
Pagi dihari sabtu, Aldara terlihat tengah mempersiapkan serapan untuk anaknya juga dirinya.Menu pagi ini adalah soto ayam, Aldara sengaja bangun pagi sekali hanya untuk memasak menu itu. Entah lah, yang pasti dia yang menginginkannya.
"Wow soto ayam!" Helen yang baru duduk dikursi meja makan pun terlihat menghirup aroma soto yang harum itu. Sedangkan Aldara menyunggingkan senyumnya.
"Jangan di makan! " ucap Aldara, dan seketika Helen yang akan menyinduk soto itu terdiam dengan tangannya yang tengah memegang sinduk.
"Bunda? " Helen mengerucutkan bibirnya.
"Bukankah semalam kau bilang tidak akan menuruti ucapan Bunda, ya Bunda bilang jangan agar kau memakannya," ucap Helen seraya duduk di hadapan Helen.
"Iya, iya Helen minta maaf, nggak bakalan gitu lagi deh! "sahut Helen.
"Hm, sekarang Helennya Bunda sensitif amat! " Aldara mengambil sinduk dari tangan Helen lalu menuangkan soto itu ke mangguk Helen.
"Masih pagi jangan cemberut, awali pagi mu dengan senyum semangat agar harimu menyenangkan!" Aldara menyubit hidung Helen gemes.
"Bunda sakit! Bagaimana mau menyenangkan di pagi hari aja Bunda membuat Helen kesal! " Helen memegang hidungnya.
"Benarkah, ah Bunda rasa itu cuma perasaan mu saja! " Aldara menyuapkan soto itu kemulutnya.
"Bunda! " teriak Helen sambil cemberut dan Aldara malah tertawa menanggapi anaknya itu.
Setelah serapan dan bersiap untuk pergi Aldara dan Helen pun mulai menaiki motor matic itu.
"Hel, Bunda akan kerumah nenek dulu kamu tunggu disini sebantar! " ucap Aldara pada Helen.
"Hu um! " sahut Helen sambil mengangguk.
Aldara pun berjalan menuju rumah Rumi dan Jefri yang berada tepat di samping rumahnya, Aldara menekan bel tapi tidak ada sahutan sampai Aldara memutar knop pintu dan ternyata tidak dikunci. Aldara menyambulkan kepalanya kedalam, dan di lihat tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1
"Pada kemana mereka, bepergian tapi pintu tidak dikunci ada maling baru tau rasa! " Aldara hendak menutup kembali pintu itu tapi terdengar suara tawa Rumi.
"Itu kan tawa Bibi, " Aldara pun begitu saja masuk kerumah itu sampai akhirnya dia menemukan sepasang pengantin baru itu di dapur tengah bermesraan.
Rumi yang lagi memasak dipeluk Jefri dari belakang, membuat Aldara menghembuskan nafas panjang melihatnya, niatnya untuk menyuruh sang bibi untuk mengambilkan jagung dan bahan yang lainnya untuk kemping nanti malam, menjadi enggan.
"Jadi malu sendiri! " gumam Aldara.
"Sayang kau harus mulai dengan menyatukan potongan foto itu! " terdengan suara Rumi yang tengah mengobrol dengan Jefri membuat Aldara menarik kembali kakinya yang hendak pergi.
"Aku sudah lelah membujuk Algi! " sahut Jefri sedangkan Aldara semakin menajamkan pendengarannya.
"Aku sempat melihat sobekan foto yang ada pada Aldara dan aku hanya melihat wajah tersenyum Dinar dan aku lihat dibelakangnya ada pohon yang rindang," Ucap Rumi.
"Aku belum sempat melihat sobekan foto yang ada pada Algi, karena dia terlalu keras kepala pembicaraanku semuanya diwaspadai oleh dia, aku sedih karena Algi menjadi jahat padaku! Tapi aku hanya tau kalau di belakang foto itu ada tulisan Key yang tersobek udah gitu aja" Jefri mencium pundak Rumi.
"Aku sebenarnya kesal, meraka telah membuat keponakannku menderita! Aku ingin segera mengetahui bukti atas kebenaran itu! " ucap Rumi memegang penggorengan itu erat.
Aldara yang kini mengetahui dimana sobekan itu berada segera pergi keluar dari rumah Rumi. Hatinya bergetar setelah nama Algi disebut.
"Bunda cepat ini sudah siang! " teriak Helen dari motor dan membuat Aldara mengerjap dan segera berlari menuju Helen.
Sesampainya dikantor Aldara kepikiran tentang sobekan foto itu, mungkinkah dia harus mengambilnya dari Algi? Tapi bagaiaman caranya? Aldara terlihat mengetukan balpoin pada keningnya hingga seseorang membuatnya terganggu.
"Anda mau menemui Pak Algi, saya rasa dia belum datang! " Aldara segera bicara pada Melinda yang hendak membuka pintu.
"Bukan urusanmu! " jawab jutek Melinda.
"Itu menjadi urusan saya karena kerja saya bersangkutan dengan Pak Algi," Aldara tersenyum dipaksakan.
__ADS_1
"Terserah! " Melinda tetap membuka pintu itu dan tentu saja diruang kantor itu tidak ada siapa pun, Melinda kembali keluar lalu menatap sinis pada Aldara.
"Anda tidak percaya pada saya, padahal saya jarang berbohong! " ucap Aldara.
"Makanya punya sikap yang meyakinkan agar bisa dipercaya orang lain," sentak Melinda.
"Saya kira sikap saya baik sekali, hanya saja Anda membenci saya jadi jika saya berbuat baik pun dimata Anda akan tetap terlihat buruk!" Aldara menatap malas Melinda.
"Seorang penggoda sepertimu mana mungkin kalah dalam bicara, bukankah mulutmu itu selain terlatih untuk mengucapkan kata membujuk dan merayu juga terlatih untuk berdalih, dan tentu saja kebohongan tidak akan tertinggal! " Melinda menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap remeh Aldara.
"Anda mengatai Saya tidak benar, apakah Anda sudah benar hidupnya? Terkadang orang hanya sekedar berucap dan tidak berfikir bahwa ucapannya tidak mecerminkan perbuatannya, " sahut Aldara.
"Tentu saja aku benar, aku bahkan dengan jelas melihatmu tengah mencium Algi, itu bukti kau seorang penggoda dan satu hal yang membuat tuduhan itu pasti kau kan seorang janda, jadi bisa saja karena kurang belayan hingga menjadi penggoda! " Melinda menyingkiran rambutnya yang menghalangi pandangannya.
"Orang bodoh dan munafik adalah mereka yang hanya menyimpulkan pemikirannya sendiri tanpa tau hal yang sebenarnya, bagaimana kalau kejadian itu Pak Algi yang memulainya? Mana mungkin Anda percaya kan, karena Anda akan terus berfikiran kalau saya yang salah! Dan lagi tidak semua janda haus akan balaian, padahal yang benar kalau seorang janda akan selalu berusaha membuat dirinya lebih baik bersama anaknya, agar masalah di masa depan tidak akan terulang lagi." jelas Aldara dan membuat Melinda menggertakan rahangnya.
"Kau menghinaku bodoh dan munafik! Coba ngaca sana! " kesal Melinda.
"Dari tadi saya selalu berkaca, bagaiman dengan Anda mau berkaca? Mungkin saja ada sesuatu yang menempel diwajah Anda, sehingga harus disingkirkan atau diperbaiki dengan baik dan benar! "Aldara menyodorkan kaca kecil miliknya pada Melinda, sedangkan Melinda begitu saja melempar kaca itu kelantai dan tidak sadar bahwa kaca itu hampir saja mengenai sepatu Algi yang baru saja datang.
"Ada apa ini?" tanya Algi lalu mengambil kaca milik Aldara yang retak itu.
"Algi dia membuatku kesal pagi ini! Beri dia pelajaran! " Melinda menghampiri lalu menggelayut manja di lengan Algi dengan nada bicara yang dibuat sedih.
"Sekarang yang pas dicap penggoda dan suka merayu itu buakankah sudah jelas! " guman Aldara dalam hati.
"Lepaskan! Aku harus masuk karena sibuk! " Algi melepaskan paksa Melinda, dan tanpa sadar Aldara merasa senang tampak dari senyumnya yang mengembang diwajah.
Sesaat Algi melirik Aldara yang tengah tersenyum, hatinya tersentuh dia semakin ingin memilikinya tapi sekelibat pemikiran lain terlintas membuat Algi pening.
__ADS_1
HAI READER JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN FAVORIT JUGA VOTENYA......