Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Tidak sabar


__ADS_3

Terlihat semua murid kini cemberut, mengingat kemping kali ini tidak sesuai dengan hari yang ditentukan, mereka harus menyelesaiakan acara itu karena semua guru yang berada di kabupaten itu harus mengadakan rapat.


Helen menghampiri Aldara dengan menunduk, melihat hal itu Aldara sedikit sedih tentu saja hal itu membuatnya kecewa.


"Anak bunda jangan cemberut, nanti kita akan adakan kemping dihalaman rumah gimana? " bujuk Aldara seraya mengusap pipi gembul Helen.


"Gak bakalan seru Bunda! " jawab ketus Helen.


"Helen sebenarnya kita harus segera pulang, bibi akan menikah! " bisik Aldara tepat ditelinga Helen.


Helen yang mendengar neneknya akan menikah seketika membulatkan mata pada Aldara, tepatnya menatap dengan tatapan tidak percaya.


"Benarkah? Siapa orang yang mau menikah dengan nenek? " tanya Helen.


"Nanti kau akan tau, sekarang jangan pasang wajah imut ini dengan wajah masam mu tidak enak di pandang loh! " ucap Aldara mencubit gemes kedua pipi Helen.


"Sakit Bunda! " ujar Helen mengusap pipi bekas cubitan Aldara.


"Masa! Kalau ini? " Aldara menggelitiki pinggang Helen.


"Stop Bunda, geli ya! Lepaskan! Ha ha ha! " Helen kegeliaan sambil tertawa begitu juga Aldara dia ikut tertawa, sedangkan Roni hanya membelakangi Aldara dan Helen lalu berlari ketenda.


Algi yang melihat hal itu semakin membuat dirinya tersiksa, dia kebingungan harus apa? Memang pada dasarnya kalau wanita belum menikah pun dia telah memiliki rasa keibuan apa lagi kalau mereka menyayangi anak kecil. Sedikit berbeda dengan laki-laki.


"Baiklah mari kita beres kan tenda," Aldara menggendong Helen lalu menghampiri tendanya yang sudah ada Indah dan anaknya.


"Aldara bisakah aku ikut dengan mu? Aku ingin melihat pernikahan Rumi ," tanya Indah dan Aldara pun tersenyum.


"Tentu saja!" jawab Aldara.


Mereka tengah sibuk membereskan tenda dan perlengkapan mereka untuk dibawa kembali pulang. Hingga tepat jam delapan mereka baru berangkat dari tempat kemping itu.


Rumi dan Jefri terlihat kesal di rumah, dia harus menunggu Aldara pulang sedangkan mereka tidak tau kapan dia pulang. Padahal lokasinya tidak begitu jauh, tapi mereka tidak tau.


"Sayang kau juga tidak sabar ingin menikah dengan ku kan? " Jefri menyenggol bahu Rumi.


"Kau mau menikah dengan ku tidak? Kalau tidak aku akan ke toko saja!" Rumi bangkit dari duduknya.


"Heh wanita terkadang sulit untuk dimengerti! " gumam Jefri dalam hati.

__ADS_1


"Tentu saja aku ingin menikah dengan mu, tapi kau tidak terpaksa menikah denganku kan? Aku juga ingin kau sama mencintaiku!" Jefri bersandar si sofa membuat Rumi menatapnya.


"Aku tidak akan sekesal ini kalau tidak mau, " Rumi menunduk dia sedikit malu mengucapkan hal itu, walau bukan kata pengakuan tapi bermakna demikian.


"Tentu saja, tidak akan ada yang bisa menolak pesona seorang Jefri! " Jefri merangkul pinggang Rumi agar semakin menempel padanya.


"Narsis!" sahut Rumi.


Ponsel Jefri berbunyi, Jefri pun mengambil ponselnya di meja lalu menggeser tanda biru dan mulai mendekatkannya ketelinga.


"Ada apa? " ucap Jefri pada sipenelepon.


"Apa! " Jefri segera berdiri setelah mendengar kabar dari sebrang telpon sana, dan Rumi terperanjat mendengar Jefri berteriak.


"Selidiki secara detail, kenapa bisa seperti itu!" Jefri kembali menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Ada apa? " tanya Rumi menatap Jefri yang tengah memejam sambil memijit pelipisnya.


"Ini pasti ulah si Fadil!" gumam Jefri dan malah menghiraukan ucapan Rumi.


Rumi mengusap bahu Jefri, "Masalah perusahaann Hong Company? "


"Hm, aku hanya mendengar kabar di internet tadi! "


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu bukan urusanku tapi urusan mereka , mendengar hal itu membuatku sangat marah!" Jefri mengepalkan kedua tangannya.


Rumi mengecup lama pipi Jefri dan membuat Jefri merasa tenang. Baru kali ini dia merasakah hal itu dan membuat hatinya sedikit bergemuruh, dengan cepat Jefri memeluk erat Rumi.


"Jangan coba-coba menjauh dariku kau adalah miliku!" Jefri sangat erat memeluk Rumi, tanpa terlihat oleh Rumi air mata Jefri pun menetas. Dia baru merasakan lagi yang namanya kehangatan seperti keluarga, sudah lama di merindukannya. Semenjak tragedi itu Jefri semakin jauh dari keluarganya, dia merasa sendiri dikucilkan.


"Jef pengap! " Rumi menepuk punggung Jefri, tapi karena Jefri terlalu menghayati dia sampai tidak mendengar ucapan Rumi.


Rumi menghirup napas dalam-dalam, dia sudah tidak kuat lagi apalagi badan Jefri yang kekar dan berotot. Rumi pun menunduk lalu mengigit bahu Jefri.


"Aw, kau kenapa! " Jefri melepaskan pelukannya, seraya dengan cepat menghapus air mata.


"Kau bilang jangan pernah aku untuk pergi dari mu, kau malah mau membuatku pergi selama-lamanya dari dunia ini apa kau gila! " hentak Rumi, napasnya memburu seperti sudah berlari.


"Mana bisa aku gila, kalau aku gila berarti kau stres sayang! " ucap lembut Jefri lalu mencubit pipi Rumi gemes.

__ADS_1


"Kamu ngatai aku stres!" Rumi bersiap dengan tinjunya lalu Jefri pun segera memeluk Rumi dan menenggelamkan wajahnya dibahu.


"Jangan begitu sayang maafkan aku, lagian aku mana mungkin membuatmu tidak ada didunia ini! "


"Lepaskan! Pelukanmu yang membuatku akan mati! " Ucap Rumi.


"Maaf lagi sayang, karena aku benar-benar tidak ingin jauh dan kau pergi. Kalau aku punya kantong doraemon pasti kau akan aku masukan ke sana agar bisa dibawa kemana-mana, dan kau akan selalu dekat denganku dimanapun aku dan kau berada! " Jefri tersenyum hingga suara perutnya berbunyi.


"Kalau aku punya kantong doraemon aku akan mengeluarkan makanan untukmu!" Rumi beranjak kedapur dan hal itu membuat Jefri menggaruk kepalanya.


"Calon istriku perhatian sekali walau ucapannya selalu menusuk dalam hati, jadi tidak sabar bagaimana dia meracau nanti saat menikmati surgawi bumi." gumam Jefri terkekeh.


Satu jam berlalu tapi Rumi tidak kunjung keluar juga dari dapur hingga Jefri merogoh ponselnya, dia teringat kembali pada berita tadi sampai akhirnya dia menelepon sang kakak yakni ibunya Algi.


"Hai Kak apa kabar! " suara Jefri setelah telpon itu tersambung.


"Kenapa kau meneleponku! " ucap Raisa.


"Apa aku sudah tidak dianggap adik olehmu, sekejam itukah Kakak padaku kau berubah semenjak menikah dengan siFadil itu! " Jefri menggeretakan giginya.


"Kau membunuh suami dan anakku! " suara Raisa disebrang sana.


"Apa kah masuk akal kalau aku membun-" ucapan Jefri terhenti karena sambungan telepon itu diputuskan sepihak.


Jefri menghela nafas panjang, setiap kali dia menelepon kakaknya pasti akan seperti itu sudah menjadi kebiasaan dan tidak merasa aneh. Padahal dia akan ngasih solusi untuk masalah perusahaan itu yang di ambang bangkrut dan dikuasai oleh Hong company yang kini berada ditangan Fadil.


"Benar-benar berantakan, aku harus mulai aksiku sekarang! " Jefri menelepon seseorang.


"Tapi aku harus mulai dari mana? " gumam Jefri, menepuk pelan keningnya dengan kepalan tangan.


"Berikan aku sobekan foto itu! " tiba-tiba Aldara berada dirumah, sentak saja membuat Jefri kaget dan menatap Aldara.


"Sejak kapan kau disini?" tanya Jefri.


"Baru menginjak lantai sekarang! " Aldara merangkul Helen disampingnya.


"Fotokopi Sarah! " gumam Jefri pelan tapi Aldara masih mendengarnya.


"Dia anakku! " teriak Aldara sampai Rumi yang berada di dapur pun keluar sambil memegang sinduk ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2