
Malam hari yang semakin dingin dan gelap dirumah yang sepi hanya ada Helen seorang yang sedang menonton televisi laga. Jam malam yang selalu menghadirkan film action kesukaan Helen itu sedang berlangsung. Helen terlihat antusias karena kalau sang Bunda datang dia pasti akan dimarahi.
Setoples kripik pisang menemani Helen menonton dan dia pun sengaja mematikan lampu, biar berkesan menurutnya. Hingga suara seseorang memutar kunci terdengar, Helen segera mematikan televisinya lalu menaruh toples itu di meja dengan keadaan terbuka.
"Bunda datang! " guman Helen lalu dia segera berlari menuju kamarnya.
Dugaan Helen benar setelah pintu itu terbuka, Aldara dan Rumi pun masuk kerumah dengan beberapa bungkus cilor ditangan Aldara.
"Rumi segera menghampiri sofa lalu duduk disana, sedangkan Aldara menekan stopkontak lalu ruangan itu menjadi terang.
"Helen udah tidur? " tanya Rumi sambil memijat pelipisnya meredakan rasa pening yang sekarang dirasakannya.
"Tadi waktu aku tinggalakan dia lagi belajar dikamarnya, biar aku lihat! " Aldara segera beranjak ke kamar Helen tapi sebelum itu dia menaruh cilor itu di meja.
"Dia pasti sudah tidur, katanya ada yang perlu kamu bicarakan! " ucap Rumi menghentikan langkah Aldara.
"Ia, setelah kejadian tadi membuat ku lebih banyak ingin bertanya kepadamu! " Aldara menghampiri Rumi lalu duduk disampingnya.
"Sejak kapan Bibi kenal dengan Jefri? Apa hubungan kalian? Apa Bibi tau dia itu termasuk dalam target kita? Kenapa Bibi terlihat dekat dengannya? Tadi juga dia berniat menikah denganmu, asal Bibi tau aku tidak akan merestui kalian! " pertanyaan Aldara bertubi dan dia sedikit keras mengucapkan kalimat dibagian akhir. Hal itu membuat Rumi tersenyum menanggapi keponakannya yang tengah salah paham terhadapnya.
"Aku baru mengenal dia kemarin, mungkin karena Bibi cantik dia jadi terkesima dan jatuh cinta sama Bibimu ini. Tenang saja Bibi juga masih waras kok, asal kamu tau sebenarnya dia bisa di ajak kerja sama kalau kau mau! Dia seperti anak yang terbuang. Dan ada sesuatu yang perlu aku ketahui dari mu? " jelas Rumi dan Aldara hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Apa? " tanya Aldara menoleh pada Rumi.
"Apa kau mempunyai foto yang tersobek? " tanya Rumi dan Aldara menjadi ingat akan sesuatu.
"Aku pernah menemukan foto tersobek memanjang didalam saku celana Helen waktu masih bayi dulu, kenapa? " Aldara menatap tajam Rumi.
"Gak sopan tatapan itu! Aku ini lebih tua darimu! Bisa aku lihat foto itu? " Rumi menyodorkan tangannya.
"Aku kesal karena Bibi dekat dengan keluarga itu! "hardik Aldara dan beranjak dari duduknya.
"Hah Ald apa kau lupa, kau pernah tidur dirumah Algi, juga kau pernah muacah muacah sama dia. Lehermu pernah memerah karena dia kan! " Rumi terkekeh sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa muach muach! Walau kami satu atap tidak sampai seranjang kali! " sahut Aldara.
__ADS_1
"Bohong! Helen ngadu padaku! Awas nanti malah kau yang cinta sama musuhmu sendiri!" Rumi merogoh toples yang berisi kripik pisang itu dari meja.
"Tidak akan, dan tidak akan pernah terjadi karena itu hal yang mustahil! " tatapan seperti elang yang mengkilap bagai ujung pisau yang runcing, terpancar dari mata Aldara sedangkan Rumi hanya bergidik ngeri melihatnya.
"Awas lho ucapan mu itu!" ujar Rumi, lalu Aldara pun menghilang dibalik pintu kamarnya, lalu kembali dengan sobekan foto itu.
"Ini! " Aldara menyodorkan foto itu.
"Benar juga ucapan Jefri! " gumam Rumi dalam hati.
"Ternyata cuma foto kepala Dinar sama pemandangan! " Rumi terkejut, dan dia harus menjaganya. Apa Jefri tidak gila? Itu bisa di sebut bukti? Bukti apanya hanya foto Dinar tengah tersenyum.
"Kenapa? Apa Bibi terkesima? " goda Aldara.
"Asshhhh, kau ini mana mungkin! " teriak Rumi membuat Aldara tertawa.
Lain disebuah hotel bintang lima tentunya, Jefri menelepon Algi yang sudah puluhan kali tidak kunjung diangkat juga, tapi hal itu tidak menyulutkan semangatnya untuk tetap menelepon Algi.
"Algi angkat! " teriak Jefri dan akhirnya di panggilan ke tujuh puluh delapan Algi menjawabnya.
"Apa? " teriak Algi disebrang sana.
"Kalau tidak ada hal penting aku tutup teleponnya! "
"JANGAN! " lengkingan suara Jefri membuat Algi menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Apa? " Algi dengan malas menanggapi Jefri.
"Apa kau masih menyimpan sobekan foto itu? " tanya Jefri dan terdengar kekehan dari Algi.
"Cuma foto tubuh dan pemandangan yang cerah, apa yang membuatmu terobsesi sehingga aku harus menyimpannya! "
"Berikan padaku! " ucap tegas Jefri dan sukses membuat kesadaran Algi seratus persen dari rasa kantuknya.
"Apa kau bercanda? Ya sudah ambilah untukmu! " sahut Algi lalu mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu Jefri segera keluar dari kamar hotel, dan berlari ke lift dia berniat menemui Algi diapartemennya.
Algi yang kini terdiam sambil duduk dikasurnya, mendadak cengo dengan tatapan jauh kedepan. Dia pun segera turun dari ranjang lalu membuka laci dilemarinya, foto memanjang yang tersobek itu dia menemukannya didalam saku celana Roni dulunya.
"Kayanya ada yang di sembunyikan dibalik foto ini! " gumam Algi lalu mengambil foto itu lalu membaliknya.
"Huruf Y? Apa maksudnya? Aku baru melihat bagian belakangnya, Jefri sepertinya tau tentang ini. Apa aku perlu menyelidikinya?"Algi terlihat bingung, hingga pandangannya tertuju pada bingkai foto yang memamerkan foto dirinya dan sang kakak di atas nakas.
Algi mensejajarkan foto itu dengan foto yang ada dipigura kecil itu.
"Bajunya percis seperti punya kak Dinar! " terkejut Algi.
"Kenapa aku tidak peka! " Algi menyesal. Kini saatnya dia memikirkan untuk mengungkapkan yang sebenarnya.
Suara bel berbunyi, Algi pun menghampiri pintu itu lalu membukanya dan terkejut melihat Jefri yang datang.
"Ngapain malam-malam ke apartemen ku?" tanya Algi.
"Berikan foto itu, kau sudah mengiyakan kalau itu menjadi miliku sekarang! " Jefri menyodorkan tangannya pada Algi, dan Algi pun menyembunyikan foto itu dibelakangnya.
"Aku tidak bicara foto itu menjadi milik mu, aku hanya bilang ambil dan aku menjadi berubah pikiran untuk tetap memiliki foto ini! " sahut Algi. Kini senyum menyeringai pun terlihat jelas dimuka Jefri.
"Kenapa? Kau mulai mempercayaiku? Sebenarnya aku juga tidak terlalu menginginkan foto itu. Hanya saja kalau kau mau, kau perlu menyimpannya dan jangan sampai sipapun melihatnya!" Jefri melangkahkan kakinya lalu duduk di sofa.
"Kenapa kau selalu meyakinkanku dan selalu menemuiku. Apa karena kau tidak ingin disalahkan padahal semua kejadian itu kau dalangnya! " Algi menatap tajam pada Jefri.
"Dulu kau sangat dekat denganku, apa pikiranmu jika aku melakukan hal itu dan apa untungnya bagiku!" Jefri mengeluarkan sebatang rokok.
"Bisa saja kau menginginkan perusahaan itu, bukannya bakal sangat menguntungkan bagi mu! " sahut Algi lalu menyeringai dan membuang muka.
"Kau itu bodoh, apa kau tak sadar sekarang yang mendekati mu siapa, dan mencoba menghasut orang-orang kepercayaanmu untuk mencoba melenyapkanmu! Orang yang dulunya hanya bersembunyi dan tanpa di kenal sekarang dia seperti penguasa berkat menikah dengan mamahmu, lalu menjadi pemilik saham tertinggi diperusahaan Hong. Apa kau tidak mempertanyakan hal itu? " kembali Jefri berbicara hal yang sama pada Algi yang membuatnya bosan.
"Orang biasa mana mungkin bisa menguasai karena dia belum berpengalaman, sedangkan kau sangat ahli dalam bidang ini! " ucap Algi dan hal itu membuat Jefri tertawa sumbang.
"Aku ke sini mau mengambil foto itu darimu, bukan ingin berdebat. Sekarang berikan foto itu! " teriak Jefri.
__ADS_1
"Tidak akan!" sahut Algi tidak kalah berteriak. Jefri berdiri lalu mendekati Algi.
"Baiklah, Ingat kata-kataku dan jangan dianggap remeh. Jangan sampai foto itu ada yang tau! " ucap Jefri tepat didepan muka Algi. Lalu Jefri pun keluar dari apartemen Algi dengan tangan kosong.