
Aldara menundukan kepalanya di meja, setelah memberikan berkas dari ruangan Algi rasa pusing itu semkin menjadi sampai Aldara tidak bisa menahannya.
"Ald tolong berikan kembali berkas ini ke Pak Algi, sepertinya tadi tertinggal. " suruh ibu menejer tapi Aldara hanya terdiam membuat ibu menejer aneh.
"Ald, " kembali dia memanggil Aldara tapi tidak ada sahutan.
"Aldara! " pekik ibu menejer lalu mendekati Aldara.
"Ald kamu kenapa? " tanya ibu menejer menggoyangkan bahu Aldara yang tidak sadarkan diri itu.
"Ya ampun, kau pingsan! " Ibu menejer terkejut dan dia pun mulai mencari bantuan. Sampai dia bertemu dengan Andris di lorong menuju ruangannya.
"Tolong sekertatisku pingsan," ucap ibu menejer dan Andris pun dengan cepat berlari ke meja Aldara. Dia yang akan menemui Aldara untuk menagih janjinya yang akan makan itu, malah harus melihat Aldara pingsan seperti itu.
"Ald sadarlah! " gumam Andris menggendong Aldara dan berlari menuju keluar serta menghiraukan ibu menejer.
"Ald dia ganteng, aku yang single ini jadi terpincut. Kalah sama janda aku! " Ibu menejer menghentakan kakinya menuju ruangannya.
Andris menjadi pusat perhatian karena menggendong Aldara yang tidak sadarkan diri, hingga beberapa OB menolongnya membukakan pintu mobil.
Andris secepat kilat membawa Aldara ke rumah sakit, rasa khawatirnya menjadi sebelah tangannya memegang kening Aldara dan tentu saja Aldara panas, dia demam dan terlihat pucat.
"Ald sadarlah! " seru Andris.
Mereka telah sampai di rumah sakit, Andris segera menggendong kembali Aldara menuju gedung RS itu dan membawanya ke UGD.
Algi yang tadi sempat melihat Andris menggendong Aldara yang tidak sadarkan diri, pemikirannya terganggu.
"Apa ada yang menggangumu?" tanya seorang laki-laki paruh baya, tentu saja itu sekertaris pribadinya.
"Cari tau siapa Aldara itu secara detail, nanti sore harus sudah ada laporan!" titah Algi dan sekertaris itu tersenyum.
"Baiklah, untuk posisi sekertaris yang baru kami sudah mendapatkannya! " ucap sekertaris itu sambil memberi tahu.
"Harus benar-benar terpercaya dan bisa menjaga mulutnya!" hardik Algi hingga suara ponselnya berbunyi.
"Hallo apakah ini keluarga Aldara? " tanya seseorang di sebrang sana, Algi merasa aneh lalu melihat layar ponselnya dan dia baru sadar kalau yang menelepon adalah nomor Aldara.
"Iya, " jawab Algi entah apa yang dia pikirkan.
"Saya Andris pacarnya Aldara, dia tengah terbaring di rumah sakit karena demam. Maaf memberi kabar buruk, saya akan menjaganya. " ucapnya di sebrang sana, membuat Algi tersenyum sinis.
"Urus saja dia! Tidak ada urusannya denganku! " sahut Algi cepat lalu mematikan sambungan telponnya, ponselnya pun dia banting ke sofa entah lah kenapa menjadi kesal Algi sekarang.
Sedangkan Andris tersenyum di ruang rawat Aldara, dia pun kembali menyimpan ponselnya di saku celana Aldara yang belum tersadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Permisi Pak, saya akan mengganti baju pasien karena baju yang dia kenakan basah! " ucap perawat pada Andris.
"Tentu saya akan menunggu diluar! " sahut Andris dan keluar dari ruangan itu.
"Aldara ternyata cintamu bertepuk sebelah tangan, di ponselmu laki-laki itu kamu kasih nama my hubby tapi dia seakan tidak memperdulikanmu. Tapi tenang saja aku tulus kok cinta sama kamu Ald! " gumam Andris, dan tersenyum membayangkan kemarahan laki-laki itu kini pada Aldara karena dia mengaku pacarnya.
"Maaf Ald aku hanya berusaha, bukankah sebelum janur kuning melengkung kemungkinan aku bisa mendapatkanmu dengan caraku! " kembali Andris bergumam. Suara pintu pun terbuka sepertinya perawat itu telah selesai.
"Mari Pak! " pamit perawat itu Andris pun kembali masuk dan kembali merogoh ponselnya untuk mencari keluarganya, setidaknya mereka perlu tau.
Tapi saat Andris sudah meletakan tangannya di atas saku, Aldara tersadar dan terkejut mendapati Andris di sana.
"Kamu? " Aldara heran karena ada Andris. Dia pun melihat sekeliling yang tersadar kalau dirinya berada di rumah sakit.
Andris pun terkejut lalu menarik kembali tangannya
"Apa kamu sendirian bawa aku ke rumah sakit? Kamu bisa tahu aku sakit darimana?" pertanyaan Aldara kepada Andris.
Andris pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu dia pun berbicara," Aku tadinya berniat untuk mengunjungi mu tapi Ibu menejer mengatakan kalau kamu pingsan,
makanya aku segera membawamu pergi ke rumah sakit," sedangkan Aldara hanya mengangguk mengerti.
"Apa aku sekarang bisa pulang?" tanya Aldara.
"Tapi sekarang tubuhku mulai mendingan bisakah aku pulang sekarang saja?" ucapan Aldara membuat hati Andris bahagia, dia merasa kalau Aldara tengah merajuk kepadanya, Andris pun beranjak pergi.
"Andris kamu mau kemana? tanya Aldara.
Andris pun menoleh lalu tersenyum dan menjawab "Aku akan menemui dokter,"
Aldara pun kembali tersenyum dibalik mukanya yang sedikit terlihat pucat , "Maaf aku telah merepotkanmu!"
Andris pun kembali tersenyum lalu menatap Aldara, " Tidak apa-apa aku senang melakukannya karena itu aku-" ucapan Andris terpotong tatkala dia akan mengungkapkan isi hatinya Aldara pun hanya mengernyitkan alisnya bingung sedangkan Andris ,dia beranjak dari ruang rawat Aldara menuju ruang dokter yang memeriksa Aldara tadi.
Sambil menunggu kabar dari Andris, Aldara mengambil ponsel dari saku celananya dia pun terkejut karena di di dalam panggilan keluar dia menemukan nama my hubby sedangkan Aldara tidak pernah menamai itu di ponselnya, karena penasaran Aldara menelepon nomor itu lalu suara deringan ponsel tersambung pun terdengar.
"Halo!" ucap Aldara.
"Kenapa kamu meneleponku? Apa kamu sudah tidak punya keluarga lagi kenapa terus menghubungiku!" jawab Algi di seberang telepon sana , Aldara kembali bingung dia merasa kenal dengan suaranya hingga dia pun menanyainya.
"Apakah anda CEO perusahaanku bekerja?" tanya Aldara dengan polosnya.
"Jika tidak ada hal penting jangan meneleponku, bukannya pacarmu setia menunggumu di rumah sakit! Aku sibuk tidak bisa menerima ponsel dari orang asing!"ucap Algi lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Kini Aldara pun mengerti ternyata ada yang mengganti nama Algi menjadi my hubby di ponselnya dan sekarang dia pun tahu kalau itu pasti perbuatan anaknya Helen .
__ADS_1
"Dia bilang pacarku menunggu, dan dia tau aku di rumah sakit! " gumam Aldara, hingga dokter pun kembali dengan Andris di belakangnya yang mulai menghampirinya.
"Bisakah aku pulang sekarang?"tanya aldara pada sang dokter.
"Jangan pulang dulu sebelum cairan infus ini habis!" kata dokter Aldara pun hanya mengerucutkan bibirnya dia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit apalagi yang menemaninya adalah Andris.
Aldara merasa kaku dan canggung kepadanya karena dia tau kalau Andris menyukainya sehingga Aldara pun mencoba untuk menjaga jarak dengannya tapi selalu gagal karena Andris selalu mendekatinya.
"Saya sudah sangat sehat dokter seru Aldara!"
"Baiklah, kalau anda memaksa nona !"pasrah dokter.
"Asalkan saya tidak tanggung jawab jika anda pulang dan kenapa-napa!" ancam sang dokter supaya Aldara tidak memintanya pulang sekarang.
Aldara pun mengerti kalau itu hanya sebuah ancaman kecil, dia mengangguk sang dokter pun tidak bisa berkutik Aldara dengan kekeh ingin pulang dari rumah sakit itu.
Andris yang melihat hal itu hanya tersenyum dia mengerti karena Aldara merasa canggung kepadanya dan hal itu yang membuatnya tersenyum miris. Tepat di depan Rumah Sakit Aldara memang masih sedikit pusing sedangkan Andris hanya menatapnya nanar dia tidak menyangka kalau Aldara sebegitu tidak ingin nya kah bersama dirinya.
"Ald apakah kamu canggung kepadaku? Jika kamu tidak ingin aku temani kau bisa menelepon keluargamu dan kembali dirawat di rumah sakit ini sampai kamu pulih, dan aku akan pulang," ucap Andris.
"Tidak, aku tidak kenapa-napa ini cuma demam dan aku bisa mengatasinya sendiri tidak harus diinfus di rumah sakit karena ini bukan penyakit yang berbahaya," sahut Aldara sambil terkekeh.
"Aku tahu kau mencoba menghindariku, karena sebelum-sebelumnya kamu selalu merasa canggung bila di dekatku, maka bisakah aku berbicara sekarang?" tanya Andris yang membuat Aldara bingung.
"Kau akan menanyaiku apa?" tanya Aldara dan dia pun langsung mengerti Aldara berfikir kalau Andris akan mengutarakan perasaannya dan hal itu yang sangat dihindari oleh Aldara. Karena dia bakalan tidak bisa menjawabnya. Jika dia bilang iya dia tidak bisa mencintai Andris, sedangkan kalau dia menolak Andris dia akan merasa canggung karena Andris selama ini selalu baik kepadanya hingga Aldara pun mempunyai suatu ide.
"Mungkin pembicaraan kita besok saja di kantor, sekarang aku cuma ingin istirahat di rumah saja dan memulihkan rasa sakit dan nyeri ku," ucap Aldara dan Andrispun mengangguk dia kembali mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Baiklah aku antar kamu ke rumah ya,"ucap Andris .
"Iya," kata Aldara. Sebenarnya dia ingin menolak tapi dia merasa tidak sopan kalau terus menolak Andris. Sesampainya di halaman rumah Aldara. Andris pun keluar lalu membukakan pintu untuk Aldara.
Aldara pun keluar lalu tersenyum" Terima kasih banyak atas semua yang telah kamu perbuat padaku, aku merasa hal itu terlalu berlebihan aku tidak bisa membalasnya, tapi aku akan mencoba membalasnya dengan perlahan," ucap Aldara dan membuat Andris tersenyum.
" Tidak usah membayar apapun aku ikhlas!" sahut Andris .
"Tidak bisa aku tahu karena kamu melakukan hal tersebut ada maksud dibalik itu semua," ucap Aldara
" Maafkan aku membicarakan ini kepadamu,"sambung aldara.
"Ternyata kamu menyadarinya! " ucap Andris
"Maafkan aku," kata Aldara ,Andris pun hanya tersenyum getir dia pun kembali memasuki mobilnya tanpa berucap apapun kepada Aldara, sampai mobilnya sudah tidak tampak dari pandangan matanya.
💞JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE NYA
__ADS_1