
Pagi hari yang cerah, digedung yang menjulang tinggi tempat Aldara bekerja semua orang tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Begitu pula dengan Aldara sendiri yang tengah sibuk membuat laporan untuk atasannya, karena sekarang dia menjadi sekertris CEO pekerjaannya semakin bertambah.
"Berkas untuk rapat nanti apakah sudah siap? " tanya laki-laki paruhbaya yakni sekertaris pribadi Algi.
Mendengar ada yang mengajaknya bicara Aldara pun menoleh lalu tersenyum dan berkata," Sebentar lagi sudah mau selesai" bohong Aldara, padahal laporan itu sudah sedari tadi selesai dan dia tengah mengerjakan hal lain.
"Rapat tinggal satu jam lagi dan berkasnya belum selesai, sekarang kamu sudah menjadi sekertaris CEO bukan sekertaris menejer lagi! Jadi harus bisa gerak cepat! " hardik sekertaris pribadi itu.
"Maaf Pak, tapi berkasnya tinggal dicetak. Saya rasa tidak bakalan memakan waktu yang lama kalau hanya sekedar print beberapa kertas," kilah Aldara dengan hati yang kesal.
"Sekarang juga cetak berkas itu, dan berikan kepada saya! " ucap Sekertaris itu menetap tajam Aldara.
"Bukannya rapat dilaksanakan nanti bukan sekarang. Lagian berkasnya juga mau dibahas dalam rapat, bukannya saya yang harus membawanya. Saya hanya pengalaman saat menjadi sekertaris menejer seperti itu! " Aldara menunduk menyembunyikan seringainya.
"Jangan banyak membantah, kau bisa saja saya tendang dari perusahaan ini! Walau pun kau pernah diselidiki oleh Pak Algi aku tidak akan takut! " sekertaris itu memajukan mukanya menatap lekat mata Aldara. Tapi Aldara hanya diam dan terus menunduk.
"Baiklah saya akan berikan berkas ini setelah dicetak, jika lama menunggu bapak bisa pergi biar saya yang antar berkas ini ke ruang Pak Algi" ucap Aldara mengambil beberapa kertas kosong.
"Kau mengusirku, aku akan menunggunya biar sekarang saya yang mengambilnya! "Sekertaris itu seperti tengah menahan kesal terhadap Aldara.
Beberapa menit berlalu, semua file sudah dicetak. Masih ditangan Aldara dan belum menyodorkannya, sekertaris itu segera merebutnya dan membuat Aldara terkejut sekaligus curiga.
"Lama! " hentak sekertaris itu meninggalkan Aldara, sedangkan Aldara semakin dibuat bingung karena berkas itu tidak diberikan pada Algi melainkan di bawa olehnya ke ruang kerjanya.
"Hah, pasti ada yang nggak beres! " gumam Aldara. Dan tidak lama pintu ruang CEO itu terbuka lalu menampakan Algi dibalik pintu.
"Berkas sudah siap? " tanya Algi pada Aldara.
"Sudah saya berikan pada sekertaris pribadi anda, karena dia memaksa saya untuk memberikannya! " jawab Aldara dan Algi hanya tersenyum kecut menanggapi.
"Cetak file ini, dan nanti bawa saat rapat! Copy beberapa untuk diperlihatkan pada karyawan yang lain! " titah Algi melempar flashdisk pada Aldara, Aldara pun menangkapnya.
"Baik! " Aldara menunduk dan Algi kembali keruangannya.
Aldara semakin ada yang aneh antara Algi dan sekertarisnya padahal mereka dikenal seperti dua orang yang akrab. Aldara mulai menekan mouse dan menampilkan file di layar komputernya, perlahan Aldara membacanya dan dia pun sangat terkejut karena file nya berbeda dengan yang dibawa oleh sekertaris pribadi tadi.
__ADS_1
"Wah gawat, aku tidak mau jadi batunya! " gumam Aldara dalam hati, Aldara pun bergegas menemui Algi untuk bertanya.
"Permisi Pak! " Aldara menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Masuk! " sahut Algi dan Aldara pun berjalan menghampiri Algi yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Pak file yang bapak berikan berbeda sangat jauh dari file sebelumnya, " beritahu Aldara dan Algi hanya menoleh pada Aldara.
"Cukup lakukan apa kataku! " ucap Algi, dan berjalan menghampiri Aldara.
"Tapi Pak nanti bisa menjadi masalah! " Aldara mulai melangkah mundur.
"Siapa disini atasanmu, jadi lakukan saja. Dan lagi kau tidak boleh ikut keacara kemping sekolah nanti! " ucap Algi dan Aldara menghembuskan nafas beratnya.
"Saya paham, dan mohon undur diri! " Aldara membungkuk dan segera melangkah menghampiri pintu.
"Apa kau juga paham dengan ucapanku yang terakhir?" tanya Algi dan Aldara menghentikan langkahnya.
"Helen adalah anaku satu-satunya, dia juga tidak mempunyai orang lain selain harus saya yang ikut bersamanya!" sahut Aldara.
"Jika Bapak tidak mengijinkanku, biar anakku juga tidak ikut. Permisi! " Aldara segera keluar, meninggalkan Algi yang tengah tertawa kecil.
Beberapa menit pun berlalu dan tibanya rapat itu diadakan, rapat kali ini sangat penting karena akan membahas tentang rencana baru dari perusahaan itu yang melibatkan kerjasama dengan berbagai pihak. Di sana juga ada Fadil dan sekertarisnya.
Semua masukan untuk perencanaan proyek baru dari beberapa perusahan terkaitpun telah terlontar, dan sekarang giliran Algi yang memutuskan rencana yang harus dilaksanakan untuk memulai proyek itu sebagai pemimpin.
Fadil menggengam tongkat nya karena dia tidak bisa berjalan dengan normal kali ini, akibat cidera dibagian kakinya itu. Senyuman merekah menghiasi wajah Fadil, dia yakin kalau rencananya akan dipakai oleh Algi karena dia pikir sama dengan pemikiran Algi sebelumnya tentang rencana itu.
Tentu saja sekertaris pribadi Algi telah ngasih bocoran itu pada Fadil. Kini pikiran Fadil telah berbunga-bunga karena sebentar lagi akan banyak tepuk tangan untuknya, karena dia akan di anggap jenius sampai Algi memakai rencananya.
Padahal lain halnya dengan Algi, dia semakin menatap Jefri yang sudah sangat bahagia walau keputusannya belum tersampaikan.
"Sial kalau aku harus mempercayai omongan Jefri. Bisa dikatain bodoh beberapa kali olehnya! " gumam Algi dalam hati.
Algi mulai membuka berkasnya lalu mensejajarkan mikrofon itu dengan mulutnya.
__ADS_1
"Baiklah setelah mendengar semua rencana itu, saya sudah putuskan kalau rencana yang akan kita gunakan adalah hasil pemikiran dari faeyza grup dulu. Rencana awal sangat bagus untuk dilaksakan karena itu akan menarik konsumen setelah itu kita ambil dari hasil pemikiran hong company untuk hasil akhir. Kerena dengan melibatkan karyawan magang kita bisa menghasilkan, dan kita bisa melihat hasil kinerja mereka. Satu lagi ada satu rancangan yang paling akhir yang perlu kita lakukan, kalian bisa melihatnya dan memahaminya."keputusan Algi dan membuat Fadil menggengam erat tongkatnya karena kesal. Sedangakn Aldara sibuk membagikan kertas pada anggota rapat diruangan itu.
Setelah rapat usai dan semua orang bubar, Fadil segera menghampiri Algi diruanganya tergesa dengan berjalan menggunakan tongkat.
"Bukakan pintunya! " titah Fadil pada sekertarisnya.
"Maaf Pak, mungkin Pak Algi sedang sibuk sekarang! " ucap Aldara, dan Fadil pun menoleh.
"Diam kau! " sentak Fadil pada Aldara. Aldara pun hanya terdiam. Lalu setalah kedua orang yang berada di depan mejanya telah masuk Aldara segera merogoh ponselnya dan milihat sekitaran, takut ada orang yang mendengar.
"Selidiki hubungan Algi dengan sekertaris pribadinya! Juga kenapa Hong Company bisa ditangan Fadil! " ucap Aldara pada seseorang yang dia telpon, setelah mendengar persetujuannya dari seseorang disebrang sana Aldara pun segera menutup sambungan telepon itu.
"Hal baru akan terungkap, sebentar lagi! " gumam Aldara dalam hati sambil memandangi ruang kantor Algi.
Di dalam kantor Algi, Fadil duduk di sofa dan diikuti oleh Algi disebelahnya. Juga disana ada sekertaris pribadi Algi dan sekertaris Fadil.
"Apa rencana ku tidak bagus kali ini? " tanya Fadil pada Algi.
"Paman selalu handal dalam pemikiram untuk rencana yang matang, tapi kali ini rencana yang dilontarkan faeyza grup lebih baik digunakan. Bukannya aku menolak rencana paman, aku hanya mementingkan perusahaam saja. Lagian rencana paman juga ikut terlibat dibagian akhir, itu akan sangat sempurna! " jelas Algi, dengan senyumnya.Padahal dalam hati dia menertawakan Fadil.
"Aku rasa pemikiran kita akan sama!" ucap Fadil dan Algi mengepalkan tangannya di balik saku celananya.
"Rencana paman sangat bagus dan hampir sama dengan rancangan yang telah aku pikirkan, tapi ada hal lain yang membuat aku berubah pikiran! " Algi menatap sekertaris pribadinya yang tengah menunduk dalam.
"Baiklah, lain kali kau bisa bekerja sama denganku atau kita perlu makan bersama sebagai ayah dan anak! " Fadil berdiri lalu menepuk pundak Algi.
"Kenapa dengan kakimu?" tanya Algi kemudian.
"Jangan khawatir aku hanya terpeleset saat akan ke kamar mandi, " jawab Fadil bohong, dan datang lah Aldara dengan dua cangkir minuman dinampan yang dia pegang.
"Algi nanti siang Melinda akan kemari, katanya akan ada hal penting yang harus kalian bicarakan. Sebaiknya kalian cepatlah menikah! " Fadil melirik Aldara dan hal itu terlihat jelas oleh pandangan Algi. Sedangakan Aldara sendiri segera menyimpan kedua cangkir itu di meja lalu menunduk dan pergi dari ruang kantor itu.
"Aku sudah mempunyai calon sendiri! " sahut Algi dan masih bisa terdengar oleh Aldara yang hendak menutup pintu dari luar.
"Jangan memilih yang belum yakin denganmu, Melinda tentu saja dia sangat menyayangimu! " Fadil mengangakat tongkat itu.
__ADS_1
"Urusan pribadi, biar aku urus sendiri! " ujar Algi dan Fadil pun menyembunyikan senyum kecutnya.