Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Kehidupan Raisa


__ADS_3

Hari sudah malam tapi Algi masih berkutat dengan pekerjaannya, setelah dia menemukan nama itu dia tidak bisa melacaknya lagi tentang datanya secara detail. Dia hanya mengetahui bahwa uang hasil pemasaran tiga puluh persen masuk pada rekaning atas nama Frimansyah itu.


Sesekali Algi melirik Roni yang tengah tertidur disofa, kini dirinya menyadari bahwa tidak ada waktu hanya sekedar membuat Roni nyaman. Algi pun menutup leptopnya dan beranjak mengahampiri Roni.


Diusapnya puncak kepala Roni, dan kembali Algi terbayang akan kesedihan Roni saat di acara kemping kemarin. Walau dia bukan daddy nya, tapi dia bisa mengetahui bagaimana perasaannya apalagi kini Raisa jarang sekali mengunjunginya dan tentu saja Melinda juga hanya sekedar ingin bertemu Algi kalau menemui Roni.


Pikirannya merambat hingga tanpa sadar dia pun memikirkan Aldara, wanita yang pada awalnya seperti ingin membunuhnya karena dia selalu menggodanya. Senyum terukir dibibirnya, saat membayangkan ciuman bersama Aldara terasa manis hingga kini Algi tidak bisa melupakannya. Bayangan Aldara semakin menjadi sampai jantungnya berdegup dengan cepat.


"Bunda hikss, bunda aku mau bunda! " suara ngigau Roni, Algi menoleh dan mengusap air mata yang membasahi pipi nya.


"Kau mengigau sampai menitihkan air mata! sebegitunya kau menginginkan dia, kau sama! Aku juga menginginkannya! " Algi mencium kening Roni lalu menggendongnya dan membawanya pulang.


Dibalik cinta yang semakin tumbuh dalam hati Algi, berbanding terbalik dengan Aldara dia kini sibuk merancang sesuatu untuk melancarkan rencananya. Setelah mendapat informasi dari ibu menejer dia menyeringai, senyum jahatnya terukir di bibir munyil yang berisi itu.


Cahaya dari leptop yang menyala menerpa permukaan wajah Aldara, membuatnya terlalu fokus dan semakin memencet keyboard itu cepat sepertinya dia sedang menyerang seseorang. Tentu saja Aldara kini tengah berusaha menetas sandi milik Fadil.


Nama Frimansyah yang Algi ketahui sebenarnya adalah nama samaran Fadil untuk nomor rekening penyimpan dana gelap, dan tentu saja Aldara yang menyalurkan hal itu. Tapi Aldara sengaja tidak memberikan informasi lebih detail karena dia mempunyai rencana lain.


"Biarkan jariku pegal yang penting rencana ku harus berhasil! " gumam Aldara dan tentu saja kata berhasil di layar leptopnya membuat Aldara senang.


"Setelah ini akan ada perselisihan, aku yang mendapat untung dan aku akan menghallow Hong Company, untuk kembali kepemilik yang sebenarnya yaitu diriku! Ha ha ha! " suara ketawa Aldara menggema disudut kamarnya.


Aldara merogoh ponselnya menelepon seseorang yang kini berada ditempat yang gaduh.

__ADS_1


"Kerjamu bagus girls! " ucap Aldara setelah sambungan telepon itu terhubung.


"Tentu saja bos, soal rayu merayu serahkan pada ku! " sahut perempuan itu, lalu meneguk jus jeruk di kursi bar itu.


"Kini dia sedang bersenang-senag kah? " tanya Aldara dengan nada sinisnya.


"Bersenang-senang dalam mimpi! " sahut perempuam itu lalu mereka pun tertawa.


"Baiklan nanti lagi aku akan meneleponmu! " Aldara memutuskan sambungan teleponnya.Aldara semakin senang kali ini rencananya sangat mulus tanpa hambatan.


"Sekertaris pribadi Algi itu udah tua suka yang muda-muda, rasain terjerat masalah baru tau rasa. Biar tobat tuk kakek-kakek! " Aldara mematikan leptopnya, lalu menarik tangannya keatas, meregangkan ototnya yang dirasa pegal.


"Ishh, lupa bukannya CEO itu ngasih aku tugas segabag ya ampun lembur deh! " Aldara segera menghidupkan kembali leptopnya.


"Ada apa? " tanya Raisa terbangun dari tidurnya, Fadil pun menghampiri lalu menarik kuat rambut Raisa.


"Apa kau berkomplot dengan seorang hacker handal, apa kau penyebab semua informasi pribadiku terkuak hah! " Selain menjambak rambut Raisa, Fadil pun melesatkan tatapan tajamnya.


"Tidak, aku tidak tau! " Raisa terbata, bukan hanya sekali dia mendapat perlakuan seperti itu tapi untuk beberapa kali, dan tentu saja tidak ada yang mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Fadil dan Raisa.


"Apa kau tadi menelepon Jefri! Apa yang kalian bicarakan? " teriak Fadil.


"Aku tidak membicarakan apa pun, kau juga mendengarnya sendiri bukan? Aku langsung memutuskan sambungan telepon saat dia belum mengakhiri ucapannya! " jelas Raisa dan tangan Fadilpun terlepas dari kepala Raisa.

__ADS_1


"Kau tau akibatnya jika melanggar apa yang aku katakan! " Fadi menunjuk Raisa dan kemudian mendorong Raisa kuat ke kasur, Sampai Raisa terlentang dikasur dengan jantung yang sangat berdebar menahan sakit dihati yang selalu dipendam.


"Layani aku sampai aku puas! Apa kau mengerti! " sentak Fadil dan Raisa hanya bisa menelan ludahnya susah sambil menitihkan air matanya.


"Aku hanya ingin melindungi keluargaku," gumam Raisa dalam hati.


Semenjak menikah dengan Fadil karena surat wasiat dari mendiang suaminya, yang harus menikah dengan Fadil. Membuat Raisa mau menikah dengannya, dan pada saat bersamaan tidak sengaja Raisa mengetahui kalau Dinar belum meninggal sehingga hal itu menjadi bumerang bagi Fadil. Dari sanalah Raisa mengetahui busuknya Fadil. Surat wasiat itu ternyata palsu, karena itu hanya akal busuk Fadil agar bisa menguasai Hong Company. Tragedi kecelakaan yang dialami suami dan anaknya pun dia tau persis seperti apa, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya.


"Manjakan dia! Dan hapus air matamu itu! Jangan sampai hasratku menghilang! "Fadil menarik tubuh Raisa lalu menekan kepalanya pada bagian bawah milik Fadil.


Raisa hanya menurut apa kata Fadil karena dia diancam sedari awal menikah dengannya, tidak ada rasa senang melekat pada dirinya dia harus membenci adiknya dan menjauhi anaknya. Ada suatu hal yang dia ketahui, tapi ada yang lebih penting dia lindungi.


Malam semakin larut sampai badan Raisa sangat sakit semua mengingat Fadil melakukan hal itu sangat kasar, apa lagi bukan hanya sekali tapi sampai pagi menjelang. Dikala Fadil tertidur, Raisa memakasakan diri untuk bangkit dari rasa sakit yang menjalar ditubuhnya menghampiri bangunan yang agak jauh dari rumah itu.


Raisa seperti biasa selalu memakai jepit rambut sebagai kunci agar bisa masuk kedalamnya. Setelah memasuki bangunan itu, terlihat anaknya terkulai lemas di atas kasur dengan berbagai alat medis ditubuhnya.


Disanalah Dinar berada dan terkurung dalam keadaan koma dan tentu saja menurut dokter pun hanya harapan dan doa yang bisa membuatnya bangun. Walau seperti itu Fadil tetap mengancam Raisa kalau dia akan membunuh Dinar paksa kalau dia tidak menurut padanya.


"Nak, cepatlah bangun sayang! " Raisa mengusap puncak kepala Dinar.


"Walau harapan kau untuk bangun sedikit, tapi masih ada secerca harapan mamah kalaunkau akan sadar kembali dan membuat dia menyingkir dari keluarga kita." Raisa memeluk tubuh ramping Dinar.


"Ayolah bangun nak! Mamah sangat sedih dan takut, Algi pun semakin menjauh dari Mamah dan Jefri dia pasti membenci mamah. Mamah sendirian! " ucap Raisa sambil sesegukan.

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH JEJAK DENGAN LIKE KOMEN DAN VOTE YA... 😉


__ADS_2