Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Perkelahian di sekolah


__ADS_3

Pagi hari dengan cuaca mendung, membuat beberapa orang terhambat untuk beraktifitas tapi tidak dengan Aldara, kali ini dia tengah menjalankan motornya membelah jalanan menuju kantor dengan memakai jas hujan.


Hingga akhirnya Aldara sampai di palikiran, dia membuka helm serta jas yang tadi di kanakannya. Kepalanya menggeleng membenarkan rambutnya yang tergerai di depan mukanya akibat helm itu. Hal itu membuat beberapa orang yang ada di sana melongo manatap kecantikan Aldara.


Walau ditatap seperti itu, Aldara hanya terdiam dan menghiraukan mereka. Aldara dikenal sebagai orang yang cuek bagi orang yang belum mengenalnya, padahal dia sangat baik.


Aldara berjalan menelusuri jalan menuju kantor dengan payung yang tadi dia bekal dari rumah, tatapannya terus mengarah ke depan karena hujan yang lumayan deras Aldara kembali memekai sandal jepit.


Suara klakson mobil begitu nyaring terdengar oleh Aldara, dan ternyata dihadapannya tengah ada mobil yang melaju ke arahnya.


Mobil itu tepat berhenti di depan kaki Aldara, beberapa detik matanya menatap plat nomor mobil itu lalu senyum jahat dari bibir Aldara pun terlihat.


"Apa kamu mau cari mati! " hardik sang sopir dengan payung dia menghampiri Aldara.


"Maaf, maafkan saya, " ucap Aldara senantiasa membungkuk.


"Minggir! " titahnya.


"Baik, " Aldara pun kembali berjalan, kemudian melirik ke pintu penumpang di sana terlihat Fadil tengah menggeleng.


"Kita akan sering bertemu sekarang ! " gumam Aldara lalu menoleh dan mendapati Algi sehingga badannya tidak seimbang dan terhunyung ke belakang serta payung yang dia pegang pun terlepas. Algi pun sepontan meraih pinggang Aldara lalu menariknya sehingga kini Aldara berada dalam dekapan Algi.


"Apa kau selalu ingin bersentuhan dengan ku?" goda Algi.


"Pantesan pagi ini cuaca sangat buruk, " gumam Aldara tersenyum ke arah Algi lalu mendorong dada Algi.


"Maksudmu aku ini pembawa keburukan? " Algi mempererat rangkulan tanganya pada pinggang Aldara sehingga Aldara susah untuk terlepas.


"Mana mungkin, aku hanya bergumam." Aldara mengenggam tangan Algi di pinggangnya lalu menekannya sampai terlepas.


"Maaf sepertinya saya kedinginan karena baju saya basah kuyup," Aldara pun bergegas meninggalakn Algi sambil mengambil payungnya, walau dia kebasahan tapi tidak dengan Algi, karena dia ada yang memayunginya yaitu asisten pribadinya.


Algi terdiam, memikirkan sikapnya pada Aldara tadi."Ada apa dengan ku! " Algi mengusap mukanya kasar.


Aldara tidak langsung ke mejanya, dia ke toilet terlebih dahulu lalu menelepon seseorang.


"Bi tolong ambilkan bajuku ke kantor! "ucap Aldara menelepon.


"Mana bisa, hujan begitu lebat payung juga kamu pakai!" suara Rumi dari rumah.


"Ish, terus aku mau basah-basahan gitu? "


"Apa maksudmu bukannya kamu pake jas hujan? Apa payung tidak kamu pake? "


"Oke kalau gak bisa! " ucap Aldara tanpa menyahuti pertanyaan dari Rumi, sedangkan Rumi di rumah masih dengan balutan selimutnya hanya mengerutkan dahinya aneh.


Aldara keluar dari toilet dengan kemeja hitam yang basah, sampai di mejanya dia menepuk-nepuk bagian lengannya yang basah itu sampai seseorang menghampirinya.


"Ald bajumu basah? " tanya ibu menejer.


"Hanya terciprat percikan air saja kok bu! " sahut Aldara dengan hati kesal. Tentu saja baju basah kuyup begitu masih saja di tanya.


"Kelihatannya sangat basah tuh! Mau aku pinjamkan kemeja ku?" tanya ibu menejer.

__ADS_1


"Jika ibu memberikan ijin saya akan memakainya, " Aldara tersenyum.


Ibu menejer pun masuk keruangannya lalu kembali lagi dengan kemeja putih di tangannya.


"Ukuranku ya sedikit basar darimu, tapi muat kayanya! "


"Saya akan memakainya, terima kasih banyak! " Aldara menerima kemeja itu.


Aldara kembali ke toilet untuk mengganti pakaiannya, tapi kembali dia kesal tentu saja yang basah bukan hanya bajunya tapi dalaman bajunya pun ikut basah. Aldara mendesah.


"Putih lagi warna kemejanya, huh! " Aldara pun tidak jadi ganti pakaian.


Helen dan Roni terlihat di kelas tengah mengerjakan sesuatu, tidak ada siapa pun di sana hanya mereka berdua saja.


"Apa bunda tidak ingin bersama dady ku? " tanya Roni dengan ponsel di tangannya.


"Tentu saja dia pasti akan bersama, " jawab Helen tersenyum jail, mengingat suatu rencana yang dia telah rancang di otaknya.


"Apa maksudmu? " tanya Roni mengeratkan jaketnya.


"Hey kalian! Berduan di kelas memang kalian serasi, tidak punya mamah sama papah kasian sekali! " ucap anak laki-laki diambang pintu.


"Yah kalian bisanya membuli kami, emang apa salahnya jika orang tua kami tidak kumplit kalian saja yang punya mamah sama papah tapi setiap ke acara sekolah hanya salah seorang dari mereka yang datang, miris sekali! " ucap Helen bangkit dari duduknya dengan tangan yang di simpan di pinggang, serta raut muka mengejek.


"Setidaknya kami masih bisa membuat orang tua kami hadir di lain acara. Nah kalian ha ha ha, "


"Dasar bocah-bocah! " Helen akan melemparkan sepatu pada mereka yang mengejek dirinya dan Roni, tapi tangannya ditahan Roni.


Roni berjalan menghampiri mereka ke ambang pintu lalu berkata, "Dedy ku mendidiku sangat baik walau tanpa seorang ibu! Tapi kalian punya papah dan mamah yang menyayangi mu tapi, perbuatanmu sangat tidak baik kasihan mereka! "


"Wey jaga mulutmu! Setidaknya kami masih bisa merasakan kehangatan pelukan dari orang tua kami! " sahut anak laki-laki itu.


Plakkk


Helen menampar anak laki-laki itu, dan anak laki-laki itu akan membalas tapi Roni sigap memegang tangannya.


Hingga pertengkaran di antara mereka berlanjut, Helen dan Roni sedangkan anak laki-laki itu bersama kedua temannya. Membuat sekolahan itu riuh semua siswa dan siswi pun berdatangan tapi tidak ada yang melerai mereka hingga seorang guru menghentikan aksi mereka.


Kabar perkelahian itu sampai pada Algi dan Aldara sebagai orang tua Roni dan Helen, Aldara memasuki ruangan ibu menejer untuk meminta izin sebentar.


Setelah Aldara diberi izin, dia pun bergegas keluar dari kantor itu.


"Helen apa lagi yang kamu lakukan, benar-benar anak ini jadi nyesel di ajarin bela diri! " gumam Aldara keluar dari pintu utama, di sana sudah ada Algi menunggu mobilnya.


"Mau ke sekolah? " tanya Algi.


"Iya Pak, " jawab Aldara, menunduk dan lebih mempercepat jalannya.


"Hujan masih deras, aku juga mau ke sekolah! " ujar Algi, tapi Aldara menggeleng.


"Tidak apa makasih, " Aldara membuka payungnya dan segera menuju palkiran.


"Kemarin dia begitu berani sekarang malah cuek! " gumam Algi.

__ADS_1


Di ruang kantor guru Helen dan Roni serta anak laki-laki dan kedua temannya terlihat berdiri menghadap meja salah seorang guru, sambil tertunduk. Wajah anak laki-laki sedikit lebam karena pukulan Helen. Hingga kedua ibu dari anak laki-laki itu datang.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan nak! " sang ibu pun merangkul anak laki-laki itu.


"Ah pipi mu! " sang ibu mengusap pelan pipi yang terlihat keungun itu.


"Hey kalian apakan anak saya! " teriak sang ibu pada Helen dan Roni. Roni hanya menunduk sedangkan Helen dia dengan beraninya menatap ke arah ibu itu.


"Pasti anak ini yang membuat anaku seperti ini! " teriak sang ibu menggoncangkan tubuh Helen.


"Mengaku kamu! " lagi-lagi teriakan sang ibu menggema hingga suara guru di depannya, membuat sang ibu berhenti mengguncangkan tubuh Helen tapi kedua tangannya masih memegang bahu Helen.


"Tenang ibu, nanti kami musyawarahkan! " ucap sang guru, hingga Aldara muncul dan di ikuti Algi di belakangnya.


"Helen apa yang terjadi! " Aldara menangkup kedua pipi Helen.


"Tidak apa bunda aku baik-baik saja, "sahut Helen dan Aldara pun menghembuskan nafas lega.


"Dia telah memukul anakku, dia harus di hukum! " tiba-tiba suara sang ibu membuat Aldara menoleh.


"Anakku tidak akan sembarang memukul orang kalau anak ibu sendiri yang mengganggu dia! " ucap Aldara.


"Anakku mana mungkin menggangu anak seperti anakmu itu! Lagian dia tidak akan bergaul dengannya, secara anak kamu itu suka pukul kan? Anak kok di ajarin nggak bener! " ucap ibu itu.


"Tenang Bu kita bicarakan dengan baik-baik, " lerai sang guru.


"Helen kenapa kamu memukul dia? " tanya Aldara sedangkan Helen hanya menunduk.


"Tentu saja dia tidak akan menjawab, memang dia bukan anak baik! " teriak Ibu itu.


"Anaku tidak seperti itu! " lekik Aldara.


"Helen, " suara lembut Aldara. Sedangakan Helen tanpa menjawab malah diam-diam mengedipkan mata pada Roni, Roni yang tau kode itu pun berdehem dan semua orang memperhatikannya.


"Awalnya dia mengejeku karena tidak memiliki seorang bunda, dia terus menggangu ku hingga Helen pun menampar dia karena sudah begitu keterlaluan! " ucapan Roni sontak membuat Algi terkejut, dia pun menghampiri Roni dengan masker hitam yang melekat di hidung dan bibirnya.


"Apa kau berkata seperti itu?" tegas Algi pada anak laki-laki itu.


"Mana mungkin anakku seperti itu, kecil-kecil pandai mengarang! " ucap Ibu itu sedangkan sang guru hanya menyimak.


"Kalau tidak percaya kalian bisa melihat rekaman kamera CCTV ," ucap Roni dan semua orang pun menatap sang guru.


"Saya akan menyuruh seseorang untuk mengeceknya. " ucap guru itu dan segera merogoh ponselnya.


Beberapa menit berlalu dan mereka pun sudah melihat akar permasalahan itu.


"Hai dek, jangan sekali-kali mengejek orang lain mungkin orang yang kamu ejek hidupnya lebih bahagia dari kamu sendiri! " Aldara berbisik pada anak laki-laki itu.


"Kamu apakan anakku? " pertanyaam sang ibu yang penuh penekanan.


"Kalian juga akan bercerai kan, jadi jangan coba-coba mengusik kami? " bisik Aldara tepat di telinga sang ibu. Sontak ibu itu terkejut,


"Dari mana dia tau? " gumam ibu itu.

__ADS_1


__ADS_2