Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Pernikahan


__ADS_3

Tepat hari senin yang dijanjikan Algi untuk menikah dengan Aldara, kini gedung megah itu disulap menjadi tempat sakral yang mewah. Dekorasi pernikahan dengan menggunakan tema palet warna putih emas,



Algi sengaja menerapkan tema White gold di beberapa aspek seperti bagian backdrop, dan furniture pelaminan. Sentuhan warna putih emas ini bisa menghidupkan suasana dalam gedung seketika menjadi mewah dan elegan.


Aldara menatap laki-laki yang kini berada di sampingnya, laki-laki yang pernah dia benci dan sekarang telah menjadi suaminya. Mereka kini berada di kursi pelaminan, menunggu waktu pelemparan bunga yang akan di gelar beberpa detik lagi.


"Aku tau kalau diriku tampan! " Algi menoleh pada Aldara sambil mengusap dagu lancipnya.


"Khm! " Aldara hanya berdehem dan kikuk seperti maling yang ketauan, sedangkan Algi tersenyum senang mendapati hal itu.


Algi terlihat sangat tampan dengan tuxido gold dan dasi kupu-kupu yang melekat pada lehernya. Rambut yang di tata rapih kebelakang menampakan wajah simetris bak pahatan tuhan yang sempurna. Senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya yang menambah nilai plus ketampanan sang CEO itu.


Sedangkan Aldara, dengan balutan gaun panjang nan indah menjuntai kelantai dengan anggun, warna gold menambah kesan mewah pada dirinya,dengan beberapa aksen mutiara dibagian depan dan lengannya.


Riasan natural dan sangat cantik melakat pada wajah Aldara, hingga bibir yang tipis itu membuat Algi tidak sabar ingin mengigitnya.


"Ald aku sangat bahagia! " Algi menarik pinggang Aldara supaya lebih dekat dan rapat padanya. Aldara pun tersenyum dan menoleh pada Algi sehingga hidung mereka bersentuhan.


"Aku pun! " sahut Aldara.


"Aku sengaja menerapkan tema gold white ini, apa kau suka? " tanya Algi.


"Hm, aku suka " jawab Aldara, dan entah kenapa dirinya sangat gugup.


"Kau itu sangat berharga bagiku bagai emas yang indah, dan putih adalah warna kesukaanmu kan. Aku sengaja membuat gaunmu dengan aksen mutiara, karna jika mutiara adalah kecantikan untuk lautan yang luas dan kau adalah kecantikan yang hisa menaklukanku, aku suka kamu! " ucap Algi seraya mencium kening Aldara hingga tanpa sadar orang-orang bersorak di depan memperhatikan pasangan pengantin yang tengah di mabuk asmara itu.


"Baikalah untuk kedua mempelai bisa untuk maju kedepan! " ucap pemandu acara dengan menyodorkan tangannya disampingnya berdiri.


Algi pun berdiri dan menarik pelan tangan Aldara, berjalan beriringan kedepan, dengan tangan Aldara yang satunya lagi memegang bunga yang akan siap dilempar.


"Baiklah pelemparan bunga akan segera dilakukan, wah ternyata banyak sekali yang antusias ya! " Pemandu acara itu menoleh pada segerombolan orang yang tidak sabar memperebutkan bunga yang akan di lempar Aldara dan Algi.


Terlihat seseorang menghampiri Algi dan Aldara memberi tahu agar bunga harus dipegang oleh keduanya, lalu berbalik membelakangki orang-orang yang akan mengambilnya.


Di kursi Andris menatap seseorang yang dulunya pernah ada dikehidupannya, mungkin kalau Aldara tau dia akan terkejut dengan orangnya karena dia orang terdekat Aldara dikantor.


"Andris kau masih mengingatnya?" tanya suami Indah yang kini berada disampingnya.


"Tentu saja, cinta bertepuk sebelah tangan! Miris! " sahut Andris dan meneguk jus jeruk itu sekali teguk.


"Mungkin dulu ada alasan tertentu coba kau sekarang dekati dia! " usul suami Indah. Andris pun menggelang lemah sambil menunduk.


"Kau m ikut kepelemparan bunga sana, dan dapatkan bunganya lalu kasih sama ibu menejer itu! " suami Indah cekikikan.

__ADS_1


"Hah sial! Aku kira dengan menyukai Aldara bisa menghapus ingtan ku pada sibibir merah itu! Aldara sekarang resmi milik Algi, kenapa ingatan itu kini malah menjadi! " Andris berdiri dan hendak pergi.


"Kau mau kemana? " tanya suami Indah.


"Mengikuti saranmu kakak ipar! " Andris pun bergabung dalam kerumunan.


Sedangkan Raisa terlihat sangat kesal pada cucu laki-lakinya itu, karena bersikeras ingin ikutan mengambil bunga itu.


"Nek lepaskan aku! " teriak Roni, dan menarik tangannya yang di pegang Raisa.


"Roni itu bahaya kau masih kecil nanti kamu keinjak bagaimana? " Raisa sudah sangat lelah membujuk cucunya itu, dan terlihat wajah kecut dan kecawa pada wajah imut Roni.


"Tidak Nek! Aku laki-laki tangguh dan berani aku ingin bunga itu! " teriak Roni lalu menggigit lengan Raisa, sehingga pegangan tangan itu terlepas, dan Roni segera berlari menuju kerumunan orang dewasa itu.


"Roni! " Raisa pun mengejar, bagaimana pun dia tidak mau kenapa-napa pada cucunya itu.


Sedangkan Dinar yang ditinggalnya dengan Helen hanya saling menoleh dan mengadu senyum.


"Pah Helen senang sekarang, punya papah, daddy, kak Roni dan bunda serta nenek, nenek Rumi dan kakek Jefri yang sayang sama Helen. Helen sekarang punya keluarga yang banyak, walau mamah sudah disurga. Pasti mamah sekarang juga sedang ikut bahagia iya kan Pah? " Helen tersenyum seraya mengusap tangan Dinar diatas kursi Roda.


"Iya sayang! " Sahut Dinar, ingin dia bicara dengan sangat banyak tapi belum bisa.


Helen melihat pergerakan telunjuk Dinar yang terangkat serta tatapan haru padanya yang menampakan genangan air di pelupuk matanya.


Air mata bahagia meluncur bebas dipipinya, Dinar menahan isak tangisnya karena saking senangnya dengan kelakuan anak perempuan yang mirip dengan wanita pujaannya yakni Sarah.


"Maafkan aku sayang, anakmu sangat mirip dengan mu wajah dan hati yang baik adalah gen mu! Aku bangga punya anak-anak yang lahir dari rahimmu, aku akan berusaha sembuh dan selalu menjaga mereka!" ucap Dinar dalam hati.


Helen yang melihat sang papah menangis segera mengusap air matanya dan berkata, " Papah jangan sedih, Helen sekarang akan ada selalu untuk Papah"


Bukannya berhenti Dinar malah terlihat sesegukan dengan senyumnya pada sang anak, Helen pun segera memeluk Papahnya itu sayang.


"Baiklah saya akan hitung mundur di mulai dari tiga! " Suara lantang itu menggema di seluruh penjuru gedung. Aldara dan Algi pun bersiapdengan bunga yang mereka pegang dan siap untuk di lempar.


"Dua! "


"Satu! "


Teriakan terakhir, Aldara dan Algi pun melempar bunga itu, hingga kejadian tidak terduga pun mencuri perhatian banyak orang digedung itu.


Roni dia sangat berusaha ingin bunga itu, sehingga dia melakuakn apa pun demi bunga itu agar dia dapatkan.


"Roni! " panggil Raisa yang mencarinya entah di mana karena orang-orang itu mengerumuninya.


"Dapat! " Roni keluar dari kerumunan itu dengan bunga yang tidak berbentuk itu.

__ADS_1


Sedangakn Andris dan orang-orang di sana menatap melongo pada anak kecil yang sangat antusias ingin bunga itu.


"Syukurlah Roni kau baik-baik saja! " Raisa mengusap puncak kepala Roni yang berantakan.


"Nek aku jagokan bisa dapat bunganya! " Roni tersenyum sangat senang.


"Roni apa yang kamu lakukan, bikin khawatir aja!" Jefri yang menyadari kalau Roni telah ikut dalam kerumunan itu segera menghampiri.


"Kakek ini, ngambil bunga ini lah! " ucap Roni mengacungkan bunga itu.


"Ck kau ini ada-ada saja! " gumam Jefri.


"Wah anak laki-laki ini sangat berani ya, ngomong-ngomong siapa nama mu nak? " tanya pemandu acara itu menghampiri Roni.


"Roni! " sahut Roni dan matanya mulai,menyapu gedung itu mencari seseorang hingga akhirnya ketemu.


"Nak Roni kenapa sangat antusias ingin bunga ini? Sampai bisa mengalahkan sainganmu yang semuanya orang dewasa itu?" tanya pemandu acara.


Roni tidak menjawab malah menghampiri Tina yang sedang memakan kue di samping Indah. Semua mata pun tertuju pada Roni dan Tina.


"Tina ini untukmu, jangan lupakan aku! " ucap Roni menyodorkan bunga itu pada Tina dan membuat semua yang berada di sana menjadi riuh melihat keromantisan dua anak kecil itu, bahkan Indah yang menjadi salah tingkah dibuatnya.


Tina pun mengambilnya dengan senyum, sambil mengangguk menaggapi ucapan Roni.


Setelah acara itu tinggal sesi pemotretan, semua keluarga dan sodara berkumpul menghampiri Aldara dan Algi.


Rumi, Jefri, Raisa, Dinar, Indah dan suaminya, Helen, Roni, Tina, Andris, Ibu menejer berkumpul dan siap berfoto dengan kedua mempelai.


"Baiklah, satu dua tiga! "


Cekrek


Semua terlihat bahagia, Dendam dan cinta menyatukan dua insan membuahkan kasih sayang, dan menyingkirkan kejahatan.


Cinta bebas menerpa siapa saja, tapi ada yang terbalas dan tidak bagaimana perjuangan dan takdir yang menentukan.


Jika cinta tidak menyatu, mungkin itu yang terbaik bagi dirinnya. Walau sedih dirasa tapi percayalah tuhan telah memepersiapkan seseorang yang lebih spesial untuk dirinya.


END


TERIMAKASIH SEMUANYA TELAH SETIA DENGAN NOVEL INI.


SEHAT SELALU DAN DIMUDAHKAN RIZKINYA!


NANTIKAN NOVEL TERBARU AUTOR YA....

__ADS_1


__ADS_2