
Aldara terlihat tengah duduk disofa matanya melihat sekeliling hingga pandangannya menemukan foto Algi dan keluarganya. Aldara berdiri dan perlahan mulai mendekati pigura itu.
Tangannya terulur menyentuh foto Roni dan Algi yang tengah tersenyum, pikirannya teringat akan perbincangan Rumi dan Jefri tadi pagi tentang sobekan foto itu.
"Pasti ada dikamarnya! " gumam Aldara seraya menatap pintu yang tertutup itu, karena kebanyakan orang biasanya menyimpan hal penting dikamar, dan tentunya didalam ada Algi yang entah sedang apa.
Aldara berjalan menghampiri pintu kamar itu, dan mulai mengetuknya dia berharap hari ini adalah hari keberuntungan untuknya.
"Pak sedang apa, cepatlah! " teriak Aldara tapi tidak ada sahutan, dia memutar knop pintu dan tentu saja tidak dikunci hingga dia kini membuka pintu itu.
"Pak Algi! " kembali Aldara memanggil Algi tapi tetap tidak ada jawaban, kepalanya menyambul dan melihat kalau di sana tidak ada siapa pun.
Aldara memasuki kamar itu lebih dalam dan mendengar gemercik air dari balik pintu yang ada dikamar itu, "Dia lagi mandi, ini kesempatanku tapi dari mana dulu? "
Aldara bergegas menghampiri lemari pakaian dia mulai membuka dan mencari potongan foto itu, sesekali kepalanya menoleh ke arah pintu kamar mandi itu. Dia membuaka setiap tumpukan baju itu, yang terlipat rapih sampai dia menemukan laci didalam lemari itu yang terkunci.
"Pasti disini! " Aldara mulai berfikir untuk membuka laci itu. Dia menoleh ke seluruh penjuru kamar itu.
"Laci nakas! " Aldara berlari menghampiri nakas dan mulai membuka satu persatu laci nakas itu.
"Tentu saja ini hari keberuntunganku! " Aldara menemukan satu kunci dengan gantungan menyerupai buku.
Bergegas Aldara pun membuka laci lemari itu, dan pandangannya sesekali mengarah pada kamar mandi.
"Di mana, dimana, dimana, cepatlah!" tangannya dengan cepat mengacak-ngacak isi laci itu hingga akhirnya dia menemukan kertas memanjang yang percis seperti yang dia punya.
"Bingo! " Aldara kegirangan.
"Ngapain kamu disana? " suara Algi terdengar, hatinya berdegup dia ketahuan! Segera Aldara menutup laci dan menyembunyikan potongan foto itu di tangannya lalu segera menoleh dan menelan ludahnya susah.
"Itu aku, hm! " Aldara kebingungan hingga otaknya yang cerdas menemukan alasan yang pas untuk diutarakan.
"Aku ingin memilihkan baju untukmu! " Aldara tersenyum di paksakan, lalu menutup lemari itu dan membuka lemari pinggirnya, lalu mulai mencari baju dengan asal Aldara menarik kaos polos berwarna biru tua.
"Aku ingin kau memakai ini, sepertinya kau akan lebih tampan!" ucap Aldara menyodorkan kaos itu, tapi sebelum menoleh dia sempat menyembunyikan sobekan foto itu dibajunya.
Algi kini berdiri dengan balutan handuk yang hanya melilit bagian pinggang sampai lutut, serta rambut yang basah membuat Aldara melongo kagum atas pahatan tuhan yang amat sempurna itu.
__ADS_1
Algi terlihat menaikan alisnya sebelah menatap Aldara selidik, dan mulai menghampiri Aldara.
"Apakah dia tau? Sedari kapan dia berada di sana, sebelumnya dia belum keluar dan sekarang dia sudah ada disana saja! " gumam Aldara dalam hati dan mulai mengerjap serta dia yang masih memperlihatkan deretan giginya pada Algi mulai merasa pegal dibagian rahang karena terpaksa dia harus melakukan senyuman itu.
"Kau! " Algi manap lekat Aldara, dan menghimpitnya. Aldara tidak bisa bergerak karena kedua tangan Algi yang menghalangi tubuhnya, serta dia tidak bisa mundur karena lemari itu.
Aroma harum dan segar dari tubuh Algi tercium oleh Aldara, membuat Aldara mengejapkan matanya dengan capat agar dia tidak terpana dengan orang di depannya yang akan membuatnya candu.
"B be beneran deh, a a aku cuman ingin menyiapkan baju untukmu bukan kah aku kekasihmu jadi wajarkan mempunyai keinginan seperti ini! " ucapan dari mulut Aldara membuat dia sendiri membulatkan matanya dan spontan menutup mulutnya.
Algi mengambil baju itu dari tangan Aldara dan pandangannya tidak lepas dari matanya. Senyum menyeringai terukir indah di bibir Algi.
"Hanya baju yang kau siapkan untuku, kau berani menerobos masuk kamarku?"
Tidak ada sahutan dari Aldara, karena dia hanya mengangguk dan menunduk karena Algi yang mendekatkan wajahnya.
"Sejak kapan kau mulai menjadi kekasihmu hm! " Algi meraih dagu Aldara agar dia bisa menatap wajahnya.
"Hm, itu! Waktu dimobil bu bukankah k kkau bilang aku kekasihmu! " Aldara mengerutkan dahinya dan kembali tersenyum dipaksakan dia merasa waspada karena hatinya kali ini tidak bisa diajak kompromi.
"Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai kekasihku sekarang! " ucap Algi semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, Aldara tanpa sengaja memegang pinggang Algi aroama dingin dan menyegarkan dia rasakan mengingat Algi belum mengenakan bajunya.
Algi menarik pinggang Aldara dan melangkah mundur, hati mereka saling bergetar memancarakan rasa cinta yang menyeruak dalam diri mereka.
"Kenapa hanya bajunya saja yang kau ambil, apa aku tidak akan memakai celana? " Tanya Algi dengan suara yang seeksotis itu, tepat didepan telinga Aldara yang kini merasa geli dan mulai merapatkan lehernya.
"Aku baru saja akan mencari itu! " Aldara melepaskan tangan Algi yang berada dipinggangnya dan segera menghampiri lemari itu lagi.
"Celana ku bukan dilemari yang itu sayang!" Algi memeluk Aldara dari belakang dan menyimpan dagunya dipundak Aldara. Seketika Aldara merasakan getaran itu bukan hanya di dalam dirinya, tapi tangannya pun mulai bergetar dan mengeluarkan keringat.
"Begitu kah! " Aldara berbalik dan terkejut bibirnya berada di bibir Algi.
"Itu anak-anak akan lama menunggu kita, kalau begitu aku kembali duduk saja." Aldara memalingkan wajahnya dan hendak pergi.
"Jangan! Kembali kau harus memilihkan celana untukku!" sergah Algi menarik pergelangan tangan Aldara.
"Resikonya besar juga! " ucap Aldara dalam hati, lalu menghembuskan nafas panjangnya.
__ADS_1
"Kalau bukan karena foto ini aku ogah berdekatan dengannya! " kembali suara hati Aldara, seraya tersenyum manis pada Algi.
"Baiklah, dimana lemari kau menyimpan celana itu? " tanya Aldara.
"Disini! " Algi menarik dan kembali memeluk Aldara dari belakang.
"Oh tapi bisakah kau tidak selalu memelukku, apa kau tidak merasa bau aku belum mandi lho! " ucap Aldara agar Algi melepaskan pelukannya yang dirasa risi baginya itu.
"Aku menyukai aroma mu! Cepat lakukan! " titah Algi dan Aldara mulai memilih celana tanpa lepas dari pelukannya.
"Kau pakai jeans ini, keliatannya cocok dengan baju itu! " ujar Aldara membalikan tubuhnya menghadap Algi dan menyodorkan celana itu.
"Pilihamu bagus juga! Bagaimana dengan ********** apa kau juga yang akan memilihkannya!" goda Algi.
"Helen saja memilih ********** sendiri masa kamu sudah segede ini dalaman nya harus aku yang pilihkan! "Aldara mendorong kedua bahu Algi, tapi Algi kembali merapatkan tubuhnya lagi.
Cup, dahi
Cup cup, kedua mata
Cup, hidung
Cup cup, kedua pipi
Cup, dagu
"Aku ingin menyesap ini! " ucap Algi menyentuh permukaaan bibir Aldara dengan ibu jarinya. Mendengar hal itu, Aldara segera mengerjap dia tadi terkejut dan tidak bergeming saat Algi mencium seluruh bagian wajahnya.
"Tidak boleh! " Aldara mendorong tubuh Algi dan bergegas pergi, tapi bukan Algi namanya kalau keinginannya tidak terpenuhi.
Algi melangkah menyusul Aldara, dan menariknya lalu segera meraih tengkuk Aldara.
"Ini favorit ku! " ucap Algi disela ciuman itu. Sebelumnya Algi mengecup bibir Aldara beberapa kali sebelum ciuman itu semakin mamanas.
Tanpa Aldara pungkiri, dia malah mengalungkan kedua tangannya pada leher Algi dan merasakan bagaimana rasa yang menyatu itu membuat hati mereka bersemi dengan indah.
Tadinya kepikiran adegan terlepas handuk lagi, tapi autor malah ngakak sendiri bayanginnya jadi gak jadi..
__ADS_1
Seperti biasa jangan lupa like, komen dan vote........