Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Aku mencintaimu


__ADS_3

Suara benda tajam bergesekan, dan suara pistol yang memekikan telinga. Tinju serta pukulan yang dahsyat dari anggota Aldara untuk anggota Fadil, membuat Fadil kembali mengarahkan pasukan yang dia punya untuk bergabung.


"Lumayan juga! " Ujar Fadil menatap anggotanya yang hampir gugur.


"Kami wanita tangguh dan kekuatan mu hanya seujung kuku, mana bisa mengalahkan kami! " Aldara mengarahkan pistol pada Fadil.


Trang


Aldara berhasil menembak senjata tajam yang Fadil pegang. Tapi Fadil dengan gencar mengambil pistol di saku jaketnya dan menoleh menatap Aldara.


Dor


"Aku yang akan membuat mu mati terbunuh dengan mengenaskan, melebihi sakit yang Kak Sarah rasakan! " Ucap Aldara, setelah menembak tangan Fadill dan membuat pistol yang digenggamnya tergeletak ditanah.


"Tidak akan! " teriak Fadil menyeringai.


"Ald! Awas! " Rumi berteriak.


Bruk


Dor


Aldara terhempas ketanah dengan dipeluk seseorang serta bergelinding di tanah


"Kau tidak apa-apa? " tanya Algi khawatir, Aldara sesaat terkejut mendapati Algi yang menolongnya.


"Apa kau tuli! Jangan menyentuhku! " Aldara terbangun, dan kembali berdiri dan terkejut melihat pasukan Fadil yang bertambah banyak sedangkan kini pasukan Aldara tinggal 45 orang saja.


"Sial! " Aldara mengepalkan tangannya dengan erat pada pistol itu.


Rumi yang lihai mengayunkan parangnya dengan gerakan beladiri yang dikuasainya, membuat Jefri menatap nya kagum pada sang istri.


Srak


Srak


"Kalau dalam lingkungan seperti ini jangan melamun! " teriak Rumi kesal pada suaminya, bisa-bisanya dia sempat terdiam tadi pun hampir saja Jefri terbunuh kalau Rumi tidak bergerak cepat.


"Oh my darling i love you! " Jefri malah terkesima pada Rumi, dan hal itu bukan membuat Rumi tersipu tapi malah membuatnya kesal.


"Kalau kau ingin kita berpisah selamanya, lakukan saja seperti itu jangan bergerak! " Rumi kembali menyerang pasukan Fadil, dan Jefri pun akhirnya tersadar.


Dor


Jefri menembak dada anggota Fadil yang sempat akan membunuhnya.


"Tentu saja aku tidak akan berjauhan dengan kesayanganku! Aku ingin hidup selamanya bersama Rumiku! " Jefri tersenyum dan menghampiri Rumi, dia mencoba melindungi dan membantunya.


Anggota Fadil terus terusan bertambah membuat anggota Aldara melongo, hingga Aldara tanpa ampun menembak musuh disekitarnya sampai tumbang di tanah.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah demi kakak dan keluargaku!" Aldara segera membuang pistol kosong itu dan mengambil pistol lain di saku jaketnya.


Algi yang melihat Aldara tersenyum, dia tidak menyangkan wanita yang terlihat anggun dan cantik itu pintar dalam metode taktik peranng serta menguasai ilmu menembak dan bela diri.


"Maafkan aku Ald! " kembali gumaman itu terlontar dari mulut tebal milik Algi.


"Bos bagaimana ini? " ucap wanita tegap itu yang berdarah di sudut pipinya.


"Teruskan, mau seribu lagi pun aku akan layani! " sahut Aldara, mengacugkan pistol dan belati di masing-masing tangannya, dan hal itu membuat anggota Aldara semakin semangat.


"Baiklah! " wanita tegap itu berlari dengan golok ditangannya.


Tidak terelakan anggota Aldara kali ini kalah saing melawan pasukan Fadil yang bertambah banyak tapi mereka belum menyadari, kali ini yang terjadi.


"Sekarang! " Algi mengacungkan pistolnya dan menembak udara, membuat Fadil melongo.


"Bagus Algi! Kita akan menang! " gumam Fadil.


Seribu pasukan Algi kerahkan, bukan untuk mengahabisi anggota Aldara dan Jefri yang tersisa tapi untuk menghabisi pasukan Fadil yang sebenarnya tinggal dua ratus orang saja.


"Kenapa pasukan Algi menyerang pasukanku! " ucap Fadil dan dirinya kini merasa was-was.


"Apa aku masih dipihakmu? Jangan berharap! " teriak Algi.


Dor


Sekertaris pribadi Algi tergeletak di tanah dengan mengenaskan, akibat pluru Algi yang menancab dadanya.


Aldara terus mebidik musuhnya dan melesatkan pluru serta menggoreskan blati itu tanpa ampun, hingga Aldara merasa bingung karena sebagian orang yang dirasa musuh oleh Aldara tidak melawannya.


"Apa mereka pasukan Jefri? " tanya Aldara pada dirinya.


"Terserah sekarang targetku adalah Fadil! " Aldara menghampiri Fadil dengan berbagai rintangan hingga akhirnya dia bisa menembak bahu Fadil.


"Kau! " Fadil menoleh dan mengacungkan pistol itu tepat di bagian kepala Aldara.


Mata yang tajam memarah serta pergerakan gesit yang dimiliki Aldara, melesatkan tiap tembakan Fadil yang mengarah padanya hingga tangan Aldara yang memegang pistol itu, membidik Fadil dengan rasa amarah yang membuncah.


Dor "Untuk kak Sarah! "


Dor " Untuk ayahku"


Dor "Untuk perusahaanku"


Aldara tanpa ampun menembak Fadil, dia sengaja membuat pluru Fadil habis dengan terus menghindarinya, dan sekarang dia bisa membunuh Fadil sesuka hatinya hingga tanpa disangka pistol yang Aldara pegang mengarah pada Algi yang tengah menghabisi anggota Fadil.


Seketika Algi menoleh dengan tangan yang masih memegang pistol, dia terkejut karena Aldara menodongnya, tapi tak lama Algi tersenyum lalu menurunkan senjata yang sempat terarah pada Aldara.


"Jika dengan membunuhku kau puas maka bunuhlah aku! " Algi menghampiri Aldara dengan air mata yang menggenang di pelupuknya.

__ADS_1


"Kenapa kau seperti ini, pengecut! Bukankah kau benci dan dendam padaku! Mari kita tuntaskan dan lawan aku! " teriak Aldara masih mengarahkan pistol itu ke arah Algi.


"Tidak! Aku memang layak mendapatkan ini darimu, maaf! " Algi tertunduk dan membuat Aldara geram, hatinya sakit melihat Algi seprti itu.


Bukh


Bukh


Bukh


"Lawan aku bodoh! " Aldara memukul Algi tanpa henti dan entah sejak kapan Aldara menitikan air matanya, tapi Algi tidak meladeninya dia hanya terdiam dan terduduk ditanah.


"Kenapa berhenti? " Algi menatap nanar Aldara yang berhenti memukulinya. Algi tampak berdarah dibagian mulut dan lebam dimukanya ulah Aldara, tentu saja sakit tapi Algi menganggap itu tidak ada tandingannya dengan rasa sakit yang Aldara rasakan akibat ulahnya.


Bukh


Bukh


Bukh


"Kau menghacurkan hidup ku Algi! " teriak Aldara memukul tubuh Algi.


"Kau menghinaku! " kembali Aldara berteriak, dan memukul Algi sampai tersungkur ketanah.


Aldara menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis pada dirinya walau air mata itu terus berjatuhan.


Rasa cinta yang Aldara miliki pada Algi tidak bisa membuatnya leluasa untuk membunuhnya, walaupun bisa, diri dan hatinya menolak hingga tangannya gemetar menatap benci dan sayang pada Algi yang kini mencoba untuk berdiri.


"Pakailah senjatamu! Aku hidup pun tidak akan ada gunanya jika kau selalu membenci dan menatapku dengan tatapan muak serta amarah. Rasa bersalah akan selau menghantuiku jika aku masih hidup tanpa senyumanmu, aku tidak akan pernah sanggup karena aku sangat menyukaimu dan tidak bisa kalau kau selalu menghindariku! Aku salah! Walau kata maaf sampai mulutku berbusa pun tidak kau terima,tetap akan aku lakukan sampai aku mati! Aku tidak sanggup kau benci maka bunuh saja aku! " Algi berdiri dengan tertatih menghampiri Aldara dengan senyum manis merekah diwajahnya, serta air mata yang melewati pipinya tatapan teduh dia lontarkan pada sosok kesayangannya.


Tidak ada penyesalan diawal, Algi sudah pasrah dengan dirinya yang telah membuat Aldara semakin membencinya. Mati pun tidak akan penasaran ketimbang hidup tapi diliputi rasa berasalah selamanya.


"Aldara Anggraini aku mencintaimu! " Algi terus berjalan menghampiri Aldara, rasa sesak dia rasakan. Karena baru kali ini dia mengungkapkan perasaan yang paling dalam dalam relung hatinya.


Hati Aldara bergetar, menatap sedih pada pria dihadapannya yang menyerahkan hidupnya. Terlihat pistol itu mengarah tepat pada Algi, dengan tangan bergetar dan hati yang berdebar.


Dor


Pluru itu melesat tapi bukan pada tubuh Algi melainkan pada anggota Fadil yang akan membunuh Algi. Sedangkan jantung Algi berdebar, dan terduduk lemas ditanah.


"Kenapa kau tidak membunuhku juga! Aku akan senang jika kau senang melakukannya!" teriak Algi.


"Kalau begitu biar aku sendiri yang akan membuatku terbunuh, biar kau puas! " Algi mengarahkan pistol itu tepat dikepalanya.


Tlak


Aldara membanting pistol yang di pegang Algi, air matanya berjatuhan tanpa henti.


"Setidaknya kau harus memutuskan mati jika benihmu tidak akan tumbuh dirahimku! " Aldara mengusap air matanya, lalu pergi meninggalkan Algi dengan tatapan melongo.

__ADS_1


JANGAN LUPA


LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE......


__ADS_2