ternyata dia pun bisa tergelincir. Di lantai tempatnya bekerja lantai sedikit masih basah hingga Aldara pun mulai berjalan tidak seimbang.
"Aaaaa! "
Dan untungnya ada Algi yang sigap menangkap Aldara, sehingga dia tidak jatuh kelantai. Aldara membuka matanya dan dilihatnya wajah Algi yang menyelamatkannya, dengan Algi yang memeluk pinggang Aldara sedangkan kedua tangan Aldara melilit dipundak Algi. Secara tidak langsung mereka pun saling menatap.
"Masih pagi jangan buat ulah! " ucap Algi dan kini Aldara mengerjap dia pun mendorong dada Algi tapi dirinya tidak bisa terlepas dari rangkulan itu.
"Ini tidak sengaja, maaf Pak! " sahut Aldara menunduk dan hak itu membuat Algi tersenyum mananggapi.
"Kau terlambat dua detik! Kau harus dihukum, tapi sekarang kau perlu menyiapkan berkas untuk rapat pagi ini waktumu tidak lama hanya lima menit!" ucap Algi melepaskan rangkulannya lalu pergi dari hadapan Aldara dan kembali ke kantornya.
"Hah memang sitepat waktu! Aku sudah menyiapkan berkas itu semalam, jadi dalam lima menit ini aku bisa sedikit menyantap sedikit makanan! " Aldara menyimpan tasnya di kolong meja, lalu beranjak kekantin. Algi yang melihat itu merasa bingung,hingga akhirnya dia kembali ke luar.
__ADS_1
"Aldara! " teriak Algi, seketika jantung Aldara berdegup sangat cepat dia menelan ludahnya dengan susah.
"Ada apa denganku? " gumam Aldara dalam hati seraya memegang bagian dadanya.
"Kau mau kemana? " tanya Algi, menghampiri Aldara yang hanya diam dan membelakanginya. Aldara tersadar dari lamunannya dan segera menoleh pada Algi.
Selangkah kaki Algi menghampiri seiring detak jantung itu berpacu dengan cepat, Aldara tidak tau ada apa dengan dirinya kali ini.
"Mungkinkah epek tidak tidur semalam? " gumam Aldara.
"Kau mau kemana? Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk menyiapkan berkas, malah keluyuran! " ucap tegas Algi.
"Ah itu, aku mau serapan dulu karena tidak sempat, untuk berkas yang bapak minta saya sudah menyelesiakannya dan akan menggunakan waktu lima menit itu untuk serapan," sahut Aldara, Algi yang melihat Aldara gugup menjadikan dirinya gemas pada sekertarianya itu tapi sebisa mungkin Algi manahannya untuk tidak menyentuh apa pun pada bagian tubuh Aldara.
"Bakalan gagal serapan, puasa dadakan deh! " Ucap hati Aldara.
"Sekalian beli buatku, dan cepat waktumu tidak lama! " Algi begitu saja meninggalkan Aldara yang tengah melongo menatap dirinya yang menjauh.
"Kau sudah datang, sini! " Algi menepuk pahanya dan membuat Aldara mengerutkan dahinya.
"Saya tidak bisa duduk disana, biar di meja saya saja! " Aldara menyimpan sebungkus serapan itu dimeja.
"Tidak ada waktu untuk berdebat, kau membuatku marah kemarin, suasan kantor heboh dan kau hanya diam dirumah. Sekarang kau harus patuh padaku!" Algi menatap tegas Aldara.
"Seenak jidat dia berkata seperti itu, aku sampai begadang karena tugas yang dia berikan semalam sangat banyak! " geram Aldara dalam hati.
"Duduk disana apa tidak terlalu-"
"Aku lapar dan tanganku sibuk! " hardik Algi, Aldara pun menurut menurut dia kini berada di samping Algi hendak duduk dengan ragu.
Greeep
__ADS_1
"Kau duduk dipangkuanku bukan untuk yang pertama, kenapa terlihat gugup? " Algi merangkul pinggang Aldara dan kini berada dipangkuannya, sedangkan Aldara membuatnya bergidik karena mulut Algi tepat berada di telinganya saat bicara tadi.
"Sekarang suapi aku, aku harus mengerjakan ini! " Algi kembali fokus pada layar didepannya sedangkan Aldara menahan kesal dalam dirinya dan mulai membuka bungkus itu.
"Maaf Pak, tapi saya juga lapar dan rapat akan di adakan dalam waktu dekat. Sepertinya kalau harus menyuapi bapak dul-"
"Apa kau perlu morning kiss? Ya tinggal sama-sama saja kali ini aku dua suap dan kau satu suap! " ucap Algi memotong ucapan Aldara dan kini hatinya sangat senang tiada tara.
"Tidak! Ya akan aku lakukan! " sahut Aldara seraya menyindukan makanan itu lalu mulai menyuapi Algi.
Tidak bisa dipungkiri, rasa yang belum pernah Aldara rasakan kali ini membuatnya merasa bingung ada rasa senang dalam hati diperlakukan seperti itu oleh Algi, tapi disisi lain ada rasa bersalah dan rasa harus menolak rasa yang tengah dia rasakan itu.
Aldara menyindukan makanan itu kemulut Algi yang tebal, sesekali dia harus meneguk silvanya untuk menetralkan rasa yang menjalar ditubuhnya. Hal itu tidak berhenti di sana, sebelah tangan Algi tiba-tiba melilit perutnya yang ramping.
"Pak lepaskan tanganmu! " suruh Aldara dan dengan sedikit geram dia menyindukan makanan untuk dirinya.
"Aku suka seperti ini hangat! " Algi semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Aldara, serta wajanya yang dia simpan dileher. Membuat hati Aldara tidak karuan.
Aldara pun menoleh hendak bicara tapi kini malah mulut dan hidung mereka bersentuhan, Algi yang menjadikan itu kesempatan emas untuknya segera menarik tengkuk Aldara menyesap bagian bibir yang dirasanya manis melebihi gula dan madu.
Algi memasukan lidahnya kemulut Aldara yang masih tersisa makanan di dalamnya, lalu memakannnya. Aldara hanyut dalam ciuman itu dan Algi menjadi lebih bersemangat untuk melakuannya lebih.
Algi melepas ciuman itu lalu bibirnya menelusuri dagu dan sampai dileher jenjang Aldara, dicium dan disesapnya lehar Aldara.
"Ah... " tidak sadar Aldara melenguh membuat Algi gencar menciumi leharnya.
Perlahan tangan Algi menyusap paha Aldara lembut dan hal itu membuat Aldara sadar dan membualatkan mata serta segera berdiri dan lari keluar dari ruang kantor Algi.
"Kau bahkan menolak perasaan itu untuk masuk Ald! " gumam Algi menatap pintu dengan kesal.
"Ini tidak benar!" Aldara duduk dikursinya lalu mengambil cermin dilihatnya beberapa tanda kemerahan dilehernya ulah Algi tadi, dia semakin memegang kaca itu erat menahan rasa bergejolak dalam dirinya.
__ADS_1