Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Pembucukan


__ADS_3

Sore hari pun telah datang, semua karyawan di perusahan G.S milik keluarga Gunawan bersiap untuk pulang kecuali para stap keamanan yang bertugas berjaga malam.


Aldara terlihat menyoren tasnya di pundak dengan kedua tangannya yang memegang dus yang berisi sepatu pemberian Andris, dia menghembuskan nafas sebelum berjalan mengingat kalau pulang dari kerjanya dia tidak langsung ke rumah.


Sesaat pandangannya tidak sengaja menatap salep yang tergeletak begitu saja dimeja.


"Salap untuk obat nyeuri, ternyata dia memperhatikan ku! " gumam Aldara dan pergi meninggalakan mejanya.


Di depan gedung Andris terlihat melambaikan tangan sambil tersenyum, Aldara yang menyadarinya pun segera menghampiri dan sedikit berlari hingga dia kembali bertabrakan dengan Algi yang akan pulang sambil memegang ponsel ditelinganya.


Aldara tersentak dan kembali menunduk hingga ponselnya berbunyi, Aldara pun melangkah dengan pelan menghindari tatapan Algi lalu mengangkat teleponnya.


"Hallo! " Suara bersamaan Algi dan Aldara, membuat keduanya saling menatap.


"Ini siapa? " tanya Aldara pada seseorang yang meneleponnya.


"Saya CEO dari perusahaanmu bekerja! " ucapnya agak keras dan Aldara pun hanya mengangkat alisnya sebelah sambil menoleh ke arah Algi.


"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu? " tanya Aldara masih teleponan sama Algi, padahal jarak mereka tidak satu meter pun. Sedangkan sekertaris pribadinya yang kini berada di belakang Algi hanya mengerutkan dahinya bingung.


"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu, ikuti aku keruang kerjaku sekarang! " ucap Algi menekan kata terkahir pada Aldara, sedangakan Aldara yang akan menyahuti pun tidak sempat karena Algi langsung memutuskan sambungan teleponnya dan berjalan kembali kedalam.


"Huh, nasib jadi kuli orang! " kesal Aldara dan menghentakan kakinya menuju Andris.


"Kamu terlihat kesal! Kenapa? " tanya Andris.


"Mana mungkin kamu tidak melihat aku menabrak CEO perusahaan ini, aku di minta menemuinya mungkin ada hal penting. Maafkan aku mungkin besok kita akan makan bersama, " ucap Aldara.


"Tidak apa-apa, aku menunggu mu besok! " sahut Andris dan dia pun pergi dengan kesal karena tidak jadi makan bersama Aldara sekarang.


"Ada hari esok, sabar! " gumam Andris menenangkan hatinya sambil terus berjalan menghampiri mobilnya.


Aldara pun segera berbalik menuju lift dan menekan lift itu menuju lantai paling atas.


"Apa lagi kali ini! " gumam Aldara menelusuri lorong menuju ruang Algi.


Hingga tibalah Aldara dengan ngosan nafasnya karena lelah, dia pun membuka pintu itu. Terlihat Algi tengah menatapnya tajam di kursinya sampai tidak berkedip membuat Aldara salah tingkah dia berusaha tidak memandang Algi saat itu.


"Mungkin CEO ini mempunyai trauma di tabrak orang! " ucap Aldara dalam hati.

__ADS_1


"Kau apakan anakku sehingga dia sekarang menginginkan menginap dirumahmu! " ucap tegas Algi membuat Aldara mengerti.


"Roni maksud Bapak?" tanya Aldara.


"Hem! " gumam Algi.


"Aku tidak melakukan apa pun, hanya saja dia tadi demam dan dia hanya ingin pulang bersama anakku ke rumah kami! " jelas Aldara.


"Aku ingin kau membujuk anakku agar tidak menginap di rumahmu! " perintah Algi.


"Jika anak bapak berkenan untuk menginap saya tidak keberatan," ucap Aldara.


"Karena sepertinya dia kesepian, mengingat Dady nya saja dingin kaya gini! " sambung hati Aldara.


"Saya tidak akan merepotkan orang lain, jadi kau perlu membujuknya saja! " Algi tetap menatap Aldara.


"Apa bapak bercanda, yang Anda perintahkan pada saya juga merepotkan! " Sahut Aldara membuat Algi beranjak dari duduknya lalu menghampiri Aldara dan menyudutkannya di tembok.


"Kau berani membangkang kepadaku?" suara Algi terdengar jelas di telingan Aldara beserta hembusan nafasnya yang menerpa ujung telinganya.


"Khm, ini jam pulang bukan jam kerja, saya tidak berhak lagi menuruti semua permintaan bapak apalagi masalah pribadi! " gugup Aldara menundukan kepalanya.


"Dia hanya anak berusia tujuh tahun, dia hanya ingin mempunyai teman bersamanya! Dan tidak sepantasnya Anda melarangnya dengan keras karena ke egoanmu, yang akan memutuskan sikaf sosialisasinya. Anda memang berhak melarang dia tidak menginap di rumahku, tapi untuk melupakan orang yang setiap kali dikenalnya itu akan membuat anak anda merasa kesepian yang berakibat pada mentalnya! " jelas Aldara.


Plakkk


Algi menepuk keras tembok di balik wajah Aldara dan kembali tatapan tajamnya menghujam mata Aldara yang tegas.


"Jangan sesekali mengajariku, dia anakku dan apa yang aku ajarkan yang terbaik untuknya tidak ada masukan dari orang sepertimu! " Ucap Algi dan Aldara pun tersenyum menyeringai lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Algi dengan agak susah karena dia harus berjinjit untuk menggapai telinga yang tinggi itu.


"Yang dia perlukan kasih sayang, bukan hanya didikan," bisik Aldara membuat Algi terdiam merasakan angin kecil itu berhembus di telinganya.


"Maaf Pak kita bukan muhrim jangan dekat-dakat! " Aldara mendorong kasar dada Algi sehingga terhunyung ke belakang.


Aldara takut kalau ada hal lain lagi, apa lagi di ruangan itu cuman mereka saja dan sikap Algi pun keras.


"Kalau tidak ada hal lain saya pamit undur diri! " Aldara segera berlari dengan memeluk kardus sepatu itu erat. Untung dia menggunakan sedal cepit jadi dia bisa leluasa untuk keluar dari ruangan yang mencengkam itu.


Setelah Aldara tidak ada di ruangannya, Algi menerima telepon dari seseorang.

__ADS_1


"Apa?" tanya Algi.


"Tuan Roni tidak ada dikamarnya, dan jendela kamarnya pun terbuka. Maafkan saya tuan! " suara pembatu di rumahnya membuat Algi semakin kesal. Algi pun menutup telpon itu dan memasukannya ke saku jas.


Segera dia pun berbalik dan berlari sangat kencang mengejar Aldara yang menurutnya belum terlalu jauh. Dan benar saja kini Aldara masih berjalan ditaman depan gedung perusahaan itu.


"Akhirnya lolos juga," gumam Aldara yang hampir mendekati palkiran motor khusus karyawan.


Di saat senyum Aldara merekah, dari belakang Algi terlihat berlari menghampirinya lalu merogoh dan menarik tangan Aldara yang tengah terayun pelan hingga tubuh Aldara pun berbalik dan terhunyung seiring kibasan rambutnya terayun, Algi sigap menangkap pinggang ramping Aldara dengan sebelah tangannya yang lain agar tidak terjatuh.


Tentu saja hal itu membuat Aldara kaget dengan sebelah tangannya yang memegang bahu Algi ,serta yang sebelahnya lagi masih di genggam CEO itu. Perlahan Aldara mendongkak lalu menangkap sosok Algi yang tengah menunduk menatapnya dengan nafasnya yang memburu.


"Ka kau! " gagap Aldara.


Algi tidak menyahuti ucapan Aldara, dia melepaskan rangkulan dan pegangan tangan mereka lalu dia pun mengambil masker hitam di saku celananya serta memakainya.


Setelah dirasa mukanya telah tertutupi masker Algi menggendong Aldara di bahunya, lalu membawanya ke mobil menghiraukan pukulan dan ocehan Aldara serta tidak memperdulikan sekelilingnya.


Sampai di mobil, Algi memasukan Aldara di kursi depan bersamanya dengan paksa, Algi duduk dikursi kemudi mengunci pintu mobilnya lalu menghidupkan mesin mobilnya.


"Ini bisa di sebut kasus penculikan, kamu akan di bui! " teriak Aldara dan lagi-lagi Algi tidak menaggapi.


Sampai Aldara sudah tidak berteriak-teriak lagi Algi pun akhirnya bicara.


"Apa kau di rumah tidak sendirian?" tanya Algi dan kini giliran Aldara yang bungkam.


"Roni menelepon lewat ponselmu, tapi di rumah itu bukan kamu siapa dia? " kembali Algi bertanya tapi Aldara tetap bungkam.


"Kau mau bermain-main bersamaku, " ucap Algi dengan kesal, dan Aldara pun malah mengacuhkannya.


Algi menginjak pedal gas dengan kencang sehingga mobil itu mengebut dijalanan yang ramai, Aldara kini merasakan dadanya berdegup kencang, dia pun menoleh pada Algi.


"Kau tidak mau menjawab pertanyaan ku satu pun?" kembali Algi bertanya sedangkan Aldara kini tidak fokus hanya untuk mendengarkan pertanyaan Algi.


"Hentikan! " teriak Aldara.


"Aku akan menghentikannya kalau kau menjawabnya! "


Aldara melihat sebuah mobil di depannya saat mobil Algi menyalip truk besar disampingnya.

__ADS_1


"Awasssssssss! " teriak Aldara sangat kencang sambil memejamkan matanya.


__ADS_2