
Siang menjelang sore, semua anak murid dan orang tua yang sedang kemping itu pun tengah melaksanakan lomba memasak. Terlihat beberapa meja dan alat masak yang telah disediakan di sana.
"Baiklah orang tua bisa dampingi anaknya dalam lomba ini, lomba ini dilakukan grup dimana grup yang sudah di bentuk sedari awal akan menjadi grup masak kali ini," ucap sang guru dengan alat pengerasnya. Kebetulan ada 4 grup dimana tiap grup nya memiliki anggota lima orang, jadi mereka harus kerja sama untuk memenangkan lomba ini.
Aldara menatap Helen, dan juga anak murid lainnya dan orang tuanya yang menyerahkan dia sebagai ketua dalam kelompok ini.
"Helen jadi ketuanya kan, jadi kami menurut saja kita akan memasak apa? " jawab salah seorang orang tua itu dan di angguki yang lain.
"Untuk bahan masakan katanya akan dibagi oleh guru, jadi kita bisa lihat nanti kita akan masak apa! " sahut Aldara, mereka semua tengah memakai apron merah di tubuh mereka.
"Baiklah bahan masakan sudah datang, kita akan memasak nasi tumpeng dimana kami sebagai juri yang akan menilai nantinya, sebagai kisi-kisi kami bukan hanya menilai soal rasa tapi soal hias menghiasi tumpeng juga menjadi penilaian buat lomba masak kali ini!" kasih tau kembali guru itu dan terlihat semua yang ada di sana bertepuk tangan, sedangkan Melinda yang menjadi perwakilan orang tua Roni hanya melongo.
"Apa nasi tumpeng? " gumam Melinda, dan salah seorang dari orang tua yang berada di grup itu mendengarnya.
"Itu adalah nasi kuning yang dibentuk krucut, serta bisa di hiasai dengan berbagai sayuran," kasih tau ibu setengah baya itu.
"Oh, bilang aja nasi kuning gitu! " Melinda membuang muka dan tatapannya langsung mengarah pada Algi yang berada disebelahnya.
"Bukannya kau suka memasak, masa gak tau nasi tumpeng padahal waktu Roni ulang tahun kemarin kau kan yang memasakan nasi itu! " timpal Algi membuat Melinda gelagapan.
"Kalau gitu biar wali Roni saja yang menjadi ketuanya, biar kami yang bisa di suruh untuk melakukan hal lainnya. Kebetulan saya juga suka masak tapi kalau ada yang lebih muda itu pasti akan lebih enak masaknnya! " sahut ibu itu dan di setujui oleh orang tua di grup itu.
"Ah tidak, Roni bukan ketuanyakan jadi biar-"
"Melin kau tidak kasihan sama Roni, dia ingin juara bukankah kau suka memasak bahkan sering memasakan kami dan rasanya tentu saja enak! " ucapan Algi membuat hati Melinda bergetar dan gugup, tentu saja karena Melinda sebenarnya tidak bisa memasak dia hanya akan membawa masakan lestoran dan dijadikan makanan buatannya untuk diberikan pada Algi dan Roni.
"Ah aku juga harus menghormati yang sudah sangat berpengalaman, " Melinda mencoba menghindar.
"Tidak, tidak, aku tidak terlalu suka nasi itu jadi untuk bikinnya pun tidak pernah!" sahut ibu itu dan membuat Melinda mengepalkan kedua tangannya, lalu menatap Algi lalu tersenyum di paksakan.
__ADS_1
"Iya deh! " Melinda menyengir kuda, tapi Algi tidak merespon dia hanya diam saja dan ekor matanya sibuk menatap Aldara yang berada di meja sampingnya.
Senyum Aldara yang manis itu membuat hati Algi bergetar, dia merasakan hal yang berbeda saat di dekatnya terasa nyaman dan tidak ingin jauh serta rasa ingin memiliki yang mendominasi. Di tambah perlakuannya yang baik pada Roni, membuat nilai tambah bagi rasa yang tengah di geluti Algi untuk Aldara.
Sebelum lomba dimulai Melinda sibuk dengan ponselnya, dia tengah membaca artikel tentang cara membuat nasi tumpeng.
Beras, sayuran, bumbu dan bahan makanan lainnya sudah siap di masing-masing meja. Sang guru pun sudah berteriak menghitung mundur membuat semua peserta tidak sabar.
"Satu! Ayo semangat! " kalimat terakhir dari guru itu terdengar, kini semua yang berada disana sibuk dengan alat masaknya.
Aldara sibuk dengan ulekan dia menyuruh yang lain untuk mencuci beras serta memotong sayur.
Saat mengulek bumbu tanpa sengaja Aldara menatap sebuah pohon yang membuat dia mengingat sesuatu.
"Pohon itu seperti mirip dengan yang ada di foto itu," gumam Aldara dan dia juga melihat ada sebuah rumah kayu di dekat pohon itu menghadap danau, dia pun menyipitkan matanya memperjelas penglihatannya.
Algi yang menatap Aldara sedikit merasa aneh karena Aldara selalu melihat kedepan dan bicara sendiri, hingga akhirnya dia pun ikut melihat kedepan dan kini membuat dirinya terkejut.
"Rumah kayu itu, persis seperti di sobekan foto itu tapi aku tidak tau ada pohon besar disampingnya apa karena terhalang oleh badan kak Dinar kali ya!" gumam Algi dan hal itu terdengar oleh Melinda.
"Kamu bicara sama siapa Al? " tanya Melinda seraya mengikuti arah pandang Algi.
"Tidak! " sahut Algi dan mengalihkan pandangannya.
"Rumah itu sepertinya sudah tua ya dan tidak ada penghuninya! " terka Melinda dan Algi hanya mengangguk menanggapi.
Kini semua aktifitas itu telah dikerjakan setelah memakan waktu tiga puluh lima menit, terlihat nasi tumpeng grup Helen telah matang tinggal menghiasnya saja.
"Kita hias dulu wadahnya dengan daun pisang, dengan melipat daun pisang seperti ini lalu kita jejerkan di bagian sisi wadah ini! " beri tau Aldara pada grupnya, Helan dan anak lainnya pun sibuk dengan daun pisang yang dilipat dan dibentuk persegi tiga itu, sedangkan orang tua yang lainnya sibuk membentuk nasi menjadi seperti krucut, dan ada pula yang sedang membentuk tomat seperti bunga.
__ADS_1
Orang lain pada sibuk, Aldara kemabali memandangi pemandangan di depannya. Dia merasa tempat itu lah yang berada di foto itu.
"Aku harus mencari sobekan yang satunya lagi! Tapi dimana?" gumam Aldara dalam hati, hingga Aldara mengingat bahwa Rumi pernah menanyakan foto itu.
"Mungkin bibi tau sesuatu tentang foto itu! " kembali gumaman hati Aldara.
Algi pun sama dia menjadi penasaran dengan tempat itu, dia berniat akan menghampiri rumah kayu itu nanti saat lomba usai.
"Baiklah kini tinggal dua puluh detik lagi, cepat selesaikan nasi tumpengnya! Semangat buat orang tua serta para murid!" suara sang guru dari alat pengeras itu.
"Ibu Melinda akhirnya selesai juga! " sahut salah seorang orang tua dari murid di grup itu.
"Hah ujung-ujungnya aku saja yang masak dan mengarahkan! " sindir ibu setengah baya itu.
"Tadi aku bilang biar kamu saja yang jadi ketuanya tapi menolaknyakan! " sahut Melinda.
"Aku pikir yang muda akan lebih enak masaknnya, mengingat Daddynya Roni bilang kalau kamu suka masak kan dan enak juga masakanmu itu! " ucap ibu setengah baya itu, sedangkan Melinda mengeraskan rahangnya dia pun menoleh pada Algi yang tengah menggelangkan kepalanya pada Melinda.
"Aku hargai usahamu untuk menarik perhatianku dan Roni tapi kalau tau kami telah dibohongi rasanya kesal juga ya Melinda! " ucap Algi dan Melinda kini merasa marah pada ibu setengah baya itu, karena menurut Melinda ini semua gara-gara ibu itu yang membongkar kedok Melinda.
"Dasar ibu-ibu gemuk yang bawel! " ujar Melinda dan terdengar oleh ibu setengah baya itu.
"Kau mengataiku? " tanya ketus ibu setengah baya itu menatap Melinda dengan matanya yang membulat sempurna di tambah tangan besarnya yang memegang pinggang.
"Iya kenapa, bukankah hal itu fakta!" sahut Melinda, dan kegaduhan digrup itu tidak bisa di elakan membuat Roni memijat kepalanya karena pusing mendengar pertengkaran meraka. Sedangkan Algi hanya terdiam ditengah kesibukan orang untuk memisahkan Melinda dan ibu setengah baya itu.
🌺🌺JANGAN LUPA LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE YA🌸🌸
BACA JUGA NOVEL KARYA AUTHOR YANG UDAH TAMAT JUDULNYA GURU DUNIA AKHIRAT.
__ADS_1