Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Hamil !


__ADS_3

"Algi mau lagi! " Ucap Aldara pada Algi.


"Ald apa kamu sadar kalau kali ini kamu kekanakan, setelah kamu tadi acuh padaku? " tanya Algi dan tentu saja membuat Aldara mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam pada Algi.


"Kalau tidak mau ya udah! " Aldara kembali ke kursinya, dan kembali menangis.


"Ald kau menagis lagi? " gumam Algi lalu menghampiri dan berjongkok dihadapan Aldara.


"Katanya kamu mencintaiku, kau lebih perhatian bahkan kau bilang hatimu hanya untuku. Aku minta cilor saja kau sampai membentaku!" Aldara mengusap pipinya yang penuh dengan air mata, dan membuat Algi mengerutkan dahi serta menggaruk kepalanya heran.


"Bahkan aku tidak membentaknya!" ucap Algi dalam hati.


"Iya aku belikan! "


"Seratus tusuk! " mata Aldara sangat berbinar mendengar kalau Algi akan membelikannya lagi.


"Apa! " Algi terkejut, apa bisa nantinya habis semua?


"Kenapa? " Aldara mulai cemberut


"Iya-iya sekarang aku pergi nih udah jalan, tunggu ya! " Algi bergegas keluar untuk membeli cilor lagi.


Beribu pertanyaan melintas dipikiran Algi, bukan hanya ingin cilor tapi makanan lainnya. Jika Aldara menginginkannya dia akan bertingkah sama seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada orang tuanya. Memang yang diinginkan Aldara hanya makanan tapi berporsi jumbo.


Seratus tusuk cilor telah terhidang di meja, Aldara yang tadinya fokus pada leptopnya kini pandangannya melongo menatap lapar pada cilor itu.


"Wah wanginya cilor ini, kau jangan minta! " Ucap Aldara ketus sambil menangkup semua cilor itu.


"Silahkan, aku tidak mau! " sahut Algi dan senyum itu terlihat manis diwajah Algi.


"Ald kita nikah ya! " tiba-tiba Algi berbicara tapi Aldara hanya manggut saja dengan tanpa sadar, karena hanya fokus pada cilornya, membuat Algi menelepon seseorang segera.


Eueueeu


Suara sendawa Aldara menggema di ruang itu dan tentu saja masih ada Algi.


"Khm spontan! " Aldara memalingkan wajah malunya, sedangkan Algi tertawa kecil menaggapinya.


"Hah mungkin gila berat cintaku pada mu Ald, aku tidak merasa jijik sedikit pun!" gumam Algi menatap Aldara dengan senyumnya.


"Oh ia tadi kamu bicara apa saat aku makan cilor? " tanya Aldara dan Algi hanya tersenyum kecut menanggapi.


"Kita nikah! "


"Apa? "

__ADS_1


"Kita nikah, ucapku dan kau menggut kan? mungkin satu minggu lagi kita akan menikah! " Algi tersenyum sangat lebar.


"Aku manggut, ia aku manghut yah! " Aldara tersenyum di paksakan.


"Hah kenyang ya sampai perutku besar! " Aldara menyentuh perutnya, dan Algi yang melihatnya sedikit ada yang mengganjal.


"Ald kalau kenyang perutmu sebesar itu? " tanya Algi.


tuk tuk tuk


Suara pintu diketuk dan menampakan senyum merekah Raisa.


"Tante! " Aldara berdiri dan membalas senyum Raisa.


"Momih! " ucap Algi.


"Momih mau ngasih hadiah buat Aldara! " Raisa menghampiri Aldara dan menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang.


"Wah merepotkan tante, tapi terima kasih! " Aldara mengambil kotak itu.


"Ald panggil aku momih saja, dan tidak ada yang merepotkan kalau itu untukmu." Ucap Raisa lalu memeluk Aldara, dan tanpa sengaja pandangan Raisa tertuju pada plastik cilor yang masih berantakan di meja.


"Ald plastik itu bekas apa? " tanya Raisa heran karena sebanyak itu menumpuk di sana, sambil melepaskan pelukannya.


"Apa cilor? " tanya Raisa.


"Itu lho, tepung kanji yang di goreng bersama telur!" beritau Aldara.


"Oh yang pake tusukan sate itu? Mamih pernah melihat art memakannya waktu itu. Tapi seratus tusuk? Bukankah itu sangat banyak? Apakah habis? " berbagai pertanyaan dilontarkan Raisa, membuat Aldara tersenyum.


"Habis tante, akhir-akhir ini aku suka makan dengan porsi jombo tapi badanku tidak gendut malah perutku saja yang buncit! " Aldara mengusap perutnya seraya tertawa kecil.


Raisa yang melihat perut Aldara pun mengerutkan dahinya, bentuk besar perutnya itu tidak wajar kalau hanya sekedar kenyang.


"Ald bisakah momih memegang perutmu? " tanya Raisa penasaran dan Aldara pun hanya mengangguk.


Diusapnya perut Aldara perlahan, dan ditekannya pelan Raisa memandang Aldara yang tengar senyum kepadanya.


"Apa momih tekan dikit seperti ini sakit? " tanya Raisa.


"Tidak! " jawab Aldara.


"Hm Momih akan bertanya dan jawab dengan jujur! " Raisa menatap serius pada Aldara, sedangkan Aldara sendiri hanya mengangkat alisnya sebelah.


"Terakhir kamu menstruasi kapan? " tanya Raisa.

__ADS_1


"Oh itu aku juga tadinya mau konsul ke dokter karena hampir tiga bulan tidak mens! " jawab datar Aldara dan hal itu membuat Raisa menelan ludahnya sendiri.


"Aldara pernah tidur dengan siapa? Tapi mana mungkin kalau dia berbuat seperti itu, ini ada yang tidak beres! " tanya Raisa dan menatap tajam Algi.


"Kenapa mom? " tanya Algi karena tatapan Raisa itu.


"Ald maaf ya, waktu momih mengandung Algi dulu perut momih agak keras seperti itu saat menginjak 12 minggu dan-"


"Akhirnya Aldara hamil anakku! " Algi terlihat kegirangan sambil bersujud di lantai, dan hal itu membuat Raisa geram pada anaknya itu.


"APA!" tiba-tiba Rumi membuka pintu itu dengan kasar.


"Bibi! " Aldara membungkam mulutnya.


"Kau harus tanggung jawab pada keponakanku, kau yang telah mengambil paksa mahkotanya hingga tumbuh benihmu di rahimnya, " teriak Rumi dan sentak saja membuat Raisa semakin kesal pada anaknya itu


"Jelaskan detailnya! " Raisa menatap Algi nanar. Perasaannya sakit, dia seakan merasakan perasaan Aldara kali ini jiwa wanitanya keluar. Raisa tidak bisa membayangkan keluarganya kini lagi-lagi menyakiti Aldara. Jadi dirinya bertekad akan menganggap Aldara sebagai anaknya, memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.


Setelah semuanya jelas dan ada aksi memukul Algi, tentu saja Raisa yang memukul Algi. Walau anaknya dia juga harus berfikir resional, anaknya salah dan harus mendapatkan hukuman.


"Selamat nona Aldara sedang mengandung, sudah 13 minggu," ucap dokter kandungan.


Algi tentu saja senang luar biasa dia mencoba tersenyum walau wajahnya lebam ulah sang momih. Aldara hanya melongo, Raisa segera memeluk dan mencium Aldara kalau Rumi hanya menitikan air mata bahagianya, setidaknya ada titik terang menyoroti masa depan Aldara.


"Ald tinggal bahagianya sekarang! Semua beban berat telah kau pikul selama lima tahun lebih sendiri, aku hanya bisa membantu dan membuatmu semangat. Selama ini aku anggap kau bukan keponakanku tapi kau adiku sendiri," Rumi mengusap puncak kepala Aldara.


"Aku hamil? Tapi aku tidak merasakn hal seperti yang bibiku rasakan, mual di pagi hari, selalu terlihat lemas. bahkan ingin ini itu sampai yang tidak ada harus ada!" ucap Aldara masih tidak percaya kalau dirinya sedang mengandung.


"Anda adalah wanita tangguh, yang mengandung anak yang kuat. Tidak banyak wanita hamil seperti ini, tapi pasti ada perubahan yang signifikan! " sahut sang dokter.


"Tentu saja, dia selalu membenciku!" ucap Algi.


"Ia memang ada yang seperti itu, lagi hamil suami malah dibenci bahkan di bentak atau terkadang dalam sekejap dia bersikap manja pada suaminya jadi, buat bapak jangan sampai balas membentaknya harus lebih sabar dan tetap bersikap baik. Karena yang dikandung anak bapak! "jelas dokter kandungan dan tersenyum.


"Denger! " ucap Rumi dan Raisa bersamaan pada Algi, membuat Algi menunduk sedangkan sang dokter tersenyum lebar melihat tingkah ibu-ibu itu.


"Kau tumbuh dirahimku juga! " Aldara mengusap lembut perutnya dengam senyum dan air mata bahagia.


HAI READERS TERIMA KASIH SEBANYAK BANYAKNYA TELAH MEMBACA NOVELKU SAMPAI SINI,


JANGAN LUPA, LIKE,.KOMEN


MASUKAN FAVORIT


DAN KASIH SEMANGAT DENGAN HADIAH VOTE.

__ADS_1


__ADS_2