
Bukh bukh!
"Dasar jelemaan iblis! "
"Kau berani kesini, sendirian! Mau mati hah! " Fadil bengun dari lantai karena tadi Jefri memukul rahangnya sampai tersungkur ke lantai.
"Aku sudah tidak tahan, mati membela keluargaku tidak akan penasaran! " sentak Jefri.
"Oh begitu, kalau begitu terimalah ajalmu!" Fadil merogoh benda api itu yang berada di laci lalu memusatkannya pada kepala Jefri.
"Tapi tidak akan semudah itu! "
Dor
Suara pluru melesat membuat Jefri dan Fadil memejam,tentu saja suara itu dari arah belakang Jefri.
"Kak Raisa! " gumam Jefri.
Raisa terlihat bergetar, dengan rangah yang mengeras.
"Kau beraninya! " teriak Fadil memegang lengan kirinya yang ditembak oleh Raisa.
"Kau tidak akan pernah bisa mengancamku lagi! " teriak Raisa kakinya gemetar karena dia baru pertama memegang benda api itu, ada rasa takut juga rasa marah memandang Fadil membuat Jefri menghampirinya.
"Kak! " Jefri menggengam tangan sang kakak, mencoba membuat ketenangan untuk Raisa.
Fadil terlihat mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Cepat kemari, dan bunuh semua orang yang ada di rumah ini! " teriak Fadil setelah sambungan telepon itu terhubung.
"Tu tuan kami perlu bantuan yang lain! " suara tertatih dari suruhannya.
"Apa! " teriak Fadil pada seruhannya.
"Cepat kita harus pergi dari sini! " tiba-tiba Rumi memapah Raisa, dan Jefri dibuat bingung dengan keadaan ini.
Terlihat Fadil mengangakat pistolnya lagi bersiap untuk menembak, Jefri pun segera lari menyusul Rumi dan Raisa mengingat kalau Jefri tidak membawa senjata apa pun.
Di pekarangan rumah banyak orang terkulai lemas di tanah, yakni penjaga Fadil itu tumbang semua membuat Jefri mengerutkan keningnya. Tadinya dia bertekad ke rumah kakaknya itu hanya untuk melampiaskan amarahnya pada Fadil, dan tidak terfikir kosekuensinya. Dia bisa masuk kerumah pun karena Jefri menyusup melalui jendela.
__ADS_1
"Sayang cepat masuk mobil! " Rumi berteriak pada Jefri yang masih memandang orang-orang itu.
"Iya! " Jefri mesuk ke dalam mobil dengan seribu pertanyaan di otaknya.
"Honey apa kau yang melawan semua itu? " tanya Jefri pada Rumi dengan sedikit ragu.
"Itu bukan soal yang harus dibahas sekarang! " hentak Rumi dan mendekatkan ponsel ketelinganya, Rumi tengah menelepon bawahan Aldara.
"Apa! Aldara dan Algi tidak ada dirumah! " teriak Rumi panik mendengar kabar dari anak buah Aldara.
"Cari mereka dan sebelum itu jaga anak-anak! " Rumi mematikan ponselnya lalu melacak keberadaan Aldara.
"Sebenarnya apa yang terjadi!" Jefri sangat penasaran, karena pada dasarnya Jefri hanya mengetahui bahwa dirinya difitnah itu pun dari nomor misterius itu. Dan sekarang istrinya malah terlihat sibuk, dan seperti tau masalah kali ini sedang gawat.
"Nanti dijelaskan! " Indah melajukan mobilnya cepat.
"Indah, kau ada disini juga! " teriak Jefri.
"Tadi kau bersama kakak ku, kemana dia sekarang? " tanya Jefri pada Rumi geram karena mereka masih menyembunyikan kejadian sekarang.
Di mobil lain terlihat Raisa menitikan air matanya mengelus puncak kepala Dinar dipangkuannya.
"Sayang kita terbebas! " ucap Raisa menatap sendu anaknya itu, yang memakai selang oksigen.
"Tidak usah sungkan kita saudara, istriku sangat menyayangi temannya sehingga dia ingin kasus temannya rampung, dan diadili segera " sahut laki-laki yang tengah mengemudi, tentu saja dia suami Indah.
"Kelurga Gunawan perlu meminta maaf pada keluarga Sarah. Walau tidak sepantasnya dimaafkan! " Raisa tertunduk lalu mengusap air matanya.
"Gawat! Kita diikuti! " teriak Andris yang sedari tadi diam dikursi samping suami Indah.
Pada waktu Indah menemui Rumi ditoko setelah menenui Andris dilestoran mewah itu (Bab 48 ), ternyata Indah dan Rumi tengah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Aldara mereka mempunyai rencana. Sebelumnya Indah sempat kerumah Raisa, dengan alasan ingin menemui sahabatnya, awalnya baik-baik saja hingga suatu kejadian membuat kejanggalan bagi Indah.
Dia melihat Raisa dipaksa menandatangani suatu berkas di kamarnya, Indah yang saat itu tengah meminum teh buatan pembantu dirumah Raisa mendengar Fadil berteriak.
"Cepat tanda tangan atau anakmu yang sekarat itu akan terbunuh! " ucap Fadil saat itu.
"Jangan bunuh Dinar! " Raisa menangis dengan tubuhnya yang bergetar.
"Cepat tanda tangan! " kembali teriakan itu menggema diruang kamar itu.
__ADS_1
Raisa pun meraih map dan balpoin yang tergeletek diatas meja rias lalu dengan sangat bergetar dia membubuhi tanda tangan diatasnya.
"Bagus! " Fadil menyeringai jahat, membuat Indah yang kini melihat itu menutup mulutnya rapat.
"Dinar masih hidup! " gumam Indah dalam hati, sampai dia menyadari kalau Fadil akan keluar Indah segera berlari dan bersembunyi dibalik tembok.
Setelah melihat Fadil pergi dari rumah, Indah melihat Raisa keluar dari kamar dengan mata sembab.
"Tante apa kamu baik-baik saja? " tanya Indah memegang tangan Raisa.
"Iya aku baik, kau mendengar ucapan Fadil tadi?" tanya Raisa ragu sedangkan Indah hanya menganggukan kepalanya.
"Tante bisa menceritakan semuanya, aku akan membantu mu! " Indah memegang pundak Raisa.
"Tidak itu akan membahayakan anak ku! " Raisa menepis tangan Indah dipundaknya.
"Percayalah, tante sedang terjebak dan aku bisa mengeluarkannya. Ayolah kita harus menemukan jalan keluarnya! " bujuk Indah.
"Tapi kau bilang teman Sarah, apa kau ada rencana jahat padaku! " selidik Raisa.
"Percayalah, awalnya memang seperti itu tapi setelah melihat tadi ternyata tante hanya menjadi kambing hitam saja membuat aku mengerti. Ayolah kita rampungkan masalah ini, kau perlu memberitauku kejadian yang sebenarnya! " Indah memohon agar Raisa menurutinya.
"Baikalah! " Raisa pun akhirnya menyetujui.Dia menceritakan semuanya sampai Dinar masih hidup pun dia memberi tau Indah.
Indah yang telah mendengar curhatan Raisa merasa sedih, dia pun memikirkan cara agar Dinar bisa keluar dan berobat dengan pasti agat segera pulih.
Hingga suatu ide pun muncul, keesokan harinya dia menemui Rumi ditoko setelah menemui Andris di lestoran. Indah menceritakan semua hal pada Rumi, dan kala itu Rumi merasa tidak percaya kalau Raisa mengalami hidup yang sangat menyedihkan. Bahkan Rumi pun tau sekarang kalau Dinar masih hidup, dan mereka memanfaatkan Algi agar bisa bergabung dengan Fadil untuk menyerang Jefri dan Aldara.
Rumi yang tau kalau suami dan keponakannya akan menjadi sasaran kejahatan Fadil dia pun menyetujui saran Indah. Mereka akan membawa Dinar dan Raisa dari dalam rumah, dan mencoba melindungi Jefri dan Aldara.
Setelah Rumi melihat gelagat Jefri saat akan menemui Algi dirumah Aldara itu, dia memulai aksinya. dan nomor misterius yang memberitahu Jefri selama ini adalah Raisa.
Rumi, Indah dan Raisa mereka saling terhubung untuk merencanakan hal itu. Sampai akhirnya kini mereka berhasil mengeluarkan Dinar dan Raisa dari rumah itu.
Tapi tetap tidak segampang yang direncanakan, karena mobil suami Indah ada yang mengikuti sekarang artinya mereka dalam bahaya.
"Andris kau membawa senjata api? " tanya suami Indah sambil menginjak gas lebih dalam agar mobol itu melaju dengan cepat dan bisa terhindar dari orang yang mengikutinya.
"Bawa dong! " Andris memperlihatkan pistol ditangannya.
__ADS_1
"Bagus! " seru suami Indah.
JANGAN LUPA KASIH SEMANGAT DENGAN LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE YA....