Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Andris ternyata


__ADS_3

HAPPY READING


.


.


.


"Apa maksud perkataanmu itu? " tanya Fadil pada Melinda.


Kini mereka sedang berada di sebuah lestoran mewah, setalah Melinda pergi dari kantor Algi dia langsung menemui Fadil.


"Waktu aku menemani Roni kemping, aku melihat Algi dan Aldara menghampiri sebuah rumah yang bercat menyerupai rumah kayu dan anehnya rumah itu terdapat kunci yang memerlukan sandi dan kau tau sandi itu seperti sebuah pemindai," jelas Melinda dan memakan patongan steak itu.


"Terus ada apa didalamnya? " penasaran Fadil.


"Mana ku tau, karena aku fikir mereka berdua juga tidak mengetahui itu rumah siapa dan mereka juga hanya penasaran saja mungkin! " sahut Melinda acuh.


"Terus apa gunanya perkataanmu itu bagiku! " sentak Fadil.


"Aku belum makan tadi pagi hanya makan roti isi tidak kenyang! " Melinda buru-buru menghabiskan makanan dipiringnya.


"Apa! " Fadil kesal.


"Kau tidak bisa berbuat kasar padaku! " Melinda berucap dengan tatapan tajamnya.


"Terserah, makan lah sepuasmu karena aku sekarang kaya! " Fadil dengan percaya dirinya.


Tanpa mereka sadari dimeja sebelah kirinya terdapat Andris yang tengah memakan spaghetti, tentu saja dia mendengarkan percakapan itu dengan jelas. Walau Andris tidak tau maksud perbincangan mereka tapi mendengar nama Aldara, dia menjadi sedikit penasaran.


"Aku sudah muak pura-pura jadi miskin! Mana jabatanku hanya bekerja di bagian administrasi, Kak Indah benar-benar membuatku sengsara! " Andris memutar garfunya di bagian tengah spaghetti, sehingga membentuk gulungan mie yang besar lalu dia pun memakannya sampai kedua pipinya kembung.


Andris sempat tersedak dia segera meminum jus yang sudah ada dimejanya, "Sialnya jadi pemain figuran! Aldara tidak bisa aku miliki, bahkan dia terlihat mencintai Algi dan sebaliknya nah aku cuman menjadi penghibur suasana saja, dimana ada yang butuh aku selalu berada di sana, nasib-nasib! Sekarang juga aku ditakdirkan mendengar percakapan mereka, mungkin untuk dilaporkan pada kak Indah. Tentu saja tidak ada untungnya bagiku! Bahkan tadi aku pesan pizza malah dikasih spaghetti, mau bilang terlanjur lapar banget nanti lama lagi kalau di ganti! Makanan yang aku mau saja sampai tidak dikasih oleh takdir! Mungkin kalau aku makan pizza udah dari tadi aku pulang dan tidak akan mendengar percakapan mereka! "


Andris mengelap mulutnya dengan saputangan yang berada dipangkuannya, lalu dia juga tidak sengaja melihat Melinda dan Fadil cium pipi kiri dan kanan, membuatnya bingung.


"Lah apa mereka saudara? Tapi setauku Fadil itu adalah kakak senior Melinda waktu SMP kan? Sampai akrab begitu membuat hati jomblo ini memberontak! "Andris lagi-lagi bergumam.

__ADS_1


"Nah pucuk dicinta ulam pun tiba! " Andris menatap perempuan yang kini menghampirinya.


"Hai Kakak indah yang dipandang dari sudut mana saja! " Andris menyapa Indah yang kini duduk didepannya, sedangkan Indah pandanganya mengarah pada pintu.


"Mana mungkin kamu tidak tau dengan mereka kan?" tanya Indah menatap sang adik dihadapannya.


"Ada satu info, tapi ada syaratnya! " Andris melipatkan tangannya diatas meja.


"Hem! " Indah hanya bergumam, karena dia tau persis kalau adiknya itu matrealistis.


"Carikan jodoh untuku, yang seperti Aldara sama persis! " ucapan Andris membuat Indah tertawa, tentu saja hal itu mustahil mana ada orang yang sama percis, yang kembar pun pasti ada bedanya.


"Oke, sekarang kasih tau aku apa yang mereka bicarakan! "Indah mengehentikan tawanya dan kembali menatap Andris.


"Kak kau akan membohongiku! "


"Ayolah, atau aku akan mencabut sahammu!"


"Iya, iya. Dia hanya membicarakan rumah yang berada ditempat Roni kemping, katanya rumah itu dicat menyerupai rumah kayu dan ada alat pemindai untuk bisa membuka rumah itu," kasih tau Andris.


"Kenapa membicarakan rumah orang? Mau nyuri? " ledek Indah.


"Kau boleh berhenti dari pekerjaan itu, karena aku telah menemukan Jefri! " Indah berdiri hendak pergi.


"Apa? Aku kalah cepat menemukan dia, tapi bagaimana dengan fasilitasku semua menjadi miliku lagi kan? " Andris khawatir dan membuat Indah menoleh.


"Tentu saja, karena kau telah memberiku informasi lebih sebagai sampinganmu, jadi aku akan mengembalikan semua silahkan! " Indah merogoh ponselnya dari tas.


"Tidak sia-sia aku jadi seorang detektif dadakan, berguna juga! Wah i'm coming my word!" gumam Andris dalam hati, hungga suara ponselnya berbunyi.


"Kakak memang yang terbaik! " Andris tersenyum mekihat notifikasi diponselnya.


"Tapi-" ucap Andris menggantung.


"Apa lagi? Aku pegal berdiri terus mau pergi gak jadi lagi dan lagi! " Indah menghembuskan nafasnya.


"Soal jodoh yang aku pinta! " ucap Andris.

__ADS_1


"Nanti aku suruh Aldara untuk memfotocopy dirinya lewat mesin diperusahannya," canda Indah.


"Kak! " sentak Andris dan Indah malah tertawa.


"Tenang saja aku punya kenalan yang baik,cantik, seksi dan tentunya sudah siap menikah,"


"Bohong! "


"Hah kau ini, nanti aku kabari lagi aku harus jemput anakku sekolah sebelum berangkat ke Jepang," Indah meninggalkan Andris disana.


Indah setelah keluar dari lestoran itu segera menelepon anakanya agar pulang bareng bersama Helen karena dirinya akan mengunjungi toko sayur Rumi.


Indah memasuki mobilnya dan melajukannya membelah jalanan menuju toko Rumi.


Disekolah Helen tengah berjalan menuju pintu gerbang dengan gembira mengingat nanti malam dia akan kemping bersama Roni. Hingga dia dikejutkan dengan seseorang yang menepuk bahunya.


"Helen, " suara seseorang memanggilnya dan Helen yang dipanggil pun menoleh.


"Kamu Tina, ada apa? " tanya Helen.


"Kita pulang bersama, momihku ada di toko sayur tante mu! " jawab anak perempuan itu yang di sebut Tina yakni anak Indah.


"Baiklah ayo! " Helen dan Tina pun beriringan keluar dari sekolah.


"Hey Tina mulai sekarang kau berteman dengan anak tanpa ayah itu? Nanti ayahmu direbut baru tau rasa! " Ucap Dian yang merupakan anak laki-laki, seangkatan Helen dan Tina berucap dan membuat Helen mengepalkan tangannya.


"Jaga bicaramu, kau terlalu menyinggung mana mungkin aku merebut ayah dia lagian aku akan punya daddy! " sahut Helen, menatap sinis Dian.


"Yak kali aja kau mencoba mendekati Tina ada maksud tertentu! " Dian tertawa bersama kedua rekannya.


"Terserah kau saja! Aku tidak akan takut kehilangan Papihnku! Helen lebih baik ketimbang kau yang suka mengejeknya, bibirmu itu sangat tajam mungkin saat kau dewasa tidak akan ada wanita yang menginginkanmu! " Tina menarik pergelangan tangan Helen dan meninggalkan ketiga anak laki-laki itu.


"Baru kali ini aku ada yang membela selain Roni! Makasih ya! " Helen tersenyum pada Tina.


"Aku tidak membelamu aku hanya membicarakan fakta, dia memang anak yang nakal. Ngomong-ngomong Roni kemana? " tanya Tina, dan malu-malu saat menanyakan Roni.


"Aku juga belum melihatnya sedari tadi, mungkin dia sudah pulang dul-"

__ADS_1


"Helen! " Teriak Roni menghentikan ucapan Helen, mereka pun menoleh pada sumber suara.


"Hah! Itu dia!" ucap Helen sedangkan Tina pipinya menjadi memerah.


__ADS_2