Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Kecurigaan Rumi pada Aldara


__ADS_3

HAPPY READING


.


.


Pagi hari yang indah, ditemani suara cicitan burung yang merdu serta cahaya matahari yang nampak terlihat, memantulkan sinarnya pada celah cendela kamar Algi.


Perlahan Aldara membuka klopak matanya lalu mengerjap, dirasanya seluruh tubuhnya sangat sakit apalagi dibagian inti tubuhnya. Algi melakukannya bagai kucing tengah memangsa ikan, yakni ikan itu Aldara. tidak henti sampai Aldara merasa letih dan dibuatnya pingsan, memang Algi tidak tanggung-tanggung selain menyalurkan hasratnya dia juga menguras emosinya pada tubuh Aldara.


Aldara mencoba untuk bangun, walau sedikit susah karena rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya, perlahan dia menurunkan kakinya dengan pelan lalu berpegangan pada nakas untuk mengambil bajunya.


"Euuhhh, " suara lenguhan Algi terdengar membuat Aldara menoleh dan menatap Algi dengan amarah.


Aldara berdiri lalu menghampiri lemari Algi, berniat untuk memakai pakaiannya karena baju yang semalam dia kenakan habis dirobek Algi.


Aldara meraih kemeja dan celana pendek milik Algi lalu segera dia memakainya. Pandangannya mengarah pada Algi yang terlelap tidur dengan balutan selimut itu, rahang Aldara mengeras matanya mulai berkaca.


"Keluarga ku dibuat hancur dan kau juga menghancurkanku, akan ku pastikan hidupmu sengsara! " Gumam Aldara lalu mengepalkan kedua tangannya.


Aldara berjalan tertatih menuju pintu, dan meraih kunci mobil Algi di atas meja. Tadinya jika dia tidak merasa sakit maka dia akan membunuh Algi saat ini juga tapi karena kali ini tidak memungkinkan dia hanya berniat pulang dan bersiap untuk melancarkan rencananya.


Mobil milik Algi pun melesat membelah jalanan, tidak peduli nantinya yang punya marah atau mencari yang terpenting Aldara sampai dirumahnya.


Tidak membutuhkan waktu lama menuju rumah, Aldara kini memarkir mobil itu tepat didepan rumahnya. Rumi yang berada dirumah bersama anak-anak mendengar suara kendaraan berhenti di depan, segera menghampiri dan membuka pintu.


"Ald! "


"Bunda! "


Mereka menatap Aldara cengo terutama Rumi, dia menatap Aldara terkejut dan bingung. Kemeja biru kebesaran, celana pendek serta terlihat kalau Aldara tidak memakai pakaian dalam dan raut wajah yang menampakan amarah serta mata merah dan berair.


"Bunda itu baju Daddy ya? " tanya Roni, dan Rumi segera membungkam mulut Roni. Karena Rumi tau kalau Aldara sedang marah dalam level paling tinggi.

__ADS_1


"Sebaiknya kau cepat mandi dan ganti pakaianmu, itu tidak cocok untukmu kebesaran! " Rumi mencoba tersenyum, setidaknya Aldara perlu menenagkan diri dulu sebelum menceritakan kejadian semalam. Walau sebenarnya Aldara tidak akan menceritakannya.


"Kalian berdua cepet bersiap, kita akan pergi! " ucap Aldara pada Roni dan Helen, sedangkan Rumi hanya terdiam masih dengan keanehannya pada keponakannya itu.


"Kamu mau membawa mereka kemana? " tanya Rumi hati-hati, bagaimana pun dia harus meredakan amarahnya takut kalau anak-anak menjadi sasaran amuk itu.


"Terserah dan yang terpenting aku tidak akan menyakiti mereka! " Aldara yang tau pikiran Rumi pun segera memberitahunya. Lalu beranjak dari sana menuju kamarnya.


Rumi kembali dibuat aneh dengan cara berjalan Aldara, "Ada sesuatu yang benar-benar berantakan! "


Rumi memperhatikan Aldara sampai tidak terlihat dibalik pintu itu.


"Nek aku akan mandi dulu, keliatannya Bunda sedang marah. Helen takut nanti kalau belum siap Bunda akan marah-marah, " ucap Helen.


"Aku juga harus mandi, Bunda juga tadi bilang aku harus ikut kan? "Roni menimpali.


"Yasudah kalian cepat mandi, tapi bergantian jangan bersamaan! " peringati Rumi.


"Iya, " jawab kompak Helen dan Roni.


"Eh! " Aldara memukul lengan yang ada tanda merah itu, dan bergidik.


"Percuma mengangis pun tidak akan mengubah waktu kemasa sebelumnya, sekarang fokus untuk masa depan yang akan membuat ku senang dan membuat keluarganya menderita!" Aldara mengusap air matanya kasar lalu menghampiri lemari pakaian.


Aldara telah selesai mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk lehernya, dan tentunya tidak untuk wajah dan rambut. Napas panjang dia lakukan untuk meredamkan emosinya, karena terkadang emosi itu yang akan menghancurkan kepercayaan diri sendiri.


Senyum merekah dibibir munyil Aldara, dia berencana akan kerumah bercat kayu itu bersama anak-anak, mungkin saja ada petunjuk didalamnya.


"Ald serapan dulu! "ucap Rumi menyodorkan makanan kearahnya. Rumi sengaja melakukan hal itu, karena Aldara tidak akan makan apa pun kalau hatinya lagi tidak baik-baik saja.


"Baiklah! " Aldara mengambil mangkuk bubur itu dari tangan Rumi, lalu berjalan ke meja makan.


"Anak-anak sudah serapan? " tanya Aldara disela mengunyah bubur ayam itu.

__ADS_1


"Sudah, hm Ald! " Rumi memanggil Aldara sedikit pelan, tapi masih terdengar oleh Aldara sendiri.


"Aku semalam keapartemen Algi, untuk mengambil sobekan foto itu dan aku pun berhasil! " sahut Aldara, dia tau kalau Rumi akan bertanya semalam dia kemana. Dia sengaja berbohong pada sang bibi agar tidak khawatir padanya.


"Algi juga ada di sana kan? " selidik Rumi.


"Tidak, aku tidak tau dia kemana! Hah anak-anak sudah kemari aku harus segera pergi bersama mereka! " Aldara mencoba untuk menghindari Rumi.


"Bunda kita akan kemana? " tanya Helen dan diikuti Roni dibelakangnya.


"Kita akan ketempat kemping dulu waktu bersama rombongan sekolah, Bunda ingin menghirup udara di sana yang sejuk, dan tentu saja ingin ditemani dengan kalian berdua! " Aldara berdiri dan meninggalakan mangkuk bubur yang masih banyak, lalu menggenggam lengan Helen dan Roni dikedua tangannya masing-masing.


"Benarkah! " Roni dengan mata binarnya.


"Tentu saja! " Aldara mengerlingkan sebelah matanya.


Melihat sikap Aldara yang berubah drastis membuat Rumi tidak tahan lagi ingin mengetahui kejadian semalam yang menimpa keponakannya itu.


"Ayolah kalau begitu kita berangkat! " Aldara, Helen dan Roni mulai melangkah meninggalakan ruang makan.


Srrettt


Rumi menarik paksa syal yang melilit dileher Aldara dan tentu saja Aldara sendiri pun terkejut. Rumi menatap tajam pada leher Aldara yang dipenuhi dengan noda merah itu, matanya mendelik kearah keponakannya.


"Semalam, pasti ada suatu hal!" Rumi menghampiri Aldara dan menatapnya tajam.


"Memang semalam aku mengalami hal yang sangat mengerikan sampai badan dan hatiku sakit tiada tara, bibi jangan khawatir aku bisa mengatasi rasa ini! Dan kali ini aku mau pergi Bibi tidak bisa menghenti kan aku! " Aldara kembali berjalan sambil menarik syal ditangan Rumi, dan lalu mengahampiri motornya.


"Bunda itu mobil Daddy, Daddy nya kemana? " tanya Roni.


"Daddy mu, entah Bunda tidak tau. Jangan pikirkan hal lain kita akan kesuatu tempat kau harus menampakan wajah ceriamu! " Aldara mengusap kedua pipi Roni.


"Ia Bunda, " sahut Roni senang.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE KOMEN FAVORIT DAN VOTE


__ADS_2