
"Ada apa ini?" tanya Algi pada jefri dan Aldara.
"Ada apa dengan bibirmu Al? " Jefri malah balik bertanya membuat Algi membuang muka, sedangkan Aldara menunduk dan duduk dikursinya, mencari kesibukan sendiri.
"Bukan urusanmu! " sahut Algi dengan ketus,
"Kenapa kau kemari lagi?"
"Ada yang ingin aku bicarakan! " sahut Jefri.
"Masuk! " Algi kembali keruang kantornya dan di susul oleh Jefri.
Diruang kantor Algi menatap Aldara dari kaca, senyumnya mengembang ia seakan senang kalau Aldara berada di dekatnya entah karena apa? Mungkinkah karena Aldara wanita yang berbeda? Walau pun dia hampir membunuhnya, tapi tidak dipungkiri bahwa hal itu yang semakin menarik perhatian Algi terhadap Aldara.
Jefri duduk disofa dan sibuk memandangi foto diponselnya, hingga Algi yang berada di sampingnya sedikit mengernyitkan alisnya karena dia tau foto siapa yang Jefri liat.
"Kenapa kau mempunyai foto keluarga Aldara? "tanya Algi.
"Siapa Aldara? " Algi menyembunyikan ponselnya.
"Sini aku liat! " pinta Algi, dia tidak terima jika ada yang menyimpan foto Aldara sedangkan dia nya sendiri tidak punya.
"Tidak, ini privasi! " tolak jefri dan mengalihkan pandangannya.
Algi merogoh paksa ponsel Jefri di saku celananya, dan Jefri pun berusaha agar ponselnya tidak sampai ketangan Algi.
"Sini! "
"Ada apa denganmu? "
"Berikan ponsel itu! "
"Tidak akan! "
"Permisi! " Aldara menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan terkejut melihat Algi dan jefri yang saling berdekatan dan saling memegang tangan, padahal bukan seperti yang ada di pikiran Aldara yang sesungguhnya. Jefri dan Algi pun saling menjauh tatkala melihat Aldara di balik pintu itu.
"Maaf menggangu! " ucap Aldara, dan hendak menutup pintu.
"Ada apa?" tanya Algi pada Aldara dan Aldara pun menoleh lalu memasuki ruangan itu.
"Dua jam lagi akan ada pertemuan dengan kolega di lestoran," beritahu Aldara.
__ADS_1
"Lestoran mana? "
"Pihak dari sana menginisiatifkan dari -"
"Carikan lestoran yang bagus dengan makanan yang tentunya enak, di daerah kota ini saja, " ucap Algi menimpali ucapan Aldara yang sudah tau maksud dari ucapannya itu.
"Baiklah, "
"Dan siapkan beberapa berkas untuk di bawa!" titah Algi dan membuat Jefri mengerutkan dahinya bingung.
"Baiklah, " Aldara pun beranjak pergi, sedangkan tatapan Jefri mengarah pada Algi yang tidak lepas memperhatikan Aldara.
"Algi kau bertemu dengan kolega mana? " tanya Jefri.
"Tidak perlu tau, kau cukup hapus foto yang tadi! " Algi beranjak dan menghampiri kursinya sendiri.
"Foto mana? " tanya Jefri membuat Algi geram.
"Yang tadi kamu tatap di layar ponsel mu! "
"Yang ini! " Jefri mengangkat ponselnya tinggi agar Algi bisa melihnya.
"Oh, kamu mau foto ini sampai mau berebutan dengan ku! Apa kau menyukai Rumi atau keponakannya atau anak kecil ini? " goda Jefri, membuat Algi tersenyum masam di buatnya.
"Tidak ada yang aku suka,!"
"Terus kenapa? "
"Jika tidak ada hal lain Om boleh keluar! " ucapan Algi membuat Jefri menyeringai.
"Ah! Aku lupa mau bicara denganmu, hati-hati dengan sekertaris pribadimu itu, jangan sampai semua rahasia mu dia tau! "
"Apa maksudmu, jangan menghasutku! " teriak Algi.
"Kali ini aku tegaskan, jangan terlalu terbuka dengan dia!" Jefri menatap Algi dengan tatapan tegasnya.
"Dia sudah bekerja semenjak ayahku menjabat, jadi mana mungkin dia berkhianat! " Algi berdiri menatap Jefri.
"Jadi petinggi jangan sampai lengah dengan orang dekat, terkadang orang dekat hanya akan memanfaatkanmu demi kepentingannya dan kebaikannya hanya hasutan agar kau merasa diperhatikan!" terang Jefri.
"Hentikan ucpanmu itu, bahkan kau yang-"
__ADS_1
"Apa? Kau mau kembali mengungkit soal kecelakaan itu! Kau tau mobil itu sebelum dikendarai oleh kakakmu sempat dibawa sekertaris pribadimu itu! Dan kau tau alasan kenapa Hong Company bisa menjadi anak dari perusahaan ini, dan membuat yang punya meninggal! Dan apakah kau tau mengapa kita menjadi berpecah seperti ini, aku yang dulunya dekat denganmu menjadi sangat jauh bahkan kau membenciku! Ibumu pun terasa jauh dariku dan kamu! Apa kamu tidak menyadarinya! " terang Jefri dengan amarahnya. dia sudah sangat lelah menjelaskan seribu kali pun pada Algi tapi dia tidak mempercayainya.
"Hong Campany?" gumam Algi.
"Itu adalah perusahan mertua dari kakakmu! Mereka bekerja sama setelah pernikahan Dinar dan Sarah berlangsung, karena suatu salah paham yang membuat kakakmu marah pada Sarah dan mengakibatkan kakakmu membuat perusahaan itu bangkrut!" Jefri menghampiri keponakannya itu.
"Dan lagi, apa kau sengaja membuat wanita itu dekat denganmu! Apa kau mengetahui sesuatu? " Selidik Jefri menatap Algi.
"Apa maksudmu? " Algi tak mengerti dengan ucapan jefri.
"Kalau dilihat, wanita yang menjadi sekertaris itu mirip Sarah! " Jefri menoleh pada Aldara yang berada di balik kaca itu.
"Aldara adik iparnya Mas Dinar maksudmu? " Algi pun menoleh pada Aldara yang sedang sibuk dengan komputernya.
"Aku tidak bicara begitu, hanya saja agak mirip. Apa kamu lupa dengan wajah kakak iparmu? Dan di lihat dari responmu kau menyukai dia bukan ada maksud terselubung kan! " Jefri kembali menoleh pada Algi.
"Sekarang juga kamu keluar dari kantorku! " Kembali Algi mengusir Jefri, pikirannya sekarang seperti benang yang melilit tidak beraturan. Perkataan Jefri kali ini dia tanggapi, mengingat bahwa Aldara tadi seperti kenal sama Fadil. Mungkinkah benar ada sesuatu? Algi semakin penasaran dengan Aldara.
"Kau selalu mengusirku, percayalah aku merindukanmu yang dulu seperti menganggap aku ayahmu! Aku akan senantiasa berada di pihak dimana keluarga kita bisa bersama lagi! Pikirkan semua hal yang aku ucapkan dari lima tahun belakang itu! " Jefri berbalik dan keluar dari ruang kantor itu menyisakan Algi yang tengah termenung.
Jefri menutup pintu ruang Algi dan di sana dia di sapa oleh Aldara dengan senyumnya, dia baru menyadari memang senyum itu mirip dengan istri keponakannya yang telah tiada itu. Jefri hanya membalas senyuman itu dengan anggukan.
Disepanjang jalan keluar dari perusahaan milik Algi, Jefri memikirkan sesuatu jika Aldara benar adik dari sarah berarti Rumi itu adalah bibinya Sarah juga.
"Tapi Rumi terlihat seumuran dengan ku, kenapa dia belum menikah padahal dia cantik dan manis, " gumam Jefri lalu dia mengingat lagi tentang Rumi dan dirinya di toko itu.
"Tentu saja dia belum menikah, bicaranya pedas kaya cabai setan! " Jefri segera menghampiri mobilnya.
Beberapa jam berlalu. kini Algi dan Aldara menemui kolega dari perusahaannya yang merupakan seorang laki-laki dan perempuan.
"Apa kabar Pak Algi, sudah lama kita tidak bertemu? " ucap laki-laki paruh baya itu lalu berjabatan tangan dengan Algi.
"Saya baik, dan Anda juga terlihat baik! Bukan begitu? " sahut Algi dengan senyumnya, dan membuat Aldara melongo karena baru kali ini dia melihat Algi tersenyum manis seperti itu.
"Yang disebelah Anda apakah calon istrimu? " tanyanya, membuat Algi menoleh pada Aldara sedangkan Aldara sendiri hanya terdiam.
"Iya, "
Hai Jangan lupa, like, komen, favorit dan vote ya.
Ikuti terus ceritanya......
__ADS_1