
Pagi hari yang cerah, ditemani embun yang jatuh dari daun menambah rasa segar udara yang terhirup. Hari ini adalah hari di mana diadakannya kemping sekolah, Aldara dan Helen telah siap dengan ransel dan jaket yang dikenakannya.
"Sayang sebelum berangkat kita serapan bubur dulu disana," ajak Aldara menunjuk grobak bubur yang berada di dekat sekolahan.
"Ia Bunda, " sahut Helen, Aldara pun menggandeng tangan Helen menuju pedagang bubur itu. Mengingat ini masih pagi dan belum semua kumpul jadi mereka masih bisa serapan.
"Helen! " teriak Roni yang baru turun dari mobil dan diikuti Algi.
"Tampannya! " gumam ibu-ibu yang berada dekat Aldara.
Roni berlari menuju Helen dan Aldara, Algi yang kini memakai setelan kaos dan jeans membuat siapa yang memandang akan terkesima ditambah lagi dia mengenakan kacamata hitam, membuat kesan cool pada Algi. Tanpa dipungkiri Aldara pun hanyut dalam ketampanan Algi sampai tidak sadar kalau yang dia tatap kini tepat berada di hadapannya.
"Apa aku setampan itu, sampai air liurmu menetes," ucap Algi menyadarkan Aldara yang terkejut dan sepontan mengelap bibirnya yang sebenarnya tidak sampai mengeluarakan air liur, hal itu disaksikan oleh ibu-ibu di sana, mereka dan Algi tertawa.
"Jangan salah paham aku hanya memikirkan bubur ayam ini, karena aku belum sempat serapan makanya bubur itu terasa sangat enak dan menggiurkan hingga air liur pun seakan menetes! " kilah Aldara dan mengambil bubur itu dari tangan pedagangnya itu.
"Tergiur pada bubur, tapi tatapan mu mengarah padaku! Jangan munafik! " Algi duduk di bangku pelastik pinggir Aldara, ini adalah kali pertama dia berada dipedagang pingir jalan.
"Makanan itu apa menyehatkan?" tanya Algi, dan Aldara menggantungkan sendok yang ada bubur itu di depan mulutnya yang sudah menganga.
"Bagi dirimu ini mungkin tidak menyehatkan, tapi bagi kami yang suka makanan pinggir jalan mereka akan kuat dan tidak lembek!" Aldara menyuap segera buburnya.
"Roni kau berhasil membujuk daddy mu, hebat! " Helen sambil memakan krupuk.
"Tentu saja, dan itu ternyata ada syaratnya! " sahut Roni.
"Apa? " Helen penasaran.
"Aku dan Daddy tidak ikut satu bus, kami akan naik mobil. " Roni berdecak.
"Gak bakalan seru kalau begitu, kau akan merasa bosan di jalan coba bayangkan kau berada di bis banyakan, dan kita bernyayi bersama sampai lupa kalau kita telah sampai beh, rame pokonya kau harus kembali membujuk Daddy mu!" Helen mencoba membuat Roni mau naik bis.
"Daddy ku orangnya suka mau sendiri, ini juga aku dapat Daddy harus mempelajari jurnal yang sama sekali aku tidak pahami! " sahut Roni menopang kedua pipinya.
"Apa jurnal? " tanya Helen.
"Walau pun aku menjelaskannya, kau tidak akan pernah mengerti aku saja kesusahan apa lagi kamu! " Algi menatap bubur milik Helen. Walau dia sudah serapan tapi dia juga ingin mencicipi sedikit saja bubur itu.
__ADS_1
"Kenapa kalian bisik-bisik? " tanya Aldara menoleh pada kedua anak itu, yang kini berada di sampingnya.
"Roni katanya pengen bubur! " Ucap Helen , dan hal itu membuat Algi dan Roni saling menatap.
"Apa kamu masih lapar Ron? " tanya Algi.
"Tidak! " elak Roni, dan kembali melirik mangkuk Helen.
"Pak buatkan lagi satu! " teriak Aldara dan anggukan pun terlihat dari kepala pedagang itu.
"Roni kalau mau bubur nanti Daddy belikan di tempat lain," Ujar Algi dan Aldara menatap tajam pada Algi.
"Dia menginginkan bubur ini, emang kenapa? Disini bersih dan liat cara penyajiannya! " Aldara menunjuk kearah grobak bubur itu.
"Manggkuk nya hanya dicuci sekali dan airnya lama untuk di ganti, Roni mari kita cari lestoran bubur daerah sini!"
"Kau memang banyak bersuara! " Aldara menyuapkan sesendok bubur pada Algi , dan Algi pun terkejut.
"Enak bukan! " ucap Aldara.
"Mereka itu orang tua Roni dan Helen?" tanya ibu itu menatap ibu yang lain.
"Ia tapi mereka bukan suami istri deh, mungkin mereka janda dan duda! " sahut ibu yang lain.
"Kebetulan suaminku tidak ikut, biar aku goda duker itu, sebelum mereka cepat bersama! " girang ibu yang bertanya tadi.
" Apa duker? "
"Duda keren! "
"Dasar kau ini. ingat suamimu dikantor cari uang untuk mu! "
"Roni hubungan Bunda dan Deddy kayaknya makin dekat ya?" ujar Helen dan Roni pun mengangguk.
"Mungkin kita akan berhasil!" mata Helen berbinar begitu juga Roni, tapi Roni tidak terlalu menampakannya.
Roni dan Helen pun menikmati bubur itu, sedangkan bubur Aldara sudah habis. Aldara beranjak lalu menoleh pada Helen.
__ADS_1
"Helen Bunda mau beli dulu permen, jangan kemana-mana ya! " Aldara sebelum meninggalakan Helen, dan Helen pun hanya mengangguk menanggapi ucapan Aldara.
mendengar Aldara akan pergi Algi pun beranjak dan mengikuti Aldara.
"Kami akan membawa mobil, kau ikut denganku! " ajak Algi dan Aldara hanya terus berjalan menghiraukan ucapan Algi.
"Apa aku bicara kurang keras! " hardik Algi dan mencenghram bahu Aldara.
"Kami akan naik bis, aku berniat mengantar Helen suapaya dia tau pengalaman bagaimana dia bersama dan ceria bersama teman-temannya, jika kami harus ikut dengamu itu akan membuat mereka jenuh." sahut Aldara dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Mereka juga akan ceria nanti di acara kemping kan, bukan hanya diperjalanan! " Algi melipat tangannya di dada.
"Terserah kau mau apa, aku akan tetap naik bis! " kekeh Aldara dan membuat Algi geram karena sesungguhnya dia menginginkan Aldara berada didekatnya.
Waktu pun terus berjalan, Algi kesal karena Aldara naik bis sedangkan dirinya sudah naik mobil.
"Aku akan naik bis!" Hentak Algi, menekatkan diri karena hatinya menuntun dia untuk satu bis dengan Aldara.
Untungnya bis belum berangkan Roni dan Algi berlari menuju bis itu, mereka celingukan setelah berada di dalam. Hingga pandangan Algi menangkap sosok Aldara dan Helen yang tengan duduk di bangku belakang.
Algi pun segera menghampiri Aldara sambil menarik tangan Roni lalu duduk di bangku depan Aldara dan Helen.
"Pak, mau naik bis? " ledek Aldara sedangkan Algi menyuruh Helen untuk duduk di depan bersama Roni, dan Algi sendiri pindah ke belakang menjadi disamping Aldara.
"Kenapa kamu disini, aku harus bersama Helen! " ucap Aldara.
"Bunda aku ingin bersama Roni saja, biar Bunda bersama Daddy! " ujar Helen dan membuat Algi menyunggingkan bibirnya.
"Hah!" Aldara menghembuskan nafas pasrah lalu menoeleh pada Algi.
"Apa tidak malu berada di sini, lihatlah disini lebih banyak ibu-ibu ketimbang bapak-bapak ,"
Algi melihat seluruh penumpang yang berada anak-anak, ibu-ibu serta laki-lakinya yang hanya beberapa orang disana.
Algi menelan ludahnya susah, tapi bis mulai berjalan dan mana mungkin dia turun memang seaungguhnua dia ingin dekat dengan Aldara.
"Kenapa memang? Tidak ada salahnya aku di sini, lihatlah hampir semua orang yang ada di bis ini memperhatikanku dengan kekagumannya!" seringai Algi menatap Aldara. padahal dalam hati dia risi di pandang seperti itu.
__ADS_1