
Masih malam hari dirumah, Rumi memijit-mijit remot televisi tidak ada yang menarik dari chanel itu satupun, mengingat dia hanya sendirian dirumahnya.
Jam sudah menujukan pukul satu malam tapi mata Rumi tidak juga terpejam hingga suara bel membuatnya terperanjat. Rumi beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan menghampiri jendela yang berdampingan dengan pintu. Rumi membuka gorden itu pelan, takutnya kalau itu adalah orang jail.
Suara bel semakin cepat membuat Rumi berdecak dan berkata, "Malam-malam gini siapa! "
Mata Rumi pun terbelalak tentu saja yang datang adalah calon suaminya itu, Jefri.
"Ngapain dia kesini, rindu? Padahal tadi kan udah ketemu di toko, " gumam Rumi dan sedikit bergidik setelah berucap demikian.
Rumi pun membuka pintu, dan di sana Jefri tengah mengeratkan jaketnya sambil tersenyum kepada Rumi, dan terlihat juga bingkisan ditangannya.
"Ini tengah malam, benarkah ini kau atau setan? " pertanyaan Rumi membuat Jerfi menggigit bibirnya kesal.
Cup
"Apa sekarang kau menyadari kalau aku pujaan hatimu?" Jefri mencium sekilas bibir Rumi.
"Yak! Ini di luar bagaimana kalau ada yang melihat! " sentak Rumi, dan Jefri malah mendorong Rumi masuk lebih dalam kerumah serta pintu yang ditutup. Hingga Jefri mendorong Rumi sampai terduduk di sofa depan televisi.
"Hei kau mau apa? Jangan macam-macam! " Rumi mengcungkan remot televisi bersiap untuk memukul Jefri kali-kali kalau dia akan melakukan hal yang buruk kepadanya.
"Apa maksudmu? Kamu terlalu dewasa pikirannya mesum melulu!" Jefri duduk di samping Rumi sambil menyimpan bingkisan itu.
"Lalu kamu ngapain kerumahku tengah malam? Bagaimana kalau ada tetangga yang liat bisa di gebuk masa karena hanya ada kita di rumah berdua, tanpa setatus muhrim! " Rumi memperingati tapi dihiraukannya oleh jefri, karena dia malah mengambil remot televisi itu dari tangan Rumi.
"Jef, jawab aku! " kesal Rumi menggoyangkan bahu Jefri.
"Besok kita nikah ya, bawa segala perlengkapanmu nanti besok kita ke kantor KUA! " ucap gampang Jefri membuat Rumi membelalakan matanya.
__ADS_1
"Aku belum bicara sama Aldara, setidakanya harus ada saksi dari keluarga kan!" Rumi melipatkan tangannya di dada sambil memandang televisi malas.
"Urusan itu nanti saja yang penting kita harus menikah aku khawatir karena aku-"
"Apa kau hiperse-"
"Mulut mu itu ya! Pengen banget aku gigit! " Jefri menyomot bibir Rumi dengan tangannya. Rumi pun menepuk tangan Jefri agar dia melepaskan bibirnya.
"Terus kalau kau tidak seperti casanova, kenapa? " tanya Rumi ketus sambil memajukan mukanya, setelah Jefri melepaskan tangannya.
"Aku takut khilaf lihatlah kau begitu menggoda memakai pakaian tidur mu itu! " Jefri memalingkan wajah dari Rumi, sedangkan Rumi melihat dirinya yang memakai baju tidur dengan tangan pendek, dan celana di atas lutut dengan motif bunga berbahan seperti daster.
"Apa yang salah dengan bajuku! " Rumi menoleh pada calon suaminya itu.
"Lihatlah pahamu begitu mulus dan putih, dan lehermu begitu jenjang!" Jefri menelan ludahnya susah, dia takut sebenarnya akan tergoda karena dia sebelum bertemu Rumi suka tidur dengan wanita bar itu hanya untuk menghilangkan rasa stres dipikirannya. Jadi saat berada didekat Rumi pikiran kotor itu selalu terlintas, apalagi dia sudah lama tidak melakukannya mengingat kalau kali ini dia telah menemukan sang kasih hati yang sangat diidamkannya.
"Masalah emang? Bukannya sudah familiar dengan hal itu? " Rumi menghela nafas panjang.
"Jangan begini! " Rumi merasakan degupan dalam dirinya semakin terpacu, matanya menatap Jefri yang memandangnya teduh.
"Rumi aku tidak mau merusakmu sebelum kau menjadi istriku, entahlah aku merasa berbeda padamu. Aku ingin menghormatimu dan menjagamu! Mendengar tadi siang karyawanmu kau tidak enak hati karena di rumah sendirian membuatku khawatir padamu sampai aku sekarang kesini!" Jefri mendekatkan keningnya ke kening Rumi, menyatukan ujung hidung mereka.
"Hah, ia kita menikah besok! " ucap Rumi, dan membuat Jefri menatap lekat Rumi.
"Beneran! " Jefri menjauhkan mukannya menatap bola mata Rumi.
"Tentu!" sahut Rumi.
"Sekarang sana ambil berkas-berkasnya, aku membawa catatan yang harus dibawa, nih jangan sampai ada yang tertinggal! " Jefri menyodorkan kertas pada Rumi.
__ADS_1
"Ini? " Rumi bertanya sambil mengambil kertas itu.
"Tadi setelah aku dari toko, aku mampir dulu ke kantor KUA." Jefri membuka bingkisan yang dibawanya.
Sentak saja Rumi memeluk Jefri, dia terharu dengan keseriusan Jefri ingin menikahinya dengan serius. Rasa suka, rasa cinta dan sayang akhirnya tersalurkan dengan indah, awalnya Rumi yang ragu pun menjadi yakin sekarang, untuk urusan Aldara biar nanti urusan belakangan pikir Rumi.
Padahal Aldara kini lagi menggengam tangannya erat melihat layar ponselnya, tentu saja kejadian dirumah dia bisa tau sekarang bahkan di pun mendengar percakapan antara Jefri dan Rumi. Awalnya Aldara setelah melihat Jefri ada di rumah, dia ingin segera pulang tapi melihat lagi kalau Rumi juga menerimanya membuat dirinya mengurungkan niat itu.
Aldara segera menelepon seseorang, serasa sudah di angkat dia pun berkata," Selidiki Jefri jangan sampai ada yang tertinggal informasi tentangnya! Jam lima pagi harus sudah ada! "
Aldara menatap Helen yang sedang terlelap tidur, dia teringat akan wajah sang kakak yang melekat padanya. Di usapnya wajah Helen, perlahan matanya berkaca hingga seseorang menyadarkan dia dan segera menghapus air matanya.
"Anda kenapa? " tanya ibu dari anak yang kini satu tenda dengannya, Aldara sempat melupakan hal itu kalau dirinya berada satu tenda dengan orang lain.
"Ah tidak ada apa-apa, apakah anda mendengar saya menelepon sehingga tidurnya terganggu? Maafkan saya! " Aldara tersenyum khawatir.
"Tidak juga saya hanya kebetulan terbangun saja, dan apakah kamu Aldara adik dari Sarah? " tanya ibu itu membuat Aldara mengerutkan dahinya, dia menjadi waspada.
"Wajahmu mirip dengannya, kebetulan saya adalah temannya sudah lama tidak ada kabar setelah dia menikah saya jadi merindukan dia. " kembali ibu itu sadar dengan roman muka Aldara.
"Anda teman kak Sarah? " Aldara bertanya meyakinkan.
"Iya saya teman sebangku dia saat SMA, dan kami pun satu kampus tapi setelah dia menikah aku tidak tau kabarnya lagi. Terakhir kali meneleponku dia memberitau kalau punya anak kembar laki-laki dan perempuan. Aku tidak sempat ke sana, karena aku pun lagi hamil besar dan sedang berada diJepang! " terang ibu itu, sedangkan Aldara hanya menunduk.
"Apa dia baik-baik saja? Sekarang bagaimana kabarnya? " tanya ibu itu dan membuat Aldara tak sanggup bicara, rasa sesak kembali menyeruak mendesak air mata untuk keluar.
Ibu itu yang melihat Aldara menunduk segera menghampiri dan memegang bahu Aldara.
"Tidak salah kau Aldara kan! " Ibu itu malah ikut menangis.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE YA....