
Di kamar yang bernuansa biru dan banyak sekali stiker tayo di dinding, serta lemari dan sprai serta perabot lain yang bergambar tayo juga. Roni terlihat menekuk lututnya di kasur dan menyembunyikan wajahnya di sana, air matanya terus mengalir.
Tuk tuk
Terdengar suara pintu di ketuk tapi Roni tetap diam, hingga seseorang yang mengetuk tadi pun membuka pintu perlahan.
"Roni, cucuku, " panggil Raisa, Roni pun menoleh lalu beranjak dari duduknya dan berlari menghampiri sang nenek.
"Nenek! " Roni memeluk erat Raisa, Raisa pun menggendong cucunya itu lalu menciuminya.
"Kenapa cucu nenek yang ganteng ini, kok matanya sembab? " tanya Raisa sedangkan Roni hanya menggelang.
"Jangan sembunyikan masalah mu, nenek akan selalu mendukungmu," bujuk Raisa agar Roni menceritakan masalahnya.
"Dady Nek, aku hanya menginginkan kasih sayang tapi dia selalu membentaku! " adu Roni akhirnya pada Raisa.
"Tidak perlu Dady mu, nenek senantiasa selalu menyayangi mu! " Raisa mengecup puncak kepala Roni.
"Nenek aku ingin tinggal di tempatmu saja! " ucap Roni.
"Sayang tidak bisa Dady mu akan sangat kesepian jika tidak ada kamu, dia seperti itu karena sayang sama Roni dia ingin yang terbaik untukmu! " Fadil menyahuti membuat Raisa dan Roni menoleh padanya.
"Dady tidak sayang sama Roni! Kalau dady sayang sama Roni maka dia harus menikah dengan bunda! " teriak Roni, membuat Algi yang tengah meminum teh dingin di ruang tamu mendadak tersedak. Memang kamar Roni berada dekat dengan ruang tamu.
"Siapa yang kamu panggil bunda?" tanya Raisa.
"Dia adalah bundanya teman Roni, " sahut Roni membuat Raisa tersenyum menanggapi.
"Roni sayang jangan sembarangan menyebut bunda pada orang lain. Bagaimana kalau Dadynya teman kamu marah?" ucap Raisa membuat Roni menggelengkan kepalanya.
"Tidak Nek dia janda dan Dady duda jadi mereka cocok kan? " ucapan Roni sontak membuat Algi tersedak kembali yang mengakibatkan batuk berkepanjangan, sedangakan Raisa hanya tertawa dengan bahaknya.Beda lagi dengan Fadil dia terlihat tidak memberi respon apa pun.
"Kau ini tau janda juga? " tanya Raisa bercanda membuat Roni mengangguk.
"Kata teman aku janda itu wanita yang telah menikah tapi suaminya meninggal atau mereka berpisah, " jawab Roni dengan muka polosnya.
"Terus bundanya teman kamu itu kenapa bisa jadi janda? " tanya Fadil membuat Raisa menoleh dan Fadil pun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Suami dia meninggal! "
"Oh, " ucap Raisa, Fadil dan juga Algi.
Diam-diam Algi juga menguping pembicaraan mereka.
"Janda? Dia terlihat sangat muda denagn anaknya yang sudah sebesar itu, apa dia menikah muda? " gumam Algi lalu meneguk kembali teh manis dinginnya itu.
"Teman mu perempuan apa laki-laki? " tanya Raisa.
"Namanya Helen dia sangat cantik dan kami sudah seperti saudara! " sahut Roni dan kembali Raisa tertawa.
"Nanti ajak bunda dan temannya itu ke rumah nenek ya? "
"Sayang! " sahut Fadil memberi kode kalau dirinya tidak setuju.
"Biarkan saja aku penasaran seperti apa wanita yang di sebut bunda sama Roni, sedangakan sama Melinda dia tidak terlalu menyukainya! " ucapan sang istri pun tidak bisa dia tolak, akhirnya dia menyetujui juga.
"Maaf Mah tidak bisa, dia tidak akan mau jika kerumah kita! " ucap Algi tiba-tiba menghampiri mereka.
"Kenapa? Kamu sudah melihatnya? " tanya Raisa membuat Algi mengangguk.
"Baiklah semuanya aku telah membawa makanan kesukaan kalian semua, jadi mari kita makan! " Raisa menggendong Roni menuju ruang makan dan di susul Fadil di belakangnya.
Sedangakan di rumah tempat tinggal Aldara tepatnya di ruang tv, Aldara dan Helen yang tengah memakan cemilan di pangkuannya masing-masing tapi matanya saling menyorot tajam membuat Rumi menghembuskan nafas panjang.
"Mau sampai kapan kalian ngangurin tv? " tanya Rumi tapi tidak ada sahutan dari keduanya, membuat Rumi menggbrak meja dan hal itu sukses membuat Aldara serta Helen terperanjat kaget.
"Bibi apa yang kamu lakukan, bagaiaman kalau meja ini potong lihatalah tuh sudah retak! " ucap Aldara dan menunjuk meja kaca itu.
"Aku tidak suka di anggurin! " sahut Rumi.
"Nenek kesepian sini Helen peluk, Helen akan selalu ada buat nenek tapi nek bisakah menyatukan bunda dengan dadynya Roni! " bisik Helen tapi masih bisa terdengar oleh Aldara.
"Yak apa yang kau katakan. Jangan membuat bunda mencubitmu atau bunda tidak akan membelikanmu pensil dan cat warna lagi! " timpal Aldara membuat Helen mengerucutkan bibirnya.
"Bunda apa yang kurang dari Dady nya Roni, dia itu tampan, banyak duitnya lagi! " sahut Helen membuat Rumi cekikikan mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu itu ya! Tampan dari mana dia pasti hanya turunan bule saja, buat apa kaya kalau kau hanya di jadikan budaknya! " teriak Aldara, membuat dia mengingat kejadian masa kelam itu.
"Bunda," rengek Helen sedangkan Aldara pergi menuju kamarnya.
"Nenek kenapa Bunda? " tanya Helen.
"Hei kamu tau persis jawabannya, "
"Tapi kenapa Bunda tidak suka sama Dadynya Roni? " tanya Helen mengerucutkan bibir munyilnya.
"Rasa suka tidak bisa di paksakan sayang! " Rumi mengusap pincak kepala Helen.
"Kata buku yang aku baca katanya rasa suka akan tumbuh kalau sering bertemu, benarkah? " tanya Helen membuat Rumi membelalakan kedua matanya.
"Kamu baca buku apa dan punya siapa? " tanya Rumi menyelidik.
"Buku yang ada di toko Nenek," jawab Helen dan kini membuat Rumi bertambah terkejut.
"Apa yang kau baca sampai mana? " tanya Rumi mengotangakan pelan bahu Helen.
"Sampai halaman dua belas, " sahut Helen dan kini Rumi pun merasa lega. Ternyata yang di baca Helen adalah novel milik Rumi yang berrate duapuluh satu plus. Tapi untungnya Helen tidak sampai membaca adegan yang tidak semestinya dia baca itu.
"Lain kali kalau mau baca buku bilang dulu oke!" ucap Rumi tersenyum kikuk.
"Kenapa?" tanya Helen.
"Ada beberapa buku yang tidak baik untuk di baca anak seusiamu! "
"Ohhhhh begitu, " Helen mengangguk membuatnya bertambah lucu dan menggemaskan.
"Memang di dalam nya ada apa saja Nek?"tanya Helen penasaran, sedangkan Rumi hanya tersenyum dipaksakan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung dengan apa yang akan dia jawab.
"Hm, Helen di dalam itu ada sesuatu yang bisa membuatmu merasa jijik dan menakutkan, jadi jangan sekali-kali baca buku sembarangan oke! " Rumi pun berangsur meninggalakan Helen.
"Nek dilihat dari sampulnya, rasanya itu tidak terlalu menakutkan. Buku itu warna ping dan banyak tanda love nya. "
"Dengar ! Apa yang kita lihat belum tentu dengan kenyataan! " Rumi segera melenggang pergi, takut Helen akan bertanya lagi.
__ADS_1
"Ish nenek nih kenapa marah-marah!"