
HAPPY READING
.
.
"Apa? " Ibu menejer berhenti melangkah membuat Aldara terkejut dan segera menghentikan langkahnya juga.
"Jika seseorang ingin mencegah agar cinta itu tidak tumbuh lagi bagaimana? " tanya Aldara menunduk malu.
"Ald, aku tidak menyangka bukankah kau pernah mempunyai suami apa kau tidak mencintainya? " tanya Ibu menejer membuat Aldara gelagapan.
"Ah lupakan! Waktu istirahat sudah menipis aku akan kembali bekerja! "Aldara bergegas berjalan meninggalkan Ibu menejer dengan sejuta pertanyaan dibenaknya.
"Hampir saja! " gumam Aldara.
"Cinta itu adalah sebuah penyakit yang mematikan didunia! " tiba-tiba suara laki-laki membuat Aldara segera menoleh pada sumber suara.
"Andris! " gumam Aldara.
"Dimulai dengan rasa suka yang membuat hatimu bergetar dan jantungmu berdegup dengan cepat saat bersamanya, dan akan lebih parah lagi jika sudah di tahap ingin memiliki dan di iringi dengan rasa kasih sayang, mereka yang merasakan itu tidak akan terlepas dari ruang cinta yang terbentuk dalam hati. " Andris menatap Aldara lekat sedangkan Aldara sendiri hanya terdiam.
"Jika sudah ditahap terakhir kau masih memendamnya percayalah hal itu akan menggangu mu selama hidupmu, sedangakan jika kau mengutarakannya masih ada dua kemungkinan, diterima dan di tolak. Senang saat diterima itu adalah sebuah anugrah dan ditolak adalah resiko." Andris menghampiri Aldara perlahan.
"Terkadang jika kau mencintai seseorang akan sulit untuk menghapusnya begitu saja dari hatimu,kau harus mencari cinta yang baru itu adalah obat penawarnya, itu juga kalau kau beruntung mendapatkan yang lebih dari orang sebelumnya." Andris menatap nanar Aldara, entahlah yang pasti hatinya kali ini merasa sakit.
"Kau tau yang lebih menyakitkan dari cinta? " tanya Andris dan Aldara pun menoleh hingga pandangan mereka bertemu.
"Memperjuanhkannya dan pada akhirnya dia juga bukan lah takdirmu! Ada lagi yang lebih menyakitkan apa kau ingin tau? " Andris memegang kedua bahu Aldara.
"Tidak! " Aldara seraya tersenyum dan melepaskan pelan kedua tangan Andris dari bahunya.
"Aku merasa bersalah padamu, maafkan aku! " Aldara menunduk.
"Cinta tidak bisa dipaksakan! Aku mengerti jangan merasa aku tengah menceritakan kisahku dan kau, aku melihat mu tersenyum saja membuatku senang." Andris mencubit pipi Aldara gemas.
"Tidak ada kenangan diantara kita, jadi jangan khawatir aku bisa mengatasinya! " sambung Andris.
"Kenangan, ya aku tau hal itu yang akan selalu memikirkannya walau kenangan itu manis dan pait sekali pun. Apa kau mencubit pipiku ingin menciptakan kenangan agar aku selalu memikirkanmu? " tanya Aldara.
"Sebagian kecil! " Andria tetawa.
"Kau! " dan Aldara pun tertawa.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Ibu menejer sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka, sudut bibirnya terangkat.
"Yang lebih menyakitkan adalah jika kau mencintai seseorang itu dan kau tidak bisa mengungkapkannya karena suatu hal. Cinta bertepuk sebelah tanganpun tidak bisa dihindari dan kau akan selalu tersiksa selamanya karena rasa terpendam dan penasaran akan selalu mengahantui. Terkadang aku selalu menangis mengingat kalau aku tidak bisa meraihnya walau pun dia berada tepat didekatku! Rasa sakit lebih terasa saat pikiran itu mengarah padanya hingga tidak bisa dihindari! Dan semua hal itu hanya kau yang merasakannya, tidak dengan orang yang sedang dicintainya, " Ibu menejer itu berbalik dan kembali keruangannya.
"Kamu mendengar percakapanku bersama Ibu menejer? " tanya Aldara.
"Tentu saja, tapi aku mau bertanya bolehkah? " Andria menyipitkan matanya.
"Apa? "
"Apa kau lupa dengan rasa cinta itu, padahal anakmu saja sudah besar, apa kau dijodohkan? Atau-"
"Aku sudah lama tidak berfikir ke arah sana, ya seperti itu mungkin lupa kali ya!" Aldara tertawa dipaksakan dan membuat ucapan Andris terhenti.
"Oh begitu! Baiklah aku sengaja juga ingin bertemu denganmu, " Andris memasikan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Hm? " Aldara mengangkat kedua alisnya.
"Aku akan berhenti bekerja diperusahaan ini, aku harap kita masih bisa bertemu," kasih tau Andris.
"Kenapa? " tanya Aldara.
"Kau tidak mau kehilanganku?" Andris antusias, membuat Aldara bingung.
"Iya! " Aldara tersenyum.
"Dia hanya menceritakan sisi menyedihkan saja dari kata cinta!" ucap Aldara dalam hati.
Setelah perbincangan bersama Andris, Aldara segera menuju meja kerjanya dan duduk manis disana dan di saat akan mengambil beberapa lembar kertas di meja tanpa sengaja dia menoleh pada kaca yang menangkap sosok Algi tengah sibuk.
Aldara tanpa sadar memegang dadanya, jantungnya kembali berdegup, "Tidak boleh! "
Algi yang kali ini melihat sekertarisnya tengah memegang dada dan mengembuskan nafas panjang hanya tersenyum menanggapi, sampai suara ponselnya bergetar.
"Roni? " gumam Algi membaca layar ponselnya dan segera dia mengangkat telpon itu.
"Ada apa Roni? " tanya Algi.
"Daddy aku sekarang ada dirumah Helen, nanti Daddy kesini aja sepulang kerja sama Bunda ya! Daddy tidak akan ingkar janji kan untuk nanti malam kemping? " ucap Roni, pandangan Algi pun mengarah pada Aldara.
"Ia nanti Daddy dan Bunda akan bersama kesana! " jawab Algi, dan hatinya merasakan kegembiraan setelah mengucapkan itu.
"Baiklah Daddy aku tutup telponnya! "
__ADS_1
"Hm, " sahut Algi dan dia pun menyimpan ponselnya di meja.
Hari mulai sore dan waktu pulang pun sudah tiba, Aldara merapihkan barangnya sampai Algi sekarang berada di hadapannya pun dia belum menyadarinya.
"Cepat berkemasnya Bunda! " ucap Algi dan Aldara pun menoleh.
"Hah, kau bukan anakku! "
"Bagaimana kalau calon suamimu! " sahut Algi dan Aldara hanya menelan ludahnya susah.
"Jangan menghayal! " Aldara mengambil tasnya.
"Aku tidak mengahayal, bagaimana kal-"
"Diam!" Aldara membungkam mulut Algi, lalu pergi begitu saja.
"Apa kau melupakan rencana anak kita nanti malam? Apa kau menginginkan mereka sedih sekarang? " teriak Algi dan berhasil membuat Aldara menghentikan langkahnya.
"Kedua bocah itu benar-benar! " gumam Aldara menggaruk kepalanya kasar hingga rambutnya berantakan
"Roni tadi menelepon dia udah ada dirumahmu, kita tinggal kesana tapi antar dulu aku ke apartemen untuk mengganti baju dan menyimpan tas. " Algi merapikan rambut Aldara yang dilihatnya berantakan.
"Biar aku saja yang merapikannya! " Aldara menepis tangan Algi dari kepalanya.
"Kau salah tingkah? " goda Algi membuat Aldara mengacak rambut Algi kasar.
"Tuh kau perlu merapihkan rambutmu sendiri, biar rambutku aku sendiri yang rapihkan! " nada jutek pun terlontar dari mulut Aldara, dan hal itu malah membuat Algi menyukainya.
"Aku tidak mau merapihkannya, cepatlah nanti anak-anak menunggu! " Algi menarik pergelangan tangan Aldara.
Sesampainya didalam mobil Aldara menatap Algi, dia kembali merasakan hatinya berdesir.
"Aku sudah gila! " gumam Aldara tersenyum seakan mengejek dirinya.
"Apa? " tanya Algi, yang hanya mendengar Aldara bergumam tanpa mendengat kata yang diucapkannya.
"Motorku gimana? " tanya Aldara.
"Biar orang suruhanku mengambilnya dan mengantarkannya kerumahmu! " jawab Algi.
"Hm, " Aldara menatap gedung tempatnya bekerja.
"Ingatlah aku hanya ingin dendamku terlaksana!" Aldara menepuk kepalanya sendiri.
__ADS_1
SEPERTI BIASA SETELAH MEMBACA KASIH SEMANGAT AUTORNYA, DENGAN LIKE, KOMEN, FAVORIT JUGA VOTE. 😍😍😍