Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Pisang Krispi


__ADS_3

Diperjalanan menuju tempat kemping semua anak-anak bernyayi diiringi oleh sang guru di depan, membuat Algi menutup kedua telinganya dengan headset dan mulai bersandar dikursi. Sedangkan Aldara terlihat mengantuk terlihat matanya yang melem melek dan sesekali kepalanya terhunyung kedepan lalu kesamping, hingga akhirnya Aldara menemukan tempat yang pas untuk sandaran kepalanya, yakni dibahu Algi.


Algi yang merasa bahunya berat pun menoleh dan tersenyum mendapati Aldara yang bersandar di bahunya.


"Selalu mengelak, kalau sudah nyaman kenapa pura-pura tidak suka dasar wanita!" gumam Algi.


Di depan Roni dan Helen telah bernyanyi bersama teman-teman yang lainnya, beriringan sambil menggoyangkan kedua tangan diatas.


Algi semakin menatap lekat wajah Aldara, menyibakan beberapa helai rambut yang menghalangi mukanya. Sampai akhirnya mereka telah sampai ditempat yang di tuju.


Sebuah padang rumput yang luas, hanya ada beberapa pohon besar dan tidak jauh dari danau buatan. Tempat itu ditengah kota, biasa dipakai untuk kemping atau untuk berrekreasi keluarga. Sekolah sengaja memilih tempat itu, selain strategis mengingat bahwa acara kemping ini untuk anak-anak jadi tempat ini bisa dikatakan aman bagi mereka.


Algi mencubit hidung mancung Aldara, dan Aldara pun spontan mengerang kesakitan. Tentu saja, Algi membangunkan Aldara dengan cara seperti itu, sampai semua yang ada di bis memperhatikan mereka karena terikan Aldara tadi.


"Roni mereka sosoan pada tidak mau bersama, lihatlah padahal mereka semakin dekat!" Helen berbisik pada Roni.


"Kalau di lihat memang benar begitu adanya, pasti ada sesuatu di antara mereka sehingga mereka melakun hal seperti itu!" sahut Roni berdiri.


"Apa? " tanya Helen penasaran.


"Aku juga tidak tau, karena Melinda dan Daddy juga sering bersama tapi kelihatannya Daddy tidak terlalu suka sama dia, walau dia selalu mengejarnya. Kali ini aku melihat Daddy memperlakukan Bunda mu berbeda dari Melinda, dan aku malah melihat diri Daddy pada saat bersama Melinda ada pada Bundamu, saat dia bersama Daddyku! "


"Kalian kembali berbisik ada apa? " tanya Aldara seraya mengambil tas diatas, bersamaan dengan Algi.


"Bunda kepo! " Helen menyahuti.


"Anak ini! " gumam Aldara.


Kini semua sudah keluar dari bis, dan mata mereka langsung berbinar mendapati tempat itu.


"Kepada murid berbaris lah disini sesuai kelompok kalian masin-masing! " terdengar suara mikrofon, semua murid pun berkumpul di hadapan guru yang tadi memberi pengumuman.


Semua arahan dan semua kegiatan yang dilansir dalam kertas lalu dibagikan kepada semua muridnya.


"Sekarang mari kita membangun tenda terlebih dahulu!" kembali suara itu terdengar, hingga semua murid bubar dan menghampiri orang tua mereka untuk membangun tenda.


"Helen bisakah kami satu tenda bersama kalian? " tiba-tiba suara wanita yang memegang anak perempuan itu membuat Helen dan Aldara menoleh.

__ADS_1


"Kami tidak membawa tenda! " sambung wanita itu membuat Aldara tersenyum lalu menoleh pada Helen meminta persetujuan dan tentu saja Helen setuju.


"Tenda kami agak besar, jadi bisa muat buat kita berempat!" ucap Aldara dan membuat wanita dan anaknya itu tersenyum senang.


"Mari kita dirikan tenda kita! " Helen menarik tangan anak perempuan itu.


Sedangkan Algi dan Roni karena tenda mereka hanya cukup untuk menampung dua orang bahkan untuk mendirikannya saja sangatlah cepat, membuat Algi dan Roni menjadi yang pertama berhasil mendirikan tenda.


"Algi! Roni! " suara lengkingan itu membuat semua orang yang sedang mendirikan tenda menatap ke arah suara.


"Melinda! " gumam Roni dan Algi melongo.


"Hah, wanita itu! " gumam Aldara dan membuat Helen menoleh pada sang Bunda.


"Dia siapa, kok sepertinya Bunda kenal dia? " tanya Helen.


"Dia Melinda, calon mamahnya Roni. Jadi mulai detik ini kamu jangan berharap Algi bisa menjadi Daddy mu! " Ucap Aldara, dan membuat Helen sedikit memikirkan sesuatu.


"Oh dia yang namanya Melinda! Cantikan Bunda aku kemana-mana! " gumam Helen mengerucutkan bibirnya sesaat sambil menatap Melinda, yang semakin mendekati Roni dan Algi.


"Kalian meninggalkanku! Kenapa? "tanya Melinda setelah berada dihadapan Roni dan Algi, Algi yang malah menoleh ke arah Aldara yang tengah sibuk memasang tenda.


"Saya mamahnya Roni! " jawab Melinda.


"Tapi didaftar Roni-"


"Calon mamahnya, apakah harus sedetail itu! " hardik Melinda memotong pembicaraan guru itu.


"Baiklah kami harap anda bisa membingbing Roni, di samping kami menjaganya! " sahut guru itu lalu pergi.


"Masih ada pengganggu nih selain Bundanya Aldara! " ucap seorang ibu yang tadi pagi berada di tempat bubur.


"Dan yang ini kayaknya lebih garang! " sahut ibu yang lain.


Mereka semua telah mendirikan tenda mereka masing-masing, dan acara selanjutnya adalah istirahat. Karena tempat mereka bukan di hutan-hutan, atau didesa terpencil sehingga di depan sebelum masuk kearea perkemahan banyak pedagang, sehingga buat keluarga yang tidak sempat membawa bekal bisa beli dulu.


Aldara mengusap peluh dipelipisnya sambil memakan pisang krispi yang dia beli tadi, sedangkan Helen tengah asik memainkan ponselnya didalam tenda sambil memakan pisang krispi itu dan membelakangi Aldara yang duduk di depan sambil memandang luaran sana.

__ADS_1


"Hel, pasti nanti besok pagi disini sejuk dan banyak udara segar walau ditengah kota. Bunda baru tau ada tempat seperti ini! " ucap Aldara tanpa menoleh pada Helen.


"Mana mungkin Bunda tau, Bunda kan sibuk bekerja! " sahut Helen.


"Iya, yah kali-kali kita harus rekreasi biar pikiran nggak mumet terus! " gumam Aldara, hendak memasukan pisang krispi itu kemulutnya.


Hap


"Aku juga mau! " tiba-tiba Algi mengigit dan memakan pisang krispi yang sudah masuk sebagian kemulut Aldara, membuat Aldara sendiri memelototkan matanya karena terkejut, hampir saja mereka berciuman.


Algi dengan santai mengunyah pisang krispi hasil curiannya lalu duduk disamping Aldara, dan tatapannya mengarah kedepan menatap orang-orang berlalu lalang.


"Kau! " ucap geram Aldara menoleh pada Algi dengan tatapan setajam silet.


"Apa?" Algi menoleh dan heran dengan raut muka amarah yang Aldara timbulkan.


"Ini ditempat umum, kau berani melakukan hal itu!" ucap Aldara penuh penekanan.


"Hal apa? " tanga Algi pura-pura tidak tau.


"Tadi yang kau lakukan kepadaku, cara mencuri makananku itu akan membuat orang yang melihat salah paham! " hardik Aldara sedangkan Algi hanya tersenyum menanggapi.


"Jangan kepedean! Tidak ada yang melihat! Lagian apa yang membuat salah paham, aku hanya mengigit makanan itu bukan mengigit bibirmu! " ucap Algi dan segera Aldara menutup mulutnya dengan tangan.


"Bunda, kapan Daddy kemari mana Roni?" tanya Helen menoleh dan menyadari bahwa sang Bunda tidak sendiri. Sedangkan Algi dan Aldara bersamaan menatap Helen, dengan tangan Aldara yang masih membungkam mulut Algi.


"Bunda kenapa mulut Daddy dibungkam seperti itu? " tanya Helen dan Aldara melepaskan kasar tangannya dari mulut Algi.


"Tidak apa! " Aldara tersenyum pada Helen.


"Roni sedangan makan ditenda! " ucap Algi menyahuti ucapan Helen tadi.


"Daddy tidak makan? " tanya Helen.


"Yak! Helen kenapa tegas sekali manggil dia Daddy, padahal dia bukan Daddy mu! " cibir Aldara dan membuat Helen menunduk.


"Daddy ingin makan pisang krispi bersamamu Helen! " Algi semakin memasuki tenda, menghampiri Helen yang kini mendongkak menatapnya.

__ADS_1


"Hiraukan saja ucapan Bunda mu, dan panggil saja aku seperti itu! Sekarang mari kita habiskan pisang ini! " Algi duduk sila dihadapan Helen lalu mengambil dan memasukan pisang krispi itu kemulutnya. Helen yang merasa diperhatikanpun tersenyum senang dan kembali memakan pisang krispi itu dengan lahap.


"Hah! " lenguhan malas dari Aldara.


__ADS_2