
Siang hari yang panas, membuat Rumi terdiam tidak bergeming di kursi kebesarannya, memutar balpoin mencoba untuk menghilangkan rasa jenuh.
"Mbak ini sudah waktunya istirahat kami juga sudah beli seblak, Mbak tidak lapar! " tanya Dila sambil menenteng kresek berisi dua bungkus seblak.
"Dirumah bakalan sepi, Helen dan Aldara bakalah tidak ada selama tiga hari dua malam! " keluh Rumi.
"Mbak nggak usah sedih, biar nanti aku saja yang menginap dirumah Mbak itu juga kalau Mbak izinin saya untuk menginap, " hibur Dila, pada bos nya yang baik dan perhatian sehingga kedua karyawannya itu merasa nyaman dan tidak asa-asa pada Rumi. Tapi mereka juga tau mana batasan mereka kepada Rumi.
"Apa kau gila, nanti aku ditampok sama suamimu! " sahut Rumi terbangun dan kembali duduk dengan wajah yang masam.
"Dila mana seblak ku?" Budi menghampiri Dila dan Rumi.
"Ini, " Dila menyodorkan seblak yang dibungkus plastik dan dimasukan pada wadah sterofom.
"Mbak mari makan, " ajak Budi menatap Rumi.
"Kau duluan saja," jawab malas Rumi, mengerucutkan bibirnya sedangkan Budi berlalu meninggalkan keduanya.
"Mbak mau seblak? Atau mau apa biar saya belikan, " tanya Dila menatap sendu bosnya itu.
"Aku sedang tidak ingin apa-apa, sebaiknya kamu ikuti Budi dan cepat makan seblaknya! " titah Rumi masih dengan nada malas.
"Baiklah, saya kebelakang dulu," Dila pun pamit pada Rumi, mengingat perutnya sudah bersuara minta di isi.
Suara pintu dibuka membuat Rumi terperanjat lalu tersenyum sambil menyapa pelanggan.
"Selamat datang, " sapa Rumi.
"Sayang kamu udah makan belum? " tanya seseorang tadi yang membuka pintu, tentu saja dia Jefri hanya saja Rumi belum menyadarinya.
Rumi yang mendengar itu hanya terdiam, dia memang cantik jadi sudah biasa dengan gombalan laki-laki.
"Hey ara you okay? " Jefri memajukan mukanya tepat dihadapan Rumi, agar dia bisa melihatnya.
"Bahkan si Jefri saja terbayang ada disini! " gumam Rumi masih tidak mengadari.
__ADS_1
Cup
Ciuman kening yang membuat Rumi langsung tersadar dengan membulatkan matanya, membuat Jefri terkekeh menaggapi.
"Kau! Ternyata itu benar! Mau apa kesini? Mau beli sayur? Atau cuman mau godain aku saja? Kalau hanya ingin menggoda ku sana pergi aku lagi tidak senang hati! " Rumi hendak pergi meninggalkan Jefri, tapi tangannya berhasil dia gengggam sehingga Rumi menghentikan langkahnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan! " ucap Jefri menahan sakit perutnya karena tertekan pada ujung meja kasir.
"Apa? " sahut Rumi acuh.
"Kau bisa mundur, perutku sakit menahan pergelangan tanganmu agar tidak pergi dari ku! " ucap Jefri, Rumi pun sadar bahwa di antara mereka ada meja kasir yang menghalangi.
"Hm!" gumam Rumi melepaskan tangan Jefri lalu menghampirinya di depan meja kasir.
"Aku ingin melamarmu sekarang, kau mau kan menjadi istriku?" tanya Jefri menggenggam kedua tangan Rumi dengan tatapan penuh harap.
"Yang benar saja kau melamarku hanya dengan menggenggam tanganku, tidak ada romantis-romantisnya. Ini sepertinya bukan lamaran lebih tepatnya ini seperti meminta tolong karena kamu lagi kesusahan!" sahut Rumi dan Jefri hanya menelan ludahnya susah.
"Kau itu mulut cabe, aku belum selesai main potong saja lihat tuh! " Jefri menunjuk kearah luar dan di sana banyak laki-laki berjas hitam dengan seserahan ditangannya masing-masing, dan tentu saja itu membuat Rumi menganga.
"Dia sungguhan melamarku? " gumam Rumi tidak percaya.
"Berapa ini harganya? " tanya Jefri seraya berjalan dan mengambil brokoli itu.
"Tiga puluh ribu sebungkus, itu satu kilo." sahut Rumi, dengan berbagai pertanyaan di pikirannya tapi dia urungkan untuk diucapkan.
"Aku bayar! " Jefri mengambil uang seratus ribu di dompetnya lalu meletakannya di meja kasir.
"Kau itu aneh, mau melamar apa mau beli sayur apa gimana? Aku paling tidak suka dengan laki-laki yang hanya mempermainkan perasaan perempuan!" geram Rumi, dia sedikit senang karena dilamar oleh Jefri tapi dia juga harus waspada takut laki-laki itu hanya akan mempermainkannya.
"Aku lupa tidak bawa bunga, dan aku melihat sayuran ini mirip sebuket bunga makanya aku beli dulu sama kamu! Bukannya kau ingin lamaran yang romantis! " Jefri menggengam Brokoli itu dengan kedua tangannya.
Rumi malah pusing sendiri, ada rasa tidak percaya yang terselip bahagia pula. Rumi pun menghampiri Jefri lalu berbisik tepat di telinganya.
"Entah kenapa aku tidak percaya kau melamarku, apa ada alasan di balik ini semua mengingat kau keluarga dari suami keponakanku!" bisikan Rumi membuat Jefri marah, dia menarik pinggang Rumi hingga tidak ada jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Dengar kan aku! Aku mencintaimu sangatlah tulus tidak ada maksud di dalamnya selain aku menginginkan kau menjadi istriku. Jauh dari masalah yang keluarga kita hadapi, itu tidak ada sangkut pautnya! Tidak ada alasan aku mencintaimu, yang terpenting kau harus menjadi milikku mulai sekarang dan sampai kau dan aku meninggal, bahkan di akhirat pun aku akan tetap mencarimu karena kau adalah miliku! Setiap yang aku ucapkan adalah kebenaran, kau harus percaya padaku. My Rumi, my love, my heart will you marry me?" terang Jefri menatap tajam Rumi bagai pedang yang sukses menembus kornea mata Rumi, jefri memberikan brokoli itu pada Rumi dengan sebelah tangannya.
"Kau adalah segalanya bagiku jika kau menganggap semua yang ada di toko ini berharga bagimu, maka kalau bisa biar aku yang menjadi bangunan ini untuk menjadi hal yang kau anggap berharga! Ceritakan susahmu, senangmu, keluahanmu, semua yang ada di benakmu berikanlah padaku, aku akan berusaha membuatmu tidak membebaninya lagi. Aku hanya perlu kau disisiku ku mohon jadilah istriku! Aku sangat ingin menikah dengan seseorang sepertimu Rumi." Jefri merenggangkan pelukannya lalu mengambil kotak perhiasan di saku celannya.
"Aku butuh jawaban yang tidak membuatku kecewa! " kembali ucapan demi ucapan terlontar dari mulut manis Jefri, Rumi yang melihat keseriusan Jefri dari sorot matanya membuat hatinya meleleh bagai bongkahan es diantartika yang berubah menjadi cair.
"Aku menerimamu! " jawab Rumi menunduk hal itu membuat Jefri terkejut sekaligus sangat bahagia, saking bahagianya dia melamparkan kotak perhiasan itu lalu mengangkat Rumi dan mendekatkan hidungnya dengan hidung milik Rumi.
"Terima kasih banyak sayang, aku sayang kamu! " Jefri membawa Rumi berputar-putar.
Budi dan Dila melongo melihat beberapa orang berjas rapi dengan seserahan yang banyak dan mewah. Pandangan mereka lun beralih menatap Rumi dan Jefri yamg terlihat sangat bahagia dengan tawa mereka.
"Dila apa pikiran kita sama? " tanya Budi.
"Tentu saja!" Sahut Dila.
Dila dan Budi menghampiri bosnya itu yang tengah diangakat oleh Jefri, mereka akan mengucapkan selamat pada mereka hingga tidak sengaja Budi menginjak kotak perhiasan.
"Apa ini? " penasaran Budi hendak membuka kotak itu. Jefri yang menyadari bahwa kotak perhiasan itu sudah tidak berada di tangannya pun segera menoleh menatap Budi.
"Itu milik calon istriku! " Jefri mengambil kotak perhiasan yang berisi kalung itu lalu segera memakaikannya pada Rumi.
"Khm, Mbak selamat ya! " Dila menyalami Rumi
" Ia mbak akhirnya Mbak menemukan pujaan hati Mbak sekarang! " Budi tersenyum
"Kok aku jadi malu ya! " ujar Rumi.
"Ah ia kalian rahasiakan ini dulu dari siapa pun, terutama Aldara! " ucap tegas Rumi.
"Kenapa, apa kau masih meragukanku? " Jefri mengerucutkan bibirnya
"Ada berbagai alasan, kau mengerti kan Jef! " Rumi menoleh menatap Jefri.
"Ia, " Jefri tersenyum dipaksakan walau kenyataannya dia menginginkan seluruh manusia yang berada di bumi ini mengetahui kalau dirinya akan menikah dengan Rumi.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOYE YA........ 😊😊😊😊
BACA JUGA NOVEL AUTOR YANG UDAH TAMAT DENGAN JUDUL GURU DUNIA AKHIRAT