
HAPPY READING
.
.
.
"Kami terakhir berbicang dia terlihat bahagia, dan dia sempat bilang akan menitipkan sesuatu untuk suaminya padaku, karena dia bilang akan memberi suprise padanya. Aku pun hanya menurut dan kebetulan suaminya itu tengah ada diJepang untuk urusan pekerjaan.Sehari setelah itu, paket dari Sarah untuk suaminya telah datang hanya sekotak kecil dan aku pun tidak tau apa isinya. Aku pun bersama suami ku menemui suami Sarah, kami bertemu dengannya aku melihat dia terlihat ada masalah tapi kami tidak banyak bertanya. Aku menyodorkan kotak itu, dia bertanya dari siapa aku pun tidak menjawabnya karena Sarah bilang harus merahasiakan hal itu dari suaminya. Setalah sedikit berbincang, aku dan suami ku pulang dan kami pun tidak sengaja mendengar kalau Hong company bangkrut. Aku kembali menghubungi Sarah tapi tidak aktif, hingga aku khawatir. Aku menyuruh suamiku untuk menyelidiki suami Sarah, walau aku orang lain tapi aku sangat dekat dengan Sarah sehingga aku tidak ingin Sarah kenapa-napa. Setelah itu suami ku menunduk, dia mendengar informasi kalau hong company bangkrut ulah suami Sarah!" Cerita ibu itu, membuat Aldara berderai air mata.
"Bisakah aku melanjutkannya? " tanya pelan ibu itu sambil mengusap air mata Aldara.
"Kotak kecil itu, apakah sekarang kau masih tidak tau apa isinya? " tanya Aldara sesegukan.
"Aku tidak tau, tapi suamiku bilang kalau suami sarah sempat menemui dia di kantor dan mengajaknya berbincang, dia ingin bertemu denganku sampai suamiku mengantar dia kerumah kami. Kala itu dia berlutut padaku memohon agar aku bisa menyampaikan maaf dia pada Sarah, aku menjadi bingung padahal dia sendiri pun bisa melakukannya tanpa pelantara dariku. Tapi dia malah memaksaku untuk menyampaikan hal itu, dia hanya bilang kalau sekarang dia pulang ke Indonesia dia bisa saja tidak sengaja membunuh kedua anaknya juga Sarah. Hal itu membuat ku terkejut, dan masalah mereka serius kala itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena saat itu juga perutku merasakan kontraksi dan aku harus melahirkan sampai dirawat beberapa hari, tapi sebelum dia pulang saat itu sempat berkata, kalau aku dipinta untuk melindungi adik iparnya yang bernama Jefri dia bilang karena semua ada padanya, dan sampai sekarang aku belum menemukannya." kembali terang ibu itu.
Aldara menatap nanar teman sang Kakak, lalu berkata dengan sangat gemetar.
"Kakak Sarah telah meninggal! " kembali isak tangis tidak bisa terbendung lagi, semua tumpah ruah di sana rasa sakit yang teramat dalam hati kembali terkorek membuat sesak di dada.
Ibu itu terlihat cengo dan tidak lama air mata pun membasahi pipinya, dia memeluk Aldara erat. Keduanya menangis, dalam hamparan malam yang sepi.
"Maafkan aku,aku terlambat! " suara getir keluar dari mulut ibu itu, Aldara menggeleng menyahuti ucapannya.
"Aku sempat mendengar kau tadi akan menyelidiki orang bernama Jefri? Apa kamu sudah mengetahuinya? " tanya ibu itu.
"Aku tidak mengetahui apa pun, aku hanya ingin menyelidiki karena dia ingin menikahi bibiku aku takut kalau dia laki-laki yang jahat! " sahut Aldara.
"Rumi? Dia baru mau menikah sekarang? Aku kira dia sudah menikah karena dulu banyak yang menginginkan dia, umurku dan dia hanya terpaut dua tahun saja," ucap ibu itu.
"Iya dia sibuk mengurusiku! " sahut Aldara.
__ADS_1
"Kamu bisa mengunjungiku jangan sungkan, aku akan selalu menunggu mu datang, " ibu itu merogoh sesuatu ditasnya lalu menyodorkannya pada Aldara.
"Ini kartu namaku, " ucap ibu itu menyodorkan kartu namanya kepada Aldara. Aldara pun menerimanya seraya membaca nama itu.
"Nama Anda Indah," senyum Aldara.
"Tentu saja nama yang sangat indah bukan? " ibu itu menatap Aldara dengan cekikikannya.
"Maksudku nama nya Indah gitu! "
"Iya namaku Indah seindah wajahnya kan! "
"Ishhhhh! "
"Kau bisa memanggiku kakak! " Ibu itu yakni dengan nama Indah memeluk Aldara lalu menepuk punggung Aldara pelan.
"Jangan menangis, kau pasti sudah sangat menderita aku akan senantiasa berada di sampingmu! " Indah meregangkan pelukannya.
"Kakak seorang desainer terkenal di Jepang ternyata? Bisa nyasar di sini? " tanya Aldara dan Indah menatap anakanya yang sedang tidur bersama Helen.
"Anda menyayangi kakakku, terimakasih! " Aldara begitu saja memeluk Indah.
"Dia aku anggap saudaraku! Begitu juga kau, " sahut Indah.
Pagi pun akhirnya tiba, Aldara kembali sibuk dengan ponselnya dia menelepon Rumi.
"Bibi jangan kemana-mana diam dirumah sampai aku pulang! " ucap Aldara pada Rumi.
"Kapan kamu pulang? Aku harus mengurung diri dirumah dua hari berturut-turut apa kau gila? Bagaimana dengan toko ku bisa-bisa pada busuk sayuran kalau tidak ada yang membeli! " terdengar sahutan Rumi dari telpon itu.
"Kami sebentar lagi akan pulang, karena gurunya ada rapat dadakan bersama pihak pendidikan jadi kami dipulangkan pagi ini! Jadi bibi jangan sampai kemana-mana sampai aku pulang! " ucap tegas Aldara.
__ADS_1
"Emang kenapa? Kau mau memberiku hadiah dari kemping? Kalian bisa memberikannya ke toko kan, ini sudah jam delapan pelangganku pada nunggu! " Rumi bersikeras.
"Pokoknya diam, tuh Helen sudah bubar kami pulang jangan sampai bibi keluar rumah yah!" Aldara mematikan sambungan telponnya dan membuat Rumi kesal begitu juga Jefri yang kini berada di dekatnya.
"Aku harus bicara serius sama keponakanmu itu! Tidak peduli dia mau apa, aku akan menikah denganmu hari ini! " ucap tegas Jefri menggenggam tangan Rumi.
"Selamat berjuang, dan aku harap kamu tidak sampai melukai perasaannya dia adalah keluargaku satu-satunya," beritahu Rumi.
"Aku perlu penyemangat, " Jefri mengusap lembut bibir Rumi.
"Bibirku bengkak ulahmu semalam, apa kau mau membuat bibirku doer! " hardik Rumi, membuat Jefri tersenyum dan hal itu membuat Rumi berjaga-jaga.
"Gini aja gak apa-apa, udah sangat membuat semangat yang menggelora! " Jefri mencolek gunung kembar milik Rumi dengan cepat.
"Kau berani menyicil, tinjuku tidak akan segan mendarat dipipimu! " Rumi mengacungkan tangannya yang mengepal.
"Jangan gitu sayang, aku jadi semakin ingin menikah dengan mu udah nggak sabar menyatukan hati ini dalam relung cinta yang indah."
"Hm... " Rumi menurunkan tangannya.
"Tapi apa Aldara selalu berbuat begini? " tanya Jefri.
"Tidak, aku juga merasa ada yang aneh dengannya apa dia mengetahui rencana kita? "gumam Rumi.
"Mungkin saja kedua karyawan mu yang bilang sama dia, "
"Tidak mungkin, mereka ngasih tau dengan cara gimana? Nomor telpon Aldara saja mereka tidak punya, aku rasa dia menyimpan mata-mata diberbagai tempat, juga di rumah ini karena dia selalu tau kalau aku dalam masalah atau dalam kesusahan bahkan dia selalu ada buatku." Rumi bersandar di bahu Jefri.
"Benarkah? Apa dia juga tau masalah di sungai juga? " tanya Jefri.
"Dia tau, " jawab Rumi dan membuat Jefri terkejut.
__ADS_1
JANGAN LUPA TERUS IKUTI CERITA INI, DAN TINGGALKAN JEJAK DENGAN LIKE, KOMEN, FAVORIT JUGA VOTE.
KARYA AUTOR YANG LAIN JUGA ADA YANG UDAH TAMAT, YUK MAMPIR JUDULNYA GURU DUNIA AKHIRAT.