Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Makan Bersama


__ADS_3

Diapartemen Algi, Aldara duduk di sofa sambil memeluk Helen dipangkuannya. Melihat sekeliling aparteman yang sangat elegan serta minimalis, memang membuat betah karena walau yang punya adalah laki-laki tapi tempat itu rapi dan bersih.


Pandangan Aldara bertemu dengan Algi yang kini keluar dari kamarnya dengan rambut basah, serta baju santai yang digunakannya membuat Aldara melotot.


"Pupil matamu membesar, kau terkesima terhadapku? " tanya Algi dengan percaya diri lalu menghampiri dan duduk di sofa tepat di hadapan Aldara. Aldara sendiri hanya memalingkan pandangannya sampai perut Algi terdengar bersuara, membuat Aldara dan anak-anak menoleh pada Algi. Algi yang merasa diperhatikan segera merogoh ponselnya.


"Daddy mana ada orang yang mau mengantarkan makanan hujan deras serta petir, lagi pula kalau ada juga palingan telat lagian Roni juga sudah sangat lapar! " ucapan Roni membuat Algi menghentikan aktifitas jarinya di layar pinsel itu.


"Lalu kamu mau daddy memasak? " tanya Algi dengan ketusnya.


Kruukkkk


Kembali suara perut yang kelaparan itu terdengar dan kali ini suara itu berasal dari Helen.


"Sayang kamu lapar? Apa bekal yang Bunda siapkan tidak kamu makan? " tanya Aldara pada anaknya itu.


"Maaf Bunda tapi ada pengemis, jadi Helen memberikannya kasian Bunda dia bilang tidak makan sudah dua hari! " jelas Aldara.


"Bunda aja yang masak buat kami gimana? " usul Roni membuat Aldara terperanjat dan melihat anaknya yang tengah memegang perut.


"Baiklah, apa anda mengijinkan ku meminjamkan dapur?" tanya Aldara seraya menoleh pada Algi.


"Tentu saja! " jawab Algi.


Helen pun turun dari pangkuan Aldara dan segera beranjak ke dapur, Roni dan Helen tersenyum puas mereka mengacungkan kedua jempolnya sampai lupa kalau masih ada Algi di sana.

__ADS_1


"Dasar anak-anak ini! " guman Algi tersenyum melihat tingkah mereka, yang berusaha menyatukan dirinya serta Aldara.


Aldara membuka kulkas, dia terkejut karena lauk dan sayur sangat penuh memadati kulkas dia pun penasaran lalu membuka satu persatu laci di dapur itu.


"Rupanya dia juga pintar memasak! " Aldara mendengus. Melihat di laci juga kumplit peralatan dapur serta bumbu-bumbu pun berjejer di toples kecil.


"Baikalah aku akan mengalahkan mu soal memasak dulu, sebelum mengalahkanmu di medan perang Ha! " Aldara sambil mengangkat pisau berwarna hijau itu.


Aldara terlihat sangat cekatan, memotong, menggoreng, menuangkan bumbu sampai terdengar suara crrss dari daging yang dituangkan kewajan. Harum masakan tercium sampai ruang depan, Algi yang sudah sangat lapar pun seakan akan meneteskan air liurnya mencium aroma masakan itu.


"Ini sangat harum, aku tidak sabar untuk mencicipi masakan Bunda! " ucap Roni.


"Bundaku paling jago kalau memasak, aku juga selalu nambah kalau Bunda yang masak! "


"Tentu saja, badan gendutku ini ciri kalau Bundaku sangat menyayangiku! " Helen mengembungkan pipi lalu menepuk dengan kedua tangannya, merasa bangga. Sedangkan Algi mulai memperhatikan mereka.


"Aku juga ingin seperti mu," Roni menunduk sedangkan Algi hanya menatap Roni iba.


Algi merasa kasihan pada Roni, dia membayangkan bagaimana kalau dia tau orang tua dia yang sebenarnya. Algi menghampiri Roni lalu mengusap puncak kepalanya. Dia teringat akan sang kakak yang telah tewas, hatinya bergemuruh tangannya turun mengusap pipi Roni sungguh wajah itu mirip dengan sang kakak.


"Tenang saja kamu pun akan seperti Helen! " ucap Algi begitu saja mengatakan hal tersebut.


"Benarkah? Apa Daddy akan menikah dengan Bunda? " tanya Roni antusias dan disusul dengan Helen dengan menatap Algi penuh harap


"Itu-" kini Algi menjadi gelagapan sendiri. Aldara yang telah menyajikan makanan di meja, segera menghampiri mereka.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, kalau kami memang ditakdirkan bersama pasti bakalan bersama kok! Sekarang mari kita makan! " ucapan Aldara sontak membuat Algi terdiam, hatinya berdebar dia menjadi kaku. Aldara menarik tangan Roni dan Helen menuju meja makan, melihat Algi yang hanya terdiam dengan tatapan kosongnya Aldara pun bergeming.


"Pak! Tidak mau makan bersama kami? " tanya Aldara. Algi terperanjat dia segera menghampiri lalu duduk disamping Aldara.


"Bunda aku ingin sayur," pinta Roni menyodorkan mangkuknya.


"Baiklah ini, " Aldara menuangkan sayurnya.


"Helen kamu juga harus makan sayur! " ucap Aldara menuangkan sayur itu di mangkuk Helen.


"Kamu-" Aldara terdiam saat dia hendak menuangkan sayur ke mangkuk Algi, tapi dia urungkan. Algi yang tau akan hal itu, segera dia memegang tangan Aldara yang sedang memegang sinduk lalu menungakan sayur itu ke mangkuknya.


"Aku juga mau, " ujar Algi, membuat Aldara mengerjap melihat tingkah bosnya itu.


Meja makan pun menjadi hangat seperti sebuah keluarga, Algi yang sesekali melihat senyum Aldara pun menjadi senang seakan dia hanya ingin suasana seperti itu saja.


"Bagaimana masakan Bunda? " tanya Aldara pada Helen dan Roni.


"Sangat enak! " sahut Algi sambil menatap lekat pada Aldara, sedangakan Roni dan Helen yang baru mengacungkan kedua jempol mereka hanya terdiam ucapan mereka di rampas oleh Algi.


"Makasih, " sahut Aldara tersenyum di paksakan.


"Sepertinya suasana disini jadi agak berbeda! " ucap hati Aldara lalu menyindukan nasi kemulutnya.


MENCOBA UNTUK UP SEHARI 3 BAB, JADI BERIKAN LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE NYA AGAR BERTAMBAH SEMANGAT 😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2