
Cup
Algi mencium bibir Aldara sekilas, membuat Aldara sendiri terdiam lalu mengigit bibirnya sendiri rasa yang tidak pernah dirasakan itu membuat hatinya berdesir, itu adalah ciuman pertama Aldara.
"Respon yang sangat menggelikan, seperti yang pertama kali saja! " ucap Algi membuat mata Aldara memicing, menampakan kilatan amarah.
"Kau mau mencekikku lagi? " tanya Algi, entah kenapa Algi sangat senang menggoda Aldara, setelah mengetahui kalau wanita yang ada di hadapannya ini selain mempunyai paras yang cantik, dia juga terlihat kuat.
Tiba-tiba Aldara menarik tengkuk Algi dengan kasar lalu menyesap kuat bibir Algi, hingga Algi yang merasa perih pun berusaha untuk melepaskan pangutan bibir itu, tapi Aldara malah mengigit bibir bawahnya sampai berdarah dan akhirnya Algi memegang pinggang Aldara kuat.
"Algi! " Suara lengkingan Melinda, sukses membuat Aldara melepaskan bibirnya dari bibir Algi.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Melinda, dan akan menampar Aldara. Aldara dengan sigap memegang tangan Melinda dan melilitkan dipunggungnya, sehingga Melinda merasa kesakitan dan tidak bisa bergerak.
"Lelaskan! Dasar wanita penggoda! " teriak Melinda, sedangkan Algi sibuk mengelap darah dari bibirnya yang bengkak ulah Aldara tadi.
"Pak Algi yang menciumku duluan tanpa izin pula, makanya aku membalasnya biar impas. Aku tidak menggodanya hanya saja dia yang selalu menggodaku! Kalau kau pacarnya, coba beri dia perhatian lebih agar tidak berpaling pada wanita lain!" Nada manja dari mulut Aldara terdengar jelas ditelinga Melinda, yang membuat Melinda bergidik.
"Mana mungkin! " teriak Melinda, Aldara pun melepaskan Melinda hingga dia tersungkur di lantai.
"Baiklah saya akan kembali bekerja permisi! " Aldara melangkahkan kakinya.
"Aldara! " teriak Algi, sontak membuat Aldara menoleh sambil tersenyum.
"Iya Pak ada yang bisa saya bantu? Atau anda mau mengatakan kalau ciumanku sangat enak dibanding dengan ciuman pacar Anda ini, kalau begitu terima kasih sudah memujiku! " Setelah berucap Aldara segera keluar dari ruangan Algi yang menurutnya sangat panas itu.
Melinda mengepalkan kedua tangannya manatap bibir Algi yang menjadi merah dan agak bengkak, apa lagi mengingat kalau dirinya saja tidak pernah melakukan hal itu bersama Algi, walau bertaun-taun mereka bersama, dan yang lebih menyakitkan adalah Algi selama ini tidak pernah membalas perasaannya.
"Algi apa kau menyukainya? " tanya Melinda tegas.
"Kau itu mulai ya Melin, cemburu mu itu tidak ada artinya bukankah aku selalu bilang kalau kita hanya saudara. Perihal aku suka siapa itu bukan urusanmu! " jelas Algi, membuat Melinda sakit tak berdarah.
Mencintai dalam diam memang lebih baik di banding mencintai seseorang yang terus menolaknya. Mungkin?
"Al kau tau aku mencintaimu sedari dulu, usahaku untuk mendapatkanmu tidak pernah pudar sampai sekarang, tidakah sedikit hati mu tersentuh untukku? Baiklah kalau aku harus mundur tapi ingat dengan bukti itu, senantiasa aku akan menghancurkannya! " teriak Aldara di akhir kalimat membuat Algi geram.
"Kau berani mengancamku?" Mata tajam itu sukses menembus pandangan Melinda, Melinda pun dibuat takut dan sedikit mundur dari pandangan Algi.
"Aku hanya ingin bersamamu, bukanakah kau menyadari itu!" sahut Melinda dengan mulut bergetar.
__ADS_1
"Benarkah kau menyukaiku sedari dulu, dan sabar menungguku? Apa kau menjamin kalau aku mengajakmu tidur akulah yang pertama menidurimu?" pertanyaan itu menohok bagi Melinda, dia pun membulatkan kedua matanya.
"Seorang duda sosoan ingin perawan!" gumam Melinda, sedangkan Algi hanya tersenyum meremehkan.
"Tentu saja lah! Atau lebih baik janda, ketimbang perawan rasa janda yang ada malah rugi! " ujar Algi lalu duduk dikursinya dengan senyumnya, karena baru kali ini dia membuat kesal Melinda.
"A aku bisa menjamin itu! Aku sangat mencintaimu Algi! " sahut Melinda.
Aldara yang sedang berbenah barang di meja barunya, kedatangan seseorang dia pun menghentikan aktifitasnya.
"Algi ada? " tanya Jefri.
"Ada perlu apa biar saya sampaikan! " sahut Aldara, dia berbicara seperti itu karena masih ada Melinda di dalam.
"Ada hal penting! " Jefri melirik Aldara.
"Sepertinya Pak Algi lagi sibuk! " Aldar mencoba menutupi privasi Algi, bagaimana pun dia sekarang berperan menjadi sekertaris CEO.
"Sampai kapan dia sibuk?" tanya Jefri, lalu terdengar suara pintu terbuka dari ruang Algi dan menampakan sosok Melinda, yang terlihat sedih.
"Oh my darling! " ucap Jefri memeluk Melinda.
"Mas Algi jahat! " adu Melinda, sedangkan Aldara kembali menatap barangnya mengacuhkan Jefri dan Melinda.
"Tapi dia-" ucapan Melinda menggantung, karena dia sadar kalau ada Aldara di sana.
"Kau ngapain disana! " teriak Melinda pada Aldara.
"Anda berbicara denganku?" Aldara menyahuti.
"Menyingkir dari sana! Itu adalah meja sekertaris Algi kau tidak pantas di sana! " Pekikan itu tidak hanya membuat pusing bagi yang mendengar, tapi juga dibuat bingung terutama Jefri.
"Saya memang sekertaris Pak Algi, memangnya ada yang salah? " tanya Aldara dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
"Kau kenapa darling! Sekertaris itu kau bentak! Kasian kerongkonganmu jangan teriak-teriak! " ucap Jefri membuat Melinda mengerucutkan bibirnya.
"Dia menggoda Algi! " ucap manja Melinda pada Jefri, dan Aldara hanya tersenyum masam mendengar itu.
"Biarkan saja, Algi tau selera yang bagus untuknya jadi jangan khawatir! " bujuk Jefri pada Melinda.
__ADS_1
"Maaf menggangu, untuk urusan pribadi kalian bisa diselesaikan dilain tempat," Aldara sudah sangat jijik melihat drama di hadapanya.
"Kau berani mengusir kami! " sentak Melinda.
"Tidak, hanya saja saya kasih saran! Kalian berbicara tepat didepan pintu, dan hal itu tidak baik! " jelas Aldara.
"Darling nanti kita bicara lagi, sekarang aku ada hal penting yang harus dibicarakan pada Algi! "
"Iya! " Melinda pun berjalan menjauh dari ruang kantor Alga.
"Kau sejak kapan menjadi sekertaris Algi? " tanya Jfri pada Aldara.
"Hari ini! " jawab singkat Aldara.
"Yang kau bilang Algi sibuk, ternyata ada Melinda? " tanya Jefri menatap Aldara.
"Sudah selayaknya saya yang menjadi sekertaris Pak Algi, melakukan hal itu! " jawab Aldara dan Jefri tersenyum menaggapi.
Tringgggg
Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Jefri sesaat dia pun melihat isi pesan itu, lalu dia pun terkejut sambil menatap Aldara.
"Kau! " Jefri menujuk Aldara, sedangkan Aldara sendiri hanya mengerutkan dahinya bingung.
"Keponakan pemilik toko sayur itu? " tanya Jefri meyakinkan.
"Bi Rumi? " Aldara meyakinkan.
"Ya, kau keponakannya Rumi yang memiliki toko sayuran itu! " Antusias Jefri.
"Mohon maaf Pak, tidak baik menyelidiki seseorang tanpa sepengetahun orangnya. Apa lagi ada niatan buruk didalamnya! " ucap Aldara.
"Tidak! Hanya saja saya ada utang, ya kemarin dia hanya mengambil uang dua ratus ribu sedangkan total belanjaan saja dua ratus lima puluh ribu! " jelas Jefri.
"Tidak perlu menyelidikinya Pak, Anda perlu kembali ke toko dan membenarkan masalah nya! " Aldara merasa ada yang aneh pada Jefri.
"Boleh saya tau, Anda saudara Pak Algi? " penasaran Aldara.
"Saya Om nya! " sahut Jefri.
__ADS_1
"Ada apa ini! " Algi keluar dari ruangannya.
🔊🔊🔊 JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE 🔊🔊🔊