
"Aaaaaaaaa" Jeritan Aldara memenuhi ruangan itu, tangannya memegang telinga, keringat dingin membasahi dahinya serta tubuh yang bergetar. Hatinya merasa sangat sakit bagai luka lama yang terbuka.
"Ald! " Tiba-tiba Algi memeluk erat Aldara, Aldara belum sadar kalau yang tengah memeluknya itu adalah Algi.
"Tidak apa-apa, aku akan melindungimu! " Algi mencium puncak kepala Aldara.
"Sakit, ini sangat menyakitkan! " Aldara memukul bagian dadanya dengan keras, mencoba untuk menghilangkan rasa sesak disana, hingga Aldara menoleh dan mendapati Algi yang mendekapnya.
Bugh
"Jangan pernah menyentuhku! " ucap Aldara setelah memukul wajah Algi sekuat tenaga hingga darah mengalir disudut bibirnya.
Algi hanya terdiam sambil menunduk, "Maaf! "
"Jangan pernah muncul dihadapanku lagi, aku muak melihatmu! " Aldara mencabut flashdisk dari leptop dan membawanya pergi.
"Aku memang tidak layak dimaafkan! Aku bodoh!" teriak Algi menatap punggung Aldara yang menjauh darinya. Dan Algi pun sempat melihat video itu.
"Yang becus kalau kerja! " Aldara memarahi anggotanya yang bertugas menjaga rumah itu.
"Maaf kami lengah! " suara perempuan jangkung berisi itu.
Aldara memegang erat benda panjang kecil yang berada di tangannya, hingga tepat dihadapan Aldara ada begitu banyak laki-laki dan terlihat juga Fadil serta Jefri disana.
"Kau jangan mimpi bisa mengambil bukti itu! " Jefri matap tajam pada Fadil.
"Kata siapa mungkin saja bukti itu sekarang berada di tangan Algi dan akan memberikannya padaku!" Fadil tersenyum menyeringai.
"Percaya sendiri sekali kau! " Algi balas menyeringai.
Aldara yang melihat akan ada peperangan dari dua kubu segera menjentikan tangannya memeberi kode pada anggotanya untuk bersiap.
"Bos kita kekurang anggota! " beritahu wanita jangkung itu.
Anggota mafia yang dibentuk oleh Aldara pada dasarnya semua wanita tangguh dan berani serta wanita yang memiliki tekat untuk balas dendam pada orang-orang yang selalu menindasnya. Walau pun wanita mereka sangat cerdik dan urusan senjata mereka kuasai, saling membagi ilmu membuat anggota mafia Aldara kuat.
"Berapa? " tanya Aldara memasukan flashdish itu di saku jaketnya lalu menutupnya rapat dengan resleting.
"Delapan puluh dua orang saja! " jawab wanita itu.
"Termasuk anggota inti? " tanya Aldara, menanyakan anggota yang sudah lama dan menguasai seluruh ilmu peperangan.
"Semua anggota inti ada disini sekarang! " sahut wanita tegap itu.
"Tidak apa kita bisa melumpuhkan pasukan laki-laki itu! Jangan lupa pluru harus full! " Aldara mendelik dan menggenggam pluru itu dari tas kecilnya lalu memasukannya dan memenuhi megazine(berada tepat dibagian yang digenggam telapak tangan) pada pistolnya.
Tlak
__ADS_1
Suara slide yang berada di bagian atas pistol ditarik, sehingga recoil spring yang berada didepannya ikut tertarik dengan mekanisme mekanik pluru akan didorong ke kamar pluru atau Bullet (Terletak dibawah tempat pluru dilepaskan). Sehingga pluru tersusun rapi dimegazine. Sehingga Aldara hanya perlu menekan trigger untuk melepaskan pluru itu.
"Tentu saja, pistol kami sudah siap dan kami juga membawa senjata lain! " wanita itu menujukan belati dan pisau serta parang. Membuat Aldara tersenyum menanggapi.
"Sekalian bawa golok! " canda Aldara.
"Ini bawa! "
"Apa! " Aldara terkejut.
Algi terlihat masih diruang itu, tangannya mengambil beberapa foto yang menjadi bukti kalau Fadil adalah dalangnya dalam rencana melenyapkan Kakak dan ayahnya. Tangannya mengepal menggenggam foto itu hingga ponselnya berdering dan Algi pun melihatnya, dan ternyata Fadil yang menelepon.
"Algi apa bukti itu kau sudah menemukannya? " tanya Fadil, Algi yang mendengar suara Fadil merasa muak dibuatnya, dia pun menggretakkan giginya menahan emosi.
"Ya! " jawab singkat Algi.
"Tentu saja kau bisa mengambil bukti itu, kita harus cepat melenyapkannya agar tidak di salah gunakan oleh Aldara dan Jefri. " suara Fadil terdengar panas di telinga Algi, dia pun segera menutup telponnya karena merasa marah dengan klakuan bejat pamannya itu.
Algi kembali menarik ponsel itu ketelinganya menelepon seseorang,
"Hallo? " suara seorang laki-laki yang di telpon Algi.
"Apakah benar kak Dinar masih hidup di sana? " tanya Algi dengan suara yang bergetar.
"Benar! Dia masih hidup. Kini berada di ruang VIP dan sekarang kondisinya sudah ada mendingan, dia sudah bisa berucap beberapa kata walau semua anggota tubuhnya masih belum bisa digerakan," beritau seseorang itu membuat matanya berkaca, menimbun air mata yang akan keluar.
"Fadil sialan! " gumam Algi penuh penekanan dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
Dor
Dor
Dor
Tiba-tiba suara benda api itu terdengar di luar rumaah, Algi segera berlari dia mengingat kalau Aldara masih disekitaran sini.
"Ald aku akan melindungimu! " Algi mengambil pistol dibalik saku jaket hitamnya.
Sedangan dipadang rumput yang luas itu, terlihat pasukan Jefri banyak yang tumbang membuat Jefri mengepalkan tangannya dia kalah saing dengan Fadil.
"Sial" gumam Jefri.
"Hai Jefri, pasukan kau itu sangat sedikit lihatlah aku baru menggerakan anak buah ku seperempatnya dan anggota mu udah pada tepar. Bagaimana kalau aku bunuh saja kau kali ini, sudah gatal dari dulu ingin melihatmu terbunuh tidak berdaya! " Fadil menyeringai dan mengacungkan pistolnya. dengan luka dibahunya.
"Aku tidak takut, aku akan setia meladenimu dan kau yang akan kubunuh! " teriak Jefri menatap anggotanya yang tinggal beberapa orang lagi.
Jefri menghampiri Fadil yang berusaha menembaknya. begitu juga para pasukannya yang saling menyerang.
__ADS_1
Dor
Dor
Srk
Srk
"Kau telah membuat keluargaku menderita, rasakan ini! " Jefri menarik trigger pada pistolnya.
Dor
"Dasar Bodoh! " Fadil menyeringai, karena tembakan Jefri melesat hingga
Brukk
Fadil tersungkur di tanah lalu menoleh pada seseorang yang memukul kepalanya.
"Hai nice to meet you! " Aldara melirik Fadil dengan seringai mengejek dan meniup tangannya yang mengepal bekas memukul Fadil.
Dilihatnya dibelakang Aldara begitu banyak wanita cantik dan kuat berbaju hitam lengkap dengan senjata, membuat Fadil melongo sedangkan Jefri menelan ludahnya.
"Sayang kau bodoh sekali, menembak laki-laki lemah gitu saja tidak bisa! " Suara itu membuat Jefri segera menoleh kebelakang dan mendapati Rumi tengah mengayun parangnya dengan sisa darah di ujung parang itu, dan melihat anak buah Fadil semuanya tergeletak di tanah.
"Rumi? " Jefri melongo menatap wanita yang selalu dibuatnya tidak berdaya di kasur dan kini terlihat seperti wonder woman.
"Bibi ngapain kesini? " tanya Aldara.
"Jangan salah paham mengenai yang dirumah, mari kita habisi hari ini orang-orang yang membuat mu menderita! " Rumi menyimpan parang itu di bahunya.
"Aku tidak mempermasalahkan yang di rumah, kau adalah saudaraku Bi, mari kita tuntaskan! " Aldara merogoh pistol di saku celana bagian belakangnya.
Fadil yang mendengar hal itu menyeriangai dia menekan satu tombol pada ponselnya dan kini terlihat beberapa mobil berjejer dan mengeluarkan banyak orang di sana.
"Kalian hanya para wanita, sekuat apapun tenaga kalian kami laki-laki lebih tangguh dari kalian! " Fadil berdiri dengan tertatih.
"Kita buktikan! " Aldara mengacungkan pistolnya dan
Dor
"SERANG MEREKA! " Teriak Aldara.
IKUTI TERUS CERITANYA
JANGAN LUPA
LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE
__ADS_1