
Selamat membaca....
.
.
Di padang rumput yang luas, dengan sungai yang membuat suasana tenang dan sejuk. Aldara menuntun Roni dan Helen menuju rumah bercat kayu itu, dia sedikit gugup.
"Bunda ternyata disini ada rumah kayu, padahal Helen waktu kemping disini tidak melihatnya," Helen berucap membuat Aldara tersenyum.
"Iya, aku juga tidak tau kalau ada rumah mencil seperti ini. Rumah siapa ini? " Roni pun ikut penasaran pada rumah itu.
"Ah kalian akan terkejut jika melihat kalau sebenarnya itu bukan rumah kayu," beritahu Aldara.
"Kita sampai! " ucap Aldara setelah sampai di depan pintu rumah itu.
"Benar, ini bukan rumah kayu melainkan rumah yang di cat gambar kayu! " ucap Roni dan tanpa sengaaja menyentuh gagang pintu yang ada alat pemindai.
"Berhasil! " tiba-tiba suara dari pintu membuat Roni berlari kearah Aldara karena terkejut.
"Bunda itu apa! " Roni memeluk kaki Aldara, sedangkan Aldara tersenyum senang mendapati hal itu.
"Bukan apa-apa! " Aldara, seraya mengusap puncak kepala Roni.
"Helen sini! "tangan Aldra melambai pada Helen dan Helen pun menurut.
Aldara mensejajatkan Helen pada gagang pintu itu dan terdengar suara pintu terbuka, membuat Aldara kegirangan sedangkan kedua anak itu saling menatap aneh melihat tingkah sang Bunda.
"Bunda! " panggil Helen dan Aldara pun menoleh.
"Ia sayang, yuk kita lihat di dalam ada apa saja! "ajak Aldara membuat kedua anak itu ragu tapi akhirnya ikut juga.
Pertama kali menginjakan kaki kedalam rumah itu, suasana dingin menyeruak tidak ada perabot atau sebagainya hanya ada ruang kosong dan satu ruangan yang tertutup rapat. Aldara menghampiri pintu itu dan tentu saja terkunci.
"Hah banyak sekali sandi! " gumam Aldara.
"Bunda disiani sepi sekali, Roni jadi sedikit takut! " Roni menggosokan kedua tangannya.
"Ah kamu Ron, takut sama hantu ya! " sahut Helen dan Aldara hanya menggeleng menanggapi omongan anak-anak.
"Tidak akan ada apa-apa percaya sama bunda ya! " Aldara seraya menatap Roni, lalu kembali pandangannya mengarah pada pintu didepannya.
"Bagaimana ini, tapi tidak ada alat pemindai atau sebagainya lalu bagaimana? " Aldara terduduk di lantai hingga dia dibuatnya terkejut oleh seseorang yang datang.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini? " tanya Jefri di ujung pintu.
"Kami sedang beristirahat saja! " sahut Aldara memalingkan pandangannya.
"Kau yang membuka pintu itu? " Jefri menatap tajam kearah Aldara
"Iya aku penasaran, kalau menurut petunjuk foto itu,sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dirumah ini. Kau pasti tau kan!" Aldara kembali berdiri.
"Baik karena kau sudah disini aku akan menunjukan sesuatu padamu! " Jefri menghampiri pintu itu lalu mulai melihat sekeliling.
"Kenapa malah terdiam? " tanya Aldara karena Jefri hanya terdiam sembari melihat sekeliling.
"Mencari kunci! " sahut Jefri santai.
"Roni, Helen sini sayang! " Aldara teringat akan anak-anak, lalu mereka pun menghampiri Aldara.
Jefri berjalan kebagian tengah ruangan itu dan membuat Aldara makin bingung.
"Dikala senja terdiam menghadap barat,menatap empat anak panah yang menjadi penerang! " ucap Jefri, dan Aldara hanya mengerutkan dahinya.
"Itu yang Dinar katakan padaku sebagai kata kunci, dan bodohnya aku belum mengerti sampai sekarang apa maksudnya! " Jefri tertunduk.
Aldara berfikir sejenak dan mulai berkelliling mencari kunci itu, begitu juga Jefri. Mereka sibuk mencari kunci itu hingga suara Helen menyadarkan mereka.
"Helen! " teriak Aldara menghampiri Helen, tapi tangan Helen terlepas dari gagang pintu dan dibawa kabur oleh sipenculik itu.
Aldara akan lari mengejar Helen tapi Jefri menahannya.
"Aku yang akan mengejarnya, lindungi Roni! " ucap Jefri dan berlari dengan cepat menyusul Helen dan laki-laki yang membawanya.
Aldara segera merangkul Roni yang terlihat ketakutan, terlihat peluh dingin dipelipisnya.
"Sayang ada Bunda, jangan takut! " Aldara mengangkat Roni dalam pangkuannya dan terus mengusap punggungnya.
Kembali Aldara mencoba terdiam di bagian tengah ruangan yang luas itu, dengan hati yang bergetar memikirkan sang anak yang diculik. Air matanya mengalir, sepertinya dia harus memecahkan segera teka teki itu agar semua terungkap.
"Dikala senja terdiam, menghadap barat menatap empat anak panah menjadi penerang! Asshh apa maksudnya! " Aldara prustasi, dia tidak bisa berfikir jernih karena pikirannya selalu pada Helen.
Dor
Suara pistol terdengar, Aldara segera terduduk jongkok memeluk Roni lalu menoleh dan mendapati laki-laki lain berbarju hitam dibelakangnya itu tergeletak tidak berdaya.
"Hah, pintu itu bisa memantulkan pluru! Dan malah yang menembak menjadi sasarannya, " Aldara bingung, dan merasa kalau genggaman Roni kuat pada bahunya.
__ADS_1
"Bunda Roni takut! " Suara Roni bergetar.
"Jangan takut disini ada Bunda! " Aldara merangkul Roni makin erat, dan dia melihat sekeliling takutnya ada penyusup lain.
Aldara berjalan dengan hati-hati keluar rumah itu dengan pandangan menyapu sekeliling halaman rumah, dirasa tidak ada lagi siapa pun. Aldara menelepon seseorang.
"Cepatlah kemari sekarang dan awasi rumah yang aku kirim lokasinya, jangan sampai ada yang masuk!" ucap Aldara pada seseorang disana.
"Kami akan bergegas kesana! " sahut seseorang yang Aldara telpon.
"Dan lagi lacak keberadaan Helen, dia diculik!" kembali Aldara memberikan perintah.
"Baik! " jawabnya, dan Aldara memutuskan sambungannya. Mengganjal pintu itu dengan batu yang berukuran sedang, dia tidak ingin lagi melibatkan anak-anak untuk membuka pintu itu karena terlalu berbahaya.
"Roni kita pulang ya! " Aldara perlahan melangkah dengan pelan meninggalakan rumah itu sambil terus matanya menatap sekeliling.
"Bunda kenapa jalannya lambat? " tanya Roni,
"Bunda lagi memastikan sesuatu, " sahut Aldara kembali mengusap punggung Roni.
Beberapa menit berlalu akhirnya rombongan anak buah Aldara datang, Ya! Aldara belum tenang kalau meninggalakan rumah itu sebelum orang bawahanya datang.
"Bos! " ucap salah satu dari mereka.
"Baiklah jaga rumah itu! " titah Aldara.
"Tentu saja!" ucap perempuan itu, seraya tersenyum pada Aldara.
"Baiklah kita berpencar melindungi rumah ini! " perempuan itu memerintahkan pasukannya, dan tentu saja semuanya perempuan-perempuan tangguh dan kejam.
Aldara bisa tenang sekarang untuk urusan rumah itu, dia kembali menghampiri motornya dan membawa Roni pulang.
Sedangkan diapartemen Algi terduduk disofa, sambil memandangi Fadil dihadapannya.
"Kau benar Aldara dan Jefri berada disana, kita harus segera menemukan bukti itu agar tidak disalahgunakan oleh mereka yang akan merugikan kita! " ucap Fadil.
"Oke kita akan bekerja sama menghadapi musuh, aku muak dengan mereka yang membohongiku dan membuat aku kecewa! " Algi meneguk air putih dengan satu tegukan.
"Dasar anak bodoh! " gumam Fadil dalam hati, dia tertunduk sambil menyembunyikan senyum liciknya.
"Anak buahku berkurang, aku butuh bantuanmu!" Fadil menatap Algi.
"Tenang saja aku akan menyuruh orang-orangku segera mengambil bukti itu! " Sahut Algi dan mulai merogoh ponselnya.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE....