
πMohon untuk bijak dalam membaca bab ini ya..π
Happy Reading....
"Lepaskan aku, lepaskan! Kau itu kenapa! " teriak Aldara dan tidak henti menendang perut Algi, sedangkan Algi sendiri membanting tubuh Aldara kasar diatas kasur. Algi membawa Aldara ke apartemennya.
"Kau! Apa yang akan kau lakukan! " teriak Aldara sedangkan Algi menghampiri lemari dan membukanya. Aldara yang mengetahui kalau dia dalam bahaya segera berlari ke arah pintu yang terkunci rapat itu.
Terlihat Algi menyeringai melihat kalau dugaannya benar, potongan foto itu hilang lalu dia menatap Aldara yang tengah kalang kabut mencoba untuk membuka pintu itu, dan perlahan menghampirinya.
"Sayang pintu itu tidak akan bisa terbuka, aku menguncinya sangat rapat dan ini kuncinya ada di tanganku! " Algi dengan suara yang dibuat seeksotis mungkin, membuat Aldara menelan ludahnya sendiri sambil menatap Algi tajam.
"Ada apa dengan mu, kau baik-baik saja tadi! Dan sekarang lepaskan aku! " Teriak Aldara mencoba menarik knop pintu itu, dan sekuat tenaga dia mencoba mendobraknya tapi nihil pintu itu terlalu kokoh.
"Sini ambil kuncinya sayang, kau ingin keluar dari kamar kita hm! " Algi semakin menghampiri Aldara, sedangkan Aldara menatap ragu pada sosok atasannya itu.
"Kenapa? Apa kau betah di kamarku, ini ambilah! " Algi menyodorkan kuncinya.
"Kau memcoba untuk menakutiku atau bahkan menggoda ku apa maumu! " sentak Aldara seraya mengambil kunci itu dari tangan Algi. Tapi dengan segera Algi menarik tangan Aldara lalu menggendongnya dan melemparkannya kembali keatas kasur, serta mengukungnya.
"Sayang kau hanya perlu jujur padaku, apakah Helen benar-benar anak kandungmu? " Tanya Algi dan menyatukan hidung serta kening mereka.
"Di dia be benar anaku, kenapa? " sahut Aldara dan mulai gugup karena tidak ada jarak di antara mereka sekarang.
"Kenapa kau gugup, bukannya kau wanita tangguh? Aku tidak percaya dengan omongan yang terucap dari mulut ini!" Algi mengusap pelan permukaan bibir Aldara lembut.
"Emang apa masalah mu kalau Helen anakku! " Aldara mendorong dada Algi tapi tidak bisa, serta kakinya pun kini tidak bisa digerakan karena terhimpit oleh kaki Algi.
"Kau akan tetap mengatakan kalau Helen adalah anakmu! Kau juga mengambil potongan foto itu, apa yang tengah kau rencanakan! " Sentak Algi menatap tajam Aldara penuh amarah.
"Lepaslan aku!" Aldara memberontak dia mencoba mencekik leher Algi, Algi yang menyadarinya langsung menarik kedua tangan Aldara keatas kepalanya, membuat kedua gundukan itu menyambul akibat Algi menekannya dan membuat Aldara susah bernafas.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku membuktikan kalau kau seorang janda sungguhan!" Algi segera meraup bibir Aldara kasar, kini Algi diselimuti rasa amarah yang memuncak persetan dengan apa yang kini dia lakukan terhadap Aldara, dia dikhianati oleh pujaan hatinya sendiri, mengingat hal itu membuat Algi semakin garang menyentuh tubuh Aldara.
Aldara tidak bisa hanya menggerakan salah satu badannya, kali ini Algi begitu kuat. Bagaimana pun tidak ada yang bisa menandingi tenaga laki-laki yang sedang marah, apa lagi Algi yang mempunyai badan tegap.
"Hmmmmmm! " Aldara menggerakan kepalanya dan Algi langsung menyatukan tangan Aldara dan memegangnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainya mulai merobek baju Aldara.
Tapi sebelum itu Algi meminum segelas air yang sudah dia sendiri campurkan dengan obat perangsang, dia sengaja menyuruh seseorang untuk melakukan itu sebelum mereka tiba diapartemen, dia terlalu kecewa dengan Aldara yang terus berbohong padanya dan sisanya dia kasih pada Aldara dengan cara memberikan air itu dari mulutnya kemulut Aldara, tentu saja Aldara sepontan menelannya.
"Lepaskan aku! Kau gila! " Aldara terus memaki tanpa lelah dia menggerakan seluruh tubuhnya agar terlepas dari kungkungan Algi, tapi hal itu membuat Algi menelan ludahnya menatap indah tubuh Aldara tanpa busana yang seperti tengah menggeliat dibawahnya.
"Aku membencimu! Lepaskan Aku!" Aldara hendak mengangkat kepalanya untuk dia benturkan pada kepala Algi tapi baru dia akan melakukannya, Algi yang kini meremas kedua gundukan miliknya membuatnya tidak berdaya.
"Tidak akan pernah aku lepaskan, kedua benda kenyal ini masih tersasa padat dan berisi apa kau masih mau mengelaknya? " teriak Algi tepat didepan wajah Aldara, sedangkan Aldara yang kini tubuhnya kepanasan hanya terdiam sambil memejamkan matanya, menikamati sentuhan tangan Algi itu.
"Algi pun yang merasa demikian segera menggigit dan menyesap leher jenjang putih milik Aldara, hatinya bergemuruh desiran itu menjalar disetiap tubuh mereka.
"Ku mohon lepaskan aku! " Suara pelan Aldara terdengar menggoda ditelinga Algi.
Masih dengan sedikit kesadaran, Aldara benar-benar ingin terlepas walau tubuhnya menolak, mulutnya meraih kepala Algi dan mulai mengigit sekuat tenaga.
Algi yang merasa sakit di puncak kepalanya, segera menoleh pada Aldara dan digigitnya mulut Aldara.
Aldara mulai menitikan air matanya, rasa benci yang teramat pada sosok Algi memenuhi pikirannya. Begitu juga Algi dia benci penghianatan dan tentu saja dia melakukan hal itu untuk membalas rasa sakit yang dia rasakan.
Algi melepas semua pakaiaannya di rasa kalau Aldara semakin menggeliat menahan rasa di dalam tubuhnnya, dan tentu saja semakin Algi minat dengan pemandangan indah dibawahnya.
Algi menggerakan lidahnya dan menekannya pada bagian inti tubuh Aldara, dia mencoba untuk menghalau cairan didalamnya agar keluar dan membuat diri Aldara merasakan kenikmatan tiada tara.
Algi melihat kalau kini Aldara menggigit bibir bawahnya, menambah hasratnya. Algi segera meremas kedua benda kenyal itu membuat Aldara mengerang.
"He he hentikan! "ucapan dan tingkah laku yang bertolak belakang, sedangkan Algi terus bermain di atasnya.
__ADS_1
"Kau menghianatiku, aku memberikan ketulusan cintaku dan kau melukainya ternyata kau memang berniat jahat mendekatiku!" Ucap Algi dan tentu saja Aldara malah menyeringai sambil menetes air matanya.
Algi kini mulai memasukinya, tidak dengan perlahan tapi dengan satu hentakan membuat Aldara mengerang kesakitan, sangat sakit sehingga keluarlah darah dari dalam sana.
"Sakit! Au hentikan ku mohon! " Aldara mencengkaram sprai berwarna putih itu keringat dingin membasahi seluruh tubunya, dan air matanya semakin deras membasahi permukaan pipinya, penghinaan yang di lakuakan Algi kepadanya bukan hanya raganya yang sakit tapi hatinya pun merasakan sakit yang luar biasa, dan hal itu tidak akan pernah membuat Aldara melupakannya.
"Aku sangat membenci mu bedebah! " ucap Aldara mencengkram rambut Algi kuat.
Seringai jahat dari mulut Algi terlihat menakutkan, dia melihat jelas darah itu keluar dan menyelimuti miliknya, dan tentu saja Algi semakin emosi dan amarahnya semakin memuncak.
"Apakah seorang janda memiliki darah saat dimasuki! " ledek Algi mendengus serta melanjutkan aksinya.
Aldara sudah tidak berdaya lagi, selain efek dari obat itu yang membuatnya terdiam dan merasa nikmat saat disentuh, dia pun merasakan kembali hancur hidupnya.Kali ini dia hanya bisa menangis meratapi nasibnya entah apa yang akan terjadi dimasa depan. Aldara akan tetap membenci Algi dan keluarganya!
"Kakak mu telah membuat keluargaku hancur dan berpencar hingga aku tidak punya siapa pun untuk sekedar menemaniku, dan kau telah mengahancurkan harapanku dengan meretakan rasaku padamu! " Algi membuncah mengeluarakan semua yang ada didalam tubuhnya pada diri Aldara.
"Kau yang menghancurkan keluarga ku dan hidupku! " sekuat tenaga Aldara menghardik Algi yang berada di atasnya.
Algi tidak menyahuti perkataan Aldara, dia semakin kuat untuk menghina Aldara yang kini tidak berdaya hanya sekedar untuk memukul dirinya saja, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menuntaskan hasratnya pada wanita yang sangat dicintainya sekaligus dibencinya itu.
Lain disebuah kamar yang remang, Fadil tersenyum kecut menatap jendela. "Algi, Algi, bodoh! Ha ha ha!"
Bukh bukh
"Dasar jelamaan iblis, "
bersambung.....
JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN DAN FAVORIT JYGA VOTE.
MAKASIH BANYAK KEPADA PEMBACA SETIA, YANG TELAH BERKENAN MEMBACA KARYAKU INI . SEHAT-SEHAT SELALU ππ
__ADS_1