
Tepat jam tujuh malam Algi terlihat masih diruang kantornya dengan berkas, dan leptop yang masih menyala di depannya. Pandangannya melirik kesana kemari meneliti tulisan yang berada di tangannya.
"Pak sudah waktunya untuk pulang, " ucap seseorang di sampingnya yakni sekertaris pribadi Algi.
"Bekerja untuk perusahaan ini sudah berapa puluh tahun? " tanya Algi tiba-tiba membuat sekertaris pribadi itu bingung.
"Saya mengabdi di perusahaan ini sudah 45 tahun, mana mungkin anda tidak tau," sahut sang sekertaris pribadi itu.
"Sudah sangat lama anda sampai tau tentang semua seluk beluk keluarga dan perusahaan kan? Mana mungkin Anda berkhianat bukan?" Algi menoleh dan menatap tajam pada sekertaris pribadi itu.
"Mana mungkin saya seperti itu, jika memang saya berbuat jahat dari dulu saya sudah keluar dari perusahaan ini." Sekertaris pribadi itu memalingkan pandangannya.
"Tentu saja anda tidak akan keluar dari perusahaan ini, bukankah ada orang dalam yang membantu sehingga semua kebusukan bisa tersembunyi dengan rapih! " Algi berdiri dan menghampiri sekertaris itu.
"Anda sepertinya sudah terpengaruh oleh orang yang tidak penting dan tidak tau apa pun, apa yang membuat Anda menuduh saya seperti ini? " Sekertaris itu membenarkan kacamatanya, tapi tetap tatapannya tidak tertuju kepada Algi.
"Selama rapat penting diadakan, pemikiran yang telah aku rancang dia bisa mengetahuinya dan bisa sama persis bukankah hanya kau yang tau soal itu? Dan untuk beberapa bulan terakhir kau selalu menjauh dariku, kau pergi tanpa sepengetahuan dariku. Kau bertemu dengan menejer pemasaran kenapa? Mau diajak kerjasama seperti apa? Bukankan semua oraganisasi disini memang telah bekerja sama untuk perusahaan ini! Kau merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku, kalau di perhatikan juga salah satu kolega perusahaan ini mencoba untuk berbuat curang dan sepertinya dia bersahabat dengan paman fadil. Sahabat dadakan sepertinya! Kalian akan menghancurkanku, orang yang telah aku anggap seperti ayahku sendiri malah menusuku dari belakang! " Algi berteriak di akhir kalimat dan sekertaris pribadi itu tersenyum jahat dan menatap Algi.
"Apa dengan itu semua anda bisa yakin kalau saya telah menyimpang, asal Anda tau saya keruang menejer pemasarah hanya ingin menghukum dia karena dia terlalu lelet dalam memberikan laporan, sehingga proses pemasaran barang terhambat dan merugikan banyak orang! Tentang kolega yang akan membuat curang, apa Anda yakin dia akan berbuat curang bagaimana kalau dia hanya ingin mengambil keuntungan dari usahanya saja! Apakan mata anda sudah dibutakan oleh Jefri. Ingatlah dia yang sebenarnya yang berniat menghancurkanmu. Bukankah semua bukti telah mengarah padanya? " jelas Sekertars itu menatap Algi.
"Tentang Jefri, bisakah lebih memberikanku bukti yang kuat agar aku bisa menjebloskannya ke ruang jeruji? Karena bukti yang kalian berikan kepadaku tidak sah karena masih di ragukan kalau itu Jefri. Jika kamu menemukan bukti yang sangat kuat tentang Jefri aku akan percaya kalau kau memang tidak berkhianat!" Algi menutup leptop, lalu membereskan berkas yang berserakan dan memasukannya kedalam tas lalu bersiap pergi meninggalakan sekertaris pribadi itu. Tapi sebelum itu dia menyimpan berkas penting diatas meja.
Sekertaris pribadi itu matanya melirik ke arah meja dan membaca jilidnya yang merupakan laporan pemasaran bulan kemarin.
"Menejer wanita itu sepertinya tidak mendengar ucapanku! " Sekertaris pribadi itu, tersenyum ketus lalu membuka isi berkas itu!
__ADS_1
"Apa ini! " sekertaris itu terkejut melihat jurnal didalamnya yang menurun drastis, sedangkan kenyataan kalau kini hasil sesungguhnya masih imbang.
"Begini juga menguntungkan, ternyata menejer itu cerdik juga! " guman sekertaris pribadi itu.
"Bisakah aku mempercayainya lagi? " Algi tersenyum kecut lalu bergegas pergi.
Sedangkan disebuah kedai ayam bakar dekat dengan toko sayur Rumi. Aldara dan ibu menejer itu tengah sibuk dengan ayam mereka hingga suara ibu menejer itu membuka pembicaraan mereka.
"Ald kau cerdas juga, kalau begitu aku gak bakalan ketauan oleh siapa pun dan mendapat keuntungan juga,"
"Ibu menejer telah melakukan yang terbaik," sahut Aldara.
Dalam hati Aldara sangat senang. Selain membuat kedua orang salah paham mereka juga mendapatkan keuntungan dalam hal ini.
"Aku mau pulang dulu, sehabis pulang kerja aku terlalu lama bersama mu sampai lupa menghabiskan dua porsi ayam bakar." pamit ibu menejer dan membuat Aldara mengingat sesuatu.
"Sepulang kerja! " Aldara melongo.
"Ya Ampun aku lupa! " Aldara berdiri dan bergegas pergi.
"Ald kau mau kemana? Bukannya aku yang harus pergi duluan?" teriak ibu menejer.
"Maaf Ibu ada yang harus aku temui aku duluan! " Aldara berlari dengan hels nya menuju lestoran yang disebutkan Andris dalam pesannya tadi siang, Aldara menghentikan taksi dan segera memasukinya.
Lain di lestoran dekat itu, Andris tersenyum masam sambil meneguk jus jeruk.
__ADS_1
"Dia memang tidak pernah memperdulikanku, tapi aku tetap menginginkannya, bodoh memang! "
Andris pun beranjak dari duduknya dan tanpa sengaja tersenggol seseorang, sampai dres yang dikenakannya kotor karena minuman yang di pegang seseorang itu.
"Apa gunanya matamu? " teriak Melinda lalu Andris pun menoleh, ternyata yang di tabrak Andris adalah Melinda.
"Hai nona. Apa anda tidak sadar kalau anda yang menabrak saya, karena saya hanya berdiri dan Anda berjalan." sahut Andris.
"Kau memang orang yang munafik, jelas-jelas kau yang salah malah tidak mau mengakui kesalahnmu! " Melinda semakin sengit menanggapi ucapan Andris sambil sibuk menwpuk dresnya yang kotor.
"Orang munafik bilang munafik pada orang lain, gila! " Andris menatap tajam Melinda, hatinya sedang diliputi amarah pasalnya dia menunggu Aldara berjam-jam tapi tidak kunjung datang dan di tambah lagi bertemu dengan Melinda yang cerewet.
Perdebatan pun semakin mencuri perhatian semua orang dilestoran itu, hingga seorang karyawan yang menjadi pemisah tidak tertahan karena Amanda yang terlihat arogan menanggapi Andris yang tidak mau kalah.
Aldara segera membuka pintu taksi itu lalu berlari dengan sangat kencang, dalam hati dia berharap kalau Andris masih disana, agar urusan mereka selesai dan Andris tidak akan menagih janjinya lagi.
"Ganti rugi kau! " teriak Melinda terdengar oleh Aldara saat membuka pintu lestoran yang terbuat dari kaca itu.
"Aku tidak akan ganti rugi, kau yang tidak melihat jalan dan orang lain yang harus ganti rugi apa masuk akal!" sahut Andris, dia tidak sadar kalau ada Aldara kali ini.
Aldara melongo melihat perdebatan Melinda dan Andris, dia pun menghampiri keduanya.
"Biar aku bayar!" Aldara menyodorkan uang beberapa lembar pada Melinda.
"Kau, jadi dia pacarmu! Asal kau tau ya, pacarmu itu selalu menggoda kekasihku jadi jaga dia dan jangan belaga munafik! "Melinda mengambil uang yang berada di tangan Aldara dan begitu saja pergi.
__ADS_1