Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Terjebak hujan


__ADS_3

Dirumah Aldara terus menghubungi seseorang yang tidak kunjung diangkatnya, bahkan sampai membuatnya geram. Dia mengingat kalau hari semakin larut dan Helen belum pulang juga


"Benar-benar anak ini! " ucap Aldara dan sontak saja dia berfikir negatif.


"Helen, apa dia baik-baik saja! Aku meneleponnya sudah beberapa kali tapi tidak di angkat juga! " kembali ucapan itu keluar dari mulutnya beserta rasa khawatir. Hingga dia menelepon nomor Roni.


"Bunda? " suara dari sebrang sana.


"Roni apa Helen bersama mu? " tanya Aldara.


"Iya Bunda dia ada bersamaku,! "


"Di mana kalian! "


"Di rumahku, Helen sedang mengerjakan PR bersamaku, "


"Kenapa Bunda telepon dia tidak mengangkatnya? " geram Aldara.


"Katanya ponselnya di silent , agar fokus belajar karena kemarin pas ujian nilai dia sangat buruk! "


"Berapa? "


"Dua puluh Bunda! " jawab Roni sambil tertawa, sedangkan hal itu membuat Aldara di tambah kesal.


"Dimana alamat rumahmu? " tanya Aldara.


"Bunda mau kesini? Nanti Roni share lokasi ya Bun! "


"Cepat! " ucap Aldara lalu mematikan sambungan ponselnya.


"Helen aku harus lebih menjaganya, dan lagi aku harus semakin membuat Roni menempel padaku!" gumam Aldara, lalu terdengar notif pesan dari Roni.


Sedangkan diapartemen milik Algi dua orang anak itu sedang tertawa dengan senangnya.


"Baiklah bagaimana dengan dady mu? " tanya Helen.


"Dia sudah sangat dekat! " sahut Roni sambil melihat layar leptopnya, yang memperlihatkan perjalanan sang daddy yang sebentar lagi akan sampai.


"Apakah akan berhasil? " tanya Roni.


"Aku rasa ia, kita berdoa saja! " sahut Helen.

__ADS_1


"Tidak meyakinkan! " ucap Roni.


"Lihat saja nanti! " ujar Helen dengan senyum jailnya.


Tidak lama kemudian Algi sudah sampai apartemen dia terkejut mendapati Helen di sana.


"Helen?" tanya Algi menunjuk Helen.


"Tadi di sekolah dia jatuh daddy, lihatlah lututnya berdarah!" ucap Roni meyakinkan Algi.


"Cepat ambilkan kotak obat Roni! " titah Algi menaruh tas nya di sofa lalu berjongkok menghampiri Helen.


"Baiklah, " Roni pun pergi mengambil kotak obat .


"Kenapa bisa terjatuh?" tanya Algi pada Helen sedangkan Helen yang merasa di perhatikan, hanya tersipu.


"Saat berlari aku begitu saja terjatuh, " jawab singkat Helen.


Roni pun memberikan kotak obat pada Algi, Algi pun dengan hati-hati mengobati lutut Helen. Roni beranjak dari sana dan kembali melihat layar leptopnya dan kali ini dia tersenyum.


"Mudah-mudahan perkiraan cuaca ini benar! " gumam Roni.


Beberapa menit kemudian, setelah Algi mengobati dan membalut luka Helen dia pun beranjak mandi tapi suara bel mengganggunya.


Disaat Algi membuka pintu suara petir terdengar keras, sehingga Aldara yang terkejut sepontan loncat kearah Algi, sekarang Aldara terlihat seperti digendong ala bayi oleh Algi, dengan tangan memeluk leher, kaki melilit dipinggangnya serta kepala yang dia sembunyikan di pundak Algi.


"Kya! " Algi terkejut dan tangannya begitu saja memeluk punggung Aldera dan yang lebih membuat Algi terkejut, handuk yang dia pakai untuk menyembunyikan siburung perkututnya terlepas.


Algi segera menutup pintu itu kasar, lalu berteriak kepada Aldara, " Apa yang kau lakukan turun dari tubuhku! "


Aldara tidak merespon dia malah mengeratkan pelukannya dibadan Algi. Sehingga Algi terpaksa mengambil handuk di lantai walau susah karena Aldara yang memeluknya erat.


Handuk pun akhirnya dapat Algi raih lalu dengan susah Algi melilitkan kembali handuknya hingga tanpa sengaja tangannya menyentuh hal inti Aldara. Aldara yang tersadar pun mendorong paksa dada Algi sehingga Algi tidak seimbang, dan kini kedua nya terjatuh dilantai dengan Aldara yang berada di bawah Algi.


"Aw! " Ringis Aldara dengan memejamkan matanya, sedangkan Algi dibuatnya terkesima melihat kecantikan Aldara tepat di depannya.


Perlahan Aldara membuka kelopak matanya dan terkejut mendapati wajah Algi yang begitu sangat dekat sampai hidung mereka pun bersentuhan.


"Yakkk! " teriak Aldara mendorong kuat Algi lalu dengan cepat berdiri.


"Aaaaaaaa, " kali ini Aldara menutup kedua matanya yang tidak sengaja melihat batang berbulu milik Algi.

__ADS_1


Algi segera meraih handuknya dan dengan cepat melilitkannya lagi ke pinggang dengan sangat erat, lalu menoleh menatap Aldara.


"Mataku ternoda! " gumam Aldara, mendengar hal itu Algi dibuatnya mengerutkan kening. Perlahan Algi mendekatkan mukanya ke muka Aldara yang masih di tutupi oleh kedua tangannya.


"Bukankah kamu pernah melihat hal seperti ini, kenapa respon mu seperti baru melihat? " bisik Algi tepat ditelinga Aldara. Aldara menjadi gugup.


Sedangkan Helen dan Roni yang baru membuka pintu serta terkejut melihat Algi dan Aldara seperti sedang berciuman menurut mereka.


"Hey tutup matamu Helen! " ucap Roni yang sudah menutup kedua matanya.


"Sudah terlanjur melihat buat apa menutup mata! " sahut Helen dengan kekehannya.


Mendengar ada yang berbincang Algi dan Aldara pun saling menjauh dan menoleh pada Helen dan Roni. Aldara tidak sengaja melihat lutut Helen yang sudah dibalut kain kasa, dia dengan cepat menghampiri anaknya itu.


"Helen kamu kenapa? " tanya Aldara memegang kaki Helen yang luka.


"Aku terjatuh, maaf Bunda aku tidak langsung pulang kerumah aku malah kerumah Roni karena aku takut kena marah Bunda, " Helen menunduk sedangkan Aldara hanya menghembuskan nafas panjang.


"Apa bunda pernah memarahimu tanpa alasan? "


"Tapi Bunda akan marah melihat hasil ulangan ku! " Helen semakin menundukan kepalanya.


"Ha! Kau tau itu alasannya, kenapa tidak kamu perbaiki nilai-nilai jelekmu itu supaya Bunda tidak memarahimu. Sekarang kita pulang! " Aldara menarik tangan Helen.


"Bunda di luar hujan sangat lebat!" sergah Roni.


"Hujan hanya air," sahut Aldara.


"Tapi petir bisa membuatmu ketakutan kan! " timpal Algi, yang ternyata masih di tempatnya sedari tadi. Aldara menoleh lalu menelan ludahnya susah saat mendapati Algi dengan senyum mengejeknya.


"Itu hanya-" Aldara sendiri bingung menjawabnya,memang benar dia takut akan petir.


"Bunda lagian kakiku sakit, disini saja dulu sambil Helen menyelesaikan tugas sembari menunggu hujan reda, " bujuk Helen, sedangkan Aldara hanya menatap Helen sendu. Saat ini Aldara sedikit malu karena sikafnya tadi pada Algi apalagi dia agak canggung, setelah melihat batang berbulu milik Algi.


Algi yang kini sedang menatap Aldara dengan melipatkan kedua tangannya di dada menambah kesan cool padanya sambil bergumam dalam hatinya, "Kau akan terjerat olehku, ha ha!


"Helen, bibi akan khawatir lagian Bunda sudah menyiapkan jas hujan untukmu, petir juga cuma sesekali jadi Bunda tidak merasa ketakutan. Yuk kita pulang! " Aldara kembali menarik pergelangan tangan Helen lalu membuka pintu itu.


Jduaarrrrr


"Aaaaaaaaaa! " teriak Aldara dan Helen bersamaan lalu kembali menutup pintu itu dengan keras, sedangakan Algi dan Roni hanya tertawa melihat tingkah para perempuan itu.

__ADS_1


"Bunda nanti saja ya pulangnya! " rengek Helen.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE. 🙏🙏🙏


__ADS_2